
Sara terperanjat, tubunya mulai gemetar karena rasa takut yang kini telah menyerangnya. Ia seolah sangat berhati-hati dalam melangkah, ia pun melangkah memundurkan langkah kakinya kebelakang dengan perlahan, guna menjauhi pengendara motor yang kini mendekatinya itu.
"Jangan mendekat!" Pekiknya Sara saat itu. Namun, suaranya seperti tersangkut di tenggorokannya, seolah tidak bisa keluar dari mulutnya. Aku harus segera lari dari sini! Sara sontak langsung membalikan tubuhnya, dan mengambil langkah seribu untuk menghindari pengendara itu. Tapi sayang, langkah kaki pengendara itu lebih jauh dari pada jangkauan langkah kaki Sara, hingga membuatnya terkejar. Tangan Sara langsung di cengkram oleh pengendara tersebut.
"Lepaskan aku!" Sara memberontak. Dirinya berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman tangan si pengendara berhelm itu. Tapi tubuhnya yang lebih kecil, tidak terlalu kuat untuk bisa menggoyahkan cengkraman orang tersebut, bahkan sedikitpun tidak.
"Kau siapa? Apa yang kau inginkan dariku?!" Bentak Sara.
"Aku mau dirimu!" Balas si pengendara itu.
"Tunggu! Suara itu?" ungkap Sara, seolah seperti sudah sangat familiar dengan suara si pengendara yang kini berada di hadapannya saat ini.
Sang pengendara benar-benar tidak mau sedikitpun melepasakan Sara, dirinya justru terlihat tengah berusaha membuka kaca helmnya, dengan satu tangannya yang lain. Mata hazel kecoklatan dengan sorot mata tajam, mencuat dari balik kaca helm yang telah dibukanya tersebut. Dan hal itu secara otomatis, berhasil membuat Sara terperangai seperti kehabisan kata-kata.
"Ryuzen!" Ujar Sara dengan nada kesal dan emosi, bercampur terasa lega karena sudah tahu jika si pengendara itu bukan orag lain. Ryu pun segera melepaskan cengkraman tangannya itu dari pergelangan tangan Sara, dan kemudian membuka helmya.
"Kau kenapa lari ketakutan begitu?" Tanya Ryuzen. Ditanya begitu, tentu saja Sara malah makin kesal dibuatnya. "Kau masih tanya begitu? Kau itu apa tidak lihat, betapa takutnya aku tadi saat kau menangkapku dengan pakaian yang aku bahkan tidak bisa mengenalimu sama sekali. Aku- aku pikir... aku akan..." Sara terlihat seperti mengatur ritme napasnya yang terengah-engah karena ketakutan tadi. Sepertinya, dirinya tadi memang berpikir jika aku ini orang jahat. Aku jadi merasa sangat bersalah, padahal aku hanya sedikit mau mengerjainya.
"Sara..." tutur Ryuzen dengan lembut.
Sara masih terlihat mutung, ia pun memilih memalingkan tubuh dan wajahnya dari sang suami, dari pada melihat langsung ke arahnya.
"Maafkan aku..." ujar Ryuzen benar-benar merasa bersalah telah mengerjai istrinya begitu. Tapi sayangnya, Sara masih merasa jengkel dibuatnya, alhasil dirinya tetap diam saja sambil memasang wajah penuh kekesalan.
Ryuzen kembali menghadap ke arah Sara, tapi Sara malah membuang muka lagi.
Biar saja aku ngambek begini, salah sendiri usil dengan istri sendiri!
"Aku harus bagaimana agar kau berhenti diam begini padaku. Apapun akan aku lakukan asal berhenti mendiami aku. Aku tidak sanggup, jika kau diamkan aku bahkan satu menit saja Sara."
Sara menatap Ryuzen, "Melakukan apapun?"
"Yes, anything for you honey...."
"Kalau begitu, aku mau kau pecat semua karyawan wanitamu!"
"Hanya itu?"
"Eh tu-tunggu! Kau mau apa?" Tanya Sara melihat Ryuzen yang kini sudah memegang ponselnya.
"Kau bilang, kau mau aku pecat semua karyawan wanitaku bukan?"
Apa dia anggap serius?
"Tu- tunggu dulu, stop! Tidak usah kau lakukan!"
"Kenapa?"
"Ya kalau aku bilang tidak usah, ya berarti tidak boleh." Ryuzen yang sudah hampir menelpon bagian personalia pun, alhasil tidak jadi menekan nomor di ponselnya itu.
Aku kan tidak serius berkata itu. Lagipula, mana mungkin aku biarkan dia memecat orang lain tanpa alasan.
"Jadi aku sudah di maafkan?"
Sara menggelengkan kepalanya, tanda belum memaafkan sang suami. "Lalu apa yang kau mau aku untuk lakukan, agar kau memaafkan aku?"
Sara tidak tahu harus apa, pasalnya ia juga hanya bermaksud membalas mengerjai Ryuzen. Seharusnya impas, tapi mengerjai dia sedikit lagi boleh juga, pikir Sara.
"Kau kemari!" Perintah Sara. Tanpa bantahan satu katapun, Ryuzen yang tadinya agak jauh jaraknya dengan Sara, langsung datang mendekati sang istri sesuai perintahnya. Sara meminta Ryu merentangkan kedua tangannya.
Untuk apa? Ryuzen agak bingung dengan apa yang sebenarnya ingin dilakukan istrinya itu padanya. Ternyata bukannya menyuruh macam-macam, Sara malah minta dipeluk erat-erat oleh sang suami. Tentu saja dengan senang hati Ryuzen memeluk Sara dengan erat. Ia dapat merasakan tubuh sang istri yang lebih kecil darinya itu tenggelam di dalam pelukannya.
"Sekali lagi maafkan aku, yang sudah membuatmu takut tadi." sesal Ryuzen.
Sara melepaskan pelukannya dari Ryuzen, "Jangan kau lakukan lagi! Akuー"
"Kau tenang saja, aku akan menghukum diriku sendiri jika itu sampai terjadi." Sera kembali memeluk manja Ryuzen. "Lagipula... kenapa kau tiba-tiba naik motor begitu? Tidak biasanya kau naik motor. Malah mungkin, ini pertama kalinya aku melihatmu naik motor."
Dengan santainya Ryuzen menjawab," Aku begini karena ponselmu tidak bisa dihubungi, jadi aku putuskan untuk naik motor, karena akan lebih mudah mencarimu di jalan dengan motor dibanding naik mobil"
"Oh jadi begitu, kalau soal tidak bisa dihubungi itu karena ponselku mati. Jadi aku tidak bisa dihubungi."
"Jadi... sudah tidak ngambek lagi kan?" Tukas Ryu.
"Siapa bilang?"
"Aku yang bilang," ujar Ryuzen yang kemudian tiba-tiba malah menarik lengan Sara.
"Hei, kenapa kau menarik aku lagi, kau mau apa?"
Tiba-tiba Ryuzen mengeluarkan sebuah syal berwarna caramel dari dalam jaket kulitnya, yang kemudian ia pakaikan syal tersebut ke leher Sara. Sara pun tidak bisa menolaknya, ia yang tidak tahu apa maksud suaminya itu hanya bisa menurut saja dipakaikan syal yang warnanya manis itu.
"Kenapa kau tiba-tiba beri aku syal ini?"
Ryuzen tidak menjawab. Ia justru malah memakaikan Sara helm yang ukurannya lebih kecil dari yang dipakainya. Lagi-lagi, Sara hanya bisa menurut dipakaikan helm oleh suaminya yang kini tampak telihat lebih muda menurut Sara. Jaket kulit khas biker berwarna hitam, yang kini melekat di tubuh Ryu terlihat cocok dengannya. Bahkan Sara bisa sampai berpikir jika suaminya saat ini, adalah penggambaran diri Ryuzen muda 10 tahun yang lalu.
Kenapa dia sangat cocok sekali pakai pakaian begini? Apa pada saat dia masih berusia belasan atau dua puluhan, pakaiannya seperti sekarang ini ya? Pikir Sara memperhatikan Ryuzen dari atas sampai bawah.
"Huh, siapa bilang?" Ucap Sara mencoba mengelak.
"Baiklah, sudah siap!"
"Apanya yang sudah siap?" Kata Sara agak bingung.
"Kita yang sudah siap untuk berkencan naik motor," balas Ryu.
"Huh berkencan maksudmu kita...?" Malas berlama-lama menjelaskan pada sang istri, Ryuzen yang sudah mengenakan helm pun memilih langsung saja menungganggi motornya tersebut, kemudian menyuruh Sara naik. "Tapi..."
"Sudah jangan banyak berpikir, naik saja." Kata Ryuzen. Sara akhirnya mau tidak mau menuruti kata-kata Ryuzen, ia pun membonceng dibelakang Ryuzen.
"Pengangan yang erat, kalau perlu jangan pernah lepas sedetikpun!" Ujar Ryuzen. Sara pub melingkarkan tangannya di pinggang Ryuzen dengan erat. Setelah yakin Sara sudah berpegangan dengan erat, Ryuzen pun langsung tancap gas menjalankan mesin motornya.
~~
Mereka berdua kini melintasi kota dengan menaiki motor. Entah mengapa Sara merasa senang dibuatnya, bahkan rasa kesalnya pada Ryuzen soal tidur pun seolah hilang seketika. Sara lalu menyarandarkan kepalanya di punggung Ryuzen yang kokoh dan terasa hangat.
"Ryu, apa dulu kau sering naik motor begini dengan para gadis, saat masih muda?"
"Ya!"
"Oh jaー"
"Tapi tidak dengan para wanita, karena aku menunggu wanita yang layak untuk aku bonceng bersamaku," sahut Ryuzen yang suaranya tidak terlalu jelas karena sedikit berkelahi dengan hantaman angin malam. Mendengarnya berkata begitu, membuat dewi batin Sara seolah terbang ke sebuah taman langit yang indah.
Ryuzen tiba-tiba menepikan motornya di dekat danau. Dengan diri mereka masih duduk di atas motor Ryuzen menepikan motornya sebentar.
"Kenapa berhenti?" Tanya Sara.
"Kau suka kencan seperti ini?"
"Umm... jujur saja aku suka.
"Kenapa?"
"Hal itu karena...., aku seperti merasa menjadi anak muda yang sedang pergi berkencan."
"Kau kan memang masih muda," sahut Ryuzen yang masih duduk menungganggi motornya saat ini.
"Hampir dua puluh lima, kau pikir aku masih muda ya?"
"Tentu saja."
"Oh...."
Jujur saja, Ryuzen saat ini sedang merasa berdosa pada Sara. Pasalnya..., ia merasa gara-gara perbuatannya pada Sara dimasa lalu, Sara jadi kehilangan masa mudanya. Ibarat bunga yang baru mekar, ia tidak pernah bisa merasakan masa-masa merekahnya saat itu layaknya bunga lain.
"Maafkan aku," lirih Ryuzen
Sara kembali memeluk punggung Ryu dengan lembut "Kau tidak perlu minta maaf Ryu. Karena meski aku tidak bisa merasakan manisnya cinta di usia belia, tapi aku tetap merasa beruntung. Aku merasa beruntung karena..., aku bisa melahirkan dan merawat putraku dengan baik, meski saat itu aku masih sangat muda dan terlihat tidak mungkin untuk menjadi seorang ibu. Aku rasa tidak semua wanita diberi kesempatan sepertiku,"
"Lagipula... aku tidak peduli dengan cinta masa muda, atau pertama, karena aku udah menemukan cinta pertama dan terakhirku. Bagiku... tidak ada lagi penyesalan atas masa lalu. Karena yang aku pikirkan sekarang hanya, bagaimana caraku dan dirimu hidup bahagia bersama anak-anak kita," tutur Sara dari dalam hatinya.
"Sara, bisa tidak kau berhenti membuatku semakin-semakin mecintaimu," gumam Ryuzen.
"Eh kau bilang apa?"
"Tidak!"
Aku memang tidak bisa mengembalikan masa mudamu Sara.Tapi aku akan buat dirimu juga bisa merasakan, bagaimana rasanya cinta masa muda.
"Kalau begitu malam ini, anggap saja kita anak kuliahan umur delapan belas tahun yang sedang menghabiskan waktu pacaran," tukas Ryu.
Sara sontak langsung tertawa geli, "Haish, bagaimana bisa kau ini jadi anak kuliahan umur delapan belas tahun, kau ini kan sudah om-om."
Om-om kau bilang?
"Oh... jadi menurutmu aku ini om-om ya? Baiklah... aku akan tunjukan padamu, bagaimana pria yang kau bilang om-om ini kalau dia bersanding dengan anak muda lain."
Ryuzen tiba-tiba saja, langsung melajukan motornya, Sara pun spontan langsung berpegangan erat. "Kita mau kemana?"
"Ikut saja, nanti kau juga akan tahu."
🌹🌹🌹
Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...
Author secara personal ingin berterima kasih pada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Oh iya, meski sering novelnya suka slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian. Dan buat yang udah baca, agar jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa untuk bantu di SHARE, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti buat aku.
Oh iya temen-temen, jangan lupa juga ya buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊
FYI : Bulan ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏