
Sara melihat ke arah jam dinding antik di villa tersebut yang menunjukan pukul 08.00 PM, ia pun bertanya-tanya kapan Ryuzen akan kembali.
"Biasanya, Ryuzen itu kalau pulang kerja jam berapa ya?" tutur Sara yang tidak tahu sama sekali jam pulang kantor Ryuzen.
"Mungkin sebentar lagi," pikir Sara, yang kini sudah selesai menyiapakan makan malam untuk Ryuzen. Sambil menunggu Ryuzen pulang, Sara pun akhirnya memutuskan untuk sedikit melihat-lihat isi villa milik Ryuzen ini.
Sara memperhatikan tiap detail interior villa dengan desain kontemporer yang cukup kuat, serta perpaduan warna-warna gelap dan putih membuat tiap sudut ruangan ini terasa begitu tenang dan elegan tapi juga terasa misterius.
Di dekat ruangan utama, ada pintu kaca yang tertutup tirai, yang mana saat Sara membuka pintu itu membawanya ke halaman belakang rumah yang ada tanaman buah anggur yang terlihat menakjubkan.
"Semua ruangan ini nampak elegan dan kuat akan kesan gelap yang memancar, seolah menggambarkan identitas si pemiliknya," ungkap Sara.
Setelah melihat semua sudut ruangan, Sara tertarik melihat ruangan yang sepertinya ruang kerja Ryuzen. Di Ruangan itu terdapat rak buku yang cukup besar, yang mana menyimpan bermacam-macam buku, terutama buku-buku tentang bisnis. Hal itu pun berhasil membuat Sara berkomentar, "Pria ini, Benar-benar pebisnis sejati sepertinya."
Namun ada satu buku yang betengger diantara buku-buku lain yang berhasil menarik perhatian Sara. Yakni buku novel karya salah satu penulis dari negeri ini yang sangat terkenal, yang juga adalah penulis buku favorit Sara.
"Aku tidak menyangka, Ryuzen membaca novel ini juga," gumam Sara yang kemudian mengambil buku itu. Tapi tiba-tiba....
Lampu mati, semua terlihat begitu gelap dan suram. Sara mencoba tenang namun dirinya tidak bisa tenang. Sara dengan tergesa-gesa berjalan menuju ruang utama tempat dirinya tadi menaruh ponselnya. Nafas Sara tiba-tiba jadi tak beraturan, yang ada di isi kepalanya saat ini hanyalah dirinya harus segera menemukan penerangan.
"Tolong jangan segelap ini, aku mohon!" ucap sara dengan panik dan detak jantungnya menjadi semakin cepat. Sara hampir mengeluarkan air matanya karena takut. Sampai tiba-tiba datanglah seorang memegangnya dari belakang, yang membuat Sara terkejut dan berteriak.
"Jangan! ku mohon jangan!" teriak Sara histeris, yang kemudian munculah suara memanggil namanya.
"Sara...!" Suara yang memanggil Sara terdengar sangat berat dan sudah pasti itu suara pria. Suara pria itu membuat Sara semakin takut.
"Tuan tolong jangan!" ujar sara kembali berteriak.
"Nona Sara..., ini aku!"
"Tuan Han kau kah itu?" tebak Sara yang kemudian tangannya meraba-raba mencari Ryuzen dimana. Sampai akhirnya munculah sebuah cahaya yang di arahkan ke diri Sara, yang berasal dari lampu senter yang dipegang Ryuzen.
"Ternyata benar kau!" teriak sara yang kemudian spontan memeluk Ryuzen kuat-kuat dengan keadaan tubuhnya yang kini gemetar.
"Kau...," kata Ryuzen tidak jadi meneruskan kata-katanya.
"Dia benar-benar takut gelapkah?" tanya Ryu dalam hati karena merasakan tubuh gemetar Sara yang kini memeluknya. "Tidak usah takut, aku disini!" ucap Ryuzen yang mencoba menenangkan Sara dengan menyentuh kepala Sara yang masih bergeming bersandar di dadanya.
Seketika Sara melepaskan pelukannya, saat ia sudah mulai tenang dan menyadari jika yang dia peluk adalah Ryuzen.
"Tuan maaf..., Aku..., tidak bermaksud untuk....:
Sara pun mengikuti Ryuzen dari belakang, Sara memengangi jas Ryuzen dengan dua jarinya, hal itu ia lakukan supaya tidak ketinggalan dan tidal ketahuan oleh Ryuzen. Namun, Ryuzen tetaplah Ryuzen yang mana mungkin pria itu tidak menyadari apa yang dilakukan Sara. Hal itu membuat Ryuzen tiba-tiba memegang tangan Sara, menuntun tangannya agar melingkarkan tangannya pada lengan kiri Ryuzen.
"Dia mau aku merangkul lengannya kah?" tanya Sara dalam hati, melihat apa yang dilakukan Ryuzen.
"Jangan jauh dariku kalau tidak mau aku tinggal," ujar Ryuzen yang tangan kanannya kini memegang senter.
"I... iya," balas Sara agak ragu. Kini kedua tangan Sara memengangi lengan kuat berotot milik Ryuzen. Mereka pun berjalan hingga tiba di tempat dimana bargainser di villa itu berada.
"Pegang ini!" perintah Ryuzen pada Sara untuk memegangi senternya, karena dirinya mau memeriksa arus dan tegangan listriknya. Sara pun memegangi Senter dan mengarahkannya ke bargainser, dan memperhatikan Ryuzen yang kini tengah mengutak atik bargainser itu.
Saat mengarahkan senter ke bargainser, Sara tidak sengaja malah salah fokus pada wajah serius Ryuzen yang terlihat karena pancaran senternya sedikit mengarah ke wajah tampannya.
"Ternyata dia memang tampan sekali!" Sara berdecak kagum di dalam hati.
"Ehem...." Ryuzen berdeham.
"Aku menyuruhmu mengarahkan senternya ke bargainser bukan wajahku," ucap Ryuzen yang terganggu dengan cahaya senter yang menyilaukan matanya.
"Oh, maaf aku tidak sengaja," kata Sara merasa agak sedikit malu pada Ryuzen.
Beberapa saat kemudian lampu hidup kembali. Sara menghela nafas lega, lalu mematikan senternya. Sedangkan Ryuzen menyeringai melihat Sara yang masih melingkarkan tangannya di lengan Ryuzen.
"Um, maaf," kata Sara yang kemudian melepaskan tangannya dari lengan Ryuzen setelah akhirnya sadar mengapa Ryuzen jadi bereskpresi seperti itu.
Melihat Ryuzen membetulkan listrik seperti barusan, membuat Sara masih agak tidak percaya.
"Tuan, aku tidak menyangka pengusaha hebat sepertimu mau repot mengutak-atik listrik sendiri," ucap Sara.
"Kau harusnya merasa beruntung, karna bisa melihatku melakukan hal barusan!" kata Ryuzen dengan ekspresi wajah datarnya.
"Kenapa beruntung?"
"Karena kau satu-satunya yang bisa melihat CEO Emerald membetulkan listrik malam-malam begini!" jelas Ryuzen yang kemudian melepaskan jasnya. Sara tersenyum kecil dan Ryuzen kembali meliriknya. Lirikan Ryuzen pun hampir membuat Sara jadi salah tingkah. Untuk menutupi salah tingkahnya akhirnya Sara mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Tuan, aku sudah masak makan malam, kau mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Sara.
"Menurutmu, yang lebih enak di lakukan duluan apa?" tanya Ryuzen dengan tatapan menggoda Sara.
Buat yang suka jangan lupa Like, comment, share dan vote :) Thank You 🌷