Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 181


Akhirnya Sara dan kedua temannya itu tiba juga di kota Cardia. Kota kelahiran Sara dan juga Jesper.


Di pertengahan jalan menuju ke tempat tujuan, mereka memutuskan untuk menepi sejenak di dekat sebuah ladang ilalang yang membentang luas. Ketiganya duduk berjajar dipinggir di padang itu, sambil menikmati keindahan ilalang yang seolah tengah menari-nari karena tertiup angin. Sara yang duduk berselonjor dengan ditumpu kedua tangannya kebelakang, memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam udara kota Cardia yang masih terasa begitu asri dan segar. "Udara di Cardia memang masih yang terbaik."


Gina yang baru pertama kalinya berkunjung ke Cardia pun setuju dengan ucapan Sara barusan tantang kota tersebut. "Ya... kau benar, dibanding Montegi udara di kota ini jauh lebih segar dan bersih. Mungkin karena transportasi dan juga industri disini tidak sebanyak Montegi, yang kita semua tau kota itu sangat sibuk dengan kegiatan bisnis dan industri setiap harinya."


"Betul sekali! Terlebih, di Cardia masih banyak pedesaan yang belum terlalu banyak disentuh oleh teknologi dan juga infrastruktur. Warga disini juga masih banyak yang mengandalkan sektor pertanian dan perkebunan sebagai mata pecaharian mereka," imbuh Jesper yang duduk disebelah Gina.


"Tapi sungguh, setelah kita setiap hari merasa penat dengan segala keramaian Montegi. Datang ke kota ini bisa jadi salah satu penghilang stress bukan?" Ujar Sara.


"Betul!" Ujar Gina dan Jesper secara bersamaan.


Sara tiba-tiba tersenyum dan melirik dengan usil ke arah kedua sahabatnya, yang duduk berdampingan di sebelahnya tersebut.


"Ke- kenapa kau melihatku begitu Sara? Me- memangnya... tidak boleh kalau bicara secara bersamaan?" Ujar Gina yang seolah menghindari tatapan Sara. Melihat temannya salah tingkah begitu membuat Sara semakin yakin, jika Gina saat ini pasti sedang gugup. Terlebih lagi, Jesper yang harusnya juga malu-malu malah ikut menggoda Gina dengan berkata, "Sara kau jangan begitu, lihat wajah Gina sekarang, jadi seperti kepiting rebus yang baru saja matang."


Gina semakin tak kuasa salah tingkah dibuatnya, hingga dirinya jadi tiba-tiba menggerutu tidak karuan. "Huuh... kalian berdua ini menyebalkan! Sudahlah kalian saja disini, aku mau cari minuman dulu." Gina pun pergi untuk mencari minuman, meski alasan sebenarnya adalah untuk menenangkan dirinya yang mulai kentara sekali sedang salah tingkah.


Akhirnya tinggalah Sara dan Jesper berdua saja yang duduk di pinggir ladang. Keduanya sama-sama tidak bicara dan hanya terus saja memandangi ladang ilalang yang membentang luas dihadapan mereka.


"Hei...!" Ucap keduannya bersamaan. Mereka pun saling menertawakan satu sama lain.


"Um Sara... selamat ya, atas konferensi pers kemarin. Respon masyarakat sangat baik dan aku lihat kau juga jauh lebih baik dan bahagia saat ini," tukas Jesper.


"Terima kasih Jes...." Sara menghela napas, "Oh iya, ngomong-ngomong sudah lama ya kita tidak ke kota ini bersama. Kau pasti masih ingat terakhir kali kita kemari adalah setahun yang lalu, saat kau berpamitan denganku untuk belajar di paris kau ingat kan?" Sara menolehkan wajahnya memandang Jesper yang tepat berada disebelahnya.


Senyum Jesper pun mengembang, "Tentu saja aku ingat, itu kan hari dimana aku mengatakan padamu jika aku rela melepaskanmu dengan Ryuzen. Dan momen itu sama persis di tempat ini, tempat yang sama, hanya bedanya sekarang kita pergiー"


"Dan kali ini kita pergi bersama Gina," ujar Sara.


"Ya, kau benar!"


"Hei, jujur padaku, kau sudah tahu tentang perasaan Gina terhadapmu kan Jes?"


Jesper menyipitkan matanya melihat ke arah Sara."Kenapa... kau tiba-tiba bertanya itu padaku?"


"Entahlah, hanya ingin tahu saja, dan kebetulan hal itu terlintas dibenakku tiba-tiba jadi aku bertanya padamu." Sara memandangi Jesper sambil tersenyum, berharap Jesper segera menjawab pertanyaannya barusan.


Pria itu langsung menghela napasnya, mencabuti rerumputan liar yang ada di sekitarnya dengan sembarangan, lalu melemparkannya. "Ya... aku sudah tau hal itu sejak aku kembali ke dari paris."


"Lalu?"


"Lalu apa lagi... memang kau mau aku mengatakan apa Sara?" Jesper kembali mencabuti rerumputan di dekatnya.


"Tidak ada, aku sadar aku pun tak bisa ikut campur terlalu jauh antara dirimu dan Gina. Tapi perlu kau ingat, aku dan Gina sama-sama wanita, jadi aku tahu persis perasaan sahabatku itu."


"Kau sedang menilaiku diriku Sara?" Jesper menoleh menatap Sara.


Sara menggeleng, "Tidak, aku tidak perlu menilaimu Jes, karena aku sudah tahu kau pria yang seperti apa. Hanya saja, dalam hal ini... aku mohon padamu, jangan pernah membuat seorang wanita terlalu lama berada dalam ketidak pastian, karena hal itu hanya akan membuatnya semakin sulit dan sakit. Wanita mungkin bisa saja cukup kuat untuk bersabar, tapi dibalik rasa itu kami memiliki hati yang tidak bisa terus diombang-ambingkan tanpa tujuan. Jangan biarkan kapal itu berlayar tanpa tujuan. Bawalah ke dermaga yang pasti, karena jika tidak, lama-kelamaan kapal itu akan karam dengan sendirinya."


Jason kembali mengulas senyumnya pada Sara. "Ya Sara, aku paham.... aku paham maksudmu gadis kecilku yang kini sudah dewasa..." Jesper mengusap-usap rambut Sara.


"Hei aku ini sudah mau jadi ibu dari dua anak, bagaimana bisa kau panggil aku gadis kecil!"


Jesper kembali mengusap dan mengacak-acak rambut Sara. "Tapi bagiku kau tetap gadis kecil."


"Jesper hentikan! Nanti rambutku jadi berantakan!"


"Suamimu kan kaya raya, nanti tinggal pergi ke salon saja."


"Huh... kau ini... sini biar aku acak-acak juga rambutmu!"


Dan keduanya pun saling mengejek dan melempar canda dan gurauan. Bak sepasang kakak beradik yang sedang bersenda gurau pada umumnya.


~~


Percakapan Ryuzen dan Arvin via video call ;


Arvin : Hai papi...!


Ryuzen : Ada apa? Tumben sekali kau menghubungiku.


Arvin : Memangnya salah menghubungi orang tuaku sendiri?


Ryuzen : Oke kau menang! Jadi ada apa sebenarnya? (Ryuzen tahu persis sifat anaknya, jika meneleponnya tiba-tiba pasti karena satu hal)


Arvin : Tidak ada sih, cuma menghubungimu saja.


Ryuzen : (Ryuzen diam sambil menunggu apa yang ingin dikatakan Arvin) Baiklah... jika tidak ada yang ingin dibicarakan akan aku tutupー"


Arvin : Baiklan Papi...! Um... sebenarnya aku ingin tanya padamu, kenapa mami tidak beritahu aku kalau dia ingin pergi ke Cardia?


Ryuzen : Kau sedang di asrama dan belajar, apa kau ingin bolos demi ke luar kota?


Arvin : Bukan begitu... hanya saja kenapa aku tidak diberitahu, apa mungkin mami sudah tidak suka lagi padaku karena aku sudah besar?


Ryuzen : Hais... mana ada seperti itu?


Arvin : Habisnya... aku merasa mami tidak akan sayang padaku lagi kalau adikku nanti sudah lahir. Apalagi jika dia anak perempuan, pasti akan berbeda perlakuannya. Pasti mami akan lebih suka pada adikku daripada aku. Banyak temanku yang bilang begitu, jika adik kita lahir maka orang tua kita tidak akan sayang lagi pada anak pertama mereka.


Ryuzen : (Ryuzen geleng-geleng dibuatnya) Kau ini terlalu banyak drama, dan mudah tersugesti. Asal kau tau saja, tidak ada orang tua yang tidak suka anaknya, bahkan kalaupun kau sudah dewasa nanti. Kalaupun ada orang tua seperti itu, sudah pasti dia bukan aku ataupun Sara. Jadi berhenti berpikir bodoh begitu.


Arvin : (Menampakan wajah sedih)


Ryuzen : Kau tidak perlu sedih dan takut orang tuamu melupakanmu. Bagiku dan Sara kau tetap sangat spesial, apalagi kalau kau nanti sudah jadi kakak pasti akan semakin spesial.


Arvin : Benarkah?


Ryuzen : Tentu saja, kau tidak percaya?


Arvin : Aku percaya kok!


Ryuzen : Kau tenang saja, kau itu kan laki-laki. Laki-laki tidak boleh terlihat iri begitu. Bagaimana kau mau jadi pria hebat kalau seperti itu saja kau terlalu pikirkan!


Arvin : Papi benar, aku tidak boleh seperti ini, aku kan laki-laki.


Ryuzen : Jadi kau sudah paham?


Arvin : Ya! (Mengangguk paham)


Ryuzen : Good boy!


Arvin : Baiklah... kalau begitu nanti aku akan menghubungi mami lagi. (Arvin sudah kembali ceria dan percaya diri kembali) Kalau begitu sampai jumpa papi...!


Ryuzen : Ya, sampai jumpa nak...!


*Video call ended.


Ryuzen mengusap dan mengacak-acak rambutnya dengan satu tangan. "Heh... aku tidak menyangka, anak itu akan merasa cemburu pada calon adiknya sendiri." Namun seketika Ryuzen tersenyum miring, ia baru menyadari dirinya tidak punya adik, sudah jadi ia tidak bisa tahu persis apa yang dirasakan oleh putranya saat ini. "Ah benar juga, aku kan tidak pernah punya adik sudah pasti aku tidak tahu perasaannya bukan? Ck! Payah...!" Ryuzen memegangi keningnya sambil menertawakan dirinya sendiri.


🌹🌹🌹


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


Happy weekend all 😘


Love -C