
"Aku pulang!" ujar Ryuzen yang baru saja tiba di villa Constel untuk pertama kalinya setelah beberapa hari tak pulang ke villa tersebut.
"Selamat datang sayang," Sara mengurai senyum untuk menyambut sang suami yang kini sudah pulang.
Ryuzen langsung mengecup dahi Sara dan memeluknya. "Lepas dulu jas dan dasimu," kata Sara yang kemudian membantu melepaskan jas dan dasi suaminya itu.
"Hari ini kau tidak masak?" Ryuzen menebak, karena ia tidak dapat mencium ada bau aroma bahan masakan di tubuh Sara seperti biasanya.
"Aku sedang malas masak, maaf ya..."
"Tidak apa, kita makan di luar saja ya."
"Oke kalau begitu, kau mandi dulu aku tunggu kau di bawah!"
"Kenapa kita tidak mandi bersama saja," bisik Ryuzen pada istrinya itu.
Sara menyipitkan matanya.
"Aku sudah mandi, lagipula hari ini entah kenapa aku tak terlalu suka aromamu. Seperti bukan aromamu yang biasanya!"
Ryuzen mengerjapkan matanya.
"Apa Sara tahu aku pergi makan siang dengan Erika hari ini?"
"Sara, aku...."
"Ryu ayolah... jangan buat aku menunggu, karena aku sangat lapar!" rengek Sara.
"Oke baby!" Ryuzen pun akhirnya naik ke lantai dua untuk mandi. Semantara Sara memutuskan untuk menunggu suaminya itu di bawah sambil menonton TV.
~~
Rony yang baru saja selesai melakukan sesi pemotretan untuk sebuah majalah terkenal, kini tengah berjalan menyusuri kota, untuk mencari makan di sebuah area yang memang menjual berbagai macam jajanan street food. Dan tanpa di sangka dirinya secara tidak sengaja harus berpapasan dengan Sara dan Ryuzen, yang juga tengah berjalan di area itu sambil bergandengan tangan.
"Mencari makan juga keponakanku?" tukas Ryuzen dari samping Rony, yang tengah berhenti di dekat kedai yang juga di sambangi oleh dirinya dan Sara.
"Heh! Bukan urusanmu Tuan muda Han," balas Rony ketus tanpa menolehkan wajah ke hadapan pamannya. Untuk Sara sendiri berada di situasi seperti sekarang ini, dirinya seolah tidak tahu harus bagaimana. Terlebih baginya masih membekas ingatan dan rasa kesalnya dengan apa yang dilakukan oleh Rony terhadapnya, di kediaman Han beberapa hari yang lalu.
ย
Sara yang berdiri di sebelah Ryuzen pun, hanya bisa sedikit melirik ke arah Rony lewat ekor matanya. Rony yang berada di sebelah Ryuzen, terlihat seperti tak terlalu menyadari lirikan mata Sara terhadapnya itu.
Mungkin Rony marah dan sudah tak peduli lagi dengan Sara, tapi bukankah hal itu justru bagus. Sara berpikir dengan begitu dirinya akan lebih mudah menjauh dari Rony jika keponakan suaminya itu sudah tak peduli lagi padanya. Namun sebaliknya, Rony ternyata sadar di lirik oleh Sara. Ia menggerakan bola matanya dan melirik tajam Sara yang berada di sebelah Ryuzen, seolah sedang bersembunyi dari Rony dibalik pundak Ryuzen
"Sayang, kau mau makan apa?" tukas Ryuzen, yang sejak tadi menyadari Sara yang sesekali melirik ke arah Rony.
"Aku... aku mau makan takoyaki saja," Sara semakin menguatkan cengkraman tangannya di lengan Ryuzen. Seolah dirinya tengah menahan sesuatu yang ada di dalam dirinya, yang tak ingin di perlihatkan pada siapapun.
Ryuzen menoleh dan sedikit menundukkan kepalanya, untuk menatap wanita cantik yang berdiri di sebelahnya itu. "Sara, kau baik-baik saja?"
"Aku baik, aku lapar sekali ayo cari makan!" ajak Sara sambil sedikit menarik pakaian yang membungkus lengan suaminya itu.
"Oke!"
"Baiklah Rony, aku dan Sara pergi dulu! Sampai ketemu lagi" Ryuzen pun memutar badannya dan berjalan bersama Sara meninggalkan Rony sendirian di depan kedai makanan itu.
Sambil mengepalkan kedua tangannya, Rony tertunduk kesal. Ia merasa seperti orang bodoh yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bahkan kau tak mau melihatku dengan langsung, kau marah padaku hanya karena aku mencoba mencium dirimu dengan paksa! Tapi kenapa? Dengan dia... dengan pamanku yang jelas merusakmu, kau dengan rela memberikan hatimu untuknya. Kenapa Sara!" Rony seolah tak kuasa menahan rasa cemburu yang di balut rasa kecewa di dalam hatinya.
~~
Setelah selesai mencari makan. Ryuzen dan Sara memutuskan untuk sebentar menikmati indahnya malam di pinggir danau. Ryuzen yang tengah duduk bersandar di depan kap mobilnya yang ia parkirkan di dekat danau tadi, memeluk Sara yang kini berdiri besandar pada tubuhnya itu. Kehangatan begitu terasa di tubuh Sara kala Ryuzen memeluknya dari belakang. Seolah dirinya tengah di selimuti oleh mantel tebal berbulu yang sangat nyaman.
"Ada yang ingin kau katakan padaku?" kata Ryuzen yang kini menopangkan dagunya diatas bahu milik istrinya itu.
"Aku..."
"Ada apa denganmu dan Rony?" tanya Ryuzen.
"Aku tidak apa-apa dengan dirinya. Hanya merasa sedikit sedih. Mengingat gara-gara aku, kau dan Rony jadi-"
"Aku tidak mau dengar kau menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi saat ini. Rony sudah besar, sudah saatnya dia paham dan mengerti bagaimana menerima kenyataan hidup yang ia jalani saat ini. Jadi kau tak perlu merasa bersalah Sara!"
Ryuzen tiba-tiba membalikan tubuh Sara ke hadapannya, merangkul pinggang Sara dengan kedua tangannya agar menempel dengan tubuhnya.
"Sara tatap mataku, dan dengar! Apapun yang terjadi, bagaimana pun nanti, aku hanya ingin kau tahu. Kau selalu menjadi satu-satunya wanita yang ada dalam hatiku. Paham! Jadi jangan pernah kau berpikir jika kau adalah penyebab renggangnya hubunganku dan Rony." Ryuzen menatap dua bola mata indah milik Sara, yang baginya lebih seperti permata yang hanya ada satu-satunya di dunia ini.
Sara mengangguk paham, "Aku mengerti! Aku akan selalu ada disisimu, apapun yang terjadi."
Ryuzen tersenyum dan menatap lembut sang istri yang amat dicintainya itu.
"I love you my sun shine..."
"I love you too Ryuzen..."
Mereka pun saling melempar senyum bahagia tiada tara. Di bawah langit berbintang kehangatan semakin terasa kala dua insan yang saling mencintai berpagutan dengan mesra, di kelilingi kunang-kunang yang bertebaran di kala malam.
~~
Seorang pria berusia sekitar setengah abad duduk di atas singgasananya di depan perapian yang tengah menyala. Dengan segelas bir ditangannya, ia membelakangi seorang pria yang masih muda dengan kamera menggantung di lehernya.
"Hanya itu yang aku bisa aku dapatkan Tuan!" ujar pria yang membawa kamera itu dengan tampang gugup.
Pria itu bangkit dari singgasananya, dan berbalik badan memandatangi pria, yang tengah berdiri sambil membawa kamera itu dengan wajah gugup.
"Ini sudah cukup! Sekarang kau bisa ambil cek ini dan pergi!" Biyan Dao memberikan cek senilai 1 juta dolar kepada pria yang membawa kamera itu, si pria pun dengan segera mengambil cek itu dan kemudian pergi dengan terburu-buru.
Biyan Dao yang diikuti tawa senangnya, tengah sibuk melihat beberapa lembar foto yang diberikan oleh pria yang tadi membawa kamera.
"Tuan muda Ryu, hampir sepuluh tahun kita tidak bersua. Kita lihat seberapa besar nyalimu, apa kau bisa melewati permainan licikku ini keponakanku. Aku jadi semakin tidak sabar ingin segera kembali ke kota kelahiranku, dan bertemu denganmu!" Biyan Dao tersenyum licik sambil memandangi foto-foto di tangannya itu.
~~
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Kenzo sudah tergesa-gesa menemui Ryuzen di ruangannya.
"Ada apa?" ucap Ryuzen sambil menatap layar di laptopnya.
"Tuan! Sepertinya ada yang mengambil fotomu dan nona Sara secara diam-diam dan memberikannya pada seseorang."
Ryuzen mengerutkan dahinya.
"Apa maksudmu?"
"Ini!" Kenzo menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat pada Ryuzen. Dengan segera Ryuzen langsung membuka amplop tersebut, yang mana di dalamnya terdapat foto-foto dirinya bersama Sara yang diambil tanpa sepengetahuannya.
Ryuzen menghela napasnya, tatapannya pun kini berubah jadi semakin serius.
"Kenzo, apa ada yang lainnya selain amplop ini yang di tujukan untukku?"
"Seingatku, tidak ada tuan! Hanya itu saja."
"Begitu ya?"
"Tuan, apa mungkin paman anda yang melakukan semua ini?"
"Mungkin, tapi kalau pun bukan. Sudah jelas dia adalah orang yang pasti tidak asing denganku!"
"Kenzo! Sepertinya kita sudah tidak bisa santai-santai lagi. Biyan Dao sudah bergerak dan sebentar lagi aku rasa dia akan memulai aksinya untuk menghancurkanku, dan mengambil alih Emerald."
"Tuan..."
"Aku hanya takut dia akan menyeret Sara dan putraku, dalam permainan liciknya." Ryuzen mengepalkan jari-jarinya, wajahnya terlihat serius dan tenang, namun tatapan matanya seolah mengisyaratkan rasa khawatir yang tak bisa ia jelaskan.
"Tuan Ryu... aku yakin kau bisa melewati ini semua." ujar Kenzo.
"Aku harus melindungi keluargaku!" tatapan tajam Ryuzen mendominasi raut wajah Ryuzen kala itu.
๐น๐น๐น๐น
LIKE, COMMENT, VOTE! THANK YOU ๐