Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 88


Pria paruh baya itu kini terlihat bahagia, diiringi senyum kecil yang tersungging di bibirnya.


"Tuan Jordan kau sedang apa?" Jiro yang baru saja tiba dengan membawa secangkir teh herbal, penasaran melihat tuannya itu nampak begitu senang menatap layar ponselnya. Jordan tidak menjawab pertanyaan Jiro tersebut, dirinya lebih memilih untuk membalikan layar ponselnya dan menunjukkan langsung pada Jiro apa yang sebenarnya membuat ia tersenyum begitu. Ternyata karena sebuah gambar di layar ponselnya.


"Oh... jadi karena foto-foto itu kau jadi nampak bahagia begitu? " Ujar Jiro yang baru saja mengetahui alasan kenapa Jordan tampak bahagia dibuatnya.


"Iya, karena melihat foto-foto keluarga Ryu."Jordan kembali menunjukkan foto keluarga Ryu pada Jiro, "Kau lihat? Ryu dan Arvin terlihat mirip bukan?" Jordan menunjukan pada Jiro sebuah foto dimana Ryuzen dengan putranya bersebelahan.


Apakah dia sedang merindukan putranya?


Jiro merasa jika Jordan kini sedang dilanda rindu akan anak dan cucunya tersebut. "Tuan Jordan, apa kau merindukan anak dan cucumu?"


"Jika kau tanya begitu, sudah pasti jawabannya adalah iya." Namun sorot mata pria paruh baya itu tiba-tiba nampak muram.


"Kenapa kau tidak temui saja mereka tuan?"


Jordan hanya bisa menghela napas panjang mendengar usulan Jiro barusan.


"Jika semudah itu, mungkin sudah sejak kemarin aku menemui mereka."


Aku tahu persis Ryuzen masihlah membenciku, meskipun kami sudah pernah berbicara berdua.Tapi aku yakin, dia masih belum mau melihatku mendekatinya bahkan keluarganya. Kesalahanku teramat menghancurkan perasaannya.


Jordan kembali duduk di dekat perapian sambil menikmati minuman hangatnya. Saat dirinya sedang merenung tiba-tiba Jiro memberi usulan, "Tuan Jiro, kenapa kau tidak menghubungi menantumu saja. Kau bisa meminta bantuan menantumu, agar bisa setidaknya bertemu dengan cucumu sendiri bukan?"


"Begitu ya? Tapi apa itu hal yang harus aku lakukan? Aku justru takut Ryuzen semakin membenciku, jika Ryu sampai tau aku melakukan hal itu terhadap istinya, demi bertemu dan melihat Arvin."


Jiro memandang ke arah Jordan dengan penuh rasa iba, ia merasa di usia Jordan yang sudah tidak muda lagi, dan disaat pria seusianya menikmati canda gurau bersama keluarga dan anak cucunya, dirinya malah harus jauh dan seakan dibatasi dinding tebal yang membuatnya tidak mampu bertemu keluarganya.


Mungkin ini adalah harga yang memang harus aku bayar, untuk menebus segala kesalahanku pada putraku di masa lalu. Tapi tidak apa, melihatnya bahagia hidup bersama keluarga kecilnya, itu sudah cukup bagiku.


~~


Di perjalanan pulang, tiba-tiba saja Sara ingin sekali makan snack disalah satu coffee shop yang ada di dekat alun-alun kota. Ryuzen pun tanpa pikir banyak langsung memutar balik laju mobilnya dan behenti di sebuah coffee shop yang dimaksud Sara itu.


"Kau yakin tidak mau ikut ke dalam sayang?"


Sara terlihat lelah dan enggan keluar mobil, oleh karena itu akhirnya ia memutuskan untuk diam, dan menunggu saja di dalam mobil, sementara Ryu ke dalam membelikan snack yang dimaksudnya itu.


"Kalau begitu, kau tunggu sebentar disini. Aku akan belikan dulu untukmu," ucap Ryu yang kemudian mencium kening istrinya itu, barulah ia keluar dari mobil untuk pergi membelinya.


~~


Sampai di dalam, Ryuzen langsung saja mengambil jalur antrean. Beruntung karena sudah malam, jadi coffee shop ini tidak lagi terlalu ramai adanya, seperti pada saat pagi atau sore hari.


Aku sangat benci yang namanya menunggu, tapi demi Sara dan anakku aku harus rela melakukannya. Haish! Kalau dipikir-pikir saat seperti ini, tidak ada si Kenzo itu repot juga ya rasanya.


Ryuzen berpikir demikian, padahal dirinya baru lima menit menunggu, tapi sudah mulai diserang rasa jenuh.


Saat tengah menunggu pesanannya, Ryuzen tidak sengaja ditabrak seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari arah sebaliknya.


"Hei, kau!" Wanita itu kesal karena pouch make up -nya terjatuh akibat tersenggol lengan kokoh suami Sara tersebut. Wanita itu pun segera berjongkok dan memunguti isi pouch make up-nya yang bercecran itu sambil mengumpat kesal. Sadar dirinya ikut bersalah, Ryuzen memutuskan ikut berjonkok dan membantu wanita tersebut.


Wanita itu langsung mendongakan kepalanya, alhasil dirinya malah langsung dibuat terperangai, saat matanya disuguhi pesona dan ketampanan Ryu yang kini tengah membantunya memunguti alat-alat make up-nya yang berceceran. Dirinya yang tadinya berwajah masam, tiba-tiba langsung berubah sumrigah saat melihat Ryuzen.


"Ka- kau Ryuzen kan?" Pungkas wanita itu.


Ryuzen yang masih menunduk, tiba-tiba langsung melirik ke arah wanita yang menyebut namanya itu.


"Kau kenal aku?" Kata Ryuzen sambil berangsur bangkit dan kembali bediri bersamaan dengan si wanita di hadapannya itu.


"Kau lupa? Aku Nana, kita dulu satu sekolah bukan?" Jelas si wanita dengan begitu semringah.


"Huh?" Ryu masih belum ingat juga.


"Aku ini kakak kelasmu dulu saat di SMA!" Jelas Nana sekali lagi berharap kali ini Ryuzen ingat dirinya.


"Oh..., ya aku ingat! Kau itu seniorku yang dulu suka pakai make up tebal, masuk mendatangi kelasku setiap hari kan?"


Sial! Tidak ingat aku tapi malah ingat hal itu. Tapi Ryuzen semakin tampan saja, sejak dulu dia selalu tampan. Dan karismanya juga tidak memudar malah semakin kuat.


"Em kau sedang apa disini ?" Tanya Nana sambil memainkan anak rambut dengan jemarinya.


"Memangnya kalau kemari selain untuk membeli makanan atau kopi, mau apa lagi?" sahut Ryu dengan nada datar.


Dia tidak berubah, tetap saja dingin dan pedas kalau bicara. Tapi bagaimana pun juga kan aku dulu pernah berstatus pacarnya, walau cuma sehari.


"Kau sendiri sedang apa kemari? Kau ini model yang satu agenci dengan Alin Yifei kan, kalau tidak salah?" Ryuzen menebak-nebak.


"Em... aku tadi habis ada meeting dengan salah satu redaksi majalah fashion. Kau benar, aku memang baru saja kembali dari Los Angeles dua minggu yang lalu."


"Oh!"


Ryuzen tampaknya sendirian. Dia... apa dia masih sendirian ya setelah putus dengan Erika Zhang beberapa tahun lalu? Apa mungkin aku masih ada kesempatan untuk jadi wanitanya. Dia benar-benar terlihat makin hot setelah bertahun-tahun tidak bertemu, aku yakin dibalik pakaian mahalnya itu pasti otot-otot tubuhnya terbentuk dengan sempurna.


Nana menyisipkan rambutnya ke telinga dan berkata, "Ryuzen aku sedikit pusing, apa kau mau mengantarku pulang?"


Ryuzen mendekatkan tubuhnya dan membisikan kata ke telinga Seniornya itu, "Apa kau sedang mencoba menggodaku, kakak senior?" Sontak wanita itu langsung salah tingkah dibuatnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hai my beloved readers...


Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf sama kalian karena tidak bisa update harian, di karenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian๐Ÿ™


Meski sering slow update kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.๐Ÿ˜˜ Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.


Happy reading and hopefully you like it all...


Oh ya jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana ๐Ÿ˜Š