Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 14


Di restoran Orleon, Ryuzen dan Erika makan bersama. Disana tak jarang juga orang-orang yang menyadari mereka.


"Hei lihat deh! Itu kan Erika Zhang dan CEO Emerald yang terkenal itu! Apa mereka pacaran?" kata seseorang pada temannya yang berada duduk disamping meja, tempat dimana Ryuzen dan Erika makan saat ini.


"Oh iya benar! Memang gosipnya mereka itu kan dulunya sepasang kekasih."


"Begitu ya? Kenapa tidak menikah saja ya, lagipula mereka cocok juga yang satu tampan dan yang satu cantik."


Mendengar celotehan orang-orang itu, Ryuzen tak ambil pusing. Karena baginya, hanya ada satu nama wanita yang sudah terpatri di dalam hatinya saat ini dan selamanya. Sebaliknya, Erika justru malah seolah memanfaatkan momen ini dengan berusaha membawa kenangan nostalgia mereka dulu saat masih bersama.


"Aku pesan ini," Ryuzen memesan menu yang ada di salah satu daftar menu.


"Jadi kau masih suka makan itu sejak dulu? Ternyata seleramu tidak berubah sama sekali." tutur Erika sambil tersenyum sumringah.


"Baiklah Tuan dan Nyonya mohon tunggu pesanan kalian," ucap si pelayan restoran yang melayani Ryuzen dan Erika itu, lalu kemudian dirinya pergi.


Erika menatap Ryuzen yang sejak tadi malah sibuk menatap layar ponselnya.


"Ryuzen, kau itu terlalu sibuk jangan bermain ponsel saat kita sedang makan."


Ryuzen meletakkan ponselnya ke saku dan menatap Erika, "Aku harus mengecek hal penting!"


"Ryu, kau ingat tidak saat kita dulu pacaran? Kita selalu makan di restoran ini. Dan kau seringkali memesan makanan yang sama, kau ingat hal itu kan?"


"Hem," Ryuzen mengangguk.


"Dan apa kau ingat juga, setiap pulang sekolah kau selalu saja mengajakku berkeliling kota naik motor. Kau juga selalu membantuku mengerjakan tugas yang sulit. Kau kakak kelas yang baik. Hanya saja saat dulu kita sekolah kau sering kali pergi menghilang entah kemana, sehingga orang lain tidak tahu kau dimana saat itu. Bahkan Jason saja tidak tahu kau kemana. Sebenarnya kau itu..."


"Jadi, kapan bisa mulai membahas soal kerjasama kita?" Ryuzen memotong perkataan Erika.


Erika merasa kesal karena, ternyata sejak tadi Ryuzen tidak memperdulikannya. Tapi Erika tidak boleh menunjukkan kekesalannya saat ini, karena hal itu malah akan membuat dirinya jauh dari Ryuzen.


Akhirnya Erika pun melawan egonya dan mulai membicarakan soal kerjasama pihaknya dan Emerald. Pelayan pun tiba-tiba datang dan membawakan pesanan makanan yang tadi sudah di pesan oleh Erika dan Ryuzen.


"Silakan menikmati makanannya Tuan, Nyonya!" ucap si pelayan itu.


"Kau panggil kami apa?" tanya Erika pada pelayan itu.


"Tuan dan Nyonya, aku pikir kalian adalah suami dan... "


"Dia bukan istriku!" ucap Ryuzen memotong kalimat si pelayan itu dengan suaranya yang berat. Ekspresi Ryuzen yang serius dan datar, serta tatapan mata yang tajam seperti biasanya, membuat pelayan itu ciut. Ia pun segera meminta maaf.


"Maafkan saya Tuan, saya benar-benar tidak tahu!" ucap pelayan itu dengan penuh penyesalan.


"Sudahlah tidak masalah nona pelayan," tukas Erika dengan santai dan menyuruh pelayan itu pergi.


"Tapi bagiku masalah!" tukas Ryuzen.


Erika seolah mendapat tamparan keras kala mendengar ucapan Ryuzen barusan.


"Eh ternyata mereka tidak ada hubungan apa-apa"


"Kelihatan sekali ya kalau nona Erika itu yang berharap lebih"


"Iya kasihan, usianya kan sudah tiga puluh mungkin dia takut jadi perawan tua makanya terlihat agresif pada tuan Han."


Bisikan-bisikan keras yang dilontarkan pelanggan lain di sekitarnya, berhasil membuat Erika mengatupkan gigi-gigi gerahamnya. Ia juga telah menggenggam alat makannya dengan begitu kuat, pertanda menahan emosinya yang sudah memuncak, mendengar orang-orang yang saling bergunjing membicarakannya dan Ryuzen.


"Kau senang kan mendengar mereka menertawakan aku?" tukas Erika.


"Tidak! Aku tak bermaksud-"


"Bohong! Kau masih benci padaku kan?" lirih Erika.


"Erika, aku..."


Sara yang baru saja selesai menyantap makan siangnya pun mengambil ponselnya, ia menekan huruf-huruf yang ada di keyboard di layar ponselnya.


Sayang, kau sudah makan siang? Jangan lupa makan siang, dan jangan terlalu capek bekerja.


I love you


Sara kemudian mengirimkan teks pesan tersebut ke suaminya.


Tidak sampai lima menit Ryuzen pun langsung membalas pesan Sara itu, dan Sara pun membukanya untuk dibaca


Pesan dari Ryuzen


Aku sudah makan sayang, kau juga harus jaga kesehatan. I love you for a thousand suns.


Membaca balasan pesan dari Ryuzen, membuat Sara tersenyum sumringah bak bunga yang mekar di musim semi.


"Ryu kau itu ternyata romantis juga ya," ujar Sara yang masih saja tersenyum saat itu.


~~


Setelah selesai makan siang, Ryuzen masih menyempatkan diri mengantarkan Erika kembali ke kantornya. Di dalam mobil mereka berdua sama sekali tak bicara sepatah kata pun. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing -masing.


"Ryu... seandainya waktu itu aku tidak meninggalkanmu, mungkin sekarang kita sudah menjadi keluarga yang bahagia," ucap Erika dengan perasaan menyesal.


Ryuzen langsung menghentikan mobilnya di depan kantor milik Erika. Erika sendiri masih saja memandangi Ryuzen yang belum merespon kata-katanya tadi.


"Erika, saat kau pergi meninggalkanku. Aku mempelajari satu hal."


"Apa itu?"


"Takdir manusia tidak ada yang tahu bagaimana. Jadi aku harap kau belajar untuk hidup melangkah ke depan, bukan terus menerus mengharap pada masa lalu yang tak akan mungkin bisa di ulang kembali."


"Tapi seandainya yang meninggalkanmu adalah Sara, apa kau juga akan menyerah dan melupakannya juga? "


"Sara dan kau berbeda, jadi jangan membandingkan kisah hidupmu dengan orang lain," tukas Ryuzen tanpa menatap Erika.


"Apanya yang berbeda...! Apakah dia lebih segala-galanya dibanding aku?" lirih Erika.


"Masa lalu akan tetap jadi bagian dari diri seseorang, tapi hidup di dalam angan-angan masa lalu adalah sebuah kesalahan. Jadi hentikan itu!"


"Begitu ya...?" Senyum getir terukir di bibir Erika.


"Baiklah, sudah sampai kau harus bekerja kembali kan?" ucap Ryuzen dengan ekspresi datar miliknya.


"Iya, terima kasih tumpangannya."


"Sama-sama," balas Ryuzen.


Erika melepaskan sabuk pengamannya, "Oh iya, kak Yoshiki mengajak kita berkuda besok, apa kau besok akan datang juga ke sana?" ucap Erika sebelum keluar mobil.


"Entahlah! Mungkin aku akan datang, mungkin juga tidak!"


Erika menghela napas, "Aku berharap kau datang, dan membawa istrimu! Kalau begitu sampai jumpa Ryu."


"Sampai jumpa!" balas Ryuzen dengan ekspresi datar melihat ke arah Erika yang kini sudah keluar dari dalam mobilnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


LIKE, COMMENT, VOTE THANK YOU ๐Ÿ™


ย 


ย