Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 188 [Final]


Tiga minggu pasca operasi Ryuzen dilakukan, hari ini tiba waktunya untuk Ryuzen membuka perban dimatanya. Dirinya tampak begitu tenang duduk berselonjor diatas ranjangnya. Namun, hati kecilnya sungguh merasa gundah dan was-was. Dirinya ingin sekali bertemu dengan sang istri dan anak-anaknya. Ia ingin sekali bisa melihat putri kecilnya yang ia tahu sudah lahir untuk pertama kali.


"Tuan Han, anda sudah siap untuk dibuka perbannya?" Tanya dokter yang menangani Ryu.


"Aku siap dokter!" Jawab Ryuzen dengan penuh keyakinan.


Dan tanpa berpikir lama, dokter pun mulai membuka perban yang ada dimata Ryuzen secara perlahan hingga selesai. Dokter pun meminta Ryuzen untuk tidak langsung membuka matanya sampai aba-aba untuk membuka mata ia perintahkan.


"Apa kau siap membuka matamu tuan Han?"


"Tentu saja dokter!"


"Baiklah, kalau begitu sekarang kau perlahan-lahan buka matamu. Lakukan perlahan... persis seperti kataku."


Ryuzen mengikuti instruksi dokter yang menanganinya. Ia pun membuka matanya perlahan, pandangan matanya seolah tengah melihat ke arah sinar matahari yang terik menusuk.


"Bagaimana tuan Han, apa kau bisa menerima cahaya yang masuk?"


"Ya, hanya saja... aku belum bisa melihat objek apapun!" Terang Ryuzen yang penglihatannya hanya bisa menerima cahaya saja.


"Tidak masalah, memang seperti itu awalnya. Sekarang kau coba pejamkan lagi matamu dan buka lagi perlahan, dan lakukan berlulang hingga kau akhirnya bisa melihat objek yang ada disekitarmu," jelas dokter.


Ryuzen mengindahkan perintah dari sang dokter. Ia membuka dan menutup kembali matanya secara berulang, hingga sedikit demi sedikit matanya mulai samar-samar mampu menangkap gambaran objek yang ada disekitarnya.


"Bagaimana tuan Ryuzen?"


"Ya, aku mulai bisa melihat apa yang ada didepanku!" Tukas Ryu yang kini sudah mampu melihat objek yang ada di dekatnya meski belum terlalu jelas. Tanpa berlama-lama Ryuzen seperti tertarik untuk segera menolehkan kepalanya kesebelah kanan, penglihatannya yang kabur kini semakin jernih. Seketika dengan tak kuasa senyum Ryu langsung mengembang kala ia melihat sosok yang begitu ingin sekali dilihatnya selama ini. Sosok wanita itu kini tersenyum ke arahnya.


"Hai, selamat kembali melihat dunia," ujar sosok perempuan cantik yang tidak lain adalah sang istri tercinta.


"Papi... kau bisa melihat lagi...!" Tutur pria kecil yang berdiri disebelah Sara dengan raut wajah sumrigah.


Ryuzen seperti tak bisa bekata apa-apa, untuk pertama kalinya, dirinya merasa seperti baru dilahirkan kembali ke dunia. Dan yang semakin membuatnya tak percaya dan sangat bahagia adalah, kala pandangannya tertuju pada sosok bayi mungil cantik yang ada di dalam gendongan Sara. Melihat sosok yang menyerupai malaikat kecil tak berdosa itu membuat Ryuzen benar-benar tak kuasa menahan air mata kebahagiaanya terjatuh. Ryuzen menatap Sara dan berucap, "Sara, apakah bayi ini...?"


Sara mengangguk sambil tersenyum, "Ya sayang, ini putri kecil kita."


Ryuzen pun menyentuh segumpal pipi merah muda bayi cantik yang ada di gendongan Sara dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Hai bidadari kecilku...ini aku papimu nak...!" tutur Ryuzen dengan nada suara yang lembut. Dan seketika bayi yang awalnya tertidur pulas itu dengan reflek memberikan sebuah gerakan bibir, seolah membalas sapaan sang ayah.


"Ah, apakah aku telah mengganggu tidurnya?" Ryuzen kaget.


Sara yang melihatnya pun tersenyum, "Tidak sayang, aku rasa dia hanya ingin mengatakan halo pada ayahnya."


"Benarkah?" Tatapan Ryuzen berbinar-binar mendengar penjelasan Sara barusan.


"Papi, apa kau tidak mau menggedong putrimu?" celetuk Arvin.


"Apakah boleh?" Ryuzen bertanya pada Sara.


Sara pun mengangguk dan tersenyum, "Tentu saja, kemarikan tanganmu!" Pinta Sara pada Ryuzen untuk membuka kedua tangannya agar ia bisa meletakan bayi perempuannya tersebut, ke atas gendongan sang ayah. Dan akhirnya Ryuzen berhasil menggendong putri kecilnya. Dengan tatapan penuh cinta dan kelembutan Ryuzen memandangi putri kecil buah cintanya itu.


"Sekarang ayo beri nama yang cantik untuk adikku!" Ujar Arvin tiba-tiba.


"Nama?" Ryuzen tampak bingung.


"Ya, aku memang sengaja belum memberinya nama, karena aku ingin kau yang memberikan nama untuknya setelah kau bisa melihat lagi," jelas Sara.


Ryuzen tampak begitu bahagia bisa memberika nama untuk putrinya. Ia pun mulai berpikir mencari nama yang terbaik untuk putrinya. "Nama yang bagus untuk putriku adalah... Aleya... ya Aleya bagaimana menurut kalian?" Ryuzen menatap Sara dan Arvin.


"Aleya, aku suka nama itu!" ujar Arvin.


Tak beda dengan Arvin, Sara pun ikut menunjukkan rasa setujunya dengan tersenyum sambil mengangguk. "Aleya nama yang cantik, aku juga suka nama itu."


Ryuzen tersenyum senang, ia pun kembali menatap sang putri yang baru saja ia berinya nama dan berkata, "Halo putriku Aleya, mulai hari ini namamu adalah Aleya Han, kau suka nama itu kan?"


Tanpa disangka-sangka reaksi putri kecil Ryuzen membuat semuanya tercengang. Bayi mungil itu menggerakan bibirnya seraya tersenyum memperlihatkan jika dirinya senang dengan nama pemberian dari sang ayah. "Aha, Lihat! Putriku suka nama pemberianku nak?" ucap Ryuzen bahagia.


Menyaksikan momen tersebut, Sara yang sejak tadi sudah terharu dan berkaca-kaca pun tak kuasa menahan air matanya, hingga akhirnya tumpah. Melihat sang istri terharu, Ryuzen pun langsung menatapnya dengan penuh cinta lalu berucap, "Terima kasih atas segalanya sayang..."


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Hari demi hari dilewati Sara dan Ryuzen dengan penuh kebahagiaan bersama keluarga kecil mereka. Suka cita seolah mewarnai hidup keduanya di tiap harinya.


Tapi untuk hari ini, untuk pertama kalinya pasca Ryuzen kembali bisa melihat. Dirinya dan Sara akhirnya memutuskan untuk mengunjungi seseorang yang memang seharusnya mereka kunjungi.


Sara dan Ryuzen, kini keduanya terlihat berada di depan sebuah puasara makam. Tampak mereka berdua meletakan sebuah buket bunga aster di depan pusara tersebut. Baik Sara dan Ryu keduanya terlihat memandangi sambil mendoakan makam tersebut dengan serius. Hingga akhirnya Sara menyentuh pusara tersebut lalu tersenyum. "Aku tahu sekarang kau pasti sudah berada ditempat terbaikmu Renji!"


Berbeda dengan Sara, Ryu yang mengenakan kacamata hitam, sejak tadi memang sudah memandangi pusara bertuliskan nama Renji Haoran itu hanya bisa berujar di dalam hati.


Sejatinya aku tidak pernah menyangka pertemuan kembali diantara kita akan berakhir seperti ini. Bagaimana kau pada akhirnya harus kehilangan nyawa dan memilih memberikan lagi arti kehidupan bagiku bersama Sara. Jika boleh aku katakan dengan sejujur-jujurnya diantara kita, maka yang layak disebut pemenang adalah kau Renji, hanya kau dan bukan siapapun, bahkan aku sekalipun. Tapi saat ini dan seterusnya aku hanya akan barharap bisa terus menjaga apa yang telah kau titipkan padaku, dan tak akan aku biarkan kau menyaksikan Sara bersedih lewat mata ini.


~~


Setelah selesai berziarah Sara dan Ryuzen pun berpamitan, karena harus bergantian dengan peziarah lain yang juga ingin mengunjungi makam Renji, yang kebanyakan dari mereka adalah penggemar Renji.


Di perjalanan menuju kembali ke mobil Ryuzen yang berjalan beriringan dengan sang istri tiba-tiba memintanya untuk berhenti. "Ada apa Ryuzen, kenapa kau minta aku berhenti?" Tanya Sara yang tidak tahu kenapa suaminya itu tiba-tiba memintanya berhenti.


"Sebelum kita benar-bener memulai hidup kita lagi esok, mungkin ini memang saatnya aku menyerahkan pesan darinya ini padamu Sara."


"Pesan? Pesan dari siapa?" Sara merendahkan alisnya.


Ryuzen yang tanpa membalas pertanyaan Sara, malah terlihat merogoh saku jasnya. Dari dalam saku jasnya Ryu tampak mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang diikat dengan sehelai pita merah muda.


"Apa itu?" Sara keheranan dengan gulungan surat tersebut.


"Kau buka saja, dan bacalah maka kau akan tahu." Ryuzen menyerahkan gulungan itu kepada sang istri. Sara yang tidak ingin dibuat penasaran berlarut-larut pun segera membuka gulungan surat tersebut. Dan ternyata isi surat itu adalah sebuah pesan bertuliskan tangan dari seseorang.


[Penampakan surat dari Renji]



Setelah membaca tulisan tersebut, tanpa terasa air mata Sara sudah menetes sejak tadi. Ia tidak pernah menyangka jika sebesar itu rasa cinta Renji kepadanya hingga merelakan matanya untuk Ryu demi bisa melihatnya bahagia. Melihat Sara menangis Ryuzen langsung menarik sang istri ke dalam dekapannya."Ryu... aku tidak pernah tahu perasaannya padaku sedalam itu... aku, aku benar-benar..." Sara menangis dalam dekapan Ryu.


"Ssstt...." Ryuzen melepaskan pelukannya dan kemudian menatap Sara yang tengah menangis. Ryu menyeka air mata Sara dengan jemari panjangnya lalu berkata, "Aku mohon jangan menangis, karena jika kau menangis maka aku akan merasa sangat bersalah pada Renji. Sebab aku sudah berjanji padanya... jika aku tidak akan membiarkan mata pemberiannya ini melihatmu menangis. Jadi aku mohon... hapus air matamu dan tersenyumlah untukku dan Renji."


Menyadari perkataan Ryuzen, Sara pun menghapus air matanya dan berusaha tersenyum kembali.


"Kalau begitu, Sara setelah semua ini, maukah kau berjanji menjalani kebahagiaan selamanya bersamaku?" Ryuzen tersenyum dan menengadahkan satu tangannya pada Sara.


"Yes, let's living happy forever." Jawab Sara dan meraih tangan uluran Ryuzen.


Senyum keduanya mengembang, sepasang sejoli itu pun berjalan sambil bergandengan tangan dengan erat dan yakin. Menjalani sisa hidup hingga maut yang memisahkan, meski semua perjalanan cinta mereka tak mudah pada akhirnya takdir itu akan membawanya menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.


...Takdir cinta manusia...


...Sebuah misteri yang sangat sulit untuk ditebak...


...Kau tak akan pernah tahu kapan akan bertemu takdirmu...


...Tapi saat yakin takdir itu ada, semua seolah dipermudah oleh semesta...


...Bagai padang tandus yang tak mungkin ditumbuhi bunga seketika berubah menjadi taman yang asri dan indah...


...Itulah takdir cinta......


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนFin ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Thanks for reading my story


mohon maaf untuk segala kekurangannya yaa... I love you 3000


Nanti ada satu ekstra part ya...