
Wanita cantik itu duduk termenung sendirian, meratapi nasibnya yang tidak tahu akan seperti apa. Mungkinkah dirinya akan berakhir di dalam penjara dan melewati kehamilannya di dalam sel tahanan? Entahlah! Yang jelas ini semua adalan bagian dari ujian pahitnya hidup, yang memang harus sekali lagi Sara terima.
Tangan yang diborgol itu menyentuh perut yang didalamnya kini terdapat nyawa calon anaknya dan Ryuzen, matanya berkaca-kaca, hatinya meringis merasakan betapa menyedihkannya keadaan dirinya saat ini. Bagimana rasanya, terpenjara dengan tuduhan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan.
"Nak, maafkan mami..., mami tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengeluarkan kita dari sini. Tapi mami yakin, papimu dan bibi Gina pasti akan datang untuk menyelamatkan kita. Kau harus kuat ya nak, setidaknya berilah mami kekuatan untuk bersabar." Ia kembali memegangi perutnya yang belum terlihat buncit itu.
Sara tidak pernah membayangkan jika, dirinya harus sekali lagi melewati kesulitan dimasa kehamilannya. Sara termenung, dirinya seperti dibawa ke dalam ingatan masa lalunya. Ia teringat akan masa-masa dirinya mengandung Arvin beberapa tahun lalu, saat itu dirinya masih begitu muda, rapuh, dan tidak memiliki orang lain untuk menemaninya melewati masa-masa sulit saat hamil. Baginya kali itu hanya ada dua pilihan, mempertahankan bayinya atau menggugurkannya.
Aku bersyukur, aku memilih untuk mempertahankan anakku. Mungkin jika tidak ada Arvin, aku dan Ryuzen tidak akan pernah bisa saling bertemu dan berakhir seperti ini. Aku tidak akan menyesali atas semua ini.
Senyum manis Sara kemudian kembali terukir, ia menatap dan kembali mengusap perutnya, "Aku sudah pernah merasakan hal pahit seperti ini, hanya saja dulu aku harus melewatinya sendiri. Tapi kali ini aku tidak perlu takut menghadapi semua ini, karena aku memiliki dia. Dia yang selalu melindungiku, menjagaku, dan menolongku. Aku percaya dia pasti akan menolongku! Aku percaya padamu Ryuzen." Senyum penuh keyakinan itu seolah menandakan jika Sara tidak putus asa.
Aku harap kau ada disini saat ini Ryu....
"Aku sudah ada disini sayang."
Sara tersentak kaget, diangkatnya wajah cantiknya itu, dan langsung menatap ke arah dari mana suara yang sudah tidak asing baginya itu berasal.
"Ryu?" Mata Sara seketika berkaca-kaca, saat tahu jika suaminya yang sejak tadi dirinya tunggu akhirnya datang menemuinya.
Entah ini bisa disebut dengan mantra atau bukan, yang Sara tahu saat ini hanyalah ia merasa lega, karena Ryuzen kini telah muncul dan berdiri di hadapannya. Ryuzen pun langsung mengambil ancang-ancang duduk dihadapan sang istri, dan meraih kedua tangan Sara yang di belenggu oleh borgol.
"Kau tidak boleh takut, aku ada disini bersamamu."
Tidak seperti Ryu yang biasanya. Bagi Sara Ryuzen nampak berbeda, begitu rapuh pikirnya.
"Aku tidak pernah takut, karena aku yakin kau akan menolongku," kata Sara yang kemudian tersenyum mencoba meyakinkan suaminya jika dirinya baik-baik saja.
"Sayang, maaf ya kau sepertinya harus bersabar sebentar, tapi aku berjanji, tidak! Aku bersumpah aku akan mengeluarkanmu dari sini," tukas Ryuzen dengan nada lembut.
Dengan kondisi tangan masih terborgol Sara menyentuh kedua pipi suaminya itu dan tersenyum, "Aku percaya padamu suamiku!"
"Aku mencintaimu Sara," ucap Ryu yang kemudian mengcup kedua tangan Sara yang kini digenggamnya itu.
Kau pasti mendapatkan keadilan! Sekalipun jika aku harus menggantikan dirimu. Atau sekalipun aku harus melawan hukum negeri ini akan ku lakukan untukmu Sara.
~~
Rangkaian ucapara pemakaman sudah dilakukan, pemakaman pun juga sudah selesai dilaksanakan. Namun, area tempat pemakaman nyonya Ivy belum juga nampak sepi. Banyak orang-orang datang silih berganti memberikan persembahan bunga untuk nyonya Ivy. Baik dari kalangan pebisnis, sosialita, hingga kalangan biasa dan panti asuhan. Maklum saja itu terjadi mengingat nenek Ryuzen dikenal sebagai dermawan di Negeri ini sehingga banyak publik yang mencintainya.
Miya, Henri, Rony, bibi Rachel, Yoshiki, Jason dan beberapa kerabat Ryuzen pun turut hadir dalam pemakaman itu. Tidak terkecuali sang putra kesayangan Ivy Han, Jordan dengan kacamata hitam yang menutupi matanya yang sembab kini hanya bisa menatap pusara sang ibu. Baginya dosa dan penyeselan adalah hal yang memang pantas ia terima saat ini.
"Tuan Jordan!" Seru Jiro menghampiri Jordan.
"Jiro, apa yang harus aku lakukan untuk membantu putraku? Aku tidak ingin lari lagi, aku ingin menyelesaikan semuanya. Bagiku, kematian Laulin dan Ibuku adalah lebih dari sebuah hukuman atas kesalahanku dulu. Oleh sebab itu aku harus menebus dosa-dosaku dan menolong Ryuzen."
"Ya, aku mengerti Tuan," balas Jiro sambil menepuk pundak Jordan seolah tengah menguatkan segalanya.
~~
Setelah selesai mengurus pemakaman Miya dan kelurga inti dari keluarga Han pun kembali ke kediaman utama mereka. Saat memasuki ruangan utama sontak mereka semua dibuat kaget oleh sosok pria paruh baya yang dengan angkuhnya duduk di single sofa yang biasa di duduki oleh mendiang Yerumi Han. Pria itu menatap seolah menyambut kedatangan mereka dengan senyuman penuh kemenangan.
"Hai semua! Apa kabar?" ucap pria yang tidak lain adalah keponakan Ivy Han yaitu Biyan Dao. Entah sejak kapan Biyan Dao berada di kediaman tersebut. Dengan mata yang masih sembab, Miya dengan nada tinggi pun langsung meneggur Biyan, "Ada urusan apa kau datang kemari!"
Henri sebagai suami mencoba menenangkan Miya.
"Istriku, tenanglah dulu."
"Ada apa Paman datang kemari?" sambung Henri yang ikut mencoba menginterogasi Biyan.
Biyan Dao hanya tertawa mencibir, gestur tubuhnya pun justru semakin terlihat angkuh.
Senyum licik Biyan pun terurai ketika melihat apa yang dilakukan Rony pada dirinya, sontak hal itu memancing Biyan tergelak dan memusatkan pehatiannya pada Rony yang ada di hadapannya.
"Jadi, kau yang akan jadi pahlawan disini menggantikan pamanmu yang kini mungkin tengah kelimpungan mengurus istrinya yang kriminal itu?"
Mendengar Biyan mengatakan hal itu membuat Rony naik pitam, tak kuasa ia mengepalkan kedua tangannya dan membalas perkataan Biyan, "Kau tidak ada hak mengatakan apapun di rumah ini!"
Bukan membalas ucapan Rony dengan marah, Biyan justru malah tertawa.
"Rony sepertinya rasa bencimu terhadap Ryuzen belum memudar ya? Atau rasa cinta terlarangmu yang justru tidak bisa kau hilangkan?"
Miya dan juga Henri terlihat bingung dengan perkataan Biyan Dao.
"Apa maksudmu?" Tanya Miya heran.
"Ibu! Jangan kau pedulikan perkataan pria licik tua itu."
Rony mencoba untuk membuat sang ibu tidak semakin penasaran dengan ucapan Biyan, karena dirinya tidak ingin sang ibu yang kini tengah beduka semakin sedih, dikarenakan mengetahui jika diantara dirinya dan Ryuzen ternyata memiliki masalah cinta segitiga.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan Paman?" Tegas Henri yang sudah muak dengan segala celotehan Biyan Dao.
Biyan tergelak, dirinya berjalan mengitari Rony dan berkata, "Lucu sekali keluarga ini, benar-benar lucu."
"Jadi kalian berdua sebagai kakak dari Ryu dan orang tua dari Rony tidak tahu jika putra kalian ini...."
"Diam kau pria brengsek!" ujar Rony yang semakin naik pitam dan hampir tidak bisa mengendalikan emosinya.
Senyum licik kembali diperlihatkan oleh Biyan, bukan kesal dirinya justru semakin senang dan menikmati ketegangan yang tercipta saat ini.
"Oh, Rony apa kau merasa malu? Jadi kau takut ya, jika orang tuamu tahu yang sebenarnya, kalau dirimu itu ternyata sudah berani jatuh cinta dengan istri pamanmu sendiri, begitukah?" ucap Biyan lalu tertawa geli.
Henri dan Miya pun langsung terlihat bingung dengan maksud perkataan Biyan Dao barusan.
"Diam kau pria tua!" Rony langsung melayangkan tinjunya ke arah Biyan Dao sehingga berhasil membuat pelipis Biyan sedikit memar.
"Rony!" pekik Miya khawatir melihat sang putra begitu emosi.
Sambil memegangi pelipisnya Biyan Dao menatap tajam ke arah Rony, ia mengatupkan gerahamnya kuat-kuat. Bisa dibilang dirinya ingin sekali mengeluarkan pistolnya dan menghabisi Rony saat itu juga. Namun, ia mengurungkan niatnya dikarenakan tujuan utamanya datang ke kediaman keluarga Han bukanlah membunuh Rony, melainkan bertemu Ryuzen
"Bocah tengik! Kau beruntung tidak aku bunuh saat ini juga!"
"Paman lebih baik kau tinggalkan tempat ini sekarang!" suruh Henri.
"Cih! Kau mengusirku? Apa kau pikir kau adalah pemilik kediaman ini?".
"Kau!" Henri mulai kesal.
Biyan Dao bedecak, "Kalian tahu kan, setelah bibiku meninggal hari ini. Satu-satunya orang yang berwenang mengusirku dari sini hanyalah-"
"Aku minta kau pergi dari sini sekarang Tuan Biyan Dao!" Suara berat itu terdengar menggelegar dari arah pintu masuk utama. Suara yang hanya dimiliki satu-satunya orang yang bisa terdengar begitu mengerikan, dan pastinya sudah amat dikenal oleh semua yang ada di kediaman itu.
๐น๐น๐น
Terima kasih sudah mau setia membaca ceritaku ya, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading fellas and i hope you like it.