Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 105


"Kita pulang ya," ujar Ryuzen yang kemudian bangkit menggendong tubuh anaknya tersebut, hendak beranjak pergi kembali ke villa.


"Papi tu- tunggu sebentar!" Ryu yang baru saja ingin melangkahkan kakinya, tiba -tiba saja terpaksa harus berhenti, karena mendengar seruan Arvin yang kini berbaring lemas di dalam gendongannya. Ia menatap putranya itu dengan seksama, menunggu apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh pria kecil yang kini digendongnya.


"Ada apa Arvin?" Jason dan Yoshiki pun tak luput dibuat bertanya-tanya.


"Kenapa nak, apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Ryuzen dengan suaranya yang terdengar berat namun bernada lembut.


"Aku minta tolong..."


"Minta tolong?" Ryuzen semakin dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin di ungkapkan oleh Arvin. Tidak berbeda jauh dengan Ryu, kedua sahabatnya Jason dan Yoshiki pun ikut penasaran dibuatnya.


"Papi, Paman Jason, Paman Yoshiki aku mohon pada kalian, agar sesampainya kita di villa nanti, tolong rahasiakan hal tentangku ini dari mami."


Anak ini kenapa...?


"Tapi kenapa begitu?" Tanya Jason.


"Aku... aku hanya tidak mau jika mami sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku hari ini. Aku takut hal itu malah hanya akan membuatnya sedih, dan merasa bersalah kerena berpikir tidak bisa menjagaku. Aku tidak mau membuatnya khawatir, jika tau aku hampir mati karena tenggelam. Karena hal itu bisa mengganggu kesehatannya dan calon adikku. Aku tidak mau membuatnya bersedih."


"Tapi kan kau...?"


"Aku mohon padamu papi, dan juga kalian paman. Tolong jangan beritahu hal ini pada mami, please!"


"Lalu jika Sara bertanya kenapa kau bisa basah kuyub begini?"


"Papi tenang saja, otakku yang cerdas ini sudah punya jawabannya. Yang penting sekarang ini, Papi dan paman-paman sekalian harus janji padaku jangan beritahu mami, Janji?" Ujar Arvin mengangkat satu jari kelingkingnya.


"Baiklah aku janji," ucap Ryuzen mengangguk paham.


"Kalian juga ya paman?"


"Ya, kami berjanji!" Yoshiki dan Jason pun sama, berjanji pada Arvin dan mengangguk bersamaan.


"Dan sekarang aku yang ingin bertanya padamu!"


"Tanya apa?" Kata Arvin dengan tampang polosnya yang terlihat masih lemas.


"Siapa yang menolongmu saat kau hampir tenggelam terbawa arus?" Ryuzen sejak awal sebenarnya sudah penasaran siapa yang menolong putranya itu. Ia berpikir, bagaimana mungkin Arvin bisa selamat dari sungai yang arus nya deras dan cukup dalam ini, tanpa bantuan orang dewasa lain.


"Soal itu... grrrr," Arvin mencoba mengingatnya, sayangnya tubuhnya kini terlihat semakin menggigil kedinginan. Ryuzen yang tidak tega dan takut putranya malah sakit, akhirnya menunda rasa penasarannya itu, dan memilih untuk segera membawa Arvin kembali ke villa.


**Flashback off*


Ryuzen kembali menoleh ke arah istrinya yang duduk di sebelah kursi kemudi, menatapnya dengan lembut, sambil membelai pipinya yang putih dan lembut.


"Kau jangan banyak bepikiran macam-macam. Aku tidak mau kau terlalu lelah dan stress."


Sara menyentuh punggung tangan Ryuzen yang membelai pipinya dengan penuh kelembutan, dan membalasnya dengan senyum manisnya."Iya, terima kasih ya Ryu...," balas Sara.


Aku masih belum bisa memberitahu Sara soal Arvin yang sebenarnya hampir kehilangan nyawa. Terlebih, aku masih penasaran dengan orang yang sudah menolong putraku dari maut. Aku harus menanyakan hal itu lagi pada Arvin tanpa diketahui oleh Sara, aku tidak mau berhutang budi pada siapapun.


~~


Malam hari pun tiba, saatnya Arvin untuk bersih-bersih dan gosok gigi sebelum akhirnya pergi tidur. Di wastafel kamar mandi Arvin tengah berdiri sambil menggosok gigi. Di depan kaca wastafel Arvin mendangi dirinya sendiri yang kini tengah sibuk menggosok giginya. Arvin pun kembali teringat akan seseoranya yang telah menolongnya tadi, saat hampir tenggelam hanyut terbawa arus sungai yang deras.


Arvin yang terlalu fokus mengejar seekor berang-berang, ternyata tidak menyadari jika dirinya ternyata sudah berada cukup jauh dari tempat dimana pertama kali ia datang.


"Astaga! Aku pergi terlalu jauh hanya karena seekor berang-berang. Aku harus segera kembali, kalau tidak nanti mami pasti akan khawatir padaku."


Arvin kecil mengingat-ngingat jalan yang tadi ia lewati saat kemari. Tapi sialnya, Arvin yang tadi sempat melewati semak-semak untuk sampai ketempat ini, malah membuat dirinya agak bingung dengan rute jalan untuk kembali.


"Oh sial! Aku lupa jalan pulang, menyebalkan!" Ucapnya bersungut-sungut. Tapi hal itu tidak membuatnya pasrah dan menangis.


Bukan Arvin namanya kalau tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Pria kecil itu ternyata beriniasiatif untuk memanjat sebuah pohon, supaya dapat melihat lebih mudah rute jalan dari atas sana. Setelah melihat pohon yang cocok, ia pun segera memanjat sebuah pohon besar yang munkin sudah cukup tua itu dengan lincah. Setelah merasa cukup tinggi, ia pun berhenti dan mulai memantau rute dari atas sana.


"Untung... saja, aku pandai memanjat pohon." Dengan bangganya Arvin mengakui keahlian memanjatnya itu. Dari atas sana Arvin memantau dengan seksama rute yang bisa membawanya menuju ke villa.


"Baiklah, aku sudah tahu kemana harus berjalan!"


Karena ia sudah menemukan rutenya, pria kecil itu pun langsung bergegas kembali turun ke bawah, dirinya yang sudah tahu harus pergi lewat kemana. Setelah turun, Arvin langsung mengusap kedua telapak tangannya saling berhadapan. Hal itu dilakukan Arvin agar lebih mudah membersihkan tangannya yang kotor setelah turun dari atas pohon.


Merasa tangannya tetap terasa kotor, Arvin pun memutuskan untuk mencuci tangannya dulu dengan air sungai, sebelum akhirnya pergi dari sana. Arvin dengan hati-hati menginjak bebatuan yang ada di pinggiran-pinggiran sungai itu. Pria kecil itu pun berjongkok lalu mencuci tangannya dengan air sungai yang mengalir deras. Sayangnya... saat tengah mencuci tangannya, Dirinya tidak sengaja menginjak bebatuan yang licin. Akhirnya Arvin terperosok ke dalam aliran sungai yang deras itu. Arvin yang terbawa arus, berusaha bertahan dengan berpegangan erat pada batuan yang ada di dekatnya. Namun sayang, tubuhnya tidak bisa terlalu pada batu untuk menahan derasnya arus sungai yang berpacu.


Aku, tidak kuat lagi! Tapi aku tidak boleh mati konyol dengan cara seperti ini! Meski begitu, Arvin masih terus berusaha menahan derasnya arus yang menerjang itu, sekuat yang ia bisa lakukan. Hingga akhirnya pria kecil itu benar-benar sudah tidak mampu lagi bertahan. Pada akhirnya ia pun terbawa arus menuju hilir sungai yang semakin dalam kedalamannya.


"Tolong...! Tolong...! Siapー siapa saja kumohon tolong!"


Arvin berusaha membuat kepalanya tidak terbenam kedalam air sungain yang kedalamannya bisa jadi lebih tinggi dari ukuran tinggi badannya. Tubuh kecilnya terbawa arus sungai yang semakin kencang, kepalanya pun mulai tenggelam ke dalam air yang kedalamannya jelas melebihi tingginya. Meski dirinya bisa berenang, namun tubuh kecil Arvin tidak mungkin mampu menahan derasnya arus yang semakin ganas. Arvin pun mulai hilang dari permukaan. Ia mulai pasrah, napasnya juga mulai habis, karena sudah tidak kuat menahan napas lebih lama lagi.


Apakah hidupku akan berakhir disini? Kalau iya, aku pasti tidak akan tenang, karena aku belum berpamitan dengan mami, papi, dan juga calon adikku. Sebenarnya aku tidak mau mati dengan cara seperti ini, karena ini tidak keren. Tapi sayangnya... aku tidak sehebat papi yang pasti bisa melewati hal ini. Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi menahan napasaku, tubuhku seperti mulai mati rasa, Aku...


Siapa itu? Arvin seperti melihat sosok yang tidak bisa ia lihat dengan jelas wajahnya. Pria itu menarik tubuhnya. Apa di mau menyelamatkanku? Batin Arvin masih mampu berbicara. Tapi... aku sudah tidak kuat lagi selamat tingー


**Flashback off**


Setelah itu, Arvin seolah tidak ingat lagi apa yang terjadi.


Arvin tidak tahu siapa orang yang sudah menolongnya itu. Karena saat ia mulai tersadar dan bisa membuka mata, yang ada didepannya ialah sosok sang papi, Jason, dan jugaYoshiki.


Awalnya kupikir papi adalah yang menyelamatkanku, tapi saat aku sadar pakaiannya yang tidak basah sama sekali, sudah pasti bukan dia yang menolongku.


"Kau mau terus menggosok gigimu sampai ompong?" Ryuzen menegur Arvin yang terlihat malah melamun saat sedang menggosok gigi.


"Hump mpawpi?!" Ujar Arvin yang suaranya terdengar tidak jelas karena mulutnya yang masih penuh buih pasta gigi itu, terkejut karena melihat papinya datang tiba-tiba.


🌹🌹🌹


Hai my beloved readers...


Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Meski sering slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.


Dan jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊