
Setelah belum ada dua puluh menit, akhirnya Ryuzen pun tiba di dalam vila. Pastinya Sara yang sudah tau watak suaminya itu pun hanya bisa pasrah saja, toh dirinya sejak awal memang hanya berniat usil pada suaminya tersebut. Disamping itu, dirinya pun juga sudah paham betul jika dirinya tidak akan mungkin pernah menang jika melawan suaminya yang licik itu.
"See, aku tiba sebelum dua puluh menit!" Ryuzen mengangkat tangan satunya guna menunjukkan waktu di arlojinya pada Sara berdiri tak jauh darinya berdiri. Sedangkan tangan satunya lagi membawa bingkisan yang berisi roti pesanan Sara.
Sara pun hanya bisa tersenyum hangat menyambut datang suaminya yang selalu saja menang jika taruhan.
"Aku sudah tahu kau akan selalu menang," ungkap Sara pada Ryuzen yang kini sedang memelukknya.
"Justru aku menang karena aku yang tidak mungkin bisa menolak permintaan istriku!" balas Ryuzen.
Ryuzen melepaskan pelukannya dan berkata, "Mana hadiahku?"
Sara yang sudah paham betul maksud suaminya itu pun langsung melingkarkan tangannya di leher sang suami, mendongakan kepalanya dan berjinjit. Ryuzen pun spontan menunduk, dan.... Sara pun mengecup mesra sang suami untuk beberapa saat.
Setelah saling berkecup mesra dalam beberapa saat mereka pun melepakannya dan kembali saling menatap. "Mana roti pesananku?"
"Ini!" Ryuzen mengangkat bingkisan berisi roti yang dirinya sudah beli sesuai permintaan istrinya itu.
~~
Akhirnya mereka pun memakan roti itu bersama-sama sambil duduk di atas sofa. Menikmati momen yang terlarut dalam kehangatan dan canda tawa berbalut cinta di tiap detik yang mereka lalui malam ini. Ryuzen menatap Sara yang kini tengah dengan rakusnya melahap roti ditangannya, sambil duduk diatas pangkuan suaminya.
Aku tidak tahu sampai kapan tiap detik ini akan bertahan. Aku hanya ingin dirimu menua bersamaku Sara.
Ditatap suaminya begitu, Sara pun mulai merasa tak nyaman. Alhasil dirinya pun dengan usil menjejalkan sepotong roti besar ke dalam mulut Ryuzen dengan tiba-tiba.
Hhmmmm... terdengar suara Ryuzen yang mulutnya penuh dengan roti. Ryuzen pun akhirnya mau tak mau mengunyah roti yang menjejal mulutnya itu hingga habis, dan kemudian mencubit hidup mancung sang istri. Melihat hal itu Sara hanya tertawa bangga, karena berhasil menjahili Ryuzen.
Ryuzen memegangi kepala sang istri yang kini posisinya agak sedikit sejajar, karena Sara yang kini duduk diatas pangkuannya. Ryuzen menempelkan dahinya ke dahi Sara. "Kau ini mulai berani mengusiliku aku ya?"
Sara hanya tertawa kecil, "Memangnya tidak boleh?"
"Boleh," balas Ryuzen dengan suara beratnya.
"Kau yang terbaik Ryu...!" Sara melepaskan tangan Ryuzen yang memegangi kepalanya. Kini justru Sara yang malah dengan sengaja menenggelamkan kepala Ryuzen yang posisinya lebih tinggi darinya itu di dalam pelukannya. Ryu pun tentu tak menolak, bahkan terlihat begitu nyaman dan tenang berada di dalam dekapan istrinya itu.
"Sayang, kenapa tiba-tiba memelukku seperti ini? Serindu itukah kau padaku setelah tidak bertemu denganku seharian ini?" tanya Ryu.
"Tidak juga, aku hanya sedang ingin sekali memeluk suamiku yang paling aku sayangi ini saja. Bolehkan? "
"Hem," balas Ryuzen.
Sara membelai kepala suaminya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sejujurnya sebagai istri Sara begitu iba setelah mengetahui sedikit demi sedikit, penderitaan batin yang selama ini dirasakan dan dipendam oleh Ryu sendirian selama ini.
Ryu... terlalu banyak yang kau tanggung sendirian selama ini. Kali ini biarkan aku membantumu menenangkan dirimu. Maaf jika tidak banyak yang bisa aku lakukan untukku saat ini. Tapi aku akan berikan seluruh cinta yang aku miliki untukmu dan berusaha membantumu mendapakan kebahagiaanmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu bagaimanapun keadaannya nanti itu janjiku pada diriku sendiri.
Berada dipelukanmu adalah tempat ternyaman yang pernah aku rasakan. setidaknya aroma dan kehangatan tubuhmu bagai obat yang menenangkam jiwaku Sara.
Saat sedang terhanyut dalam momen kehangatan diantara mereka berdua. Entah kenapa Sara tiba-tiba terasa mual luar biasa. Sara pun segera menarik diri dan pergi ke kamar mandi untuk mengehilangkan rasa mualnya. Ryuzen yang nampak khawatir pun segera menyusul Sara ke kamar mandi. Setelah sang istri keluar dari kamar mandi Ryuzen pun langsung menanyakan keadaan istrinya itu.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, hanya saja tiba-tiba ingin minum teh jahe buatanmu?"
"Eh, apa kau bilang?"
Ryuzen bukannya menuju dapur malah meraih ponsel miliknya yang tadi ditaruh diatas meja.
"Kau mau telepon siapa?" kata Sara menghampiri Ryuzen.
"Jason! Aku akan minta dia kesini untuk memeriksamu."
Baru saja ingin mengetuk kontak Jason, sara keburu menarik tangan suaminya itu agar mengurungkan niatnya memanggil Jason kemari.
"Ada apa sayang, kenapa kau menghalangiku menghubungi Jason?"
Sara menggelengkan kepalanya, "Ini sudah malam, Jason juga harus mengawasi nenek. Apa kau tega membiarkan nenek lepas pengawasan?"
Apa yang dikatakan Sara memang benar! Aku tidak mungkin membiarkan nenek ada di dalam pengawasan dokter lain, selain Jason.
"Tapi kau sepertinya kurang sehat!" ujar Ryuzen dengan nada khawatir.
"Ryuzen dengar!" Sara meraih wajah Ryuzen dan menghadapkannya pada wajahnya.
Ryuzen menyipitkan matanya karena bingung dengan perkataan Sara.
"Kau, mau, aku apa?"
"Aku... mau... kau... buatkan... aku... teh jahe! Paham sayangku?" ucap Sara dengan intonasi yang sangat jelas.
"Tapi kan?"
Sara memasang tatapan memelas sambil mengerucutkan bibirnya, seolah dirinya tengah memperingatkan suaminya itu agar permintaannya ini tidak ditolak.
"Okey... apapun yang kau minta ratuku!"
Uluran senyum bahagia pun seketika terlukis di bibir indah Sara, melihat suaminya yang akhirnya menuruti permintaannya. Ryuzen pun dengan segera menuju dapur untuk membuatkan teh jahe untuk istrinya itu.
"Buatkan dengan penuh cinta ya sayang...!" ujar Sara pada Ryuzen dari tempat dimana ia sejak tadi berdiri dan belum beranjak.
"Seluruh cinta yang ada dimuka bumi ini akan kuberikan untukku!" balas Ryuzen tanpa menoleh.
Sara pun hanya bisa tertawa geli mendengar balasan suaminya.
"Sepertinya... besok aku harus benar-benar periksa ke dokter," gumam Sara.
~~
Keesokan harinya tanpa memberitahu Ryuzen terlebih dulu, Sara pun berniat untuk memeriksakan dirinya apakah benar jika dirinya tengah mengandung saat ini. Namun karena merasa lapar lagi, ia memutuskan untuk makan beberapa cemilan di kafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit kota. Sara terlihat begitu lahap menikmati kue muffin dan secangkir coklat hangat yang ada di hadapannya itu.
Saat sedang asyik menikmati menu dihadapannya itu. Tiba-tiba suara seseorang datang duduk di hadapan Sara dan menyapa dirinya.
"Hai Sara, kita bertemu lagi!" ujar pria itu dengan ramah. Sara pun menelan paksa makanan dimulutnya yang padahal belum selesai dikunyahnya.
"Renji?" balas Sara tak menyangka bisa bertemu lagi dengan laki-laki yang sudah beberapa kali ditemuinya itu.
"Kau sarapan sendirian?" tanya Renji.
Sara meletakan cangkir coklat panas yang baru saja di minumnya.
"Sebenarnya... ini sarapan kedua kalinya," ungkap Sara malu-malu.
Renji pun tertawa kecil. "Aku tak menyangka, ternyata makanmu banyak juga ya nona,"
"Ya, begitulah...," kata Sara yang kini sudah hampir menghabiskan makanannya.
"Kau mau sarapan juga kah?" tanya Sara pada Renji.
"Oh ya, aku mampir untuk minum secangkir kopi dan~"
"Ini kopi pesanan anda Tuan!" ujar pelayan yang mengantarkan kopi pesanan Renji tersebut.
"Ya, terima kasih!" balas Renji pada sang pelayan, yang kini sudah pergi itu.
"Oh ya, tadi kau mengatakan sesuatu, tapi belum kau selesaikan karena keburu kopi pesananmu tiba," tukas Sara.
"Benarkah?" ucap Renji yang baru saja selesai menyesap kopi pesanannya.
"Iya," Sara mengangguk.
"Oh ya, aku tadi ingin bilang aku kemari untuk menikmati secangkir kopi sambil memeriksa isi novel ini!" Renji meletakkan sebuah novel yang disana tertera berjudul "Redemption" yang mana novel itu berhasil membuat Sara sangat antusias.
"Itu... itu novel karangan Renhao yang belum di riliskan?" tanya Sara dengan ekspresi tak menyangka.
Renji pun tersenyum tanda mengiyakan pertanyaan Sara barusan.
"Ta- tapi bagaimana bisa kau?"
๐น๐น๐น
Thanks for always keeping up and support me.
Jangan lupa buat tinggalkan jejak dengan comment, like, dan vote. Kritik dan sarannya juga ditunggu.
Happy reading fellas, i hope you like it ya ๐