Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chap 73 : Gara-gara foto


Pada akhirnya, mereka pun makan malam bersama tanpa Rony. Ryuzen pun berbincang dengan Henri, perihal perkebunan keluarga Han di Cardia, perkebunan itu kini dikelola olah Henri yang memang seorang insinyur pertanian.


"Oh iya kak Henri, bagaimana perkebunan buah dan sayur milik Keluarga Han di Cardia?" tanya Ryuzen membuka obrolan.


"Semuanya baik-baik saja, dan kini semakin banyak supermarket hingga restoran-restoran yang menjalin kerjasama dengan perkebunan kita, bahkan ekspor ke luar negeri permintaannya setiap bulan naik,"


"Kau memang paling bisa diandalkan Kak," puji Ryuzen.


"Lalu, agaimana dengan perkebunan bunga disana Henri?" tanya nenek Ivy.


"Semua bunga-bunga disana tumbuh cantik dan segar, karena aku meminta beberapa karyawan untuk mengelolanya sebagai sampingan," balas Henri.


"Wah.., aku baru tahu kalau keluarga Han juga memiliki perkebunan bunga di Cardia," ujar Sara spontan mendengar hal tentang bunga.


"Sara, apa aku belum pernah mengatakannya padamu, jika di perkebunan kami membudidayakan berberapa macam jenis bunga, terutama mawar, aster, dan tulip, mereka semua berkembang dengan sangat cantik," ungkap nenek Ivy pada Sara.


"Senangnya, jika memiliki perkebunan bunga sendiri, suatu hari aku juga ingin memiliki perkebunan bunga sendiri di pekarangan rumahku," ujar Sara berandai-andai.


~~


Sementara itu, di tempat lain Rony yang suasana hatinya kacau, memilih duduk seorang diri di bangku taman dekat alun-alun kota.


"Kenapa? Kenapa harus Sara dan Pamanku sendiri?!!"


Rony terlihat sangat frutasi setelah mengetahui kenyataan jika, wanita yang ia sukai selama ini ternyata adalah istri pamannya sendiri.


"Paman, kenapa harus Sara?" ujar Rony lirih dengan tatapan kecewa dan marah.


~


~ Di dalam mobil


Setelah selesai acara pertemuan, Sara dan Ryuzen pun pulang ke villa constel. Sejak masuk ke dalam mobil, mereka hanya diam seribu bahasa. Sara jelas masih terlihat agak syok mengetahui kenyataan jika, Rony adalah keponakan Ryuzen Han, paman yang selama ini sangat dibanggakan oleh Rony.


Sedangkan Ryuzen sendiri, malah sibuk dengan ponselnya.


"Kau mau diam saja sampai bibirmu kering?" ucap Ryuzen memecah keheningan diantara mereka.


"Huh, memangnya kenapa kalau diam? Toh tidak ada hal penting yang mau dibicarakan bukan?" Sara terlihat sedang cemberut dan memalingkan wajahnya, ia menopang pipinya dengan satu tangan di pinggir kaca jendela mobil, sambil melihat ke arah luar.


*cekrek


Tiba-tiba Ryuzen mengambil foto Sara dengan ponselnya , sadar akan hal itu Sara pun spontan bereaksi.


"Ryuzen, kenapa kau ambil fotoku tiba-tiba?" ujar sara seolah tak terima hal itu


"Kenapa memangnya? Aku hanya mengambil foto istriku yang sedang cemberut, memangnya salah?" ucap Ryuzen dengan santai. Ryuzen mengamati foto cemberut Sara, yang baru saja ia ambil lewat kamera ponselnya tadi.


"Tapi siapa peduli, jepretanku juga tidak buruk, iyakan?" ucap Ryuzen dengan ekspresi datar, namun jelas dirinya telihat tidak mau kalah dari Rony.


"Ryuzen, hapus foto tadi!" ujar Sara yang saat ini nampak jengkel pada Ryuzen.


"Ini ponselku, mau aku hapus atau tidak ya, terserah padaku!"


"Tuan CEO Emerald, kenapa kau ini kadang suka kenak-kanakan begitu sih!"


Sara mencoba meraih ponsel di tangan Ryuzen, namun ia sulit menggapainya mengingat tubuh dan tangan Ryuzen jauh lebih tinggi dibanding dirinya.


"Ryuzen hapus! Kalau tidak aku akan..."


"Kalau tidak, aku akan apa?" Ryuzen sejak tadi hanya duduk tenang memperhatikan Sara yang terus berusaha menggapai ponselnya. Hingga akhirnya Sara berhasil menggapainya.


"Dapat!" Seru sara.


Ryuzen yang melihat hal itu malah menyeringai penuh arti, karena melihat posisi mereka saat ini. Dimana Sara kini berada dipangkuan Ryuzen. Ryuzen pun langsung mengikat tubuh Sara dengan satu tangannya.


"Nona Sara, sepertinya setelah enam bulan menikah, sekarang kau sudah jadi lebih aktif ya..?" ucap Ryuzen menggodanya.


"Ryuzen, lepaskan aku!"


"Kau yang duluan naik keatas pangkuanku, sekarang kau minta lepaskan, kau pikir aku ini bodoh?" kata Ryuzen menatap Sara dengan intens.


"Ryuzen bisa tidak sih tatapanmu tidak mesum begitu!" ujar Sara sedikit memalingkan wajahnya karena malu. Tapi bukannya melepaskan Sara, Ryuzen malah merengkuh dagu Sara dan menghapkan wajah Sara pada wajahnya hingga saling bertatapan.


"Sara bisa tidak, sekali saja kau itu manja dan jadi penurut padaku seperti tadi saat acara makan malam?" ucap Ryuzen dengan suaranya yang berat.


"Ryuzen, aku..." ucap Sara yang wajahnya masih memerah.


"Ada apa?" balas Ryuzen yang tidak sedetik pun melepaskan pandangannya dari Sara.


"Ryuzen, jangan disini..," ujar Sara dengan berbisik.


"Sstt..., bibirmu itu bisa diam sebentar tidak?" ucap Ryuzen, yang kemudian langsung mengecup bibir indah wanita yang kini sedang dipangkuannya tersebut. Sara pun mau tak mau harus membalas ciuman Ryuzen karena jika ia tidak lakukan, justru malah akan menyusahkan dirinya.


"Ryuzen, sebenarnya kau itu pria macam apa? Bagiku kau adalah misteri yang sulit untuk di ungkap, terlihat namun tak bisa ditebak,"


Mereka bedua pun berciuman di mobil. Kenzo yang menyetir di kursi depan pun, seketika menjadi canggung melihat mereka dari kaca spion.


"Tuan muda dan Nona Sara kenapa aneh sekali, sebentar-sebentar bertengkar, lalu berdamai, setelah itu cekcok lagi dan sekarang malah berciuman seperti itu. Apa mereka tidak memikirkan perasaanku yang seorang diri ini?! Tuan kecil, kapan sih kau pulang dari asrama?!" ujjar Kenzo yang kini merengek ngambek di dalam hatinya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Vote, like, comment ya gaiss ๐ŸŒท