Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 45


Sara nampak tidak percaya saat itu, pasalnya buku karangan Renhao yang berjudul Redemption itu belum resmi di terbitkan secara masal.


"Kenapa kau terlihat bingung begitu?" tanya Renji saat melihat Sara yang terlihat terkejut dan bingung terhadap Renji.


"Tentu saja aku bingung, maksudku... buku yang kau pegang itu kan belum resmi di jual secara legal,  malahan aku dengar baru akan rilis bulan depan, tapi kenapa kau sudah bisa memilikinya?"


Renji terkekeh melihat betapa lucunya ekspresi bingung Sara saat ini.


"Kenapa tertawa lagi?" protes istri Ryuzen itu.


"Maaf, habisnya saat kau bingung wajahmu terlihat sangat lucu," ledek Renji.


"Huh.... menyebalkan!" Sara mulai kesal seolah enggan menatap Renji.


"Baiklah... baiklah, aku yang salah, aku minta maaf," kata Renji.


Melihat Renji meminta maaf begitu, Sara justru yang kali ini tertawa karena merasa berhasil mengerjai pria itu dengan  berpura-pura ngambek.


"Jadi kau sengaja membuatku menyesal?"


"Yap, habisnya aku kesal, karena kau sejak tadi malah menertawakanku!"


"Oh jadi karena itu.... baiklah anggap saja kita impas!"


"Tidak mau! Kecuali..."


Renji nampak menunggu perkataan Sara yang ditahannya itu.


"Kecuali kau beritahu aku dari mana kau mendapatkan novel Renhao yang jelas-jelas belum diterbikan secara masal itu!"


"Oke, oke.."


"Nah, dari mana kau dapat novel itu?"


"Buku ini?" Renji mengangkat buku tersebut.


"Ya buku itu, memang yang mana lagi!"


"Aku mendapatkannya secara cuma-cuma dari penerbit buku ini."


"Bagaimana bisa, memangnya kau bekerja di perusahaan penerbitan buku itu?"


"Tidak!"


"Lalu?"


Renji malah tersenyum simpul.


"Sara, kau tahu isi buku terbaru Renhao yang berjudul redemption ini?"


"Tidak, memangnya kenapa?" balas Sara.


"Oh tidak apa, hanya saja aku rasa bukunya kali ini, berisi tentang  representasi sebuah kejujuran yang seringkali terabaikan di sekitar kita. Dimana sang penguasa akan selalu berada dipuncak. Tapi sama halnya teori piramida dimana koloni yang terbanyak bisa saja menggulingkan mereka yang berada dipuncak dengan segala upaya,"


"Kau sudah membacanya hingga selesaikah?"


"Hem," Renji menganggukan kepalanya.


"Kalau begitu, pinjamkan untukku!" ujar Sara.


"Buku ini belum sempurna secara isi, masih ada beberapa part yang butuh di edit. Tapi jika kau memaksa baiklah, akan kuberikan kepadamu," tukas Renji pada akhirnya.


"Oh ya kenapa kau suka buku-buku karya Renhao. Bukankah dia penulis yang aneh? Semua buku-bukunya hampir selalu mengangkat kisah sebuah tragedi dan masa lalu kelam dalam hidup. Terlebih kau masih muda apa tidak sayang meghabiskan waktu hanya untuk membaca buku karya pria kesepian itu." Renji mengulurkan senyum getirnya.


"Menurutmu begitu?"


"Huh, memangnya menurutmu tidak?"


Sara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak juga! Bagiku buku-buku yang ditulis Renhao kemungkinan memang sebuah tragedi. Namun,  dibalik tragedi dan kalimat yang ia tuangkan dalam tulisan-tulisan di buku itu, seolah terasa nyata bagi yang membacanya, entahlah... tapi aku rasa seperti itu, aku merasa... ada maksud hati yang tersirat di tiap kata-kata yang tertulis," jelas Sara.


"Sejak dulu kau memang gadis yang sangat unik Sara...," gumam Renji lalu tertawa kecil.


"Eh, kau bilang apa Renji?"


"Tidak, aku tidak mengatakan apapun kok hahaha...!"


"Oh, kukira kau bilang sesuatu tentangku!" ucap Sara.


"Um Sara, apa kau-"


Suara dering ponsel terpaksa memotong ucapan Renji. Ia pun segera membuka pesan di ponselnya dan kemudian membalas pesan tersebut.


"Jadi, kau mau bicara apa tadi?" tanya Sara mengingatkan Renji. Namun bukan menjawab Sara,  Renji justru malah melihat ke arah arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sara maaf tapi sepertinya aku sudah harus pergi, dan soal buku ini. Aku berikan buku ini padamu." Renji tiba-tiba mengeluarkan bolpoin dari saku blazernya dan menuliskan kata-kata di atas lembar kosong di halaman buku tersebut.


"Ini," Renji menyerahkan buku itu pada Sara, dan kemudian beranjak bangun dari duduknya.


"Tunggu! Kau yakin memberikan buku ini padaku cuma-cuma?"


"Tentu saja, aku akan berikan spesial untuk penggemar paling spesial bagiku! Kalau begitu,  sampai jumpa Sara kecilku!" ujar Renji sambil mengerlingkan matanya dan kemudian pergi meninggalkan istri Ryuzen itu sendirian.


Sara tentu saja berhasil dibuat bingung dengan segala ucapan Renji barusan. Dirinya pun langsung segera membaca kata-kata yang dituliskan Renji tadi diatas lembaran halaman buku tersebut.


Hujan membawamu kepadaku.


Takdir mempertemukanku dengan sebuah harapan,  lewat uluran tangan kecil gadis berpayung merah muda. Aku hanya berharap kau ingat padaku suatu hari nanti dan itu pasti.


Mata sara pun sontak membulat, setelah membaca tulisan yang tertulis Renji lengkap beserta tanda tangan miliknya.


"Ja- jadi, Renji adalah..." ujar Sara terbata-bata setelah mengetahui, jika penulis favoritnya selama ini adalah pria yang ia ajak mengobrol sejak tadi.


~~


Kenzo memasuki ruangan Ryuzen dan memberikan sebuah paket kepada Ryuzen.


"Apa ini?" tanya Ryuzen yang baru saja menerima paket tersebut. Ia pun segera membuka paket tersebut yang ternyata isinya adalah sebuah buku,  lengkap dengan secarik kertas yang berisi tulisan tangan seseorang. Dimana tulisan tangan tersebut sama persis dengan tulisan yang ada dibalik amplop  yang digunakan seseorang saat mengirimi foto-foto Ryuzen dan Sara yang diambil diam-diam waktu itu.


"Apa isi paket itu Tuan?"


Ryuzen mengeluarkan buku berjudul redemption karangan Renhao itu. Dan membaca secarik kertas ditulis dengan tulisan tangan yang berbunyi:


*Putih tak selalu bersih. Hitam pun tak selalu kotor. Kau yang terlihat baik nyatanya adalah pendosa yang penuh dengan catatan hitam di lembaran hidupmu.


Sudah waktunya melakukan penebusan dosa atas apa yang kau perbuat dimasa lalu tuan Ryuzen Han.


_RH*_


"Kau akhirnya muncul lagi Renji!" Ryuzen menatap dengan sorot mata tajamnya. Digenggamnya dengan kuat-kuat kertas pesan yang baru dibacanya itu di dalam genggaman tangannya.


"Tuan...," gumam Kenzo yang tidak tahu apa yang dipikirkan bosnya saat ini.


~~


[ Rumah Sakit ]


Sara tengah duduk di ruangan dokter menunggu hasil pemeriksaan dokter, terkait apakah benar dirinya hamil atau tidak.


"Nona Chen," ucap dokter Karen, dokter kandungan yang memeriksa Sara kala itu.


"Ya dokter!"


Dokter Karen langsung menghampiri Sara yang sejak tadi duduk dan menunggu hasil pemeriksaannya. Tiba-tiba dokter Karen datang dan berkata, "Nona, selamat ya... usia kandunganmu sudah berusia enam minggu."


Hati Sara bagai musim semi yang indah dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran saat ia mengetahui jika dirinya tengah mengandung anak keduanya dengan Ryuzen.


"Dokter, benarkah yang kau katakan itu?" tanya Sara memastikan. Dokter itu mengangguk mengiyakan.


"Ya Tuhan, ini benar-benar kabar yang sangat membahagiakan," ujar Sara yang terlihat bahagia dan terharu saat ini.


"Ini hasil pemeriksaannya." Dokter menyerahkan surat hasil pemeriksaan keteranga kehamilan Sara.


"Cepat kabari suamimu, aku yakin pasti dia akan sangat bahagia mendengar kabar ini."


Ya, aku akan memberitahukan soal berita kehamilanku ini pada Ryuzen nanti dirumah. Aku tidak sabar melihat bagaimana reaksinya.


"Oh ya dokter bagaimana kehamilanku? Apa kandunganku sehat?"


"Sejauh ini baik-baik saja, hanya saja...kau tidak boleh terlalu banyak pikiran, dan kau harus perhatikan baik-baik asupan makananmu. Karena walau ini kehamilan keduamu, belum tentu gejala-gejala kehamilannya sama dengan kehamilan pertamamu mengerti?"


"Baik dokter," balas Sara menurut apa yang dikatakan sang dokter.


"Baiklah....."


~~


[ Ruangan Ryuzen ]


Suara ponsel Ryuzen berdering, sebuah nomor tak dikenal memanggilanya.


"Halo?" ucap Ryuzen mengangkat panggilan itu.


"Bagaimana, sudah siap melakukan apa itu penebusan dosa Tuan Ryuzen Han, atau kau lebih suka dipanggil death shadow?" ucap suara laki-laki dari balik ponsel yang digenggam Ryuzen.


"Ternyata benar, kau bersekongkol dengan pamanku yang brengsek itu! Heh aku sedikit terkejut," ungkap Ryuzen yang memang sudah bisa menebak siapa yang kini tengah berbicara dengannya.


"Kau pria yang tidak akan pernah takut akan kematian bukan Ryu?" balasnya


"Renji kau..."


"Cukup! Aku hanya ingin mengatakan, setelah hari ini sepertinya kita akan sering bertemu. Jadi anggap saja, panggilanku ini adalah salam perjumpaan awal, kita, setelah sekian lama tidak berjumpa."


"Begitukah? Baiklah kalau begitu, aku terima salammu," balas Ryuzen menyeringai kecil.


"Ryuzen, saatnya kau merasakan balasan atas apa yang kau sudah lakukan sebelas tahun lalu! Sampai jumpa!" ucap Renji kemudian mengakhiri panggilannya.


Semua yang terjadi sebelas tahun lalu..., apakah semua masalah ini memang harus aku terima?


~~


Sara baru saja keluar dari ruangan dokter Karen, saat hendak berjalan menuju lift untuk turun, Sara tidak sengaja berpapasan dengan Rony yang sepertinya baru saja selesai menjenguk nenek Ivy dan hendak turun.


"Rony...!" ucap Sara pada Rony yang kini berdiri tepat di hadapannya.


🌹🌹🌹


Thanks for always keeping up and support me.


Jangan lupa buat tinggalkan jejak dengan comment, like, dan vote. Kritik dan sarannya juga ditunggu.


Happy reading fellas, i hope you like it yass... 😉