Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 146


Kali ini Renji mulai memperlihatkan emosinya yang sebenarnya. Dari nada suaranya, hingga tatapan matanya pun jelas menujukan jika dirinya, amat sangat kecewa dan marah pada Ryu.


Di sisi lain, Ryuzen masih seolah tidak percaya dengan yang ia dengar barusan. Tapi sepertinya yang dikatakan Renji adalah benar adanya. Sara memang berasal dari Cardia, tapi bagaimana semua ini menjadi sebuah kebetulan. Tak kusangkah bunganku dengan Sara akan serumit ini jalannya.


"Sudah puaskah kau menghancurkanku tuan muda Han!" Suara Renji bergaung diantara hamparan bukit. Jujur saja, Ryu tidak tahu apa yang harus dia katakan saat ini. Renji tiba-tiba menarik kerah baju Ryuzen, "Kau buatku kehilangan satu-satunya adikku Alex! Dan kini aku pun tahu kenyataan, kau juga mengambil Sara dariku! Apakah hidupmu hanya bisa menghancurkan hidupku saja, huh!" Emosi Renji seolah tak lagi tertahan, dirinya benar-benar menumpahkan emosinya pada pria di hadapannya itu. "Kau ituー"


Ryuzen tidak bisa lagi tinggal diam, ia pun menggenggan tangan Renji dan menyingkirkan tangannya dari kerah bajunya tersebut, serta berbalik menatap pria itu dengan tatapan dingin. "Kalau memang dia gadis masa lalumu itu, lalu kenapa? Bukankah dia belum jadi milikmu? Lalu apa masalahnya tuan Haoran?"


Renji terkekeh pelan dan perlahan semakin kencang. Ia membelakangi Ryuzen. "Masalahnya adalah... pria brengsek sepertimu tidak pantas untuknya!"


"Lalu siapa yang pantas? Kau?" Ryu tergelak seolah mengejek.


"Aku atau siapapun mungkin pantas asal bukan pembunuh sepertimu Ryuzen!" Dengan gerakan seolah tak terlihat, seketika Renji sudah berada kembali berdiri di hadapan Ryu, dengan pistol yang ia letakan tepat di sebelah kanan kepala Ryuzen.


"Iyakah?" Ujar Ryuzen dengan begitu santainya.


Renji malah tersenyum kecil dibuatnya, saat menyadari jika Ryuzen juga telah menodongkan sebuah pistol di dada sebelah kirinya. "Tidak kusangka, ternyata setelah menjadi CEO Tuan muda Han masih suka membawa pistol kemana-mana!"


"Kebiasaan!" Balas Ryuzen "Kau pun masih melakukannya bukan tuan Haoran?"


"Sama sepertimu kebiasaan!"


Kedua pria itu saling beradu pandang, sorot mata mereka begitu tajam bak belati yang baru saja diasah. Seperti pemangsa yang saling mengintai lawannya.


Dulu aku begitu mengagumimu Ryu... tapi saat aku melihat sendiri dengan mata kepalaku, kaulah yang membunuh Alex! Semua itu hancur, melebur bersama rasa dendamku padamu yang begitu besar.


Aku tidak pandai berkata-kata sepertimu, aku pun tidak memiliki pembelaan apapun saat ini. Tapi yang harus kau tahu, aku tidak akan biarkan siapapun mengusikku dan keluargaku!


"Jadi... kau ingin tahu peluru siapa yang lebih dulu membunuh diantara kita?" Ujar Ryu yang tetap tenang dan santai.


"Apa kau sedang mencoba mengujiku tuan Han?"


"Sayangnya aku tidak Renji Haoran!"


Bibir Renji kembali tersenyum, namun tidak dengan matanya yang tetap dipenuhi amarah. "Aku rasa cara seperti ini juga tidak akan bisa membunuh tuan Han, iyakan?" Renji menurunkan pistolnya dari kepala Ryuzen, begitupun Ryuzen yang menarik senjatanya kembali.


"Kenapa kau tidak lanjutkan saja hidupmu! Dan berhentilah melakukan semua hal ini."


Renji kembali membelakangi Ryuzen. "Tau apa kau tentang perasaanku Ryu! Kau tidak akan pernah paham dengan kehidupan yang aku alami. Manusia sepertimu, tidak akan pernah tahu rasanya hidup menjadi sebatang kara sepertiku, karena yang kau tahu hanyalah... menghancurkan hidup orang lain!"


Ryuzen mencibir "Jadi kau merasa tahu semuanya? Cih! Menyedihkan, berhentilah berperan sebagai yang paling tersakiti Renji!"


Renji kembali tertawa, tertawa dalam kesedihannya saat ini. "Andai saja waktu bisa diulang, mungkin aku akan memilih tidak mengenalmu sama sekali Ryu...."


"Aku pun! Aku harap tidak mengetahuimu."


Renji memejamkan matanya sekejap dan berkeluh dalam napasnya yang menghela panjang. "Kali ini aku rasa cukup sampai disini! Aku hanya ingin melihatmu merasa menang sebelum aku membuatmu menderita Ryuzen!"


"Baiklah tuan Haoran! Kita lihat saja siapa yang akan menyesal pada akhirnya..." ungkap Ryuzen yang berjalan melewati Renji. "Oh iya tuan Haoran, sebelum pergi aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, karena kau telah menolong putraku waktu itu! Kau tenang saja, aku pastikan akan membayar hutang budiku padamu suatu saat nanti."


"Bukan masalah!" Aku menolongnya karena dia putranya Sara, bukan karena hal lain.


"Dan satu lagi... kematian Alex adikmu, kau tidak tahu kenyataan sebenarnya. Tapi terserah jika kau tetap dengan keyakinanmu, sejujurnya aku sudah tidak peduli!" Yang jelas, aku tidak akan membiarkan kau menyentuh apa yang sudah jadi miliku.... aku tidak peduli kisahmu dengan Sara atau apapun itu di masa lalu. Yang aku tahu sekarang, dia miliku selamanya akan tetap milikku. Ryuzen pun berjalan pergi meninggalkan bukit itu bersama Renji yang masih teridam disana.


"Terkutuklah kau Ryuzen!" Renji berteriak sekeras-kerasanya. Ia menembakan pistolnya ke sembarang arah, dengan begitu frustasi saat ini.


"Kenapa! Kenapa harus Sara? Kenapa harus Sara yang menjadi kelemahan ******** itu. Kenapa bukan orang lain saja, Kenapa harus wanita yang aku cintai yang jadi kelemahannya....! Maafkan aku Alex... kenyataanny kelemahannya adalah juga kelemahanku!"


Angin yang berhembus perlahan, seolah mencoba memahami kegetiran yang berkecamuk di dalam hati seorang pria malang ini.


~~


"Jadi itu istrinya Ryuzen!" Ucapnya sambil terus menatap ke arah Sara, yang sedang sibuk menata bunga-bunga yang di pajang di depan tokonya. Sesekali Orizel kembali melihat foto yang di dapatnya dari Biyan, memastikan jika Sara dan wanita di foto tersebut adalah sama. "Ternyata yang asli memang lebih menarik!" Pungkas Orizel yang tiba-tiba langsung bergegas keluar dari dalam mobilnya. Orizel pun keluar dari mobilnya, dan berjalan menyeberangi jalanan menuju ke arah toko bunga milik Sara.


~~


Orizel langsung mendekati Sara yang masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya yang sama.


"Um... maaf permisi nona," ucap Orizel dengan sopan.


Sara pun langsung menoleh ke arah Orizel "Iya Tuan? Apa ada yang bisa aku bantu?"


Orizel terperangai, kini dirinya bisa melihat wajah Sara langsung dengan jarak yang begitu dekat dan jelas. Harus aku akui selera wanita Ryuzen memang luar biasa!


Sara terheran-heran melihat pria di depannya saat ini. Pria itu bukannya segera memesan bunga, malah melihat ke arah Sara terus-menerus." Ehem! Tuan... apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya Sara lagi dengan lebih keras.


"Oh iya... aku lupa, aku ingin bertanya, apa di toko ini menjual bunga daisy?"


"Ya, kami menjualnya... anda mau membeli tuan?"


"Tentu, aku mau satu buket bunga Daisy!" Pinta Orizel.


"Baiklah... kalau begitu silakan tunggu ya tuanー"


"Orizel, namaku Orizel!"


"Baik, kalau begitu tunggu sebentar tuan Orizel!"


Sara pun segera mengambil beberapa tangkai bung daisy dan merangkainya menjadi buket yang cantik. Namun saat tengah merangkai bunga, jujur saja Sara agak merasa tidak nyaman dengan Orizel, yang sejak tadi terus menatap ke arahnya, dengan pandangan yang bagi Sara membuatnya tak nyaman. Kenapa pria ini terus melihat ke arahku dengan tatapan begitu? Apa dia tidak lihat cincin di jariku ini! Pria jaman sekarang apa tidak bisa membedakan mana wanita single, mana wanita yang sudah menikah!


"Ini tuan sudah jadi! Semuanya jadi lima dollar," ujar Sara yang ingin sekali Orizel cepat-cepat pergi dari hadapannya.


"Ini!" Orizel memberikan uang lima dollar dan menerima buket tersebut, sambil mencuri pandang pada Sara. Sadar akan hal itu Sara pun akhirnya bicara tegas, "Tuan maaf, bukan aku tidak sopan pada pelanggan. Tapi bisakah kau berhenti melihatku dengan cara begitu? Jujur saja bagi wanita bersuami sepertiku, hal itu sangat mengganggu. Jadi aku harap kau paham!"


"Begitu ya...? Baiklah maaf kalau bergitu, karena aku tidak sadar ada cincin dijarimu, jadi aku pikir kau belum bersuami, maaf kan aku...."


"Iya, kalau begitu terima kasih sudah mau membeli di c-lovely...!" Ujar Sara mencoba tetap profesional.


"Sama-sama." Orizel pun berjalan pergi meninggalkan C-lovely.


Tak kusangka istrinya Ryuzen wanita yang sangat menarik! Sepertinya kita harus saling bertemu lagi nona Sara! Orizel tersenyum licik.


~~


Sehabis bertemu Renji, nyatanya Ryuzen tidak langsung kembali ke Emerald, dirinya malah terlihat tengah mengemudikan mobilnya menuju ke arah tempat lain. Di sepanjang jalan Ryu masih saja teringat akan apa yang dirinya dan Renji bicarakan tadi. Ryuzen mengemudi dengan kecepatan tinggi.


"Aku, dia, dan Sara... heh! Sepertinya kita memang harus menjadi musuh Renji Haoran!" Ujar Ryuzen sambil menambah lagi kecepatan lajunya sehingga melaju begitu kencang.


🌹🌹🌹


Hallo my beloved Readers... masih setiakan sama romansa Ryu Sara dan teman-temannya? Hehehe.... Author cuma mau ingetin! Jangan lupa kalau habis baca dikasih LIKE, COMMENT & VOTEnya... karena itu berarti buatku...


Dan jangan lupa juga follow akun instagramku di @chrysalisha98


Happy Reading 😃