
Setelah acara makan-makan usai, semuanya pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat setelah semuanya selesai bersih-bersih. Dan sebelum istirahat, mereka semua setuju untuk melakukan pembagian kamar, siapa tidur dengan siapa. Dan keputusan pembagian kamar kali ini telah ditentukan oleh undian. Yang mana pada akhirnya berdasarkan undian tersebut memutuskan, mereka tidur berdasarkan gender. Dimana wanita akan tidur dengan para wanita, dan pria akan tidur dengan para pria.
"Baiklah, jadi semuanya sudah setuju kan?" kata Jason.
"Aku menolak keras hasil undian konyol itu!" kata Ryuzen yang mana dirinya merasa tidak terima harus pisah tidur dengan istrinya.
"Tapi kau sendiri kan tadi yang setuju, menentukan ini dengan hasil undian?" Sanggah Jason.
"Tapi ini villaku, jadi keputusannya ya terserah aku aku."
Benar - benar bos yang semena-mena! Gumam Alin.
"Lalu kenapa tadi kau bilang setuju Ryu?" tanya Yoshiki.
"Tadinya aku pikir aku dan Sara, adalah mutlak tidak mungkin dipisah, Tapi ternyata aku dan tulang rusukku harus tidur di kamar yang berbeda. Kalian para single silakan tidur dengan siapa saja, itu urusan kalian. Tapi yang jelas aku harus bersama Sara. Karena ada kegiatan yang harus dilakukan sebelum tidur."
Huh? Ryuzen kau itu bisa malu sedikit tidak sih? Mengumbar hal-hal intim di hadapan banyak orang.
Sebenarnya Sara pun ingin tidur bersama dengan suaminya, tapi mengingat dirinya yang jarang sekali dapat kesempatan bisa tidur dengan para wanita pun
tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Hei Sara, suamimu itu super posesif, tidak bisakah kau beri pengertian padanya?" bisik Alin yang berdiri di dekat Sara saat ini.
"Ayolah Ryuzen, kau ini jangan membuat hati para single ini meronta karena iri, padamu dan Sara yang bisa dimana saja bermesraa," tukas Jason yang berusaha membujuk suami Sara itu agar setuju.
Tapi dasar Ryuzen, ia malah masih tetap saja bersi kukuh dengan keinginan yang mungkin tidak bisa di ganggu gugat, kecuali.
"Hei Sara, suamimu itu diktaktor ya? Tolonglah kau bujuk dia..." bisik Yoshiki.
Karena desakan dari yang lain, Sara pun terpaksa harus menggunakan cara ini untuk membuat Ryu mau menurut. Sepertinya memang tidak ada cara lain. Sara menghela napas, yang kemudia segera mendekati telinga Ryuzen, dan berbisik padanya dengan lembut, "Sayang, hari ini kita tidak seranjang dulu tidak apa kan?"
"Sara Kaー"
Sara langsung membungkam Ryuzen dengan kecupan singkat di bibirnya, yang sudah pasti berhasil membuat pria arogan itu diam sejenak.
"Besok malam saat kembali dari sini, kau boleh lakukan apapun padaku sesukamu. Jadi... malam ini menurutlah dulu padaku ya?" Ucap Sara dengan suaranya yang terdengar manja dan menggoda.
Ryuzen pun membalas Sara dengan berbisik juga.
"Istriku... kau tahu peraturannya kan? Apa yang kau sudah katakan padaku maka tidak bisa kau tarik kembali ucapan itu."
"I know you, Ryuzen..." bisiknya dengan sangat dekat.
"Good girl" balas Ryuzen yang kemudian mengecup leher istrinya itu hingga berbekas merah, yang mana membuat Sara jadi tersentak kaget, pasalnya ia melakukan hal itu di hadapan teman-temannya. "Ryu kau kenapaー"
"Anggap kissmark barusan itu adalah saksi bisu, perkataanmu barusan."
Sara terlihat menutupi kissmark itu dengan rambutnya yang panjang terurai.
"Mereka itu sadar tidak sih! Bermesraan begitu di hadapan para manusia yang belum punya pasanga?" Ujar Jason keki melihat kelakuan Sara dan Ryuzen barusan.
"Entahlah, kalau aku sih sudah kebal melihat pemandangan mereka yang seperti itu hampir setiap hari," sahut Kenzo dengan ekspresi penuh kepasrahan.
"Paman dan bibi sekalian, tolong maklum dengan papi dan mamiku ya... mereka memang seperti itu. Dimana pun akan bermesra-mesraan, bahkan di hadapanku saja mungkin mereka suka lupa mengontrol diri," ujar Arvin yang tiba-tiba datang dengan membawa bantal, untuk bersiap tidur.
"Huh? Tuan kecil mau tidur dimana?"
"Aku kan anak - anak, mau tidur dengan siapapun tidak masalah," pungkasnya yang kemudian beranjak pergi sambil mengantuk.
"Baiklah, aku setuju jika tidur sesuai gender." pungkas Ryu.
"Nona memang hebat, cuma dia yang bisa buat srigala arogan itu menurut," puji Kenzo.
"Ya kau benar! Biklah... semuanya, selamat tidur!" Ujar Jason yang mengikuti Arvin beranjak pergi ke kamar untuk tidur.
~~
Di ruang kamar kamarnya, Sara, Rina, dan Alin sudah mengenakan pakaian tidur mereka masing - masing, dan bersiap untuk tidur.
"Kak Alin apa kau sudah mau tidur?"
"Ya! Aku sangat mengantuk. Hoaam...! Selamat tidur, " ucap Alin yang tak lama kemudian langsung tertidur pulas.
"Selamat tidur Kak Alin," sahut Sara.
Sementara Alin sudah tertidur, Rina justru terlihat gusar. Sejak tadi Sara memperhatikan pegawainya itu, terus saja membuka tutup ponselnya, entah apa yang sebenarnya dia ingin lakukan saat ini.
"Kau kenapa?" Tanya Sara yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Eh! Um... aku tidak apa-apa kok, kak!" Balasnya agak kaget melihat Sara tiba-tiba bertanya demikian.
"Sungguh aku tidak apa-apa, aku Hanya..."
"Hanya apa?" Sara semakin penasaran.
Aku ingin bertanya-tanya soal Kenzo pada kak Sara, tapi aku malu dan tidak tahu cara menanyakannya.
"Hei," sara menepuk pundak Rina. "Kau suka pada Kenzo ya?" Dan seketika, wajah Rina mendadak merah dibuatnya oleh pertanyaan Sara barusan. Ia pun jadi salah tingkah saat ini.
"Oh... bagaiman kau? I- itu soal itu, ti- tidak kok! Aku tidak..."
Sara tertawa geli tiba-tiba melihat cara bicara Rina saat ini, yang begitu menjelaskan jika dirinya sedang salah tingkah sekarang.
"Kak Sara... kenapa kau tertawa begitu?"
"Habis kau ini lucu, kau bilang tidak suka. Tapi kenyataannya tingkah lakumu malah mengatkan sebaliknya. Belum lagi kau yang sejak tadi seperti kebingungan mau mengirim pesan ke Kenzo atau tidak, itu semakin menjelaskan semuanya."
"Apa? Ba- bagaimana kau tau aku, ji- jika mau mengirim pesan pada Kenzo?"
"Itu...!" sara melirik ke arah ponsel Rina yang layarnya terpampang nyata jika Rina sedang bermaksud membalas chat Kenzo. Rina yang tertangkap basah langsung gelagapan dan menyimpan kembali ponsel miliknya itu rapat-rapat.
Sara pun hanya bisa tergelak dibuatnya, "Sudahlah kau tidak perlu malu begitu. Lagipula... Kenzo itu pria yang baik kok! Jadi tidak apa-apa jika kau memang menyukainya, ditambah dia juga masih sendiri." Sara mencoba menyemangati pegawainya itu.
Rina merasa senang hingga membuatnya tersenyum, melihat Sara yang ternyata menyemangatinya. Hanya saja, masih ada hal lain yang mengusik pikiran Rina, yang membuatnya jadi ragu.
"Apa lagi yang kau pikirkan?"
"Um... aku hanya merasa, jika... aku suka padanya, apa mungkin dirinya menyukaiku juga?"
"Huh? Kenapa kau bisa berpikir begitu?"
"Aku hanya merasa, aku dan dia itu berbeda."
Sara semakin tidak paham dengan ucapan Rina tersebut. "Apa maksudmu berbeda?"
"Ya berbeda. Kau tahu kan, tuan Kenzo itu asistennya tuan Han yang mana sudah pasti dia adalah orang penting. Pastinya tuan Kenzo sudah terbiasa berada di lingkungan orang -orang elit. Dia juga pasti pintar, dan dia juga cukup tampan. Aku hanya merasa... apa mungkin wanita yang hanya seorang pegawai sepertiku ini bisa membuatnya tertarik?" Rina berpikir dirinya dimata Kenzo hanyalah pegawai rendah yang tidak pantas untuk Kenzo.
Sara hanya bisa tersenyum kecil mendengar hal itu.
"Kalau kau berpikir seperti itu, lalu aku ini kau anggap apa?"
"Eh, apa maksud Kak Sara?"
"Iya..., tadi kau bilang, wanita yang hanya pegawai sepertimu seolah tidak pantas untuk pekerja kelas atas seperti Kenzo. Tapi pada kenyataannya, kau bisa lihat aku?" Rina melihat ke arah Sara dengan segala ketidak tahuannya.
"Aku adalah jawaban atas apa yang kau katakan barusan. Kau bisa lihat sendiri bukan? Seberapa besar gap status sosial diantara aku dengan Ryuzen?"
"Kak Sara kau..."
"Yap! Aku dan Ryu bagai bumi dan langit jika dilihat dari sudut pandang status sosial. Bahkan dulu aku sempat bertanya- tanya. Aku ini siapa berani jatuh cinta dengan pria yang bahkan, kehidupannya berbeda dengan aku seratus delapan puluh derajat. Jika dipikir-pikir mana ada CEO paling terkenal di negeri ini mau dengan wanita penjual bunga sepertiku.
Sara terlihat mulai emosional mengingat perjalanan cintanya dengan Ryuzen dulu.
"Tapi kau tahu? Saat aku berpikir dengan sudut pandang perasaan manusia. Aku mencoba memahami arti cinta itu sendiri, dan saat itu aku sadar, jika perbedaan status kami tidak lebih besar dibanding besarnya perasaan cinta kami berdua. Yang mana tidak ada yang tidak mungkin jika kau sudah bicara tentang cinta. Jadi jangan pernah berpikir sepicik itu soal perasaan dan cinta."
Rina langsung tersenyum tenang dibuatnya, setelah mendengar apa yang dikatan oleh Sara. Dirinya seolah merasa tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
"Kau memang pantas dicintai oleh pria seperti tuan Han. Terima kasih ya Kak, kau sudah membuatku menjadi lebih tenang sekarang," ungkap Rina.
"Ya! Sama - sama," balas Sara yang sepertinya terlihat sudah mulai mengantuk.
"Baiklah sepertinya sudah saatnya kita tidur, selamat malam kak Sara."
"Selamat malam..."
Dan mata indah itu perlahan mulai terlelap dalam gelapnya sang malam.
🌹🌹🌹
Hai my beloved readers...
Terima kasih ya..., karena kalian masih selalu setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Meski sering slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.
Dan jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊
Happy reading and hopefully you.