
Sesampainya di kediaman Han, Sara langsung disambut oleh semua pelayannya. Dengan perasaan bahagia dan lega para pelayan menyambut nona mudanya kembali.
"Nona anda baik-baik saja kan? Nona... maafkan aku yang tidak bisa menjagamu! Nona.... maaf!" Bibi Rachel terlihat begitu menyesal, hingga dirinya menangis meminta maaf pada Sara.
"Sudahlah Bibi ini bukan salahmu. Sekaran ini, aku hanya mau istirahat.Dan untuk kalian Gina dan Jesper, sekali lagi aku ucapkan terima kasih bayak. Tapi maaf... aku tidak bisa menemani kalian disini, karena sungguh aku ingin segera ke kamar untuk istirahat."
"Oh tidak masalah Sara kau istirahat saja," pungkas Gina yang sudah tentu paham keadaan Sara. Tapi mengingat kaki Sara yang masih sakit, pasti membuatnya sulit untuk berjalan naik ke atas tangga meski dibantu bibi Rachel. Jesper pun berniat membantu untuk menggendong Sara ke atas menuju kamarnya. Namun baru saja Jesper ingin mengatakan hal itu, tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka dari luar.
"Sara...!" Gema suara pria yang baru saja masuk tersebut. Seketika, semua padangan orang yang ada diruangan pun beralih ke arah pintu masuk yang tebuka. Dilihatnya sosok pria yang berhasilembuat semua orang merasa tegang dan tak bisa berkata apa-apa itu.
"Ryu...!" Tubuh Sara spontan beranjak bergerak untuk memeluk suaminya yang baru tiba itu, bahkan meski kakinya masih terasa perih dan ngilu. Ryuzen pun langsung berjalan cepat menghampiri Sara yang hampir terjatuh, dan langsung ditangkapnya kedalam dekapan pria itu. "Aku pulang Sara...."
Sara tak kuasa menahan tangisnya, air matanya pun langsung meleleh saat dirinya berada dalam pelukan, orang yang paling ingin ditemuinya sejak tadi. "Ryuzen... aku merindukanmu...," lirihnya dalam tangisnya.
"Aku sudah disini sayang... jangan takut lagi." Ryuzen yang sadar akan kaki istrinya yang terluka, langsung saja menggendong Sara untuk dibawanya ke atas menuju kamar mereka. Sebelum beranjak pergi menaiki anak tangga, Ryuzen tampak menatap ke arah para pelayan di rumahnya itu. Tatapannya Seolah memberi isyarat agar semua pelayan itu kembali pada pekerjaan mereka. Tak lupa ia pun berterima kasih pada Jesper dan Gina, atas semua bantuannya mencari Sara.
"Kenzo! Kau urus semua sisanya... dan untuk semuanya jangan ada yang menggangguku untuk beberapa jam kedepan, sampai aku yang memberikan perintah!"
"Baik tuan!" Ucap Kenzo dan semua pelayan dengan serentak.
Akhirnya Ryuzen pun melangkah pergi membawa istrinya itu ke kamar mereka di lantai dua. Sementara itu... Jesper dan Gina yang ingin pamit pulang, malah di tahan oleh Kenzo.
"Tunggu dulu, sebelum kalian pergi... bisakah kalian cerita padaku apa yang sebenarnya sudah terjadi pada nona Sara?"
Gina dan Jesper saling melempar padangan, lalu mengangguk paham. "Baiklah akan aku ceritakan kejadiannya, tapi lebih baik kita bicara di luar saja!" Ujar Jesper. Dan mereka bertiga pun keluar menuju taman.
~~
Setibanyanya di kamar mereka, Ryu langsung saja menurunkan Sara di atas ranjang perlaha. Pria itu kini berdiri di dekat tepi ranjang, memandangi istrinya yang kini terbujur diatasnya dengan kondisi seperti saat ini. Sontak Ryuzen pun merasa marah, kecewa, khawatir, dan juga lega secara bersamaan. Semua perasaan itu seolah telah bercampur menjadi satu emosi yang sulit untuk dijelaskan. Pria mana yang tidak marah dan murka, melihat istri yang dicintainya setelah seharian tidak dilihatnya malah dalam kondisi seperti ini. Pakaiannya terdapat beberapa sobekan, kakinya diperban, dan tangannya pun terlihat memar di beberapa bagian akibat perlakuan kasara.
Disisi lain, Sara sungguh malu rasanya, ia merasa begitu menjijikan saat ini. Seolah ingin berteriak pada suaminya itu agar jangan menatapnya, apalagi memandangi dirinya saat ini. Sara pun segera membalikan badannya memunggungi Ryu dan menutupi tubuhnya itu dengan selimut. Ryu kau jangan lihat aku! Aku begitu memalukan! Aku hampir disentuh pria lain. Aku.... hiks! Isak tangis Sara mulai terdengar dari balik selimut yang dikenakannya.
Ryuzen tak bisa melihat istrinya begitu pun, langsung membuka selimut yang menutupi tubuh Sara dan berkata. "Kenapa kau menangis?" Suara Ryu yang berdesis di telinga Sara membuatnya semakin merasa malu. Tubuhnya pun jadi gemetar tiba-tiba. Sara...kau! Ryu menyipitkan matanya. "Sayang... ada apa sebenarnya, siapa orang yang berani menyakitimu...?" Di usapnya rambut panjang Sara yang menutupi wajahnya. "Ada apa, cerita padaku Sara..."
"Ryu... ak- aku... aku... merasa malu padamu... huu..." Sara bicara dalam tangisnya.
"Malu?" Apa ada yangใผ Ryuzen tampak seperti tidak senang. Sepertinya... Ryu sedikit bisa menerka apa yang telah terjadi pada istrinya itu. Ia pun langsung meringsekan diri duduk ditepi ranjang, lalu menarik Sara ke dalam pelukannya. "Sayang.... maafkan akuใผ" Sara pun membalas memeluk Ryuzen dengan begitu eratnya. Ia menenggelamkan kepalanya pada dada bidang sang suami dengan begitu kuat, seolah... inilah perlindungan yang ia pikir paling aman dan menenangkan.
Ryu membawa Sara dalam dekapan dadanya dan mengusap tubuhnya dengan mesra. "Kau jangan takut dan menangis, ada aku disini..." Sara masih menangis di dalam dekapan suaminya. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Aku benci memikirkan prasangkaku tentang hal yang terjadi padamu...!
Ryuzen, ingin sekali memaksa menanyakan apa yang telah terjadi pada Sara. Namun, melihat sang istri saat ini, mungkin Ryuzen akan mencoba menahan sedikit untuk tidak memaksa.
Dan entah mengapa tiba-tiba Sara duduk di pangkuan Ryu, dan langsung ******* bibirnya dengan intens. Sontak hal itupun membuat Ryuzen terkesiap sejenak.
Ryuzen yang tak berdaya dengan apa yang dilakukan sang istri saat ini, membuatnya bergairah dan lupa sejenak akan masalah apapun yang terjadi. Dua insan yang saling melepas ciuman rindu, hingga akhirnya mereka bersenggama diatas tempat peraduan.
~~
Tak terasa hari sudah menunjukan pukul 6 pagi. Sara yang tertidur diatas tubuh Ryu perlahan membuka matanya... Ia sadar dirinya tidur diatas dada bidang sang suami sambil memeluknya erat. Entah mengapa, Sara merasa begitu nyaman berada dipelukan Ryu yang kini masih terlelap tidur. Wanita itu pun sedikit mengangkat kepalanya agar bisa menatapi wajah Ryu yang begitu memesona saat tertidur. Sara langsung tersenyum manis melihat obejek yang ia lihat saat ini, diangkatnya jari-jari Sara yang lentik, dan diusapkannya diatas bibir Ryuzen. Sayangnya, tangan Ryuzen malah langsung memegangi tangan Sara, hingga membuatnya terkejut. " Huh? Ja- jadi kau sudah bangun?"
Ryu hanya tergelitik. "Kalau kau terus diatasku begini, bagaimana mungkin aku dan bagianku yang lain tidak bangun Sara?"
"Kau ini!" Wajah Sara memerah tiba-tiba, ia pun langsung menurunkan tubuhnya yang berada diatas Ryu.
"Kenapa turun? Aku suka kau yang agresif padaku semalam..!"
"Hem...?" Ucap Sara.
"Apa kau sudah bisa cerita apa yang terjadi sebenarnya terjadi, dan siapa orang yang sudah berani menculikmu itu?"
Seketika Sara kembali dibuat gugup mengingat hal itu. Tapi kali ini tidak terlalu, dirinya sepertinya sudah cukup bisa tenang menghadapi pertanyaan tersebut. "Ryu... aku...!" Ryuzen membalikan tubuh Sara dan menghadapknannya ke arahnya dan membelai mesra wajah istrinya "Katakan saja padaku, jangan takut!" Ucap Ryu lembut meyakinkan Sara.
"Soal itu...."
"Kalau kau tidak mau bilang, jangan salahkan aku kalau semua pelayan aku pecat, termasuk bibi Rachel!" Ryuzen mencoba mengancam Sara, agar istrinya itu mau jujur padanya.
"Jangan! Jangan pecat mereka. Baiklah aku katakan...." Sara menarik napas dan mengeluarkannya. "Sebenarnya..."
.....
"Maafkan aku Ryu... sebenarnya aku merasa malu pada diriku sendiri!" Sara langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, karena malu setelah menceritakan apa yang dilakukan Orizel padanya. Dirinya takut Ryu akan marah dan menghukumnya. Namun tiba-tiba, Ryuzen malah membuka tangan yang menutupi wajah Sara dan mengatakan, "Kau itu hanya milikku! Semua yang ada padamu hanya boleh untukku!" Ryuzen tiba-tiba mengecup leher Sara dengan kuat, hingga memerah. "Ryu kau ma- rahkah..?" Sara dibuat menggeliat, lantas Ryu bukan berhenti, dirinya malah elakukan hal yang sama pada bagian tubuh Sara yang lain. "Ke- kenapa kau buat tanda sebanyak ini!" Sara protes dengan nada halus.
"Agar semua tahu kau itu hanya milikku. Kenapa kurang? Kalau perlu setiap hari akan kubuat...!" Ujar Ryuzen dengan mimik cukup serius. Sara memeluk suaminya itu sambil meminta maaf, "maafkan aku Ryu, aku tidak menurut padamu dan akhirnya malah..."
"Sudahlah..." Ryuzen membelai rambut indah sang istri. Sara... kau tenang saja, akan kubuat pria itu membayar setiap detik hal buruk yang telah ia lakukan padamu!
Di kediaman sang kakek, Arvin yang berada berdiri di dekat tepi kolam ikan bersama sang kakek, nampak tengah membujuk kakeknya itu agar segera mengantarnya kembali ke kediaman Han.
"Ayo kek, papi dan mami besok sudah kembali.... aku ingin bertemu mereka...!" Entah kenapa Arvin yang biasanya sangat tenang, tiba-tiba jadi agak rewel dan ingin bertemu maminya. Sebagai kakek, tentu saja Jordan merasa tidak tega melihatnya begitu, apalagi selama ini Arvin tidak pernah nakal, bagaimana mungkin ia tega membuat cucu satu-satunya itu sedih. Lagi pula wajar saja menurut Jordan, karena bagaimana pun Arvin masihlah anak-anak, sudah pasti dirinya rindu pada orang tuannya sendiri.
"Baiklah....kakek akan antar kau bertemu mereka besok!"
"Sungguh kek?"
"Tentu saja sungguh!"
Mendengar ucapan Jordan yang mengiyakan permintaannya, sudah pasti membuat Arvin begitu senang, dan kemudian memeluk sang kakek. "Terima kasih banyak kakek... kau yang terbaik!" Ujar Arvin.
๐น๐น๐น
Jangan lupa di **KOMEN, LIKE, VOTE**! ใใใใจใใใใใพใ๐