
Jordan Han mendatangi makam Laulin istrinya. Dengan perasaan bersalah yang terpancar dari tatapan matanya ia pun berkeluh kesah di hadapan makam sang istri. "Laulin, jika kau melihatku saat ini, aku rasa kau akan sangat membenciku," ujar Jordan diikuti tersenyum getirnya. Rasa penyesalan seolah tiada hentinya bergemuruh di dalam rongga dadanya.
"Putraku tengah menghadapi masalah berat, tapi aku hanya bisa diam saja. Seandainya kau masih hidup apa kau tetap bisa mencintaiku yang gagal sebagai seorang ayah?" Jordan tidak kuasa menahan emosinya ditundukan kepalanya untuk bersandar di pusara sang istri.
"Hatiku sakit Laulin, ibuku sudah tidak lagi bisa ku lihat, kau pun sudah tiada, sedangkan darah dagingku sendiri sangat membenciku. Seandainya ini hukuman atas kesalahanku yang dulu karena telah menyakiti hati banyak orang. Apa aku sanggup menghadapinya?"
Jordan lagi-lagi tersenyum dalam sedih, namun kali ini suasana hatinya agak sedikit sudah lebih baik.
"Maafkan aku yang membuatmu harus melihat sisi lemahku Laulin, tapi kau jangan khawatir seluruh nyawaku akan aku pertaruhkan demi Ryu, anakku yang telah kau lahirkan. Aku berjanji..., dan setelah itu aku tidak ingin meminta yanga lain lagi."
Jiro yang melihat tuannya dari jarak jauh merasa begitu iba dengan apa yang dirasakan oleh Jordan saat ini.
~~
Ryuzen, Gina, dan Erika akhirnya melakukan pembicaraan di sebuah restoran yang sengaja dibooking oleh Ryuzen agak tidak ada pelanggan lain masuk. Gina dan Ryuzen masih nampak terdiam. Sedangkan Erika, ia justru terlihat asyik melihat daftar menu.
"Ryu, kau mau pesan apa?" tanya Erika.
"Terserah, aku kemari bukan untuk makan!" Dengan ekspresi dinginnya Ryuzen seolah mengatakan tidak tertarik berlama-lama disini.
"Baiklah-baiklah, bagaimana jika aku saja yang pesankan untukmu ya?" Erika masih sibuk melihat daftar menu masakan.
Ryuzen sebenarnya sudah tau persis jika yang dilakukan oleh Erika saat ini adalah sengaja mengulur-ulur waktu saja. Gina yang sudah tidak tahan pun akhirnya membuka pembicaraan, "Ehem, maaf Nona Erika, aku harap kau tidak lupa tujuan kita datang kemari!"
Karena kesal dengan perkataan Gina, Erika pun langsung menutup buku menu yang dipeganhnya itu sambil menatap sinis.
"Benar-benar pengacara ini sungguh menyebalkan," gerutu Erika.
Malas berlama-lama, Ryuzen pun langsung ke inti permasalahan, "Baiklah Erika langsung saja kalau begitu, maksudku menemuimu adalah..."
Heh! Jadi karena dia juga, sehingga Ryu mau menemuiku?
Wajah Erika merah padam, ia menggertakan gerahamnya demi menahan emosinya yang kini mulai tidak terkontrol.
"Jadi, kau mau bekerjasama dengan kami kan nona Erika. Kau bersedia bukan menjadi saksi untuk Sara nanti di persidangan?" tukas Gina.
Erika tiba-tiba tergelak, dan membuat Ryuzen mengangkat salah satu alisnya.
"Apa yang kau tertawakan? Kau pikir ini lucu!" Ungkap Gina dengan kesal.
Erika pun berhenti tertawa dan menjawab, "Iya, ini benar-benar lucu bagiku!"
"Apa maksudmu Erika?" Tanya Ryu penasaran.
"Tentu saja lucu. Bagaimana tidak, kalian berdua tahu bukan betapa aku sangat tidak menyukai wanita itu. Dan kini kalian minta aku untuk menjadi saksi untuk menolongnya? Heh! Benar-benar sebuah lelucon yang menyebalkan."
"Jadi kau tidak mau membantu kami, begitukah!?" Bentak Gina emosi.
"Memang apa yang membuatmu yakin jika aku bersedia membantu kalian? Dengar baik-baik. Bagiku, jika wanita itu kena masalah maka itulah harga yang harus dia dapat karena sudah merebut-"
"Merebut siapa? Sara bukan wanita sepertimu yang dengan egois memikirkan diri sendiri!"
Jawaban Ryzuen benar-benar semakin menyambar api cemburu di hati Erika saat ini.
"Tuan Han, kau tenang dulu..." pinta Gina yang merasakan aura kekesalan pada diri Ryuzen.
"Jadi, apa yang kami bisa lakukan agar kau mau menjadi saksi di persidangan Sara?" Gina mencoba bernegosiasi dengan Erika. Pertanyaan Gina pun berhasil membuat Erika menyeringai kecil.
"Mudah saja," kata Erika sambil menatap Ryuzen yang masih duduk dengan ekspresi dingin.
Ryuzen menyipitkan matanya, ia penasaran syarat apa yang akan diajukan oleh Erika agar dirinya mau membantu Sara di persidangan nanti.
"Kau gila!" Seru Gina. "Kau itu punya perasaan atau tidak, Erika?"
Erika nampak tidak peduli dengan ujaran Gina padanya, ia justru lebih fokus menatap Ryuzen yang kini diam seribu bahasa.
"Erika kau!" Gina semakin emosi, ia bahkan hampir saja ingin memaki Erika saat itu juga. Untungnya niatnya segera terhalau karena Ryuzen yang sudah lebih dulu buka suara.
"Nona Gina hentikan saja! Lebih baik kita pergi dari sini, toh pada akhirnya jawabannya adalah sudah jelas bukan? (Ryuzen melirik tajam Erika)
"Nona Erika tidak bersedia untuk membantu kita. Jadi lebih baik kita jangan buang-buang waktu di tempat ini." Ryuzen pun bangkit dari duduknya untuk beranjak pergi.
"Ryuzen tunggu!" Pekik Erika dengan nada pelan guna menahan langkah kaki Ryuzen yang kini berada di dekatnya.
"Aku tidak punya waktu meladeni penawaranmu yang tidak masuk akal itu Erika!"
"Ta-tapi Ryu...." ucapan Erika tertahan oleh sorot mata Ryuzen yang memandangnya dengan begitu dingin.
"Ternyata kau memang sudah berubah, kau bukan lagi Erika yang aku kenal dulu. Keegoisan dan obsesimu sudah mengikis hati nuranimu Nona Erika." Ryuzen akhirnya benar-benar pergi bersama Gina setelah mengatakan hal itu pada Erika.
Erika terdiam tak ada kata ataupun dengkusan kesal, wanita itu tak bisa membalas perkataan Ryu padanya barusan. Dirinya hanya bisa menahan rasa kelu dihatinya saat ini dengan mencengkram kedua telapak tangannya.
Kau bahkan langsung menolak mentah-mentah diriku Ryuzen! Kau pikir siapa yang membuatku jadi seperti ini kalau bukan kau!
~~
Di Anglo, Jordan tengah menikmati segelas anggur mewah sambil terus memutar otak. Dipandanginya gelas mewah berisi anggur itu.
"Aku bisa membantu putraku untuk menolong istrinya!" ujar Jordan tiba-tiba.
"Eh, maksudmu Tuan?" Jiro terheran-heran melihat mimik wajah Jordan yang tadinya dingin tanpa ekspresi tiba-tiba mengatakan hal demikian.
Dengan penuh percaya diri Jordan mengatakan, jika dirinya memiliki cara yang bisa menyelamatkan Sara dari jeratan hukum di persidangan nanti.
"Memang, bagaimana kau akan membantu putramu tuan Jordan?" Ujar Jiro yang masih tidak paham maksud tuannya itu.
Jordan menyeringai tanda penuh keyakikan, "Tidak perlu aku jelaskan, kau akan tahu nantinya Jiro."
Jiro tersenyum lucu "Heh, sudah lama tidak melihat dirimu sepercaya diri ini. Aku jadi merasa senang kau kembali."
"Begitukah menurutmu?"
"Tentu saja, bukankah memang sudah seharusnya?jika keturuan keluarga Han itu harus penuh pecaya diri."
"Ya kau benar," balas Jordan sumringah.
Aku mungkin tidak bisa melakukan banyak hal, tapi setidaknya biarkan aku menolong putraku meski hanya sekali.
๐น๐น๐น
Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading fellas and i hope you like it.
For more info follow my ig account @chrysalisha98 Gina pun akhirnya pergi. Setelah selang beberapa menit memastikan jika bibinya itu sudah benar-benar pergi. Arvin pun langsung melancarkan aksinya.