
Di ruangan yang cukup sunyi, dengan dikelilingi berbagai macam buku yang menggantung di rak. Tampak Renji yang duduk dibelakang meja kerjanya, menatap layar laptop. Namun tak sampai lima menit berlalu, ia pun mematikan dan melipat kembali laptopnya. Pria itu mengulas senyum, dan seperti biasanya, senyuman itu bukanlah senyum bahagia, melainkan senyum getir yang seolah dibuat demi menutupi rasa pilu yang kini menyelimuti perasaannya "Kau bahagia?" Renji berceloteh bertanya pada diri sendiri. Dirinya terlalu naif untuk bisa menipu batinnya sendiri. Perasaannya seperti perlahan tersayat, setalah menyaksikan sediri wanita yang dicintai dan ditunggunya selama bertahun-tahun, pada akhirnya harus ia relakan dengan pria lain. "Mungkin ini yang terbaik bagimu, karena dia satu-satunya yang kau pilih untuk membuatmu bahagia. Iyakan Sara?"
Renji beranjak dari kursinya. Berjalan mendekati sebuah kabin antik yang berada di salah satu sudut ruangannya. Dirinya mengambil sebuah kotak kecil yang ada di dalam kabin, lalu dibukanya kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah sapu tangan berwarna peach pemberian Sara dulu yang begitu berharga baginya. Renji sadar betul, kini ia tidak bisa memiliki Sara... dirinya sadar, bahwa ia tidak bisa memaksakan hatinya pada Sara sekalipun cintanya melebihi samudra. Jujur... Renji ingin sekali mengikuti egonya untuk memiliki Sara, tapi itu tidak mungkin. Karena bagaimanapun Renji berusaha atau memaksa, tetap saja, bukan dirinya yang diinginkan oleh Sara tuk memiliki hatinya. Renji menggenggam sapu tangan tersebut, menghidunya sambil memejakan mata. Mengingat bagaimana dirinya dan Sara bertemu untuk pertama kalinya. "Pada akhirnya hanya sapu tangan ini satu-satunya yang bisa aku miliki darimu."
Jika saja, aku pria di malam itu dan bukan Ryu. Apa mungkin kau dan aku akan bersama? Sungguh pengandaian yang terdengar lucu.
~~
Di perjalanan pulang, Sara yang kelelahan terlihat terlelap diatas pangkuan Ryuzen. Wajahnya yang terlihat begitu polos saat tertidur membuat Ryuzen tak henti-hentinya membelai dan memandangi wajah sang istri. "Kau sungguh terlihat tak berdaya saat tertidur, ingin sekali aku memakanmu saat ini."
Ryuzen tersenyum, dan kembali membelai wajah Sara. Akhirnya... semua orang tahu siapa dirimu di negeri ini, tidak akan ada lagi orang lain yang berani menindasmu.
Ekspresi Ryuzen yang tenang pun berubah heran, kala Sara tiba-tiba mengigau memanggil-manggil namanya dengan nada manjanya. Tangan Ryuzen yang berada di pipi Sara pun langsung ditarik oleh Sara dan dipeluknya. "Kau ini... apakan menjadikan tangan dan lenganku sebagai bantal sudah menjadi kebiasaanmu?" Ryuzen pun hanya bisa pasrah, melihat kebiasaan Sara yang memang selalu saja menjadikan tangan dan lengannya sebagai alas tidurnya.
Di kursi kemudi, Kenzo yang melihatnya dari kaca spion depan pun ikut senyum-senyum sendiri. "Nona Sara sangat imut kalau tidur ya tuan?"
"Jangan terlalu lama melihat istriku! Nanti kalau kau jatuh cinta padanya, apa siap jadi rivalku?" Ujar Ryuzen dengan wajah datar.
"Eh, bu-bukan maksudku begitu tuan." Kenzo membatin kesal. Padahal aku hanya memuji istrinya saja, apa sifat posesifmu tidak berlebihan bos?
"Oh iya, setelah konferensi pers tadi... bagaimana tanggapan orang-orang di media sosial?" Ryuzen tiba-tiba penasaran pada tanggapan netizen soal dirinya dan Sara.
"Oh kau tenang saja tuan, tadi aku sudah mengecek lewat akun media sosialku kok! Dan kebanyakan netizen mereka berkomentar positif. Terlebih... hampir semua taggar di media sosial berhubungan denganmu dan nona. Bahkan beritamu mengalahkan selebritis, aku rasa kau dan nona bisa jadi saingan para selebritis negeri ini," ujar Kenzo diikuti gelak tawannya.
Ryuzen tersenyum tipis. Dirinya merasa cukup lega mengingat apa ia ekspektasikan ternyata cukup sama dengan realita yang terjadi. "Baguslah kalau begitu..."
"Oh iya tuan, soal Biyan apakahー"
"Aku memang sengaja melakukan itu. Karena aku yakin dengan aku menyebut dirinya dalam konferensi pers tadi, ia pasti menyadari jika aku tengah menekannya. Dan mau tidak mau dirinya akan keluar dari persembunyiannya. Yang harus aku lakukan sekarang adalah tetap berjaga dan tidak boleh lengah dengan gerak-geriknya." Ryuzen tampak begitu serius, wajahnya menunjukan amarah yang coba ia tahan.
~~
Di apartemennya, Jesper terlihat tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk dirinya, dan juga Gina yang saat ini sudah duduk menunggu di meja makan sambil menonton video di ponselnya. Jesper terlihat membawa dua buah gelas dan sebotol anggur kualitas tinggi, yang dimaksudkan untuk dinikmatinya saat makan malam berlangsung nanti bersama Gina. "Kau sedang menonton apa Gina?" Tukas Jesper sambil, meletakan sebotol anggur dan gelas yang dibawanya itu tadi ke atas meja makan.
"Oh ini, aku baru saja selesai menonton siaran ulang konferensi pers Ryuzen dan Sara. Kau tahu Jes, aku benar-benar baru menyadari, betapa romantisnya mereka. Bahkan aku yang hanya menonton ulang saja bisa mera-sa...." Aduh aku sepertinya salah bicara. Gina mengehntikan ucapannya. Dirinya baru ingat, jika Jesper sendiri memiliki perasaan untuk Sara, alhasil Gina pun tidak melanjutkan ucapannya tadi. "Um... Jes maaf, aku hanyaー"
"Tidak apa-apa Gina... " Jesper menarik kursi, dan kemudian duduk menghadap ke meja makan yang kini di atasnya sudah penuh terisi, dengan masakan lezat yang dimasak sendiri olehnya tadi.
"Tapi aku sungguh minta maaf Jes aku tidak bermaksud untuk..." Gina benar-benar tidak enak. Ia khawatir perkataannyan tadi, membuat suasana hati Jesper menjadi buruk. Tapi sungguh Gina benar-benar tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu pada Jesper, ia hanya spontan saja melihat sahabatnya Sara terlihat bahagia di tayangan video tadi. Kini Gina jadi benar-benar merasa menyesal.
Pfft...! Tiba-tiba malah terdengar suara Jesper seperti tengah menahan tawanya. Gina yang tertunduk menyesal pun langsung mengangkat kepalanya, lalu menatap Jesper yang ternyata memang sedang menahan tawanya. Namun, bukan malah berhenti tertawa melihat Gina melihat ke arahnya... Jesper justru jadi kelepasan dan akhirnya benar-benar tertawa. Pria itu tertawa geli hingga membuat Gina yang tadinya merasa khawatir pada Jesper, berubah menjadi aneh sekaligus bingung hingga keningnya mengerut. "Kau ini, kenapa malah tertawa Jes? Memangnya ada yang lucu!?"
Jesper mengusap air matanya yang refleks keluar karena tertawa geli. "Ah maaf ya... habis aku tidak kuasa menahan tawa saat melihat wajahmu yang tiba-tiba merasa bersalah itu," terang Jesper yang masih menyisakan sedikit tawanya.
Melihatnya Gina bertingkah seperti itu, Jesper hanya bisa memandangi wanita di hadapannya itu sambil geleng-geleng menahan tawanya.
Gina yang memang tidak bisa berlama-lama kesal pada seseorang pun berhenti, akhirnya menyerah. Ia yang tadi berpaling pun kembali mengahadap Ryuzen dan menatapnya. "Kenapa sih kau malah menatapku sambil senyum-senyum aneh begitu?" Sejujurnya Gina dibuat tersipu karena tatapan Jesper padanya saat ini. "Kenapa memang? Aku kan hanya melihatmu saja. Lagipula..." Jesper tiba-tiba kembali serius, ia bahkan menyentuh dan menggenggam satu tangan Gina yang berada di atas meja. Sontak hal itu membuat Gina terperanjat hingga matanya terbelalak menatap Jesper. Pria itu pun membalas tatapan Gina itu lalu berkata, "Aku memang menyayangi Sara, tapi... perlahan aku mulai tersadar bahwa, cinta yang aku inginkan pada hakekatnya belum tentu menginginkan aku memiliki hatinya. Dan itu semua berkat kau Gina."
"Be- berkat aku, apa maksudmu?" Gina yang tiba-tiba gugup menarik tangangannya yang digenggam oleh Jesper. Dirinya takut jika, ia tak segera menarik tangannya itu dari genggaman tangan Jesper, pria itu akan menyadari jika dirinya tengah gugup.
Jesper tersenyum kecil, "Ya... aku bisa perlahan menerima kenyataan ini semua berkatmu Gina. Karenabsejak aku sering bertukar pikiran dan mengobrol denganmu, aku merasa semua yang kau katakan itu adalah benar adanya."
Gina memiringkan kepalanya menatap Jesper. "Aku jadi semakin tidak paham maksudmu Jes?"
Jesper menghela napasnya. "Intinya... kau telah menyadarkan diriku tentang perasaan yang tak bisa dipaksakan pada seseorang. Oleh karena itu... terima kasih Gina." Jesper tersenyum senang pada Gina.
Gina merasakan hatinya berdesir tiba-tiba. Seperti ada udara hangat yang tengah menyusup perlahan ke relung hatinya. Baru pertama kali aku melihat Jesper tersenyum sebahagia ini di hadapanku. Tidak seperti senyumnya yang biasanya getir dan penuh luka. Kali ini dia tersenyum bak matahari yang sedang menyongsong hari baru. Apakah mungkin...? Gina bisa merasakan degup jantungnya semakin tak beraturan. Ia pun seperti tak bisa berhenti menatap ke arah Jesper.
"Gina..." Ujar Jesper yang mengira Gina bengong karena terus menatapnya tanpa berbicara.
"Oh i- iya, ada apa...?" Gina jadi gelagapan tiba-tiba.
Jesper pun kembali dibuat tergelitik melihat Gina.
"Kenapa kau tertawa lagi, apa aku ini badut yang selalu bisa buatmu tertawa!?"
"Bukan! Hanya saja... kau ini benar-benar lucu kalau sedang termenung atau bengong. Seakan-akan imejmu yang dikenal sebagai pengacara yang tegas dan berani, seketika hilang begitu saja saat kau tengah termenung."
"Kau bicara apa sih Jesper?"
"Maksudku, kalau kau sedang termenung begitu... aku merasa, dibanding wanita dewasa yang elegan, kau itu malah mirip remaja imut yang sedang kasmaran," ungkap Jesper dengan begitu jujur.
Wajah Sara semakin dan semakin memerah dibuatnya karena ucapan Jesper barusan. "Jesper, kau ini! Sudah ayo makan, kalau tidak masakanan enak ini bisa dingin!" Gina pun mencoba menutupi dirinya yang kini sungguh merasa salah tingkah. Hatinya berdegup kencang dan gugup. Apa-apaan bilang begitu, apa dia tidak tahu kalau aku sungguh jadi tidak bisa tenang karena perkataannya barusan. Bagaimana kalau dia tau aku malu karena aku memiliki perasaan padanya? Gina mengunyah makannannya dengan cepat, berharap hal itu menutupi rasa malu dan gugupnya.
~~
Dikediaman Han, Ryuzen yang baru saja dari ruang kerja memasuki kamarnya. Di atas ranjang, Ryu melihat Sara yang sudah mengenakan gaun tidur duduk bersandar sambil sibuk membaca majalah design. Sara tampak begitu serius membaca majalah itu, sampai-sampai ia tak menyadari kedatangan suaminya. Melihat sang istri yang begitu serius bahkan tak menyadari kehadirannya, Ryuzen pun langsung menghampiri Sara dan berucap, "Apakah majalah ini lebih menarik daripada suamimu sendiri?" Sara terkesiap melihat suaminya itu tiba-tiba sudah berada di dekatnya. "Ryu kau ini mengagetkanku saja!"
🌹🌹🌹
Hai.... Jangan lupa untuk VOTE, LIKE, DAN COMMENT🌹
Jangan lupa juga follow ig aku @chrysalisha98