Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 34


Sesampainya di depan villa constel, Arvin pun bergegas untuk segera turun. Arvin yang duduk di sebelah Gina pun melepaskan sabuk pengamannya.


"Arvin tunggu!" seru Gina. Alhasil dirinya berhasil membuat Arvin menarik kembali langkahnya, sehingga tidak jadi keluar dari mobil.


"Ada apa Bi?" tanya Arvin terlihat acuh.


"... Tadi, saat aku kembali menemuimu di taman, aku melihat kau bersama dengan seorang laki-laki paruh baya bertubuh tinggi itu. Apa kau kenal dengan orang itu?" Gina penasaran, namun dirinya sebisa mungkin tak menunjukkan sikap seolah tengah menginterogasi Arvin.


"Tidak!" balas Arvin singkat.


Gina mengernyitkan dahinya, "Tidak? Tapi, kenapa kau bisa-"


"Aku bertemu dengan kakek itu secara kebetulan. Jadi tadi itu, aku tidak sengaja melihatnya menjatuhkan pena miliknya lalu..."


Arvin pun menceritakan dengan detail mungkin kronologi bagaimana dirinya bisa bertemu, dan mengobrol dengan Jordan tadi di taman.


"Oh.., jadi seperti itu."


"Sudah ya Bi, ayo kita masuk ke villa! Mami pasti sudah menunggu kita di dalam."


"Ya kau benar!"


Gina dan Arvin pun akhirnya keluar dari dalam mobil, dan langsung menuju ke arah pintu masuk villa constel. Arvin pun dengan segera menekan angka-angka untuk membuka password kunci pintunya, dan kemudian memasuki vila yang telah menjadi tempat dirinya untuk berpulang sejak Sara dan Ryuzen resmi menikah.


"Kami pulang!" seru Arvin dan Gina secara bergantian. Hingga beberapa detik kemudian Sara pun muncul. Dengan senyuman paling hangat milik wanita cantik itu terurai menyambut kedatangan putra, dan sahabatnya yang baru saja tiba itu.


"Hmm, akhirnya kalian pulang juga. Aku sudah menunggu kalian sejak tadi."


Sara pun berjalan menghampiri Arvin dan kemudian langsung memeluk putra semata wayangnya itu.


"Arvin sayang, aku sangat merindukanmu...." Sara menunduk dan memeluk Arvin dengan sangat erat. Seolah dirinya kini tengah melampiaskan semua rasa rindunya pada sang putra, yang sudah hampir sepekan tidak pernah berada di dekatnya.


"Aku juga rindu sama Mami," balas Arvin yang juga memeluk erat sang Ibu.


Setelah beberapa saat, ibu dan anak itu pun saling melepaskan pelukan mereka. Arvin menatap wajah Sara dengan seksama.


"Ada apa anakku sayang? Kenapa kau melihat mami dengan tatapan begitu?"


"Mami baik-baik saja kan? Tidak ada yang sedang mem-bully Mami kan?" tanya Arvin


"Ya tentu, Mami baik-baik saja kok! Kau tidak perlu khawatir Arvin sayang.... Lihat! Aku baik-baik saja kan?" balas Sara yang bersikap seolah memang sedang baik-baik saja di depan Arvin.


Tapi meski sudah bertingkah begitu, tetap saja bagi seorang Arvin melihat sikap Sara yang seperti ini, malah semakin membuatnya tidak percaya ucapan sang mami yang mengatakan merasa baik-baik saja.


"Begitu ya?" tukas Arvin dengan wajah masam.


Sara hanya tersenyum palsu.


"Um... bagaimana jika sekarang lebih baik, kau mandi dan ganti pakaian. Setelah itu kita makan malam bersama ya?" Sara mencoba menaikkan mood Arvin yang dirinya paham sekali sedang tidak baik.


"Baiklah...." Arvin pun akhirnya pasrah, dan langsung melangkah pergi menuju kamarnya untuk mandi dan bersih-bersih.


Sementara Arvin bersih-bersih, Sara dan Gina kini sudah berada duduk di ruang utama. Tidak jauh beda dengan Arvin yang penasaran pada Sara. Gina pun akhirnya langsung membuka suara menanyakan, apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh sahabatnya itu.


"Jadi, setelah beberapa minggu aku tidak ada di kota ini. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Yang aku dengar, CEO Emerald berniat untuk memperkenalkanmu sebagai istrinya di khalayak umum. Apa itu benar?"


Sara menghela napas dan terlihat lesu, "Gina soal itu saat kau tidak ada di kota ini...."


Baru saja ingin berbicara serius pada Gina, tiba-tiba ponsel Sara berdering. Takut adalah panggilan penting, dengan segera Sara pun meraih ponselnya yang tengah berdering itu dari atas meja yang ada di depannya.


Ryuzen?


Ternyata panggilan dari sang suami. Tanpa ragu, Sara pun langsung saja mengangkat panggilan dari Ryuzen itu.


Sara : Ya, Halo Ryu?


Ryuzen : Sayang, maaf hari ini sepertinya aku tidak bisa pulang [ Terdengar seperti orang yang merasa bersalah ]


Sara : Apa kau sedang ada pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan malam ini?


Ryuzen : Ya, ada yang harus aku selesaikan hari ini.


Sara : Baiklah kalau begitu...


Ryuzen : Apa kau marah?


Sara : Tidak, hanya saja... Arvin sudah pulang. Aku rasa dia rindu padamu.


Sara : Oh, okey!


Ryuzen : Sara, apa kau baik-baik saja?


Sara : Aku? Oh tentu aku baik-baik saja.


Ryuzen : Sayang maafkan aku.


Sara : Aku tahu.


Ryuzen : Aku mencintaimu dan Arvin


Sara : Aku tahu, jaga dirimu baik -baik. Jangan lupa makan.


Ryuzen : Iya. Kalau begitu, selamat malam.


Sara : Selamat malam....


[ Percakapan selesai ]


"Suamimu hari ini tidak bisa pulang ya?" tanya Gina yang sejak tadi mendengar percakapan Sara dengan Ryuzen di telepon.


"Ya, kau benar!"


"Ingin bercerita sesuatu?"


~ ~


[ Ruangan Ryuzen ]


"Tuan Ryu, pelaku yang dengan sengaja membuat huru hara di acara peringatan hari jadi Emerald malam lalu sudah di bawa ke tempat yang kau minta!" terang Kenzo.


"Oke, kita kesana sekarang!"


Ryuzen dan Kenzo pun segera menuju ke parkiran, bergegas berangkat ketempat yang dimaksud itu.


Di sepanjang jalan menuju parkiran, Kenzo melihat Ryuzen hari ini agak terasa berbeda. Hal itu membuat Kenzo pun tak bisa untuk tidak bertanya pada sang atasan.


"Tuan, apa kau baik-baik saja?"


"Tidak!"


"Apa kau sudah menghubungi nona Sara?"


"Ya!"


"Lalu-?"


Ryuzen tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Kenzo, mereka sudah tahu kelemahanku! Dan aku tidak menyangka dia ternyata dia bersenkongkol dengan Biyan Dao."


Kenzo nampak bingung mendengar ucapan Ryuzen barusan.


"Di-dia, maksudmu siapa?"


Ryuzen tak menjawab apapun. Namun dimatanya jelas tercermin perasaan marah dan was was.


~~


"Jadi, kau hampir saja celaka dimalam itu karena insiden? Kurang ajar! Siapa, siapa yang berani melakukan itu padamu?" Gina nampak sangat kaget, marah dan penasaran. Setelah mendengar langsung kejadian yang terjadi di ballroom hotel Gloria malam itu.


"Aku juga belum tahu, tapi... aku berharap mataku saat itu salah lihat!" Tatapan mata Sara nampak sendu.


"Maksudmu?"


"Sebenarnya setelah terjadinya insiden suara tembakan dan jatuhnya lampu di ballroom itu, aku melihat...."


🌹🌹🌹


Happy reading fellas!


Terima kasih banyak teman-teman yang sudah mau mengapresiasi karyaku, semoga kalian terhibur. Dan maaf atas update yang tidak menentu, dan juga berterima kasih untuk yang sudah mau vote, like, comment dan favoritkan novel ini. Once again big thanks for you all guys.


🌹Happy weekend 🌹