
Tapi Tiba-tiba, ada dua orang badut berkostum lucu yang memberikan Arvin sebuah mainan kincir angin secara cuma-cuma. Lalu tiba lagi badut yang lain memberikan setangkai mawar berwarna peach untuk Sara.
"Untukku?," tanya Sara. Sang badut itu pun mengangguk dan dengan gerakan tubuhnya para badut berkostum lucu itu seperti menggiring dan mengajak Sara dan Arvin supaya mengikuti mereka.
"Mami, mereka minta kita ikuti mereka!" ujar Arvin.
"Benarkah?" tanya Sara agak ragu.
"Sudahlah mami, ayo kita ikuti saja mereka...," ucap Arvin.
"Ada apa ya, tiba-tiba begini, dan kenapa sejak tadi sepertinya tempat ini seolah sepi pengunjung," batin Sara melihat sejak tadi hanya sedikit sekali pengunjung yang datang.
Sara dan Arvin pun mengikuti para badut-badut lucu itu sampai ketempat area tengah dekat wahana ferris wheel. Sontak tiba-tiba angin bertiup begitu kecang, dan terdengar suara yang cukup keras. Ternyata di atas area tersebut, ada sebuah helikopter yang jarak terbangnya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 20 meter dari kepala Sara.
Sara dan Arvin pun spontan melihat ke arah helikopter yang terbang secara statis tersebut. Sebuah tali pun menjuntai dari dalam helikopter tersebut, di ikuti seseorang yang turun dari dalam helikopter melalui tali itu dan melompat kebawah.
Seorang pria baru saja melompat dari helikopter tersebut, dan kini pria itu sudah berdiri tegap dengan kemeja berwarna navy tanpa dasi, yang lengannya digulung hingga ke siku.
Sosok pria yang baru turun dari helikopter itu, membuat Sara terperanjat, sekaligus berhasil membuat Arvin tersenyum lebar dan nampak sangat bahagia. Arvin berlari menghampiri pria tersebut, yang ternyata adalah Ryuzen Han.
"Papi..." Seru Arvin, berlari menghampiri Ryuzen di ikuti Sara yang berjalan di belakangnya.
"Ternyata kau datang hari ini!" ujar Arvin memeluk Ryuzen yang posisinya tengah berdiri saat ini. Ryuzen mengusap kepala putranya tersebut dan sedikit mengacak-acak rambut Arvin.
"Kau datang?" ucap Sara yang masih agak kaget akan kedatangan Ryuzen secara tiba-tiba tersebut.
Melihat pemandangan antara Arvin dan Ryuzen, hati kecil sara menjadi sangat senang terkira, ia pun tersenyum kecil di buatnya.
"Papi kau tahu, yang kau lakukan tadi itu keren sekali...! Lompat dari jarak setinggi itu, benar-benar terlihat sangat keren! Iyakan mami?" puji Arvin melepaskan pelukannya pada Ryuzen dan melihat ke arah Sara.
"Ya..., begitulah," ucap Sara terlihat agak malu mengatakan jika suaminya tadi memang sangat keren.
"Kalau aku tidak keren, mana mungkin kau sekeren ini," ujar Ryuzen dengan begitu percaya diri.
"Duh, mulai lagi sikap narsisnya itu. Walaupun kenyataannya dia itu memang keren sekali sih," ucap Sara dalam hati mengakuinya.
"Oh iya papi benar sekali, mana mungkin menurun dari mami. Mami kan tidak keren sama sekali, naik roller coaster saja takut, sudah pasti kekerenanku menurun dari papi," ujar Arvin.
"Iya aku memang tidak keren sama sekali! Puas kalian!" ujar Sara terlihat kesal.
"Mamimu memang tidak keren, tapi untungnya dia itu sangat cantik, jadi termaafkan," ujar Ryuzen melirik genit ke arah Sara. Dan Sara pun berhasil dibuat agak grogi karena itu.
"Iya benar, kelebihan mami cuma cantik dan konyol," ucap Arvin.
"Yasudah kalian para pria keren, main saja sana berdua! Aku yang payah ini biar disini saja," ucap Sara ngambek.
"Mami jangan ngambek begitu..., bagaimana pun kau mamiku yang hanya satu-satunya di dunia ini. Sekarang lebih baik, ayo kita bertiga menghabiskan waktu bersama," ujar Arvin menggandeng tangan Sara dan Ryuzen di kanan dan kirinya.
Vote, like, comment ayo dong... π·π