Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 42


Jason nampak tengah berjalan di area koridor, untuk menghampiri Sara dan Jordan yang di lihatnya saat itu.


"Jadi kalian sudah saling kenal kah?" ucap Jason pada Sara dan Jordan.


Sara yang tidak mengerti maksud ucapan Jason barusan, malah berjibaku melihat ke arah Jordan dengan tatapan heran. Pun begitu dengan Jordan yang masih berusaha mencerna maksud kalimat yang terlontar dari mulut dokter Jason. Melihat reaksi ayah serta istri Ryuzen seperti itu, dokter yang juga sahabat Ryuzen itu pun, mengajak sepasang menantu serta mertua itu untuk duduk sebentar guna menjelaskan semuanya.


Mereka bertiga akhirnya duduk di kursi, yang letaknya dekat dengan kamar dimana nenek Ivy sedang dirawat saat ini.


Setelah memberitahu semuanya, suasana diantara Sara dan Jordan seolah berubah. Sara yang tidak tahu harus bereaksi bagaimana hanya bisa terdiam membisu. Jordan sendiri malah terlihat memijat pelipis matanya untuk beberapa saat, sampai akhirnya ia sedikit tergelak lalu berkata, "Tidak kusangka dunia begitu sempit. Aku..., aku benar-benarbtidak menyangka sama sekali jika kau um.., jika kau adalah istrinya Ryuzen. Benar-benar sebuah skenario takdir yang tidak pernah kuduga sebelumnya."


Sara tersenyum tipis, seolah ada rasa canggung yang kini menggerayangi dirinya.


"Aku.... aku tidak tahu jika-"


Tiba-tiba Jordan Han memotong ucapan Sara.


"Nak, kau tidak perlu memaksakan dirimu. Aku tahu kau pasti tidak pernah menyangka hal ini sebelumnya bukan?"


Peluh mulai terasa di dahi Jordan, hal itu tentu aneh mengingat hampir seluruh ruangan di rumah sakit ini menggunakan pendingin ruangan. Bibir merah merekah Sara tiba-tiba membentuk senyuman kecil, ia menatap pria yang kini telah ia ketahui sebagai ayah mertuanya.


"Aku..., aku tidak memaksakan diriku, Ayah mertua," ucap Sara pelan.


Jordan yang nampak canggung itu pun, segerah mengangkat kepalanya dan menatap wanita cantik yang ternyata adalah menantunya sendiri.


"Kau barusan bilang apa?"Dengan tatapan sendu Jordan menatap menantunya tersebut.


Sara tersenyum kecil dan mengulangi kata-katanya, "Aku bilang, aku tidak memaksakan diriku Ayah mertua."


Tatapan sendu itu, seolah berubah menjadi tatapan haru. Bahkan bisa dibilang, kedua mata milik Jordan nampak berkaca-kaca. Jordan Han menyentuh kepala sang menantu dengan penuh kasih sayang, dan mengusapnya dengan lembut "Sejak pertama bertemu denganmu, aku sudah merasa kau adalah wanita yang sangat baik, sungguh betapa beruntungnya putraku memiliki istri sepertimu."


Sara membalas ucapan mertuanya itu dengan senyuman manisnya. Kemudian Sara tiba-tiba mengambil tangan Jordan yang menyentuh kepalanya, dengan kedua tangannya yang ukurannya lebih kecil dari tangan milik sang ayah mertua, dan menggenggamnya. Menatap sang ayah mertua dengan seksama dan berkata, "Kau sudah bertemu denganku, kalau begitu sekarang kita sama-sama melihat nenek Ivy ya?" Sara mengangguk mengisyaratkan tanda jika dirinya tengah menyakinkan mertuanya.


"Tapi, aku..."


"Tuan Jordan Han, aku rasa sudah saatnya kau bertemu langsung dengan nyonya Ivy," sahut Jason.


Ekspresi Jordan jelas masih diselimuti rasa ragu. Dirinya tentu ingin sekali melihat langsung dan mengatakan betapa dirinya rindu pada wanita yang telah melahirkannya tersebut. Tapi di sisi lain, rasa takut akan ditolak oleh sang ibu masih menghantui dirinya.


"Ayah mertua, aku yakin rasa takutmu akan kalah dengan besarnya rasa cinta dan rindu yang kau rasakan pada ibumu, " ungkap Sara.


Jordan pun bediri dari duduknya, menatap Jason dan Sara secara bergantian dengan sebuah harapan terpancar dimatanya.


~~


"Apa kau yakin rencana kali ini akan berhasil?" ujar Biyan Dao di percakapan teleponnya bersama seorang pria.


Tentu saja. Aku dan kau tahu persis bagaimana Ryuzen Han. Untuk mengancurkan orang seperti keponakanmu itu, kita butuh mencari kelemahan terbesarnya baru kita bisa benar-benar menghancurkannya.


Suara pria dari balik ponsel itu nampak emosional.


"Ya aku tau itu, kau tunggu saja hasilnya nanti." Biyan Dao mematikan ponselnya, senyum licik jelas terukir di bibirnya saat ini.


~~


Nenek Ivy akhirnya bangun dari tidurnya. Dokter Jason kini tengah melakukan medical check-up pada nenek Ivy.


"Baiklah sudah selesai, perkembangan anda semakin baik nyonya, kalau seperti ini kemungkinan lusa kau sudah bisa kembali pulang dan melakukan beraktivitas kecil di rumah," jelas dokter Jason.


"Ah, benar-benar berita yang sangat terdengar menyenangkan dokter Jason. Kau tau, betapa nenek tua ini tersiksa sekali berada disini, dan tak melakukan apapun?"


Jason tersenyum, "Ya, aku tau itu nyonya oleh sebab itu kau harus selalu bahagia."


"Tentu saja aku akan bahagia jika cucu-cucuku dan cicitku yang menggemaskan itu ada disini bersamaku, tapi itu tidak mungkin. Aku tidak ingin menjadi nenek-nenek manja yang menyusahkan mereka. Kau tau Jason, aku jadi semakin tidak sabar bisa kembali pulang dan bertemu, cucu serta cicitku, " pungkas nenek Ivy.


Nenek Ivy mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?"


"Tidak, hanya saja.... Sebagai dokter yang menangani anda. Aku rasa ada hal lain yang bisa membuatmu senang saat ini."


"Jason, aku tidak paham maksudmu. Kau ini jangan buat nenek tua sepertiku jadi berpikir keras!" balas nenek Ivy.


"Nyonya Ivy...."


"Hmm?" Menoleh ke arah Jason.


"Sebenarnya, ada seseorang yang ingin sekali datang untuk menemuimu."


"Siapa?" tanya nenek Ivy penasaran.


"Kau akan segera mengetahuinya."


Tiba-tiba pintu ruangan vip tempat dimana nenek Ivy itu pun tebuka. Sosok wanita cantik yang tidak lain adalah Sara, masuk dengan membawa buket bunga aster kesayangan Ivya Han ditangannya.


"Nenek!" Diikuti senyum cerinyanya, Sara pun segera menghampiri nenek Ivy yang kini sedang duduk berselonjor, diatas tempat tidurnya.


"Sayang, kau datang kemari?" ucap nenek Ivy dengan nada bahagia dan rona wajah yang telihat lebih segar dari sebelumnya.


Sara menyerahkan buket bunga aster yang dibawanya itu kepada Ivy Han. Sekejap nenek Ivy langsung terdiam, sambil memandangi buket bunga tersebut, seolah teringat akan sesuatu di pikirannya.


"Nenek?" kata Sara


"Ya," balas nenek Ivy yang kembali sadar dari lamunannya


"Nenek suka bunganya?"


"Tentu saja sayang, ini indah sekali!" Nenek Ivy menghidu aroma bunga-bunga yang terangkai indah dihadapannya itu.


"Apa kau sengaja membuatkan buket ini khusus untukku?"


Sara menggeleng pelan, "Bunga ini bukan dariku nek."


"Benarkah? Lalu dari siapa buket bunga ini?" Ivy Han terlihat semakin dibuat bingung dengan perkataan Sara.


"Dari seseorang yang amat sangat merindukanmu," balas Sara yang kemudian menoleh ke arah pintu ruangan. Jason yang juga ada disana pun ikut menoleh ke arah pintu yang kini perlahan dibuka dari luar. Sosok pria itu pun akhirnya memasuki ruangan tempat Ivy Han dirawat saat ini. Perlahan Jordan melangkahkan kakinya ke arah dimana sang ibu yang kini diam seribu bahasa. Ivy hanya bisa menatap seolah tak berkedip, mendapati kehadiran putranya yang telah lama sekali tidak pernah dilihatnya.


Tak terasa air mata pun jatuh membasahi pipi wanita itu. Usapan tangan sang putra dengan lembut menyeka air mata yang jatuh di pipi sang ibu.


"Ibu...," ucap jordan dengan lirih. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Pu-putraku, Jordan." Getar suara yang terucal dari bibir Ivy jelas terasa, kala menyebut nama putranya itu.


Jordan berlutut saat itu juga, air matanya sudah tak terbendung lagi. Pria paruh baya itu menangis dihadapan Ibunya, "Maafkan anakmu yang hina ini Ibu..., Aku tak masalah jika kau tak lagi mau mengakuiku sebagai putramu. Tapi izinkan aku meminta maaf padamu."


"Jordan..., putraku sayang." Ivy Han langsung memeluk putranya yang tengah berlutut sambil menangis penuh penyesalan itu.


Sara dan Jason pun ikut larut dalam suasana yang mengharu biru.


Andai Ryu ada disini....


Sara tak kuasa menahan rasa harunya, hingga tanpa sadar air matanya pun menetes. Langsung saja dirinya menyeka air mata yang jatuh di pipi meronanya itu.


Seringkali kita tidak pernah membayangkan, bagaimana dan kemana takdir akan membawa kita. Bahkan pada kenyataan yang seolah terlihat mustahil sekalipun.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน