
Sambil menunggu makan
malamnya siap, Sara langsung meminta Arvin untuk bersih-bersih sebelum makan malam dimulai. Sedangkan Sara dan Gina sibuk dengan kegiatan dapur untuk memasak makan malam hari ini.
“Kau mau buat sukiyaki untuk makan malam kita?” ucap Gina yang kini sibuk bergelelut memasang celemeknya.
“Ya, Arvin memintaku
untuk masak ini. Dia bilang rindu masakanku,” cicitnya sambil menyiapkan bahan- bahan untuk dimasaknya.
"Hem pantas saja, pasti sejak
tinggal di kediaman keluarga Han yang mirip istana itu, aku berani bertaruh kau pasti hampir setiap hari
tidak pernah masak, iya kan?”
Sara tertawa kecil mendegar tebakan Gina yang sejujurnya tepat sekali itu.
“Kau tertawa, pasti benar ya tebakanku?” tebak Gina lalu menyikut pelan tubuh Sara.
“Ya kau benar, benar sekali! Bahkan aku disana seolah seperti jadi ratu setiap hari. Apa –apa dilayani. Dan maka dari itu, aku jadi tidak bisa memperlihatkan skill memasakku pada mereka deh.”
“Dasar kau ini! Kalau kau tunjukan hal itu, sama saja kau minta suami CEO-mu itu untuk memecat pelayan disana," ujar Gina diikuti gelak tawa.
“Hem sejak tadi menertawai aku. Kau sendiri, kau yakin tidak berkencan dengan Kenzo, huh?” Sara kini yang giliran berganti meledek sahabatnya itu.
Pertanyaan Sara spontan membuat Gina benar-benar tertawa geli.
“Kenapa kau malah tertawa? Apa pertanyaanku adalah hal yang lucu?” Balas Sara melihat Gina yang malah tertawa geli.
“Habisnya kau itu lucu sekali, masa baru melihatku pergi dengan Kenzo berdua sekali saja,
langsung kau anggap punya hubungan dengannya. Ada-ada saja.”
“Ya kan barangkali saja.”
Suasana berubah hening tiba-tiba, Sara dan Gina tidak tahu kenapa malah saling terdiam, dan sibuk dengan tugas di dapurnya masing-masing. Gina yang sibuk memotong sayuran, sara pun sibuk membuat
kuah kaldu.
“Mmm.. Gina.”
“ Ya?”
“Boleh kutanya sesuatu padamu?”
“Ya, tentu saja. Memang kau mau tanya hal apa?”
Sara menghela napasnya, seraya menyiapkan dirinya untuk bertanya hal tersebut pada Gina. “Kalau aku boleh
tau, apa kau masih mencintai Jesper?”
Gina menghentikan aktivitas memotong sayuran itu, kala mendengar nama Jesper di sebut oleh Sara.
Wajahnya yang tadi sumringah pun berubah menjadi sendu. Seolah ada kabut mendung yang
menutupi wajahnya.
“Um.., tapi jika kau tidak mau menjawab aku pun tidak masalah kok. Maaf ya.” Sara benar-benar jadi
merasa bersalah karena telah menanyakan hal tersebut pada Gina.
“Tidak apa Sara, kau tidak bersalah sama sekali kok. Hanya saja, aku masih tidak tahu kenapa belum bisa melupakan sosok Jesper di hatiku, hingga saat ini. Heh! benar – benar terlihat bodoh ya aku ini.” Gina seolah mengejek dirinya sendiri.
Sara pun medekati Gina, ia memegang dan mengelus pundak sahabatnya itu agar merasa lebih baik.
“Kau jangan bersedih Gina, aku yakin suatu hari nanti, kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu. Karena
aku tahu kau sangat layak untuk dicintai. Dan yang harus kau tahu, aku akan ada selalu untukmu."
“Terima kasih Sara, kau sahabatku yang terbaik. Maaf aku membuatmu jadi khawatir begini,” ucap Gina terharu.
“Sudahlah, mari kita kembali masak! Oh iya Gina, aku baru ingat. Tadi aku meletakan ponselku di
mobil dan belum aku ambil, aku ambil sebentar ya, kau tolong urus ini dulu
selama aku aku tinggal okey?”
“Okey,”
“Maaf ya, aku yang buatmu malah jadi repot begini, padahal kau kan tamunya,”ujar Sara merasa tidak
enak pada Gina.
“Sudahlah, kau ini denganku seperti dengan orang lain saja. Sana ambil ponselmu.”
Gina yang kini sendiri di dapur, tiba-tiba menghela napas panjang.
“Kau tahu Sara? Terkadang aku merasa berdosa karena sudah
merasa memiliki rasa iri denganmu. Tapi jujur aku memang iri padamu. Karena diiusiamu yang masih
begitu muda, kau sudah menemukan tambatan hatimu. Tambatan hati yang begitu
mencintaimu, begitu menyanjung dan memujamu. Belum lagi buah hati di dalam perutmu yang
bahkan sebentar lagi, akan muncul melengkapi kebahagian dirimu dan keluarga kecilmu.
Sekali lagi maaf Sara, karena sahabatmu ini bisaberpikir seperti ini.”
----
sepertinya tengah dalam pembicaraan yang cukup serius. Ryuzen yang mengenakan
kemeja berwarna hitam pekat, dengan lengan digulung hingga siku, terlihat
berdiri kokoh diantara buku-buku yang menggantung rapi di lemari. Ia memegang
buku Redemption karangan RenHao, yang mana buku itu adalah buku yang nyatanya ditulis
oleh Renji Haoran.
“Kau yakin sudah menyelidikinya, sesuai dengan apa yang aku katakan?” Ujar Ryuzen, yang kemudian
duduk di kursi kerjanya, dengan siku yang diletakan diatas meja, yang mana jari
jarinya saling mengait, guna menopang dagunya.
“Iya Tuan, aku yakin sekali aku sudah melakukannya sesuai dengan apa yang kau perintahkan. Dan soal
dugaan yang kau bilang jika Renji bersekutu dengan Biyan Dao itu pun benar
adanya. Hanya saja, pada akhirnya Renji malah menghianati Biyan Dao dengan cara,
menyerahkan bukti rekaman cctv di rumah sakit itu ke pihak kepolisian, entah apa motifnya aku sendiri
belum paham.”
Tapi Ryuzen yakin sekali, jika apa yang telah dilakukan oleh Renji, pasti tidak lain dan tidak bukan
adalah berhubungan dengan dirinya.
“Renji Haoran, dia pasti sudah tahu kelemahanku!”
Bagi Kenzo sendiri, masalah Ryu dan Renji adalah hal yang bahwa sanya paling ia tidak mengerti
duduk permasalahannya secara jelas.
Sebenarnya apa masalah diantara Renji dan Tuan muda, seingatku saat masih di black sepernts
Tuan dan Renji memiliki hubungan yang cukup baik bahkan mereka disebut sebagai
partner paling ditakuti jika sudah bekerja sama. Tapi entah sejak misi terakhir
di pulau terpencil itu, Renji malah tiba-tiba menghilang dan Tuan muda pun
tidak mau menceritakan apa-apa.
“Kenzo, tolong kau selalu awasi hal-hal yang mencurigakan soal Renji. Dan aku mohon padamu, tolong
sebisa mungkin jangan biarkan Sara mengetahui hal-hal yang bisa memicu dirinya menjadi
khawatir, dan terlalu banyak berpikir. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan
dirinya dan juga kandungannya.”
“Iya tuan, aku paham. Aku akan sebisa mungkin membantumu mengawasi nona dan juga tuan kecil,” ucap
Kenzo mengangguk paham.
Renji, apapun yang kau rencanakan untukku. Tidak akan kubiarkan dirimu setitik saja menyakiti
keluargaku. Mata tajam bak serigala itu seolah tengah mendeklarasikan perang
bagi siapa saja yang sudah berani mengusik kelompoknya.
Dendam di masa lalu yang menyisakan luka bagi banyak orang, sejatinya tidak akan sembuh tanpa
kedamaian yang menyelimutinya.
🌹🌹🌹
Hai my beloved readers...
Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu
update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa
update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan.
Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Meski sering slow update
kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai
ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘Oh iya jangan lupa juga untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan
lupa untuk di share juga
ya. Thank you.
Happy reading and hopefully
you like it all...
[Oh ya jangan lupa juga
follow instagram aku @chrysalisha98 karena aku bakal info karya baruku mungkin disana😊]