Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 95


Pagi hari telah datang, matahari juga mulai menjelang. Sepasang mata wanita yang masih berat itu sayup- sayup berusaha menerjang cahaya matahari yang mulai menyerang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Namun tubuh Sara, masih tetap saja terasa berat untuk meninggalkan kasurnya yang nyaman itu. Hingga dirinya sadar akan satu hal.


Huh? Apa aku kesiangan?


Sara menoleh sebelah ranjangnya, yang mana Ryuzen sudah tidak ada disebelahnya. Sepertinya suaminya itu sudah bangun lebih awal darinya dari tadi, karena sengaja tidak membangungkannnya. Sara benar-benar ingin sekali bangkit dari kasurnya yang nyaman tersebut. Tapi sebaliknya, tubuhnya malah seolah menolak untuk bangun. Tubuhnya benar-benar terasa berat untuk digerakan saat ini.


Mungkin aku akan tidur untuk be berapa saat lagi.


Sara pun akhirnya kembali tidur lagi untuk beberapa saat sebelum bangun untuk sarapan.


~~


Di bangku taman, Ryu sedang melakukan pendinginan, karena baru saja selsai joging dan olahraga. Dengan peluh yang bercucuran akibat lari pagi tadi, ia pun kembali masuk ke dalam villa.


"Hoamm... selamat pagi pwapi...," tukas Arvin yang masih sibuk mengucek - ucek matanya, diikuti mulutnya yang menguap memanggil dirinya.


"Selamat pagi, kau tidur dengan nyenyak?" balas Ryuzen, menyadari jika Arvin ternyata baru saja bangun.


"Yah," jawab Arvin yang masih duduk di dekat meja dapur mengumpulkan nyawa.


"Ini, kau minum air putih dulu!" Ryuzen yang habis minum air putih, tidak lupa untuk mengambilkan segelas air juga untuk putranya yang masih terlihat mengantuk.


"Mami mana?" Tanya Arvin sambil meletakkan gelas berisi air putih, yang baru saja ia minum isinya hingga habis.


"Tadi saat aku tinggal, dirinya masih tidur karena sangat lelah. Bahkan semalam saja tidurnya terlihat pulas sekali. Mungkin juga sekarang faktor diatas ranjang memeluk guling yang ia pikir diriku."


~~


Akhirnya Ryuzen pun naik kembali ke kamarnya untuk melihat keadaan Sara yang sebenarnya. Apa mungkin masih tidur atau sudah bangun dan bersiap-siap.


"Selamat pagi," ucap Ryuzen. Namun ternyata istrinya itu terlihat tidur dengan bergelung selimut. Hal itu memacu sifat usil Ryu muncul. Tiba-tiba Ryu yang memandangi wajah cantik istrinya itu, malah muncul sekelibat ide di kepalanya untuk mengganggu sang istri. Beruntungnya kali ini hal itu urung lakukan, mengingat hal itu bisa membuat istrinya jadi kurang istirahat, dan tidak bagus untuk dirinya dan calon anak di perutnya.


Ryuzen tersenyum simpul memandangi istrinya yang masih terlelap saat ini.


Sara... Kenapa kau begitu cantik, kau pun manis, di tambah lagi wajahmu saat tertidur benar - benar terlihat sangat lucu, dan membuaku ingin memakanmu saat ini. Jari - jari Ryuzen menyelusuri garis wajah wanitanya itu.


Ryuzen pun tak kuasa untuk menahan tawa kecilnya, saat jarinya itu menyentuh bagian hidup Sara yang runcing.


"Dapat!" Tiba- tiba jari telunjuk Ryu justru ditarik oleh Sara.


"Jadi kau hanya pura- pura ya?" Wajah Ryu benar - benar menunjukkan ekspresi tak kaget, apalagi terkejut sama sekali. Saat mengetahui wanita di depannya itu telah mengerjainya. Ia melah memilih untuk tersenyum dan berkata, "Selamat pagi Nyonya Ryuzen Han."


"Kenapa kua terlihat tidak kaget atau terkejut sama sekali?" Ungkap Sara heran.


Ryuzen tersenyum sambil mendengkus, "Untuk apa kaget, jika yang aku lihat adalah dewi yang baru bangun dari tidur cantiknya. Bukankah sudah biasa bagiku, mengingat sang dewi adalah istriku yang ternyata hobi mengigau juga saat tidur."


Mengigau? Benarkah?


"Kau sungguh bicara begitu? Benarkah kau bilang aku suka mengigau saat tidur?" Tanya Sara penasaran.


"Ya, untuk apa aku bohong? Lagi pula... kau itu mengigau kan hampir setiap hari. Jadi aku sudah biasa."


Sara jadi penasaran apa yang dia ucapkan saat mengigau.


"Kalau memang benar aku mengigau tiap malam, memang aku menginggau apa?" Terangnya penasaran dengan perkataan suaminya itu, yang mengatakan jika dirinya hobi mengigau dan hampir setiap hari


"Hem, kalau soal itu..." Ryuzen memasang wajah penuh intrik.


"Iya, apa yang aku katakan saat mengigau?"


"Kau mengingau begini," Ryuzen mendekatkan bibirnya ke telinga Sara, dan berkata, "Kau mengigau dan berkata denga keras 'aku mencintaimu ryuzen Han' begitu."


Terang saja hal itu langsung membuat Ryuzen tertawa melihat ekspresi istrinya sekarang ini, yang nampak tak percaya.


"Huh kau ini!" Sara di buat jengkel akan apa yang dikatakan oleh Ryu. Karena tidak ingin membuat istrinya ngambek lama - lama, Ryu pun membelai mesra rambut sang istri dan mencium keningnya.


Dan hal itu berhasil membuat Sara tersenyum kembali.


"Baiklah lebih baik sekarang, kau mandi dan siap - siap untuk sarapan. Karena aku sudah pesankan sarapan untuk kita di bawah, Arvin juga sudah hampir selesai mandi sepertinya."


Sara pun mengiyakan perkataan Ryu tersebut untuk segera bersih - bersih.


~~


Di ruang makan, keluarga kecil Ryu tengah menikmati sarapan mereka, dengan tenang. Hari ini hari sabtu, hari dimana Ryu tidak akan pergi ke kantor, dan akan memilih fokus menghabiskan waktunya bersama Sara dan Arvin.


"Papi hari ini, kita jalan - jalan yuk!"


Ryuzen yang tengah mengunyah makanannya itu pun langsung menelan makannya, dan menjawab pertanyaan sang putra. "Memangnya kau mau pergi kemana?"


"Mm...., aku ingin ke tempat yang banyak kegiatan outdoor- nya. Entah kenapa aku seperti agak bosan jika pergi ke tempat - tempat yang terlalu ber - AC. Terlebih aku rindu kegiatan alam."


Arvin pun mulai berceloteh tentang kegemarannya di ruang terbuka, di sela - sela mengunyah makanannya. Melihat hal itu Sara pun langsung menegurnya.


"Mami twenang hsaja...," jawab Arvin dengan mulut penuh makanan.


Dan benar saja, baru beberapa saat lalu di peringatkan, Arvin malah benar - benar tersedak dibuatnya.


"Uhuk, uhuk!"


Sara segera menyodorkan segelas air untuk Arvin


"Kan, sudah aku bilang. Kau ini, sudah di peringatkan oleh mamimu jangan bicara saat mulutmu penuh, malah tetap kau lakukan," omel Sara yang terlihat marah sekaligus khawatir dengan putra semata wayangnya itu.


"Maaf mami," ucap Arvin menyesali tindaknnya tadi.


"Kalau kau tidak menurut pada apa yang di katakan istriku padamu, aku tidak akan mau berbaik hati padamu anak muda," ucap Ryu yang ikut memperingatkan Arvin.


"Iya Papi, aku paham. Aku yang salah," sesal Arvin.


"Bagus! itu baru anakku, mau mengakui kesalahan!"


"Oh iya, lalu soal jalan - jalan, jadi mau bagaimana?" Sara kembali lagi ke topik pembicaraan yang tadi sempat tertunda, karena Arvin.


"Mau bagaimana lagi, anakku mau pergi ke tempat rekreasi yang berbau alam jadi kita pergi." Dengan santainya Sara berujar demikian.


"Jadi...?" Tanya Arvin meminta jawaban yang valid dari papinya tersebut.


"Yap! Sudah diputuskan, setelah sarapan kita pergi ke villa dekat daerah pegunungan. Disana kita bisa melakukan banyak hal. Arung jeram, flying fox, bungee jumping, atau kau mau sekedar memancing, bebas apapun yang kau suka."


Mendengar perkataan Ryuzen mata bulat putranya itu langsung berbinar - binar, karena senang dan sudah tidak sabar untuk pergi kesana.


"Tapi Ryu!"


"Ya?"


"Kau bilang kita akan menginap di villa tempat berlibur bukan?"


"Lalu?"


"Ya... bagaimana mungkin, kita pergi ke villa rekreasi secara mendadak, sedangkan kau belum booking tempatnya."


Arvin dan Ryu hanya bisa saling melirik, dengan ekspresi yang sulit di deskripsikan.


"Mami kau sadar tidak sih?" Pungkas Arvin.


"Huh? Kenapa?" Sara nampak bingung.


Ryuzen memijat pelipisnya perlahan lalu berkata, "Sebenarnya kau itu mengenal suamimu tidak sih Sara?"


"Kenapa kalian bertanya begitu padaku?"


Arvin pun menghela napasnya, "Mami...., apa kau itu lupa status papiku di negeri ini?"


"Tentu saja ingat!"


"Kalau kau ingat kenapa harus membingungkan hal itu."


"Maksudnya?" Tanya Sara kembali, yang nampak bodoh.


"Huft! Arvin, sepertinya kau harus banyak bersyukur karena tidak mewarisi IQ ibumu."


Ya Papi kau benar! Arvin mengangguk pasrah. "Mami biar aku ingatkan, papi itu CEO nomor satu di negeri ini, bahkan jika dia mau membeli kota ini pun dia mampu. Apalagi cuma sekedar villa."


Eh? Sara akhirnya menyadari maksud ucapan Arvin tersebut.


"Sudah paham istriku tersayang?" Tanya Ryuzen yang telah selesai menyantap sarapan paginya.


"I- iya... aku yang salah bertanya ya," Sara dengan malu-malu mengakui dirinya yang pasti tadi terlilhat bodoh karena bertanya hal tersebut.


Ryuzen hanya bisa tersenyum lucu melihat ekspresi wajah Sara yang tersipu, lalu kembali fokus pada tabletnya ditangannya.


Huft dasar mami, kenapa sering kali lupa hal sepele seperti itu, untung saja aku dapat kecerdasan dari papiku. Tapi meski begitu, bagiku dialah mamiku yang sangat aku sayangi dengan seluruh hidupku.


🌹🌹🌹


Hai my beloved readers...


Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Meski sering slow update kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.


Happy reading and hopefully you like it all...


[Oh ya jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana😊]