
Hari Minggu pagi yang dingin, di awal musim dingin di kota Montegi. Sara dan Arvin baru saja selesai menghabiskan sarapan pagi mereka. Dan kini Sara tengah membereskan peralatan bekas makan mereka, lalu mencucinya. Sedangkan Arvin sendiri setelah sarapan, langsung bermain di kamarnya.
Sara yang kebetulan hari ini libur bekerja, seperti biasanya selain menyukai bunga, saat libur Sara akan meghabiskan waktu untuk membaca novel favoritnya.
"Sudah lama tidak membaca buku, jadi rindu ingin membaca buku." Sara pun mengambil salah satu buku karangan Ren Hao yang waktu itu ia beli, namun akhirnya malah Jesper yang bayar.
Sara duduk di sofa, dan mulai membuka halaman sampul bukunya tersebut.
"Buku ini sudah lebih dari sebulan yang lalu aku beli, tapi baru hari ini aku membukanya," ungkap Sara.
"Ya bagaimana aku mau membacanya, sebulan terakhir ini hidupku kan, terbelenggu dalam ikatan mengerikan dengan si brengsek itu."
Sara menggerutu, mengingat bagaimana kehidupannya sebulan terakhir ini, terus-menerus terlibat dalam banyak masalah. Belum lagi, kenyataan pahit yang harus ia hadapi mengingat pria yang merusaknya lima tahun lalu adalah Ayah kandung putranya sendiri.
"Baiklah hari ini saatnya menenangkan diri," ujar Sara, yang kemudian mulai membaca novel tersebut.
Baru beberapa halaman Sara membaca novel tersebut, tiba-tiba suara bel mengacaukan dirinya.
"Di hari Minggu yang dingin seperti ini, siapa yang mau bertamu pagi-pagi begini?"
Sara pun bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah pintu masuk untuk membukakan pintu. Sara membuka pintunya.
"Selamat pagi!" aapa seorang pria yang saat ini paling tidak ingin Sara temui.
"Ada apa? Bukankah sudah aku katakan kemarin, tolong biarkan aku dan Arvin hidup dengan tenang!"
Sara memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Ryuzen, yang kini berdiri dihadapannya dengan outfit sweater tutleneck berwarna gelap dibalut luaran mantel panjang hingga lutut, yang membuatnya terlihat begitu mempesona. Bahkan wanita yang melihat Ryuzen saat ini mungkin akan mengantri untuk memintanya menjadi pacar.
"Aku datang kemari untuk Arvin," ucap Ryuzen dengan ekspesi datar, yang kemudian langsung menerobos masuk ke dalam, tanpa dipersilahkan terlebih dahulu.
Melihat yang di lakukan Ryuzen, Sara langsung mengikuti Ryuzen dari belakang.
"Arvin sedang bermain dikamarnya, kau bisa kemari lagi lain waktu. Jadi sekarang, aku mohon kau tinggalkan rumah ini!" ujar Sara.
Ryuzen melirik tajam ke arah Sara. "Sara...! Aku peringatkan padamu! Tidak ada yang bisa mengusirku, atau pun melarangku untuk bertemu anakku."
Ryuzen menatap Sara yang kini terlihat emosi, mencubit dagunya dan agak mengangkatnya keatas agar dapat lebih dekat menatap wajah cantik Sara.
"Arvin juga anakku, dan aku berhak bertemu dengannya, jadi kau tidak bisa melarangku bertemu dengannya, kau paham!" ucap Ryuzen dengan suara beratnya yang seperti biasa, walau pelan namun terdengar seperti marah.
Sara melepaskan panggutan tangan Ryuzen dengan membuang wajahnya. Lalu menanggapi ucapan Ryuzen,
"Arvin memang anak kandungmu, tapi kau harus ingat! Aku yang mengandung dan merawatnya sejak lahir, jadi kurasa, aku lebih berhak atasnya. Terlebih... Arvin juga belum tahu kalau ternyata kau adalah Ayah kandungnya. Bukan begitu Yang Mulia Ryuzen Han? "ucap Sara dengan nada sinis.
Ryuzen pun menyeringai mendengar ucapan Sara barusan. Ia tidak menyangka Sara akan mengatakan hal seperti itu padanya.
"Nona Sara..., apa kau sedang mencoba melawanku?"
"Siapa yang berani melawan Tuan Ryuzen Han yang luar biasa? Aku hanya mencoba mempertahankan apa yang menjadi hakku," balas Sara yang tatapannya berubah menjadi sendu.
"Hak yang kau bilang itu, juga adalah hakku Sara!" ucap Ryuzen yang mulai geram.
"Tapi Arvin itu anakku, darah dagingku, hanya Arvin satu-satunya alasan aku bertahan hidup hingga saat ini!" Sara mulai terlihat emosional, namun, sebisa mungkin ia tahan karena lagi-lagi karena tidak mau Arvin mendengar dan melihat dirinya seperti ini.
"Yang kau bilang anakmu itu juga anakku, kenapa kau harus menghalangiku bertemu dengannya? Dengar! Jika kau mau marah padaku, marahlah... tapi jika kau melarangku bertemu Arvin, jangan salahkan aku jika aku...
"Jika aku apa?" tanya Sara saat Ryuzen tak menerusakn ucapannya. Wajah Ryuzen kini jelas terlihat sedang marah, namun ia menahannya dengan memejamkan matanya singkat untuk menetralkan pikirannya.
"Sara... sekali lagi aku katakan, aku ingin bertemu anakku jadi berhentilah menghalangiku."
Belum sempat Sara membalas ucapan Ryuzen, Mereka berdua justru dikagetkan dengan suara Arvin yang datang menghampiri mereka berdua.
πΉπΉπΉ
Like, comment, vote and keep supporting me π
Thanks...π·