Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 51


"Heh, akhirnya yang aku tunggu tiba juga." Biyan Dao menoleh ke arah darimana suara itu berasal. Tidak berbeda dengan Biyan, yang lainnya pun tentu ikut menoleh ke arah dimana Ryuzen yang baru saja memasuki ruangan utama kediaman Han itu.


Ryu yang baru saja tiba di kediaman Han, berjalan menghampiri Biyan diikuti Kenzo yang ada di belakangnya.


"Jadi beginikah caramu untuk menghancurkanku?" Ryuzen bertanya langsung dihadapan Biyan Dao.


Gelak tawa Biyan kembali bergema, "Oh ayolah, kau pasti sudah tahu watakku kan keponakan?" Dengan ekspresi puas Biyan membalas pertanyaan Ryuzen.


"Cih! Sepertinya kau memang sudah sepenuhnya menjelma menjadi iblis ya, Bahkan di saat nenek Ivy baru saja meninggal dan tanah kuburnya masih belum kering!" Kata-kata itu diucapkan Ryuzen dengan nada datar namun terasa menusuk bagai duri yang tertancap di tenggorokan.


"Oh.... Jadi maksudmu aku harus menangis, berbela sungkawa, dan meraung-raung di depan makam bibiku yang kini sudah terkubur tak bernyawa di dalam sebuah peti mati? Begitukah menurutmu seharusnya yang aku lakukan?" Nada bicara Biyan seolah meninggi saat mengatakan hal itu.


"Jangan bercanda Ryuzen Han. Kau pikir atas semua yang telah paman, bibi, dan ayahmu yang terkutuk itu lakukan padaku, aku sudi untuk menundukan kepalaku dan berduka. Cih! Bahkan mengunjungi makamnya pun aku tidak sudi," sambung Biyan Dao dengan mengarahkan tatapan tajam ke arah Ryuzen yang berada beberapa sentimeter di sebelahnya.


"Lalu? Kenapa kau tidak pergi sekarang jika memang tidak ingin berbela sungkawa," Balas Ryuzen.


"Ya aku memang datang kemari bukan untuk berbela sungkawa. Aku datang kemari hanya sekedar mampir dan menemui para penghuni kediaman ini, sekaligus meminta hak atas saham Emerald yang masih milikku."


"Andai bisa aku lakukan, sudah sejak dulu kurobek mulutmu itu prita tua!" Ryuzen nampak mulai muak mendengar celotehan Biyan Dao saat itu.


Biyan Dao mendekatkan bibirnya ke arah telinga Ryuzen, "Kau masih belum lupa kan, jika aku ini masih sah menjadi pemilik dua puluh persen saham Emerald. Dan, aku bertaruh saat ini kau pasti sedang kebingungan dengan nasib istrimu yang kini menjadi tersangka kasus pem-bu-nuh."


Ryuzen semakin mulai hilang kendali, sorot matanya menajam, saat Biyan Dao mulai membawa-bawa sang istri di dalam perkataannya barusan. Tangannya hampir saja lepas kendali, untungnya dirinya masih sadar jika saat ini masih dalam suasana berkabung sehingga ia mengurungkan niatnya untuk menghajar Biyan.


"Sudah kuduga, kau memang dalang dari semua kekacauan ini," gumam Ryuzen dengan nada datar.


"Heh, sudahlah jika kau ingin tahu semuanya, temui saja aku besok pagi, di tempat yang akan aku kirimkan padamu besok!" Biyan Dao menepuk pundak Ryuzen dan kemudian melangkah pergi ke arah pintu keluar. Dengan sombongnya Biyan Dao melambaikan tangannya dan melangkah pergi meninggalkan kediaman keluarga Han.


~~


Kepergian Biyan Dao membuat suasana di kediaman Keluarga Han, sejenak hening tak bersuara. Tak terkecuali Ryuzen, tanpa sepatah kata pun dirinya langsung menuju ke ruangan tempat dimana biasa Nenek Ivy berada. Ryuzen memandangi foto kakek dan neneknya yang tergantung di ruangan tersebut. Bagi Ryuzen setelah kepergian nenek Ivy, kediaman ini seolah telah tiba pada masanya. Dimana neneknya yang selalu merawat kediaman ini, sebagai bukti rasa cintanya pada sang suami Yerumi.


"Nenek, aku berjanji akan menemukan dan menghancurkan orang yang berani melakukan semua ini pada keluarga kita. Sekarang, kau tenanglah di alam sana bersama kakek dan juga ibuku, biar aku yang menyelesaikan semua ini. Tolong berikan kekuatan kalian padaku!"


Sekali lagi orang yang begitu dicintai oleh Ryuzen, harus pergi meninggalkannya. Fondasinya seolah runtuh perlahan-lahan dengan seketika. Saat ini, sang serigala pemberani pun harus bangkit, agar bisa mempertahankan harga diri dan keluarganya, dari musuh yang mengintai.


~~


Sementara itu di ruangan, ketengangan masih berlanjut. Kedua orang tua Rony pun segera mempertanyakan apa maksud ucapan Biyan Dao tadi, perihal dirinya yang mencintai Sara istri pamannya sendiri. Rony yang sama sekali tidak ingin mengungkit soal itu apalagi dihadapan kedua orang tuannya pun bermaksud pergi.


"Rony!" seru Miya.


Rony pun mengurungkan langkahnya dan berdiam diri tidak jadi pergi.


"Jawab ibu, apa maksud paman Biyan, yang mengatakan kau jatuh cinta pada istri pamanmu sendiri?"


"Iya nak, coba jelaskan pada kami," pinta sang ayah pada Rony.


"Jadi kalian benar-benar memikirkan ucapan si tua bangka itu?" balas Rony gusar.


"Rony, jawab pertanyaan kami. Apa benar diantara kau dan Sara, kalia-"


"Iya," balas Rony memotong ucapan sang ayah yang belum selesai.


Ucapan Rony berhasil membuat Miya tertegun dan langsung beranjak mendekati sang putra untuk kembali bertanya dengan perasaan gusar, "Rony, aku ibumu yang kini sedang serius bertanya. Jadi, tolong jawab dengan serius!" Sorot mata Mia seolah tengah mengisyaratkan betapa dirinya mengharapkan, jika yang diiyakan oleh sang putra tadi hanyalah sekedar candaan belaka.


"Rony jawab ibu sekarang!"


Rony hanya bisa tertunduk dan membuang muka.


"Aku serius Ibu, aku mencintai Sara sebagaimana seorang pria mencintai wanita."


*plak


Terdengar bunyi suara tubuh Rony karena tamparan dari sang ayah Henri yang kini terlihat murka dan kecewa.


"Bagaimana bisa kamu mencintai wanita yang jelas-jelas adalah istri pamanmu sendiri! Apa kau sudah tidak waras, atau memang saraf di otakmu sudah mati!"


Miya hanya bisa menangis. Betapa tidak, dirinya yang baru saja dihantam kesedihan akibat baru saja ditinggal pergi selamanya oleh sang nenek, malah masih harus terluka karena mengetahui kenyataan jika putranya ternyata mencintai Sara yang notabennya adik iparnya.


"Maaf ibu, ayah, tapi aku tidak bisa bohong pada perasaanku jika ternyata aku memang mencintainya."


Mendengar itu, Henri seolah tak bisa menahan emosinya, ia pun kembali ingin memukul Rony tapi untungnya segera ditahan oleh sang istri Miya, "Sudah suamiku jangan lagi memukulnya, ini salahku!" Miya terisak sedih, merasa jika apa yang dilakukan oleh Rony juga merupakan kesalahnnya.


"Andai aku sebagai ibu, lebih memahami anakku sendiri pasti tidak akan seperti ini. Andai aku tahu lebih cepat pasti tidak akan begini, maafkan ibu Rony."


Rony sebagai anak pun merasa bersalah karena melihat ibunya saat ini menangis, karena dirinya. Henri mencoba menenangkan Miya dan memeluknya. Rony sebenarnya ingin sekali memeluk ibunya saat ini, karena pada kenyataannya. Meski dirinya mencintai Sara tapi Sara tidak pernah sedikitpun merasakan hal yang sama seperti yang dirinya rasakan.


"Kau tidak bersalah sama sekali kak!"


Semua menoleh ke arah Ryuzen yang baru saja muncul, sehabis kembali dari ruangan kakek dan nenek. Ryuzen berjalan menghampiri Rony dan kedua orang tuanya berada saat ini.


"Kalian tidak bersalah sama sekali. Begitupun Rony, dia juga tidak bersalah," ujar Ryu yang kini sudah berada berdiri persis di antara ketiga orang itu.


"Apa maksudmu Paman? Kau tidak sedang berusaha jadi pahlawan untuk membelaku di hadapan orang tuaku bukan?" Balas Rony yang sedikit terdengar sinis.


Ryuzen menggeleng lalu berucap, "Tidak! Aku sedang tidak mencoba menjadi seperti yang kau bilang barusan. Aku hanya merasa jika, yang seharusnya kalian salahkan adalah aku, karena akulah seseorang yang paling bertanggung jawab atas semua yang terjadi di saat ini di keluarga ini. Jadi... kalian tidak perlu saling menyalahkan dan merasa bersalah," jelas Ryuzen.


Ryuzen pun akhirnya menceritakan segala kemelut yang sebenarnya terjadi diantara dirinya, Sara, dan Rony kepada Miya dan juga Henri.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and i hope you like it.