Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 142


Kenzo tampak menemui Edgar dan Meilin di sebuah gudang anggur tua di dekat dermaga kota.


"Jadi kalian sudah mengetahui dimana Biyan berada sekarang?"


Meilin memberikan berkas di dalam sebuah amplop kepada Kenzo. "Di dalam amplop itu, ada beberapa foto-foto Biyan Dao yang mencoba menyamar menjadi orang lain, kau bisa lihat beberapa penyamarannya, berserta lokasinya."


Tanpa basa-basi Kenzo langsung membuka amplop tersebut. Dan benar adanya, ada beberapa lembar foto Biyan Dao yang mencoba menyamarkan identitasnya dengan mengubah penampilannya. Dengan salah satu penyamarannya adalah mirip sekali seperti pria yang pernah dilihat oleh Kenzo di festival musim gugur, beberapa waktu lalu saat ia pergi bersama Rina malam itu.


"Oh iya, tolong berikan ini juga pada bos!" Edgar melemparkan sebuah flashdisk kepada Kenzo yang langsung reflek menangkapnya. Dirinya yang tidak mengetahui apa maksud Edgar memberikan flashdisk ini pun bertanya, "Untuk apa flashdisk ini?".


"Kau lihat saja nanti, yang jelas tugas kami sudah selesai. Oh iya tolong sampaikan juga pada tuan Han, transfer uangnya segera, karena aku ingin beristirahat sejenak dari pekerjaan seperti ini, aku ingin berjalan-jalan keliling dunia," pungkas Edgar.


"Aih... sayang sekali mister handsome tidak kemari langsung, malam menyuruh asistennya yang amatir ini. Jadinya aku idak bisa bertemu langsung dengan tuan tampan rupawan huft! Padahal aku ingin sekali memberinya ciuman salam perpisahan," seloroh Meilin yang kemudian mengibaskan rambutnya.


Cih! Wanita genit ini. Kau pikir aku berharap mau bertemu denganmu? Rinaku lebih cantik darimu tau! Ujar Kenzo melirik sinis pada Meilin.


"Jadi kalian mau rehat dari pekerjaan kalian yang seperti ini?" Tanya Kenzo memastikan ucapan Edgar.


"Ya... bisa dibilang begitu, sebagai adik kakak kami harus kompak bukan? Dan kami juga butuh menikmati hidup. Lagipula... black serpents sudah bubar, jadi buat apa lagi kami terlalu lama menetap di kota ini," pungkas Edgar.


"Oh begitu...!" Kenzo menganggukan kepalanya. "Ah baiklah... karena aku sudah terima berkas dan flashdisk ini. Semuanya akan segera aku sampaikan pada tuan muda. Dan karena sudah clear, maka aku pergi dulu ya Edgar dan..." Kenzo melirik Meilin dengan tatapan usil. "Bibi Meilin Genit!" Ujar Kenzo yang kemudian dengan cepat langsung pergi.


"Dasar pria kurang ajar! Seenaknya kau memanggilku bibi!" Seru Meilin tidak terima.


"Hei sudahlah kak! Tugas kita sudah selesai!"


~~


Keesokan harinya Sara, Jesper dan Gina terlihat sedang menghabiskan waktu bersama untuk makan siang. Setelah sekian lama, akhirnya mereka bertiga bisa berkumpul lagi seperti dulu.


"Aku senang kita bisa berkumpul lagi," ujar Sara pada kedua temannya itu.


"Ya... kau benar! Kira-kira kapan ya terakhir kali kita makan siang bersama begini?" Kata Gina mengingat-ingat.


"Yang pasti sudah lama sekali, dan yang jelas sebelum tuan Jesper pindah dari kota ini." Sara mengangkat alisnya menatap Jesper.


Jesper tertawa renyah, "Kau ini! Jadi kau mau bilang kalau semua gara-gara aku begitu?"


"Ya... memang begitukan?!" Sara dan Jesper saling melempar canda. Mereka terlihat tertawa lepas, termasuk Jesper. Entah kenapa sejak kejadian yang hampir berujung kecelakaan bersama Gina kemarin, dirinya terlihat lebih bisa menikmati hidup. Gina melihat ke arah Jesper, yang saat ini sedang tertawa bersama Sara yang terlihat seperti adik Jesper dimata Gina. Bagi Gina dirinya bersyukur melihat Jesper yang sudah tidak terlalu uring-uringan lagi.


Aku sungguh senang melihatmu seperti ini Jes! Ya... meski tetap saja aku tidak ada di hatimu, tapi setidaknya melihatmu bisa tertawa lepas begini itu lebih baik. Dan... aku berharap kau terus begini, sampai kau menyadari jika ada aku yang akan selalu menemanimu.


Jesper dan Sara berhenti tertawa, tapi Gina masih saja bengong. Alhasil Sara dan Jesper menoleh ke arah Gina yang terlihat bengong sambil senyum-senyum itu. Hingga membuat Jesper dan Sara pun sepakat untuk menyadarkannya dari lamunan.


"Hey Gina!" Ujar Sara dan Jesper bersamaan menegur Gina, hingga membuat sahabatnya itu jadi terperanjat kaget. "Oh i- iya, ada apa?" Ujar Gina yang baru saja sadar dari lamunannya itu.


"Gina kau itu kenapa?" Tanya Sara.


"Iya, kenapa kau senyum-senyum bengong tidak jelas begitu?" Imbuh Jesper.


Astaga! Mana mungkin aku bilang aku sibuk memikirkan Jesper. "Um... itu, aku... aku... aku baru ingat sepertinya tadi aku lupa mematikan pengahangat ruangan di apartemenku."


Mendengar jawaban Gina barusan tentu saja tidak membuat Sara percaya. Pasalnya ia tahu persis sifat Gina yang sangat disiplin mana mungkin sampai lupa begitu. Hem... sepertinya aku tahu kenapa dia bengong begitu tadi?


"Ah, sudahlah... soal aku tidak penting. Ada yang lebih penting yang harus kita obrolkan, yakni soalmu Sara...!" Ujar Gina.


"Aku?"


"Oh iya, Sara apa Ryuzen sudah tahu soal orang misterius itu?" Tanya Jesper.


"Sudah! Sampai-sampai, dua hari yang lalu kami bahkan sempat bertengkar dan, Ryu tidak pulang karena marah padaku. Tapi untungnya sekarang kami sudah baik-baik saja!" Jelas Sara yang tadinya agak lesu jadi semangat.


"Apa suamimu itu marah sampai...."


"Tidak Jes! Ryuzen tidak pernah menyakitiku. Meski dia tempramen tapi dia akan pernah berani untuk kasar padaku." Kecuali urusan itu, dia memang terlalu bersemangat kalau soal diranjang.


"Lalu? Soal RenHao?" Tanya Jesper lagi.


"Ya aku tahu! Bahkan aku pernah mengobrol langsung dengannya, beberapa waktu yang lalu. Dan... aku juga yang sudah memberitahukan pada Ryuzen, kalau orang misterius yang mengirimu bunga-bunga adalah RenHao."


"Oh... jadi kau yang beritahu Ryu ya?"


"Iya... maaf aku terpaksa melakukan itu Sara."


Pantas saja dia marah padaku, pasti Ryu berpikir kalau aku lebih memilih memberitahu Jesper dibanding dia soal Renji, padahal kan tidak begitu maksudku.


"Sara..." panggil Gina melihat Sara yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ya?"


"Jadi ada hubungan apa antara dirimu dan RenHao? Kenapa penulis buku terkenal seperti dia, sampai-sampai mengirimu bunga begitu, tidak mungkin kan jika tidak ada alasan...!" terang Gina dengan segala analisanya yang pasti masuk akal.


"Gina benar! Selain itu, apa kau kenal dengan RenHao sudah lama?" Telisik Jesper.


Bagaimana ini? Aku cerita tidak ya... soal RenHao yang ternyata adalah kenalan lama Ryu. Tapi Ryuzen sepertinya tidak ingin tentangnya dan Renji diketahui banyak orang. Ditambah lagi... akupun belum ingat betul apa yang Renji pernah katakan. Ia bilang dirinya adalah laki-laki yang pernah aku tolong dulu. Tapi apa benar dia laki-laki yang sama yang aku tolong dulu?


"Sara Chen..." pungkas Gina melihat Sara malah termenung.


"Iya! Jadi aku dan Renji memang sebenarnya sudah saling kenal. Kami juga pernah beberapa kali mengobrol, dan dia pun juga tahu kalau aku adalah penggemarnya."


"Hanya itukah? Tapi kenapa dia harus mengirimimu bunga begitu, rasanya aneh jika ada idola yang malah mengirimi hal begitu pada fansnya secara berulang-ulang." Dugaan Renji semakin membuat Sara bingung harus menjawab apa. Sara yakin kedua temannya ini tidak bodoh, mereka pasti tidak akan puas dengan perkataannya barusan.


"Renji benar! Sepertinya ada motif lain kenapa dia sampai berkali-kali mengirim bunga begitu padamu!" Imbuh Gina.


Oh tidak! Aku lupa mereka berdua ini kan basicnya lawyer, pasti sulit untukku berkelit dihadapan mereka. Tak kusangka bicara dengan mereka sama saja, seperti bicara dengan Ryu. Meski mereka tidak mengintimidasi seperti Ryuzen tapi kan tetap saja.


Sara menghela napasnya panjang. "Baiklab... sepertinya aku pun hanya kan kalah melawan kalian dua lawyer hebat." Sara akhirnya menyerah dan memberitahukan sejujurnya soal Renji yang ternyata adalah kenalan lama Ryuzen.


"Hem sudah kuduga...!" Ujar Gina dan Jesper bersamaan, dengan ekspresi yang sama pula. Sontak hal itu membuat Sara tertegun. "Um... aku tahu kalian kuliah di jurusan yang sama, kalian pun sama-sama hebat. Tapi apakah ucapan dan ekspresi kalian juga harus sama begitu?" ungkap Sara.


"Um itu..., kami...." Gina dan Jesper tiba-tiba jadi kikuk satu sama lain. Sara pun berhasil tertawa dibuatnya. "Sudah... sudah... kalian ini. Anggap saja itu pertanda kalau kalian adalah jodoh," seloroh Sara dengan tanpa maksud.


Jesper dan Gina pun saling menoleh dan merasa canggung mendadak.


"Sara kau ini... jangan aneh-aneh!" Tukas Gina menutupi rasa geroginya.


Sebaliknya Jesper malah terlihat diam, namun tetap saja terlihat kalau dia jadi agak canggung. "Eh iya lebih baik kita pesan minuman saja ya...." ujar Jesper sengaja j


untuk memecah kecanggungan dirinya.


Sepertinya ada kemungkinan Jesper tertarik pada Gina, kalau itu benar! Aku akan jadi orang pertama yang merestui mereka. Ujar Sara dalam hati melihat kedua sahabatnya itu.


~~


Kenzo terlihat tengah menghadap Ryuzen di ruangannya.


"Jadi apa yang kau dapat dari pertemuanmu dengan Meilin dan Edgar kemarin?" Tanya Ryuzen yang kini tengah duduk tegap di kursinya, dengan ekspresi datar.


🌹🌹🌹


Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...


Author secara personal ingin berterima kasih kepada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author mohon maaf, karena tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Oh iya, meski sering kali novelnya slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian.


Dan buat yang sudah baca novel ini, jangan lupa ya untuk selalu tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa juga untuk bantu di SHARE komik ini, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti sekali buat aku.


Satu lagi temen-temen sekalian, jangan lupa juga ya... buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊


FYI : Dalam waktu dekat ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏