
Akhirnya Ryuzen tiba di bandara kota Montegi, dengan jalur khusus Ryu akhirnya mendarat dengan selamat di kota tempat tinggalnya tersebut. Dengan mengenakan setelan jas kasual, Ryuzen keluar dari dalam pesawat pribadi miliknya. Setibanya di Montegi Ryuzen bermaksud untuk langsung menuju ke kota Cardia menyusul sang istri yang berada disana.
Sebelum kesana Ryuzen pun menelepon Sara terlebih dahulu, untuk mengabari jika dirinya sudah tiba di Montegi. Namun, baru saja dirinya berniat menelepon Sara, tiba-tiba Ryuzen malah dibuat penasaran dengan kiriman pesan gambar yang dikirim oleh nomor yang tidak dikenalnya.
Ryu mengangkat sebelas alisnya, Nomor siapa? hati Ryuzen bertanya-tanya. Akibat rasa penasaran yang semakin membuncah, Ryu pun menunda untuk menelepon Sara dan memilih untuk membuka pesan gambar tersebut terlebih dahulu. Pesan gambar tersebut pun dibukanya, dan seketika ekspresi wajah dingin Ryuzen yang mulanya tenang, tiba-tiba berubah menjadi tidak senang dan tampak mengguratkan sebuah amarah yang menggebu. Ada apa? Kenapa tiba-tiba mimik wajahnya berubah?
Ternyata, Ryuzen telah melihat gambar-gambar yang dikirim oleh nomor tak dikenal itu, dimana foto itu adalah, foto-foto sang istri yang terlihat tengah bersama Renji di kota Cardia saat ini. Beruntungnya Ryuzen masih dalam kondisi emosi yang cukup stabil, ia pun mencoba memastikan kebenaran dari foto-foto tersebut dengan cara menghubungi Sara. Namun, setelah mencoba beberapa kali ia menghubungi ponsel sang istri, nyatanya panggilan Ryu tak kunjung membuahkan jawaban.
"Argh! Sial! Kau sedang apa kau Sara!" Ryuzen mulai geram dan cemas menyadari panggilannya tak dijawab oleh Sara.
~~
Sementara itu Jesper dan Gina yang sudah puas mengelilingi kota Cardia pun memutuskan untuk segera kembali ke penginapan, mengingat hari sudah menjelang sore. "Baiklah, lebih baik kita segera kembali ke penginapan saja!" ujar Gina.
"Ya, kau benar!"
Keduanya akhirnya sepakat untuk kembali, dan mereka pun berjalan menuju kembali ke penginapan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ponsel Jesper berdering, ia pun memutuskan menepi sejenak untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Ryuzen? Ada apa dia meneleponku tiba-tiba?" Jesper pun dibuat heran melihat Ryuzen yang tidak pernah menghubunginya tiba-tiba menghubunginya disaat seperti ini.
"Ada apa?" Gina ikut dibuat penasaran dengan panggilan dari Ryuzen tersebut. Tanpa lama-lama Jesper pun mengangkat panggilan tersebut dan menyalakan loud speaker-nya agar Gina juga bisa mendengarkan.
Jesper : Halo?
Ryuzen : Apa Sara bersama kalian?
Jesper/ Gina : Huh? Apa maksudmu?
Ryuzen : Jawab saja! Apa Sara ada bersama kalian atau tidak?
Gina : Sejujurnya... sejak tadi aku dan Jesper tidak bersama dengan Sara.
Jesper : Tunggu, kenapa kau bertanya begitu? Ada apa sebenarnya (Terdengar cemas)
Ryuzen : Cih sial!
Gina : Ada apa sebenarnya Ryuzen, apa yang terjadi dengan Sara? ( Gina semakin merasa cemas)
Ryuzen : Telalu rumit, yang jelas aku minta kalian untuk membantuku mencari Sara sekarang!
Gina : Ta- tapi..?
*Tut..... Ryuzen langsung menyudahi panggilannya.
Gina dan Jesper yang dibuat bingung dan cemas pun saling menatap, seolah saling melempar tanya. Ada apa sebenarnya? Apa sesuatu terjadi pada Sara? Untungnya baik Gina maupun Jesper sama-sama tidak mau mengulur waktu lebih lama lagi, mereka berdua memutuskan untuk langsung bergegas pergi mencari keberadaan Sara.
~~
"Memang, ada apa sebenarnya Tuan?" Kenzo bertanya melihat mimik wajah bosnya yang tampak tidak biasa.
Ryuzen tidak menjawab lugas pertanyaan sang asisten. Tiba-tiba ponsel Ryuzen kembali berdering, kali ini ada kiriman sebuah video dari nomor yang sama tadi. Segera Ryuzen membuka dan memutar video tersebut. Mimik wajah Ryuzen pun semakin berubah serius, Ada apa sebenarnya, apa sebenarnya isi video tersebut?
Ryuzen hanya menarik napas dan menghembuskanya, ia pun lalu berujar pada sang asisten, "Sekarang aku minta kau lacak tempat yang ada di dalam video tersebut. Kita harus segera ke Cardia." Dengan kedua tangan yang mengepal Ryuzen mencoba tetap mengendalikan amarah dirinya yang kini tengah meluap. Sara, kau pasti akan baik-baik saja.
~~
Jesper dan Gina kebingungan. Mereka sudah berkeliling dan menyusuri kota Cardia namun tak kunjung menemukan Sara. Peluh pun semakin banyak muncul di dahi Gina, sebagai sahabat ia merasa sangat khawatir memikirkan bagaimana keadaan temannya itu saat ini.
Melihat Gina begitu khawatir, Jesper yang juga tak kalah khawatirpun meraih dan menggenggam satu tangan Gina mencoba untuk menenangkannya. "Kau tenang saja, aku yakin Sara pasti akan baik-baik saja." Gina menatap pandangan Jesper kepadanya, dan hal itu sedikit membuat Gina lebih tenang, ia pun tersenyum kecil sambil menyakinkan dirinya di dalam hati. Ya... aku yakin semua akan baik-baik saja.
~~
Ditengah perjalanan menuju Cardia, sambil menyetir mobil Ryuzen tetap berusaha menghubungi Sara meski hal itu sia-sia. Argh sial! Dengan kecepatan maksimum Ryuzen melajukan mobilnya menuju Cardia. Perasaan cemas, marah, kesal, dan bersalah benar-benar berkecamuk di hati dan pikiran pria tersebut. Ryu seolah lagi-lagi merasa gagal sebagai seorang suami, karena tidak bisa menjaga sang istri yang kini tengah berbadan dua.
"Tuan, aku sudah dapatkan info dimana tempat orang yang kini menyekap nona Sara!" Ujar Kenzo yang duduk disebelah Ryuzen sejak tadi.
"Kalau begitu, cepat kirim lokasinya ke ponselku!"
"Baik Tuan!"
Ryuzen semakin mengecangkan laju mobilnya menuju kota Cardia. Sara tunggu aku sayang, kau harus baik-baik saja.
~~
Akhirnya Ryuzen tiba di tempat yang ditengarai di dalamnya terdapat Sara yang tengah disekap.
Sebuah bagunan bekas industri yang sudah lama tidak digunakan terpapang jelas di hadapan Ryuzen dan Kenzo.
Kenzo memandangi bangunan tersebut dengan seksama. "Aku baru pertama kali ke tempat ini!" Ujar Kenzo yang sama sekali baru menginjakan kakinya di tempat tersebut.Tiba-tiba ponsel Ryuzen kembali berbunyi, sebuah pesan peringatan dikirimkan padanya.
Datang sendiri atau aku tidak menjamin keselamatan wanitamu!
Ryuzen benar-benar dibuat naik pitam, ia mengatupkan gerahamnya.
"Ada apa lagi tuan," Tanya Kenzo yang menyadari jika bosnya itu pasti sedang dalam posisi tidak senang.
"Kenzo, aku mau kau kembali ke montegi lacak nomor tidak dikenal yang menghubungiku tadi, dan temui Jason!"
Kenzo pun kaget dan bergidik, "A- apa maksudmu tuan, kenapa... dokter Jason?"
Ryuzen tidak memiliki waktu untuk menjelaskan secara detail pada asistennya, "Tidak ada waktu menjelaskan secara detail, lakukan saja apa yang aku katakan!" Dengan nada keras Ryuzen menginstruksikan sang asisten. Kenzo yang sudah paham karakter sang bos pun hanya bisa menuruti dan melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh sang tuannya.
"Baik tuan aku akan lakukan apa yang kau minta, tapi tuan aku mohon kau harus baik-baik saja."
"Aku lebih tahu batas dan kemampuanku!"
Kenzo akhirnya pergi meninggalkan Ryuzen untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh tuannya.
Ryuzen akhirnya membuka pintu bangunan tersebut dan masuk ke dalamnya. Setibanya di dalam siapa sangka sosok yang dilihatnya untuk pertama kali adalah sosok yang sejak tadi ia coba sangkal keterlibatannya.
๐น๐น๐น....