
Di perjalanan menuju pulang setelah mengantar, kakek dan nenek tadi ke tempat anak mereka. Raut wajah Ryuzen masih saja menampakan rasa kekesalan. Hal itu bisa dibilang wajar bagi Ryu, mengingat dirinya tadi harus dibuat repot, karena harus berputar-putar mengelilingi kota demi mengantarkan kakek dan nenek tadi ke tempat anak mereka. Sara yang melihat mood suaminya tidak bagus itu pun jadi sedikit merasa bersalah. Karena, bagaimanapun dirinya yang telah membuat Ryu jadi harus berputar-putar sampai sesore ini.
"Um... Ryu..." ujar Sara merasa bertanggung jawab dengan perubahan mood sang suami. Sayangnya Ryuzen tidak menjawab apa-apa, ia malah terus saja fokus menyetir mobilnya.
"Ryu, maafkan aku ya sayang," ucap Sara. Lagi-lagi Ryuzen tetap saja diam. Sara pun menoleh ke arah Ryu yang tengah sibuk menyetir, dan memandanginya. "Kau benar-benar tidak mau menghiraukanku sama sekali?" Sara terus membujuk Ryuzen, berharap suaminya itu tidak lagi kesal dan mengabaikan dirinya. Hingga pada akhirnya Ryuzen pun menyerah, karena ia tidak tahan jika harus berlama-lama mengabaikan Sara. Segera, Ryuzen pun langsung menepikan mobilnya. Ryu menoleh ke arah Sara, dan tanpa berkata apapun, tiba-tiba Ryuzen melepaskan sabuk pengaman Sara. "Ryu ke- kenapa kau melepas sa-buk eh... Ryu...!" Ryuzen langsung menarik sang istri duduk diatas pangkuannya. Kini mereka saling beradu pandang tanpa berkata-kata.
"Aku kesal padamu," tukas Ryuzen tiba-tiba.
"Aku sudah tahu," balas Sara.
"Lalu?"
Sara langsung mencium bibir suaminya sebagai tanda permintaan maaf. "Itu ciuman permintaan maaf dariku," tukasnya lalu tersenyum.
Ryu menampakan senyum miringnya. "Sepertinya kau sudah tahu cara meminta maaf padaku dengan benar ya...?"
Sara kembali meberikan Ryuzen sebuah kecupan, namun kali ini di kening suaminya. Sontak Ryu pun bingung dibuatnya. "Kali ini untuk apa?"
"Kalau yang barusan adalah ciuman tanda terima kasihku, karena hari ini suamiku yang paling tampan dan hebat, sudah mau berbaik hati dan repot-repot menolong sepasang orang tua yang tengah tersesat."
"Oh jadi hanya itu tanda terima kasihnya?" Ryuzen melirikan matanya pada Sara.
Sara memberikan pandangan curiga. "Memang kau mau tanda terima kasih yang seperti apa?"
"Bagaimana kalau kita melakukan..." Ryuzen membisikan sesuatu pada sang istri. Sontak, wajah Sara langsung berubah menjadi merah padam dibuatnya. "Kau gila Ryuzen!"
"Memangnya kenapa? Kita kan belum pernah melakukan hal itu di dalam mobil. Tenang saja aku ini pengalaman kok!" Ryu menggoda Sara dan merayunya.
"No! Aku tidak mau! Kau ini sudah gila sana menjauh saja!" Sara terus mencoba menghalau Ryuzen yang terus menerus mendekatkan tubuhnya.
"Ayolah... sayang." Ryuzen terus saja menggoda sang istri, hingga Sara pun kesal dibuatnya. Akhirnya Sara memutuskan melakukan satu hal sebagai gantinya. Sara menawarkan diri untuk bergatian menyetir mobil yang merekan tumpangi, dengan begitu Ryuzen bisa istirahat. Ryuzen sebenarnya tidak ingin membiarkan Sara menyetir dalam keadaan hamil, tapi mengingat perjalanan menuju kediaman mereka sudah cukup dekat. Akhirnya Ryuzen pun setuju untuk bertukar tempat duduk dengan sang istri.
~~
"Baiklah tuan muda, hari ini aku yang akan menjadi sopir pribadi anda." Ujar Sara yang kini sudah duduk sambil memegang setir dan siap untuk mengemudi. "Kau sudah siap berangakat tuan muda Han?"
"Kapapun aku siap nona sopir yang cantik," balas Ryuzen yang sudah memasang sabuk pengaman.
Dan dengan percaya dirinya, Sara pun menyalakan mesin mobil, lalu mulailah ia mengemudikan mobil tersebut. Ryuzen yang tampak berada disebelah Sara terlihat duduk bersantai, sambil memperhatikan sang istri yang kini tengah menyetir dengan cukup tenang. "Aku tidak menyangka kalau, kau bisa mengemudikan mobil dengan cukup baik," puji Ryu pada sang istri.
Sara pun tersenyum bangga. "Asal kau tahu saja ya, aku ini sudah pandai menyetir mobil sejak masih berusia lima belas tahun."
"Wow, tidak kukira kau mahir juga ya ternyata... aku baru tau. Aku pikir kau tak pandai mengemudikan mobil."
"Itukan karena kau tidak pernah memberiku kesempatan menyetir mobil sendiri."
Ryuzen lalu menghela napas. "Baiklah kalau begitu, setelah kau melahirkan nanti, aku akan izinkan kau untuk menyetir mobil sendiri."
"Benarkah?" Ucap Sara dengan tampang kegirangan.
"Tentu saja, tapi... hanya untuk jarak perjalanan kurang dari dua puluh lima kilo meter!"
Sara menimbang-nimbang."Hem, baiklah... daripada tidak sama sekali."
Ryuzen tersenyum. "Good!"
"Terima kasih sayang...!" Ucap Sara dengan begitu gembira.
Sambil tersenyum Ryu melihat wajah kegirangan Sara saat ini. Tersenyumlah selalu Sara... aku akan lakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Dan sebentar lagi, dunia akan tahu kalau kau dan aku saling mencintai. Aku pastikan tidak akan ada rumor lagi diantara kita.
~~
"Ya, aku memintamu kemari adalah... karena aku agar kau segera menyiapkan acara konferensi pers di hotel gloria, dan aku mau konferensi pers itu disiarkan secara nasional besok sore. Dan satu lagi, aku ingin kau undang seluruh perwakilan wartawan dari media besar maupun kecil."
Kenzo pun bingung dengan perintah bosnya yang tiba-tiba menyuruhnya menyiapkan konferensi pers besar-besaran. "Tu- tunggu tuan, kenapa ini mendadak sekali? Ada apa sebenarnya?"
"Aku hanya mau, agar semua rumor tentangku dan Sara di masa lalu yang beredar, tidak semakin melebar kemana-mana. Dan jalan satu-satunya adalah dengan mengadakan konferensi pers besar-besaran. Supaya semuanya jelas! Itu sebabnya, aku ingin konfersensi pers ini dilaksanakan secepat mungkin. Karena, aku tidak ingin ada orang lain yang semakin senang melihatku terpuruk!"
Kenzo mengerutkan keningnya, "Ma- maksudmu siapa tuan?"
"Siapa lagi, kalau bukan buronan paling dicari negara ini?"
Kenzo langsung melebarkan matanya. "Maksudmu Biyan Dao?"
"Ya... jelas sekali. Karena tujuan Biyan sejak awal memanglah demi melihatku hancur! Karena tidak ada lagi yang menyenangkan Biyan, selain melihat kehancuran dan keterpurukanku. Oleh karena itu... aku tidak boleh kalah darinya..." Mata Ryuzen menyorotkan emosi yang semakin tak terbendung.
"Jadi begitu alasannya? Baiklah tuan , aku akan siapkan segalanya. Besok sore kau dan nona hanya perlu bersiap saja melakukan konferensi pers."
"Bagus!"
~~
Malam harinya sebelum tidur, Sara dan Ryuzen menyempatkan diri untuk mengobrol sebentar. Sara yang kepalanya kini berada diatas lengan Ryuzen tiba bertanya, "Ryu... apa kau yakin, konferensi persnya besok sore?"
Ryuzen mencubit hidung Sara. "Tentu saja, karena semakin cepat akan semakin baik bukan?"
"Iya memang, tapi... aku sepertinya belum siap. Pasti aku akan sangat gugup bicara di depan banyak awak media."
Ryuzen menggenggam tangan Sara lalu menciumnya. "Kau tenang saja, ada aku disampingmu. Tugasmu hanya mengikutiku saja, dan jika ada wartawan yang bertanya padamu baru kau jawab saja sebisa dan serileks mungkin. Tapi... jika besok kau tetap merasa gugup maka kau diam saja, biar aku yang biacara. Okey?"
Sara mengangguk pelan, tanda paham. "Oh iya Ryu, soal pamanmu..., apa dia akan terus mengganggu kita?" Sara terlihat khawatir.
"Kau tenang saja, konferensi pers besok, aku pastikan itu sebagai tanda saatnya dia harus menyerah."
"Tapi.... Ryuze-"
Ssttt... Ryu langsung mengecup bibir Sara dengan singkat. "Jangan terlalu memikirkan hal itu, karena tidak akan kubiarkan siapapun berani menyakitimu dan keluarga kita. Sekarang... lebih baik kau pejamkan matamu dan istirahatlah!"
Sara pun menurut dan langsung memejamkan matanya. Ryuzen yang salah satu lengannya dijadikan bantal oleh Sara pun langsung memeluknya dengan tangan yang lain. Besok adalah jawaban atas peperangan yang sesungguhnya Biyan!
~~
Dan hari itu pun tiba. Tinggal sekitar tiga puluh menit lagi konferensi pers yang akan disiarkan secara besar-besaran itu dimulai. Sara yang sejak tadi duduk menunggu di dalam ruangan pun merasa begitu gugup sejak tadi. Hal itu terlihat jelas pada Sara, sejak tadi dirinya terus saja menarik dan mencengkeram pakaiannya. Sara memejamkan matanya, lalu menarik napas dan menghelanya, seolah berusaha menenangkan pikirannya agar tidak terlalu gugup.
Tiba-tiba Ryuzen pun datang menghampirinya, lalu merangkul pundak sang istri dari belakang. "Apa kau gugup sayang?" Sara pun membuka matanya. "Ryu... aku takut akan membuat kesalahan. Seumur hidup, jujur saja aku belum pernah berbicara di depan awak media seperti ini."
Ryuzen tiba-tiba berlutut dihadapan Sara yang tengah duduk dan merasa cemas. Ia memegangi kepala Sara dan menatapnya dalam-dalam. "Kau tidak perlu gugup Sara. Ingat saja satu hal, bahwa aku akan selalu ada bersamamu. Ya?"
Sara tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih Ryu, karena selalu ada untuk menenangkanku...."
"Anytime honey," Ryuzen mengedipkan singkat sebelah matanya pada Sara.
πΉπΉπΉ
Halo my beloved readers... sekali lagi terima kasih karena masih setia sama novel ini. Jangan lupa LIKE COMMENT & VOTEnya... γγγγ¨γπ
Love -C