Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 75


Sejatinya hukum aksi reaksi itu selalu ada. Meski kau berusaha menghindarinya, semesta tetaplah yang berhak menentukan.


Di ruang sidang Sara terlihat duduk dengan tenang diatas kursi pesakitan menunggu hasil putusan sidang. Sambil terus berdoa di dalam hati agar semuanya baik-baik saja.


Aku yakin sebuah kebenaran akan selalu menemukan jalannya, dan aku percaya akan hal itu.


Sedangkan dari tempatnya duduk, Ryuzen bisa dengan leluasa melihat sosok Sara dari sisi belakangnya. Rambut berwarna kecoklatannya diikat rapi, sehingga bisa menampakkan pundak kecilnya. Pikir Ryu, Sara mungkin tengah gugup menanti hasil putusan hakim saat ini. Ingin sekali rasanya ia memeluk istrinya itu dari belakang, dan membisikan kata-kata yang bisa menenangkan hati dan pikirannya saat ini.


Sayangku... jangan gugup! Ada aku yang akan selalu menjagamu disini.


Tidak sampai hitungan jam, akhirnya para hakim dan jaksa kembali ke singgasana mereka untuk membacakan hasil putusan sidang hari ini. Sidang yang berjalan alot dan mencengangkan.


Semua kamera dari stasiun TV pun sudah stand by di posisi masing-masing demi mendapatkan gambar yang jelas.


Hakim ketua pun mengambil berkasnya dan bersiap membacakan putusan hasil persidangan perkara kasus.


"Selamat sore semuanya.... Pada hari ini aku selaku hakim ketua akan menyampikan dan membacakan hasil putusan yang telah kami kaji dari semua runtutan sidang perkara yang telah dilaksanakan hari ini. Adapun pertimbangan yang dikaji adalah data dan bukti yang valid. Dan dengan sebijaksana mungkin sesuai kaedah peraturan hukum yang berlaku di negeri ini, dengan berbagai macam landasan-landasan yang kami yakini sebagai pedoman penegakan hukum yang seadil-adilnya,"


"Maka hari ini, aku selaku hakim ketua yang memimpin jalannya sidang sampai akhir akan menyampaikan vonis bagi si terdakwa Nona Sara Chen. Yang dalam kasus ini terdakwa sebagai pembunuh nyonya Ivy dan seorang perawat."


Atmosfer ketegangan semilir menggetarkan raga. Semua orang diam dan menyimak dengan seksama, apa yang dibacakan oleh hakim ketua.


"Dari semua bukti-bukti yang sudah ada dan berdasarkan kesaksian para saksi menyatakan kami selaku pimpinan sidang setuju untuk, memberikan kebebasan tanpa syarat apapun, bagi nona Sara Chen. Dengan begini maka hasil putusan sidang ini menyatakan jika Nona Sara chen tidak bersalah dan bebas dari hukuman apapun."


Tok tok tok!


Hakim akhirnya mengetuk palu tanda sidang telah resmi selesai, semua orang disana menyambutnya dnegan penuh rasa haru dan bahagia. Gina selaku pengacara Sara nampak luar biasa senang bukan kepayang mendengar hasil putusan sidang yang menyatakan Sara tidak bersalah.


Sara sendiri, tidak sadar tengah meneteskan air matanya, bukan air mata sedih melainkan air mata kebahagiaan. Ia tidak tahu harus bagaimana untuk bersyukur atas suka cita ini. Ia hanya bisa menundukan kepalanya menyembunyikan rasa harunya, sambil berusaha menghapus cucuran air mata dengan kedua tangannya.


"Jangan menangis lagi!" Seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi bagi Sara berujar tiba-tiba,di hadapannya yang sedang menangis haru.


"Ryuzen?" Sara mengangkat kepalanya, mendongak menatap pria tampan yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Dengan pipi basah karena air mata, Sara bangkit dari kursi yang seumur hidupnya tidak pernah ia sangka akan merasakan duduk di kursi tersebut.


Ryuzen tersenyum lembut menatap Sara yang kini sudah bediri di hadapannya itu. Melihat sang suami tersenyum begitu, Sara langsung saja menerjang tubuh Ryuzen dan memelukny erat-erat.


"Akhirnya aku bebas Ryu! Kita bisa berkumpul bersama-sama lagi," Ujar Sara dalam tangis bahagiannya. Ryuzen sontak langsung membalas pelukan wanita yang kini tengah mengandung anak keduanya itu dengan mesra.


"Ryuzen, aku bahagia...," ujar Sara lagi.


"Kalau begitu aku yang lebih bahagia. Karena bagiku bahagiamu adalah diatas kebahagiaanku."


"Terima kasih Ryuzen!"


Mereka pun berpelukan dengan begitu erat, bak pasangan yang sudah berbulan-bulan tak saling bertemu.


"Sara, aku senang sekali!" Seru Gina yang tiba-tiba datang menghampiri Sara. Lucunya kedatangan Gina malah membuat CEO emerald jadi merengut, karena nyatanya sang istri malah melepaskan pelukannya dan memilih menghampiri Gina. Tapi rasa jengkel Ryuzen itu langsung menghilang, saat ia dapat dengan jelas melihat rona bahagia di wajah Sara saat ini.


Tetaplah tersenyum seperti itu setiap hari Sara. Karena senyumanmu salah satu kekuatan bagiku, meski kedepannya tidak tahu akan seperti apa, yang jelas aku tidak akan pernah berhenti untuk menjaga, membahagiakan, dan mencintaimu, bahkan sampai dikehidupan berikutnya.


"Tuan muda!"


"Apa ada?" Balas Ryuzen pada Kenzo yang datang menghampirinya.


"Aku hanya ingin melaporkan padamu, jika Biyan sudah berhasil ditangkap oleh polisi."


Dengan senyum seringai khas yang tergambar di wajahnya, Ryuzen pun berkata, "Baguslah!"


"Oh iya tuan, selamat ya... akhirnya kau dan nona Sara bisa bersama lagi setelah semua badai yang menerpa ini. Aku benar-benar terharu melihat ini semua," terang Kenzo sambil mengusap matanya dengan lengan jasnya karena menangis terharu.


"Kenzo!" Dengan tegas Ryu memanggil nama asisten pribadinya itu, hingga membuat Kenzo terperanjat dan langsung berubah sikap menengapkan tubuhnya layaknya seorang tentara.


"Ya tuan!" Jawab Kenzo.


Kenzo mengira Ryuzen akan marah padanya karena menangis, tapi nyatanya..., bosnya itu malah menyentuh kepalanya dan mengacak-acak rambutnya tersebut.


"Huh?" tukas Kenzo terperangah kaget akan sikap Bosnya itu. Kenzo langsung melihat ke arah Ryuzen yang berdiri di hadapannya kini.


"Terima kasih karena telah setia padaku selama ini!" Ucap Ryuzen dengan ramah.


Di hujani kata-kata dan perlakuan seperti itu oleh Ryu, tentu membuat Kenzo merasa begitu bahagia dan kembali merasa terharu, namun ia mencoba menahan untuk tidak menangis karena takut Ryu melihatnya.


Ryuzen mengehela napasnya, "Kalau kau mau menangis, menangislah...."


"Tuan kau...?" ucap Kenzo dengan mata berkaca-kaca.


Kenzo langsung menghapus air matanya dan berkata, sambil bersikap hormat, "Siap bos!"


~~


Erika beranjak dari tempat duduknya, dirinya merasa kehadirannya sudah tidak lagi dibutuhkan disini. Ia pun akhirnya berjalan pergi meninggalkan ruangan. Namun, Sara yang melihatnya langsung saja bergegas pergi, untuk menghampiri Erika disusul oleh Gina di belakangnya.


"Erika tunggu!"


Erika menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi?" ucap Erika tanpa menoleh ke hadapan Sara sedikitpun.


"Um, aku..., aku ingin ber-"


Erika mengangkat rendah satu tangannya, yang berarti meminta Sara untuk tidak bicara lagi.


"Kau tidak perlu berterima kasih padaku! Jika kau ingin berterima kasih, berterima kasihlah pada putramu."


Putraku? Arvin? Sara tentu saja agak kaget mendengarnya.


"Ma-maksudmu Arvin?"


"Ya anakmulah yang membuatku mau menjadi saksi hari ini. Jadi jangan pernah berpikir, jika aku melakukan semua ini untuk dirimu. Oh ya, jika tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, maka aku akan pergi!"


"Huh! Dia itu, kenapa sih selalu saja sombong begitu," celetuk Gina melihat Erika yang pergi dengan tanpa permisi baik-baik.


"Tapi, dia sudah membantu kita hari ini, bagaimanapun aku kini berhutang budi padanya."


"Iya sih," balas Gina.


~~


Tiba-tiba seseorang dengan langkah kecil yang terdengar tergesa-gesa seperti tengah belari mendekati Sara.


"Mami...!" Panggil seseorang dari arah yang berlawanan dengan Sara.


Sungguh! Panggilan itu terdengar begitu membahagiakan batin Sara. Panggilan yang keluar dari mulut sosok anak kecil, yang bagi Sara lebih mirip seperti malaikat kecil yang sangat ia rindukan kehadirannya belakangan ini.


Arvin...!


Arvin dengan langkahnya yang sedikit terseok-seok akibat luka dikakinya saat terjatuh dijalanan tadi, berusaha secepat mungkin berlari ke arah wanita yang telah melahirkannya itu.


*Hug!


Arvin memeluk Sara kuat-kuat, merasakan wangi aroma tubuh yang menenangkan, dan hanya dimiliki oleh wanita yang paling ia rindukan itu. Hingga akhirnya tangis Arvin pun pecah di dalam pelukan sang ibunda.


"Aku merindukanmu... Mami!"


"Dan aku pun merindukanmu Arvin kecilku."


Sara yang juga tak bisa menahan kerinduannya terhadap sang putra, tentu saja membalas pelukan Arvin dengan sangat erat.


Sungguh pemandangan yang mengharukan bagi siapapun yang melihatnya bukan?


Gina yang sejak tadi berada di dekat Sara pun tak kuasa menahan air matanya untuk tidak keluar.


Dari tempatnya berdiri Ryuzen juga terlihat menyunggingkan senyum simpul, tatkala melihat dua orang yang amat ia cintai di dunia ini bisa kembali berkumpul lagi. Tidak terkecuali bagi para awak media yang masih berada disini, tidak henti-hentinya mereka mengambil momen mengharukan antara ibu dan anak itu dengan kamera mereka.


Menyadari itu, Kenzo pun langsung berceloteh, "Bos, disini banyak awak media, apa tidak apa-apa membiarkan tuan kecil berada sini? Kau kan belum resmi memperkenalkan tuan kecil sebagai anakmu pada khalayak luas."


Ryuzen hanya tersenyum kecil.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Halo my beloved readers. Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mau setia membaca ceritaku ini. Sekali lagi maaf karena tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih sabar dan setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, dan vote ya....


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and I hope you like it.


For more info follow my instagram account @chrysalisha98 thank you.๐Ÿ˜‰