
[Kantor kepolisian ]
Sara kini duduk meringkuk di dalam sel tahanan sementara. Tubuhnya lemas, rasa trauma akan kejadian yang ia lihat tadi di kamar inap tempat nenek Ivy dirawat membuatnya frustasi. Tatapannya sesekali terlihat kosong.
Bukan aku, bukan aku!
Langkah kaki seorang polisi wanita yang datang menghapirinya, membuatnya menoleh. Polisi itu datang dan meminta Sara keluar dari sel tahanan sementaranya.
"Nona Sara Chen, kuasa hukum anda ingin bertemu!" ujar polisi wanita tersebut.
Kuasa hukum? Apa itu Gina?
Tentu saja, tubuh wanita yang kini tengah mengandung itu langsung bereaksi, dan berdiri dari duduknya. Polisi itu akhirnya membuka pintu sel tahanan tersebut, dan memintanya keluar dari dalam sel tahanan.
"Mari ikut aku," ucap petugas polisi wanita itu.
Sara mengikuti instruksi polisi wanita itu, dan segera keluar dari dalam sel tahanan yang sudah hampir dua jam membuatnya terkurung, bak burung kecil yang tiba-tiba ditangkap oleh sang pemburu. Kemudian tibalah Sara di ruangan yang mungkin bisa di bilang sebagai ruang besuk tahanan. Disana sudah ada Gina yang terlihat berdiri mondar-mandir menunggu dirinya dengan perasaan gusar.
"Sara!" ujar Gina terlihat khawatir dan merasa iba, saat akhirnya ia melihat sahabatnya itu keluar dengan didampingi oleh seorang polisi, bersama borgol yang melingkar di pergelangan tangannya layaknya seorang penjahat.
Sara pun duduk di sebelah Gina. Petugas polisi itu juga pergi, guna memberikan waktu beberapa saat untuk Gina dan Sara untuk saling berinteraksi. Gina yang tidak bisa menahan sedihnya, dengan spontan langsung memeluk Sara sambil menangis.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini Sara?" isak tangis Gina terdengar jelas di telinga Sara. Ia pun ingin sekali membalas pelukan Gina, tapi sayang kedua tangannya tertahan oleh borgol yang kini membelenggu kedua pergelangan tangannya.
"Gina...," lirih Sara menitikan air mata.
Setelah beberapa saat memeluk Sara, Gina pun melepaskan pelukannya tersebut kemudian menyeka air matanya.
"Sara, coba kau ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kau, kau tidak mungkin bisa melakukan sebuah pembunuhan pada seorang perawat seperti yang di tuduhkan itu kan?"
Pertanyaan Gina dibalas Sara dengan senyuman getir, yang kemudian diikuti tertawa kecil yang berakhir dengan tangisannya yang tidak terbendung lagi. Wajah cantiknya mulai dibahasi air mata yang bercucuran di pipinya.
"Sara, tenang....," kata Gina sambil mengusap-usap kepala Sara.
"Gina, aku...., aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Ak-aku takut, bingung, dan aku tidak tahu harus bagimana menghadapi ini semua. Aku harus apa Gina...?!" Air mata Sara terus mengalir deras.
"Sara dengar, aku sebagai kuasa hukummu akan berusaha mencari bukti agar kau bisa segera bebas dari tuduhan ini. Aku yakin kau tidak bersalah, dan pasti ulah seseorang yang sengaja menjebakmu!"
"Entahlah Gina, saat ini aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan nenek Ivy dan yang lainnya. Aku yakin, semua ini pasti berimbas pada mereka semua kan?"
Gina menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. Mencoba untuk menenangkannya, "Sara, kau tenang saja aku dan pastinya Ryuzen pasti akan mengeluarkanmu dari sini!"
Mendengar nama sang suami, raut wajah Sara benar-benar menunjukkan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. Pasalnya hari ini ia bermaksud ingin memberi kejutan soal kehamilannya pada Ryu, namun naas malah terjadi hal seperti ini.
"Gina, Ryu-"
"Dia sedang dalam perjalanan menuju kemari," terang Gina.
"Begitu ya?" Sekali lagi senyum kesedihan menghiasi wajah cantik Sara.
"Ada apa Sara, apa yang ingin kau katakan?" tanya Gina melihat sahabatnya itu seperti orang yang tengah menahan beban pikiran.
"Gina, sebenarnya aku...,"
Dahi Gina mengernyit, dirinya sungguh penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh sabahatnya itu.
"Sara, tolong jangan memendam rahasia denganku, kita ini sahabat bukan?"
"Gina, aku hamil!"
Mata Gina terbelalak bak mata lebah, mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut Sara.
"Sara kau serius?"
Sara hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menahan pilu, mengiyakan pertanyaan sahabatnya tersebut.
"Ya Tuhan!" ujar Gina tidak tahu harus berkomentar apa.
~~
Kini tiba giliran Ryuzen dan Kenzo yang hampir tiba di kantor kepolisian, dan tepat seperti dugaan mereka paparazi dan wartawan dari berbagai awak media sudah stand by di depan kantor. Bahkan beberapa sudah mencoba menghalau laju mobil Ryuzen demi mendapatkan informasi, terkait Sara Chen yang kini viral diberitakan sebagai tersangka atas insiden pembunuhan nyonya Ivy dan seorang perawat.
"Tuan?" tanya Kenzo dari kursi kemudi,
"Lanjutkan! Jika mereka mau mati tertabrak itu masalah mereka!" balas Ryuzen.
"Baik Tuan!" Kenzo pun akhirnya terus melajukan laju mobilnya tanpa menghiraukan para wartawan yang menghalangi laju mobil mereka, seperti yang diperintahkan Ryuzen.
Sara sayang, kau tenang saja aku akan menyelesaikan semua ini. Dan aku akan pastikan, jika pria biadab itu akan membayar mahal apa yang telah ia lakukan terhadapmu dan nenek.
~~
Setibanya di depan kantor kepolisian, Kenzo segera memarkirkan mobilnya. CEO Emerald dan Kenzo akhirnya keluar dari dalam mobilnya, yang mana kemunculan mereka lansung di kerumuni wartawan dan langsung dihujani banyak pertanyaan oleh wartawan pemburu berita.
Tuan, bagaimana ini, apa istri anda benar dalang dari peristiwa naas ini?
Tuan muda Han, apa anda akan menceraikan istri anda?
Pertanyaan silih berganti ditujukkan kepada Ryuzen, namun dirinya sejak muncul hanya memasang wajah dingin, serta tidak mengucapkan sepatah katapun di hadapan para awak media. Bagi Ryuzen saat ini, prioritasnya hanya sang istri tercinta yang kini berada ditahan oleh pihak kepolisian karena ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan.
Saat memasuki kantor Ryuzen ternyata masih sempat berpapasan dengan Gina.
"Nona Gina!" Seru Ryuzen melihat Gina tengah beranjak keluar.
"Tuan Han, kau sudah tiba?" balas Gina
"Bagaimana Sara?" Terdengar jelas dari nada suaranya jika Ryuzen kini tengah begitu khawatir dengan keadaan Saram
"Em, aku baru saja membawakannya makanan."
"Baiklah, nanti kita bicara lagi." Ryuzen kemudian berjalan meninggalkan Gina menuju ke tempat dimana ia akan menemui Sara.
Gina sendiri justru malah kelihatan nampak tertekan selepas menemui Sara di dalam tadi. Kenzo yang ternyata masih berdiri dan melihat Gina termenung dalam kebimbangan. Tanpa ragu Kenzo menepuk pundak Gina pelan, "Nona Gina!"
"Uhm, ya?" balas Gina gelagapan.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat bingung begitu, seperti ada yang mengganggu pikiranmu," ungkap Kenzo.
"Um, tidak ada. Kau tidak masuk bersama tuan Han?"
Mendengar Gina yang seperti tengah mencoba mengalihkan pembicaraannya, Kenzo pun semakin menekan Gina.
"Nona Gina, kau pengacara kan?"
"Huh, kenapa kau tanya begitu! Tentu saja aku ini pengacara kan."
"Kalau begitu, tugasmu adalah menyelamatkan klienmu, dan klienmu adalah istri bosku. Jadi..."
"Huh!" Gina menghela napas.
"Baiklah, baiklah... sepertinya bersilat lidah dengan asisten CEO Emerald sepertinya memang tidak ada gunanya."
Kenzo tersenyum penuh kemenangan.
Sara maafkan aku, tapi semua orang harus tau keadaanmu saat ini.
"Tuan Kenzo dengarkan aku baik-baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali."
"Oke," sahut Kenzo.
"Sebenarnya, Sara memintaku untuk merahasiakan ini. Tapi aku rasa aku tidak bisa merahasiakannya, karena cepat atau lambat akan ketahuan," Kenzo terlihat masih belum paham perkataan Gina.
"Jadi apa yang terjadi dengan nona Sara?"
"Sara, sebenarnya saat ini dia," Gina berhenti sejenak dan menarik napas lalu menghembuskannya.
"Saat ini Sara sedang dalam kondisi mengandung," jelas Gina.
"Apa?" Kenzo terbelalak. Ia pun memastikan ucapan Gina apakah sungguhan atau dirinya yang hanya salah dengar.
"Nona Gina kau tidak salah ucapkan?"
"Kau pikir aku manusia tak berotak, yang bisa-bisanya bicara ngelantur saat vonis hukumannya kini ada di tangaku, huh?" Gina menjadi sedikit emosi.
"Ja-jadi, nona Sara kini dalam keadaan mengandung, " pungkas Kenzo tidak habis pikir.
Tuan Ryu harus tau soal ini. Kenzo pun berniat memberi tahu Ryu, tapi Gina melarangnya dengan menarik lengan kemeja Kenzo.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku harus beritahu tuan Ryu!"
"Justru Ryuzen, orang yang paling tidak diinginkan oleh Sara tentang kehamilannya."
Kenzo menyipitkan mata, "Tapi kenapa?"
"Sara tau betul, Ryuzen saat ini sedang menghadapi masalah besar. Ia tidak ingin menambah beban pikiran suaminya itu, dengan tidak memberitahukan soal kehamilannya. Karena bagi Sara, memberitahukan keadaannya yang sedang hamil hanya akan membuat Ryuzen semakin tertekan."
Tapi tuanku adalah ayah dari anak yang dikandung nona Sara, dia berhak tau.
"Aku juga berpikir begitu. Tapi, aku juga sudah terlanjur berjanji pada Sara untuk tidak memberitahukannya pada Ryuzen."
Pada dasarnya, kejujuran dan kebohongan adalah dua hal yang berbeda. Hanya saja, keberadaan keduanya seolah hanya disekat dinding yang begitu tipis, yang mana saat kebohongan itu terbongkar, hanya akan menjadi sebuah kejujuran yang justru terasa menyakitkan.
๐น๐น๐น
Terima kasih sudah mau setiap membaca ceritaku ya, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading fellas and i hope you like it. ๐