
Tak berselang lama setelah Tina keluar, Kenzo pun masuk ke ruangan Ryuzen.
"Tuan Ryuzen, jadi dia gadis yang menyelamatkanmu lima tahun lalu?"
"Begitulah... kasihan dia tidak memiliki keluarga lagi," terang Ryuzen.
"Tidak memiliki keluarga?" gumam Kenzo.
Sara yang kini tengah menyirami tanaman-tanaman bunganya di kebun bunga milik C-lovely, tiba-tiba merasa tidak semangat.
"Hari ini aku merasa tidak semangat sama sekali, badanku juga terasa tidak enak, kenapa ya?" ucap Sara yang terlihat lesu.
"Sara? Apa kau sakit?" tanya Thomas yang melihat Sara terlihat cukup lesu.
"Tidak tahu, tiba-tiba badanku hanya merasa tidak enak saja tiba-tiba," balas Sara.
"Lebih baik kau pulang saja, aku tidak mau kau sakit."
"Boleh kah?" tanya Sara memastikan ucapan Thomas.
"Tentu saja, lagi pula kau hampir tidak pernah libur. Jadi, lebih baik sekarang kau pulang dan istirahat saja ya," saran Thomas.
Sara pun akhirnya mengikuti saran Thomas untuk pulang. Di tengah perjalanan pulangnya tiba-tiba ponsel Sara berdering, ia pun langsung mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya itu.
"Nomor siapa ini?" tanya Sara melihat nomor tidak dikenal yang meneleponnya saat ini.
"Hallo" jawab Sara.
"Iya aku Sara Chen!"
Wajah Sara tiba-tiba pucat dan tubuhnya lemas mendengar informasi dari orang yang meneleponnya. Sara langsung berlari mencari taksi dengan begitu terburu-buru, jantungnya seperti ingin berhenti mendengar berita ini.
"Pak, tolong segera ke rumah sakit kota!" seru Sara pada sopir taksi tersebut dengan perasaan cemas luar biasa.
"Tuhan, tolong jagalah putraku. Arvin adalah nyawaku, hanya dia satu-satunya alasan diriku untuk bertahan hidup." Sara terus berdoa dalam hati hingga tanpa sadar air matanya kini sudah mengalir begitu derasnya.
Sara pun akhirnya tiba di rumah sakit ia pun segera ke ruang IGD tempat Arvin berada sekarang.
"Suster, bagaimana keadaan anakku? Bagaimana keadaannya? Suster! Jawab aku!" Sara histeris menanyai suster yang berjaga di depan ruang IGD saat itu.
"Nyonya tolong anda tenang dulu, dokter kini tengah berusaha menolong putra anda di dalam, jadi aku mohon kau tenang ya," ucap Suster tersebut.
"Bagaimana aku bisa tenang suster! Putraku satu-satunya sedang melawan maut, kau bilang aku harus tenang huh!" Sara terus-menerus berteriak histeris dirinya tidak bisa tenang saat ini. Hingga Gina yang tadi di hubungi Sara saat di jalan, tiba di rumah sakit.
"Sara...!" panggil Gina.
"Gina...." Sara memeluk Gina sambil menangis histeris.
"Sara kau tenang dulu ya! Aku yakin Arvin pasti selamat. Kau tenang ya...," ucap Gina berusaha menenangkan Sara yang terlihat sangat kacau saat itu. Akhirnya dokter yang menangani Arvin pun keluar dari ruangan IGD.
"Nyonya Chen?" panggil sang dokter.
"Iya Dokter! Bagaimana anakku dok? Dia baik-baik saja kan?" tanya Sara yang masih belum terlihat tenang sejak tadi.
"Nyonya, aku mohon anda tenang dulu, akan aku jelaskan semuanya." Sara pun berusaha sebisa mungkin tenang, walau sebenarnya ia sama sekali tidak bisa tenang saat itu.
"Apa maksud anda Dokter?" tanya Sara.
"Iya apa maksud ucapan anda!" ujar gina.
"Putramu mengalami pendarahan hebat, dan saat ini secepatnya dia harus mendapatkan donor darah, tapi sayangnya stok tipe darah putra anda di rumah sakit ini tidak ada, jadi kami butuh secepatnya donor darah untuk putra anda," tukas dokter menjelaskan.
"Kalau begitu, cepat kau ambil saja darahku sekarang dokter!" pinta Sara dengan tidak sabar.
"Apa tipe golongan darah mu?" tanya dokter.
"AB rhesus positif."
"Sayang sekali, tipe golongan darah Arvin A rhesus negatif," ungkap dokter.
Bagai tersambar petir di tengah hempasan ombak besar, tubuh Sara melemah dan jatuh lunglai di atas lantai. Sara tidak tahu lagi harus bagaimana ia seperti kehilangan harapan hidupnya.
"Tapi masih ada cara lain kan Dokter?" tanya Gina, berharap.
"Tentu saja, Ayah Arvin pasti punya golongan darah yang sama dengannya bukan?" kata sang dokter.
"Tapi..., Arvin tidak punya Ayah," jawab Gina lirih.
"Dokter, selain itu apa yang bisa kulakukan untuk putraku?" ucap Sara yang kini tengah berdiri lagi dari lunglainya.
"Satu-satunya jalan adalah berdoa, semoga rumah sakit lain punya stok darah yang sama dengan Arvin," tukas sang dokter.
"Dokter!" panggil seorang suster.
"Bagaimana apa kau dapat stok darah A rhesus negatifnya?" tanya dokter pada suster tersebut.
"Sayangnya rumah rakit lain juga kesulitan mendapatkan golongan darah tipe itu, dok!" jelas suster memberi informasi.
"Kalau begitu, hubungi rumah sakit di luar kota!" kata Gina.
"Aku beritahu hal penting, dalam waktu kurang dari 2 jam kita harus sudah melakukan transfusi darah, atau kalau tidak...."
"Dokter! Kau jangan teruskan ucapanmu, aku yakin pasti akan mendapatkannya!" ucap Sara dengan tegas yang kemudian beranjak pergi.
"Kau mau cari kemana Sara?" Gina menarik tangan Sara.
"Kemana saja, bahkan kalau perlu aku akan jual jiwaku, asal aku bisa dapatkan darah itu untuk Arvin."
Melihat Sara seyakin dan senekad itu, Gina sudah tidak bisa apa-apa lagi selain mendoakan sahabatnya tersebut.
"Kalau begitu, aku doakan supaya kau berhasil."
"Pasti, tolong kau jaga Arvin dulu disini ya," pesan Sara pada Gina yang kemudian pergi.
ββ
Buat yang suka jangan lupa di like, comment dan vote. Thank You π·