
Ryuzen menganbil ponselnya dan menelepon Kenzo memintanya menyiapkan helikopter dengan segera.
"Kau ikut aku!" perintah Ryuzen, meminta Sara mengikutinya.
"Tapi Sebelum itu, aku ingin tahu. Sebenarnya, siapa orang yang membutuhkan donor darah itu?" tanya Ryuzen ingin tahu.
Sara mengepalkan kedua tangannya.
"Itu..., untuk anakku!" Sara yang awalnya ingin menyembunyikan hal ini dari Ryuzen, justru dia sendiri yang memberitahunya. Ryuzen yang tadinya berekspresi datar seketika tersentak kaget dan bergeming.
"Jadi dia bohong padaku waktu itu, heh bagus sekali! Jika saja aku tahu dari awal dia telah membohongiku waktu itu. Mungkin aku tidak akan pernah bersedia menolongnya."
Ryuzen membalikan badannya dan berkata pada Sara, "Nona Sara, kau tahu! Aku paling benci orang yang berani berbohong padaku!" Mendengar Ryuzen begitu, Sara hanya bisa tertunduk diam.
Sara dan Ryuzen akhirnya sampai di atap gedung Emerald Tower, yang mana diatas helipad telah siap sebuah helikopter untuk di tumpangi.
"Tuan Muda, helikopternya sudah siap," ucap Kenzo yang juga ikut terbang bersamanya.
"Pakai ini!" Ryuzen memberikan headphone pada Sara untuk di pakai
"Kenapa kita naik ini?" tanya Sara bingung kenapa Ryuzen membawanya naik helikopter.
"Kau mau kita pergi naik mobil di jam sibuk begini, dan membiarkan anakmu mati!" jawab Ryuzen yang kini telah selesai memasang Headphone-nya.
Setelah semua siap, Ryuzen pun menyuruh pilot untuk berangkat.
~
Beberapa menit kemudian akhirnya helikopter yang mereka naiki tiba di atas helipad rumah sakit. Sara dan Ryuzen pun kini telah keluar dari helikopter.
"Tunggu, kalau kau kelihatan awak media nanti...," ucap Sara.
"Kita lewat pintu khusus jadi tidak ada yang tahu," terang Ryuzen yang kini memimpin jalan diikuti oleh Sara dan Kenzo yang juga ikut terbang bersama Ryuzen dan Sara.
~Di Dalam Rumah sakit.
"Gina...!" teriak Sara.
"Sara, kau kembali. Lalu bagaimana, apa kau berhasil dapatkan pendonornya?"
Sara pun mengangguk.
Tiba-tiba kedatangan Ryuzen setelah Sara lewat pintu khusus, membuat suster dan dokter agak kaget dan tak menyangka, tidak terkecuali Gina yang juga cukup terkejut melihat CEO Emerald yang terkenal itu tiba-tiba ada disini.
Seketika Gina pun langsung paham, kedatangan Ryuzen pasti ada hubungannya dengan Sara.
"Tuan Han, apa yang anda lakukan disini?" tanya dokter yang menangani Arvin.
"Kau bilang, ada anak yang membutuhkan donor darah golongan A rhesus negatif, aku bawa orangnya," ucap Ryuzen dengan tatapan serius.
"Ya itu benar, lalu apa kau membawa orang yang akan mendonorkan darahnya?" tanya dokter.
Ryuzen mengerjapkan mata dan mengatakan, "Aku sendiri Orang yang akan mendonorkan darahnya."
Semua kaget mendengar itu, terutama Sara.
"Ja, jadi... orang yang akan mendonorkan darahnya untuk Arvin adalah dia sendiri?!" ungkap Sara yang masih tidak menyangka akan hal itu.
"Jadi anda bersedia?" tanya dokter.
"Ya," jawab Ryuzen singkat
"Kalau begitu, ikut aku untuk uji lab, setelah itu baru kita mulai transfusi darahnya," terang dokter menjelaskan proseduralnya. Ryuzen pun masuk ke ruangan untuk melakukan uji lab baru setelahnya ia akan melakukan transfusi darah.
"Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja," ucap Sara yang gelisah dan panik.
"Sudahlah, sekarang ini yang bisa kita lakukan hanyalah berharap semoga semua berjalan lancar," ucap Gina kembali mencoba menenangkan Sara yang masih terlihat tidak tenang hingga saat ini menunggu proses transfusi.
Sekitar 30 menit kemudian dokter keluar, bersama Ryuzen yang telah selesai melakukan transfusi darah.
Mendengar hal itu Sara kini mulai bisa bernafas lega.
"Syukurlah, terima kasih Dokter!" ucap Sara.
"Sama-sama" jawab dokter
"Tuan Muda Han, anda juga harus beristirahat setelah ini untuk pemulihan," pesan dokter pada Ryuzen yang baru saja selesai melakukan transfusi darah.
"Ya, aku mengerti!" ucap Ryuzen paham.
Tiba-tiba dari arah lain, Kenzo datang membawakan air mineral untuk Ryuzen.
"Tuan Muda kau minum ini!" Kenzo menyodorkan air mineral yang ia belinya tadi pada Ryuzen.
"Terima kasih!" balas Ryuzen
Sara menghampiri Ryuzen yang terlihat agak lemas karena transfusi tadi.
"Terimakasih telah menolong Arvin," ucap Sara menghampiri Ryuzen yang sedang duduk pasca pengambilan darah.
"... Kau, tidak apa-apa?" tanya Sara pada Ryuzen dengan nada cemas.
"Aku baik, sebentar lagi juga pulih. Hal seperti ini bukan apa-apa untukku," balasnya.
"Kenzo, sekarang kita kembali ke kantor. Masih ada urusan yang harus dikerjakan!" perintah Ryuzen yang pakaiannya kini tidak rapih karena habis melakukan transfusi, namun hal tu tidak mengurangi pesonanya.
"Kau, langsung pergi? Apa tidak apa-apa? Kenapa tidak istirahat dulu saja," ucap Sara terlihat khawatir
Ryuzen malah mendekatkan bibirnya ke telinga Sara
"Kau khawatir padaku ya?" ucap Ryuzen dengan suaranya yang berat, dan hal itu pun berhasil membuat wajah Sara memerah. Karena tidak bisa lama-lama di rumah sakit, Ryuzen dan Kenzo pun akhirnya meninggalkan rumah sakit duluan.
"Aku pergi dulu...," bisik Ryuzen pada Sara.
***
Keesokan harinya Arvin telah sadar sepenuhnya, kepala Arvin masih di perban dan kini dirinya baru selesai makan.
"Selamat pagi!" sapa Sara pada Arvin
"Pagi mami...," balas Arvin.
"Bagaimana hari ini?"
"Sudah enakan, dan aku ingin cepat-cepat pulang...!" rengek Arvin
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba datanglah paman dan bibi Huang menjenguk Arvin.
"Selamat pagi Arvin!" sapa Paman dan Bibi.
"Kakek dan Nenek!" Seru Arvin bersemangat.
Kebetulan karena paman dan bibi Huang disini, Sara berpikir bisa pergi sebentar untuk menemui Ryuzen terkait perjanjian yang ia sepakati kemarin.
"Paman, Bibi, bisakah kalian tolong jaga Arvin sebentar, aku mau pergi dulu ada urusan," terang Sara.
"Tentu saja, pergilah nak, kami akan menjaga Arvin di sini," ucap bibi Huang.
"Terimakasih Bibi, Paman. Aku pergi dulu ya," pamit Sara.
"Arvin Mami pergi dulu ya," imbuhnya lalu memeluk Arvin
"Ya Mami, hati-hati dijalan...!" ucap Arvin pada Sara.
Like, Comment dan Favorit jangan Lupa ππ·