
"Halo Sara, apa kabar? Tentu saja aku kemari khusus untuk menemuimu," balas pria yang tidak lain adalah Renji Haoran.
Sara pun kini sudah duduk berhadapan dengan Renji, "Ke-kenapa kau?"
"Jangan terlalu syok begitu, hal itu tidak baik untuk kesehatan janinmu bukan?"
"Bagaimana kau tahu soal itu?"tanya Sara kaget mengingat baru Gina dan Rony yang mengetahui kehamilannya saat ini. Bahkan suaminya pun belum ia beritahu.
"Memangnya apa yang aku tidak tahu perihal dirimu, semua aku tahu Sara," ucap Renji dengan nada datar.
"Tap- tapi bagaimana bisa, aku bahkan belum-"
"Belum memberitahu suamimu soal kehamilanmu, begitukah?" Renji terkekeh, "Kau tahu Sara, jika aku menjadi suamimu aku akan sangat merasa bersalah karena sudah membiarkan istri cantiknya yang tengah mengandung terpenjara di sangkar baja seperti ini. Heh! Benar-benar suami yang tidak berguna."
"Jangan pernah menghina suamiku tuan Renji!" Ujar Sara memperingatkan Renji untuk jangan pernah menghina suaminya di hadapannya.
"Kau marah ya, kalau begitu aku minta maaf ya nyonya muda Han, aku hanya bercanda lho...," gelak Renji.
"Apa sebenarnya maksud dan tujuanmu datang kesini?" Tanya Sara serius.
"Maksud dan tujuanku ya? Hem, tentu saja menengok penggemarku. Apa itu salah?"
Sara menatap Renji dengan tatapan serius, "Tidak, kau kemari jelas bukan karena sekedar aku adalah penggemarmu. Tapi pasti ada maksud lain, iya kan?"
"Wow, ternyata benar! Kau bukan lagi gadis lugu seperti dulu, sekarang kau sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang bisa menerka-nerka maksud kedatanganku. Tapi baiklah..., kenyataannya memang yang kau katakan itu adalah benar. Aku datang kemari bukan hanya karena kau penggemarku, tapi ada hal yang harus kau tau, tentang kesalahan suamimu terhadapku."
Sara mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?"
"Jadi kau belum sadar? Kau seharusnya tahu, jika kau sudah membaca buku-bukuku."
"Jadi kau adalah....?"
"Ya, semua karakter menyedihkan yang tertuang di bukuku semua adalah kisah sedihku Sara Chen." Saat mengatakan hal itu terlihat jelas wajah Renji yang mengisyaratkan kepedihan.
Sebenarny siapa Renji, kenapa dia begitu sedih, tatapannya dinginnya mengingatkanku pada tatapan Ryu yang dipenuhi rasa kecewa dan marah.
"Oh iya Sara. Apa kau sudah membaca larik puisi yang aku tuliskan di sampul buku yang kuberikan padamu waktu itu?"
"Ya aku sudah membacanya, tentang gadis kecil berpayung merah jambu itu kan?"
Renji mengangguk.
"Memangnya siapa dia, gadis berpayung merah jambu itu?"
"Jadi kau tidak ingat sama sekali ya?" tutur Renji dengan nada kecewa.
"Apa maksudmu? Memang siapa sebenarnya yang kau maksud gadis itu?"
"Lupakan saja, intinya aku ingin kau tahu jika suamimu tidaklah sebaik itu Sara. Apa yang telah dirinya lakukan dimasa lalu harus dibayar mahal," Tatapan Renji yang tadinya sendu kini kembali marah.
"Apa maksudmu bicara begitu, memang apa hubunganmu dengan Ryuzen di masa lalu, dan apa mungkin aku dan kau sebelumnya sudah saling kenal?"
"Semua itu tidak perlu aku jawab, kau akan tahu dengan sendirinya nanti. Sekarang aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." Renji pun bangkit dari duduknya dan melangkah pergi
Sara semakin dibuat bingung dengan Renji, dan semakin penasaran dibuatnya, "Tunggu! Siapa sebenarnya dirimu Renji Haoran?"
Renji menghentikan langkahnya lalu berkata, "Bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang berharap menemukan keadilan dan kebahagiaan untuk dirinya sendiri di dunia yang penuh dusta ini."
Ada sebenarnya diantara Renji dan Ryuzen?
~~
Suara dentuman langkah kaki seseorang dari belakangnya, terdengar samar-samar oleh Ryuzen. Ia pun menolehkan badannya bermaksud menyambut kedatangan orang yang ia pikir adalah Biyan Dao.
"Pria tua, kau mau...." Ryuzen tidak menerusakan ucapannya setelah ia sadar ternyata bukan Biyan Dao yang saat itu tiba melainkan.
"Maaf karena aku bukan orang yang kau kira," kata pria yang tidak lain adalah Jordan Han. Melihat Jordan, Ryuzen tak bereaksi apapun ia hanya terdiam kaku sambil menatap tajam ke arah Jordan. Perasaan Ryuzen seolah kacau seketika melihat pria yang adalah ayah kandungnya itu dengan jelas kini muncul di hadapannya. Suasana hening, hanya suara hembusan angin yang terdengar, bercampur suara gelombang air yang menggulung.
Tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki lain, diikuti dengan suara tepuk tangan yang bertempo lambat.
"Menarik, menarik, benar-benar menarik," ucap Biyan Dao yang muncul tiba-tiba diantara Ryuzen dan Jordan.
Mata Ryuzen langsung menatap tajam ke arah datangnya Biyan Dao yang kini tengah berjalan mendekati dirinya dan Jordan sambil tertawa puas. "Bagaimana? Aku sangat baik bukan, sepupuku, keponakanku?" Ujar Biyan secara bergantian ke arah Ryuzen dan Jordan yang kini berdiri diantara dirinya.
"Biyan kau pasti sengaja merencanakan ini kan?" Tukas Jordan.
Biyan hanya terkekeh geli, sedangkan Ryuzen sama sekali belum berkata apapun. Ryuzen hanya sudah bisa menebak jika semua ini memang sejak awal, sudah di persiapkan oleh Biyan Dao.
"Jika kau ingin menonton drama, lebih baik kau pulang kerumah dan ganti pakaianmu dengan piyama!" Sindir Ryuzen.
"Oh ayolah Ryuzen, kau pasti ingin sekali kan bertemu dan bicara langsung dengan pria yang telah meninggalkanmu sejak masih dikandungan ini?" Ucap Biyan sambil melirik ke arah Jordan.
"Jika hanya hal ini yang ingin kau saksikan dariku, dan orang ini. maka aku pergi sekarang!"
Ryuzen bermaksud pergi tapi ditahan oleh perkataan Biyan, "Benarkah kau ingin pergi sekarang? Kau tidak ingin mendengar alasan mengapa ayah kandungmu sampai tega meninggalkanmu dan ibumu waktu itu?"
"Biyan Dao hentikan!" Seru Ryuzen.
"Orang itu," Ryu menantap dengan penuh kebencian ke arah Jordan, "Dia tidak lebih dari sekedar pria brengsek yang tidak ada gunanya bagiku!"
Biyan Dao tertawa puas melihat situasi ini, dirinya mendekati Jordan yang sejak tadi hanya tertunduk diam sambil menahan emosinya.
"Jordan Han, jadi bagaimana? Bagaimana rasanya tidak diakui oleh putra kandungmu sendiri? Sakit bukan rasanya?" Bisik Biyan di telinga Jordan.
"Kau memang iblis Biyan Dao!" Geram Jordan.
"Terserah kau mau bilang apa, yang jelas aku senang melihatmu sakit hati dan hancur saat ini."
Jordan saat ini benar-benar merasa hancur, namun dirinya bisa apa saat ini. Karena saat ini, apapun yang akan ia jelaskan pada Ryuzen juga tidak akan membuat Ryuzen memaafkannya.
"Dengar Biyan, jika darah dibayar dengan darah, maka sama halnya dengan ikatan orang tua dan anak. Meskipun putra kandungku membenciku tapi tetap saja, sebagian darahku mengalir dalam tubuhnya. Jadi, jika kau berani menyakiti putraku maka demi darahku yang mengalir pada Ryu. Aku sendiri yang akan menhancurkanmu."
"Wow, mengerikan!" Cibir Biyan Dao.
Karena tidak ingin berlama-lama melihat sang putra menatapnya dengan penuh kebencian, Jordan pun memutuskan untuk lebih dulu pergi. Ia berjalan pergi meninggalkan lokasi, tapi langkah Jordan terhenti saat berada persis melewati Ryuzen yang kini berdiri hanya beberapa sentimeter darinya, Jordan mengatakan sesuatu sebelum benar-benar pergi.
"Nak, aku terima jika kau tidak mau memaafkanku seumur hidupmu, karena aku memang tidak pantas untuk menerima maaf darimu. Tapi satu hal yang ingin agar kau tau. Sekuat apapun peluru yang dilesatkan musuh-musuhmu pada dirimu, maka aku yang akan menjadi tameng pertama yang merasakan peluru panas itu menembus tubuhku sebelum peluru itu mengenaimu," Jordan tersenyum, namun matanya jelas mengisyaratkan kesedihan, ia pun akhirnya pergi meninggalkan Ryuzen dan Biyan Dao.
Ryuzen mengatupkan gerahamnya dengan kuat, seolah tengah menahan sesuatu yang sulit diucapkan. Kedua tangannya mengepal kuat menahan emosi dan rasa kecewanya yang seolah ingin meledak saat itu juga, "Kenapa ayahku harus orang sepertimu Jordan Han?" Lirihnya.
Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading fellas and i hope you like it.
For more information follow up my IG @chrysalisha98 Thank you 🙏