
Saat tengah bekerja Sara malah diganggu dengan pegawainya yang tengah saling berselisih, Sara yang mendengar hal itu pun mendatanginya dan bertanya.
"Ada apa?" tanya Sara pada pegawai lainnya.
"Ini," Rina memberikan Sara selembar tiket semacam tiket undangan,
"Apa ini?" tanya Sara lalu ia pun membacanya
"...., ini kan undangan acara fashion show yang akan digelar untuk menyambut kembalinya Erika Zhang di Ballroom Hotel Gloria besok!"
"Jadi kalian mau datang ke acara ini?" tanya Sara.
Mereka pun mengangguk.
"Iya kami ingin kesana, hanya saja... kami tidak tahu apa bisa datang kesana atau tidak, soalnya...."
"Tenang saja, kalian bisa datang kesana, lagi pula satu undangan ini bisa untuk 3 orang kan? Bagaimana kalau aku ikut juga," usul Sara yang entah kenapa tiba-tiba jadi tertarik.
"Asyik! Jadi sudah diputuskan besok kita pergi bertiga!!" Ujar Orin semangat!
~Emerald Tower
Seorang wanita dengan dandanan modis berjalan menuju ruangan Ryuzen Han, sejujurnya Ryuzen sudah tau kedatangan wanita itu sejak dua hari yang lalu.
"Ada apa?" ujar Ryuzen dengan wajah dinginnya pada Erika Zhang yang baru saja masuk ruangannya.
"Ayolah, kita sudah lama tidak bertemu, tidak bisakah kita lebih santai? kau masih saja dingin begitu," balas Erika
"Aku masih ada pekerjaan lain, jika kau ingin mengatakan sesuatu, maka katakan dengan singkat dan jelas."
Erika menahan rasa kesalnya melihat perlakuan Ryuzen padanya saat ini.
"Baik, aku cuma mau memberikan ini padamu!" Erika memberikan undangan pada Ryuzen untuk bisa hadir di acara pagelaran fashion show miliknya besok. Ryuzen tidak meraih sodoran undangan itu dari tangan Erika, akhirnya mau tidak mau Erika pun menaruhnya di atas meja Ryuzen.
"Aku harap kau datang ya, kalau begitu, aku permisi!" ucap Erika lalu pergi dengan rasa kesal.
"Kau datang kembali untuk memamerkan kesuksesanmu padaku? baiklah Erika aku akan ikuti maumu," tersenyum getir.
~Gloria Ballroom~
Sara, Orin dan Rina sudah tiba sejak lima belas menit yang lalu di acara Fashion show yang digelar oleh Erika Zhang. Mereka juga sudah duduk di kursi masing-masing.
"Katanya di acara ini akan menampilkan banyak koleksi terbaru rancangan Erika, aku bertaruh rancangan Erika nanti pasti akan jadi trendsetter lagi seperti rancangannya yang lain," terang Orin yang memang bisa disebut fashionista.
"Ah, kalau aku tidak peduli sama rancangannya, aku hanya penasaran dan ingin lihat langsung Erika Zhang yang terkenal itu bagaimana sih rupanya itu," sahut Rina si ratu gosip.
"Eits, aku sendiri tertarik kesini juga tidak beda jauh alasannya dengan Rina," cibir Sara pada dirinya sendiri.
"Ini pertama kalinya aku melihat pertunjukan Fashion Show desainer ternama dunia, aku penasaran dengan sosok Erika Zhang itu yang mana, tapi kenapa kalau ingat nama Erika malah ingat cinta pertamanya si Ryuzen, dan tiba-tiba suasana hatiku berubah jadi kelabu kalau ingat hal itu."
Sara menghela nafasnya.
~~
Acara fashion Show pun akhirnya dimulai, Sara dan temannya benar-benar dibuat terpukau oleh para model catwalk yang berjalan melenggak lenggok di atas panggung mengenakan rancangan-rancangan milik Erika Zhang.
"Ternyata rancangannya memang sangat bagus, detail jahitannya juga terlihat begitu sempurna," gumam Sara yang sedikit-sedikit memahami teknik menjahit.
Riuh tepuk tangan pun bergemuruh, standing ovation pun diberikan oleh hampir semua tamu undangan yang hadir termasuk Sara, setelah semua model rancangan Erika Zhang di pamerkan diatas panggung.
Dan berbagai pujian dari hadirin pun terdengar bergantian.
"Wow… Erika Zhang memang sangat briliant!"
"Awesome"
"Aku suka tiap inovasi dari seorang Erika"
"Erika Zhang memang luar biasa, aku harus minta tanda tangannya setelah ini," ujar Orin yang terlihat sangat terkagum-kagum dibuatnya oleh semua karya rancangan Erika Zhang yang baru saja ditampilkan
"Eh jujur saja, aku malah tidak tahu apa-apa soal yang seperti itu," Rina menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak paham soal fashion.
Tiba-tiba riuh tepuk tangan semakin bergemuruh, saat sosok wanita yang ada di balik terciptanya rancangan-rancangan yang dikenakan para model itu muncul ke atas panggung, untuk menerima buket bunga dan menyapa hadirin yang datang.
"Wah dia memang cantik seperti orang-orang bilang," puji Orin melihat Erika diatas panggung di tengah-tengah hasil rancangannya.
"Ya, ya cantik sih! Tapi kok sepertinya aku tidak suka padanya ya?" sahut Rina.
"Dia begitu cantik dan elegan, tapi... kenapa aku merasa seperti pernah lihat sosok Erika Zhang ini ya, tapi dimana?" Sara mencoba mengingat-ingat.
"Oh iya aku baru ingat, waktu itu di mall aku pernah tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita, dan perawakannya hampir sama dengan Erika Zhang ini, tapi wanita waktu itu angkuh sekali, sedangkan Erika di atas panggung ini dia tidak terlihat angkuh sama sekali."
Sara menghalau prasangkanya dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Sudahlah mungkin aku salah, lagi pula waktu itu wanita itu pakai kacamata hitam jadi aku tidak tahu persis wajahnya, jadi kemungkinan bukan."
~ Backstage~
Orin meminta Sara dan Rina menemaninya ke belakang panggung untuk minta tanda tangan dari Erika Zhang. Namun Sara dan Rina enggan, akhirnya Orin pergi sendiri masuk ke ruangan belakang panggung.
"Aduh aku kenapa jadi gugup begini?" ungkap Orin yang kini sudah berada di ruang belakang panggung.
Orin pun memberanikan diri mendekati Erika yang sedang duduk di dekat meja rias.
"Um, permisi Nona Erika Zhang boleh aku minta tanda tanganmu?" ucap Orin masih terlihat gugup.
"Maaf Nona, permisi..., bisakah aku...."
"Kau itu kenapa mengganggu sekali sih!"
Orin tersentak kaget dibalas dengan ucapan begitu oleh Erika.
"Maaf nona, aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya mau minta tanda tanganmu saja kok!"
"Aku bukan selebritis buat apa kau minta tanda tanganku?! jadi jangan ganggu aku!" ujar Erika lagi dengan angkuhnya.
Orin yang tidak menyangka seseorang yang ia idolakan semenyebalkan ini pun, berubah jadi kecewa dan kesal. Alhasil Orin langsung permisi dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Huh, aku menyesal mengidolakan dirinya, Dasar wanita sombong. Pantas saja sudah mau 30 tahun masih belum laku!!" gerutu Orin menghampiri Sara dan Rina yang telah menunggunya di luar.
"Kenapa? bagaimana, apa sudah dapat tanda tangannya?" tanya Sara penasaran.
"Tanda tangan apanya, aku malah kena semprot. ternyata si Erika itu manis kalau disorot media saja di belakang panggung, sombong luar biasa!" ujar Orin yang terlanjur kecewa dan kesal.
"Apa iya?" tanya Sara.
"Kalau tidak percaya kalian temui saja sendiri di backstage aku sih tidak sudi melihatnya lagi!"
"Hem, aku jadi penasaran! coba aku lihat sendirilah," Rina yang penasaran pun akhirnya berencana ke belakang panggung. Sara yang juga sama penasaran pun mengikuti Rina.
"Kak Sara kau juga?" tanya Orin.
"Hehe, aku juga agak penasaran, jadi aku ikut lihat juga sebentar saja tidak apa-apa kan?" ucap Sara dan lanjut berjalan pergi.
~
Rina mengintip dari pintu belakang, memperhatikan gerak gerik Erika.
"Dari wajahnya saja memang terlihat dia itu sejenis manusia yang sukanya pencitraan di depan publik, padahal sifat aslinya busuk!" ejek Rina saat memperhatikan Erika dari jauh.
"Hei bagaimana?" ujar Sara tiba-tiba muncul dari belakangnya.
"Oh kak Sara, kau juga penasaran ya?" tanya Rina.
"Hehe, jadi bagaimana-bagaimana?" tanya Sara benar-benar penasaran, namun dirinya agak sulit melihat bagian dalam backstage karena terhalang tubuh Rina didepannya.
"Sstt... kak Sara, kau jangan berisik dan banyak gerak begitu," ucap Rina melihat ada beberapa orang yang masuk ke dalam backstage menemui Erika.
"Oke, maaf,"
"Eh ada orang, yang menemuinya," kata Rina melihat Alin, Yoshiki, Jason membawakan buket bunga dan ucapan selamat untuk Erika.
"Siapa orangnya?" Sara makin penasaran.
"Biasalah, kalangan elit berisi orang-orang kaya bersama satu aktris senior yang namanya siapa aku lupa termasuk, di dalamnya......"
Sara makin penasaran dan ingin sekali melihatnya, namun agak sulit karena pintu tempat mereka berdua mengintip agak sempit.
"Huh! jadi rumor yang beredar itu benar ya?" ujar Rina melihat seorang pria yang memberikan selamat beserta buket bunga untuk Erika.
"Gosip apa? Astaga, Rina kau jangan buat aku jadi makin penasaran!"
"Itu.., ada Ryuzen Han tiba-tiba datang memberi buket bunga pada Erika!"
"Apa?!" Sara benar-benar dibuat senam jantung dan merasa lemas mendengar Rina menyebut nama Ryuzen,
Rina yang sudah tidak kuat menahan Sara yang makin banyak bergerak di belakangnya, pun akhirnya membuat mereka jatuh tersungkur masuk ke dalam ruang backstage.
Sara bangun dari jatuhnya, dan orang pertama kali yang Sara tuju adalah Ryuzen yang berada berdiri bersandingan dengan Erika, benar-benar cocok mungkin pikir Sara seperti itu, Sara benar-benar seperti tidak tahu lagi harus bagaimana saat ini.
Ryuzen membalas tatapan Sara yang terlihat seolah ingin segera pergi dari sini dan tak ingin dilihat olehnya.
"Sara...?" pikir Jason yang juga ada disana melihat Sara.
"Hei, kalian siapa?!" tegur Erika sinis.
"Eh, kami...." Rina terlihat bingung.
"Kami cuma tersesat, maaf kami akan segera pergi dari sini," kata Sara lalu menarik lengan Rina, mengajaknya pergi dari tempat itu secepat mungkin.
Sara dan Rina pun kini sudah kembali ke tempat Orin menunggu,
"Bagaimana penyelidikan kalian soal si Nona pencitraan itu?" tanya Orin.
Sara hanya tersenyum getir,
"Kalian pulang duluan saja ya, aku ada yang harus aku beli dulu jadi sampai jumpa," Sara langsung pergi dengan hatinya yang dipenuhi dengan rasa kalut.
"Kak Sara!" panggil Orin namun tak dihiraukan oleh Sara yang terus saja berjalan pergi.
"Kak Sara, kenapa?" tanya Orin pada Rina
Rina pun hanya bisa mengangkat kedua bahunya.
~~
Like, Comment, Vote jangan lupa hehehe..!
Thanks for your support. 🌹😘