Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 157


Setelah selesai mandi. Sara terlihat masih mengenakan bathrobe, dan duduk berselojor diatas sofa sambil memeriksa ponselnya. Tiba-tiba Ryu datang dengan kotak obat dan berjongkok di hadapan kakinya. "Eh? Ryu, kau... mau apa?"


"Mengganti perban dikakimu!"


Sara pun langsung dibuat terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa? Seorang Ryuzen Han yang terkenal arogan dan angkuh kini rela berjongkok hanya untuk membalut luka dikaki istrinya. Jujur saja, melihat Ryu begitu, Sara jadi canggung dan merasa aneh dibuatnya, "Um... Ryu kau tidak perlu melakukan hal itu, biar aku saja nanti yangー"


Ryu melirik ke Sara, seolah mengisyaratkan agar istrinya itu tak banyak bicara lagi. "Oh... okey." Sara pun akhirnya menurut dibuatnya.


"Kemarikan kakimu!" Sara pun membiarkan kakinya yang terluka dipegang Ryu. Dengan cekatan dan hati-hati, Ryuzen mengoleskan obat dan mengganti perban pada kaki Sara yang terluka. Sungguh! Wanita mana yang tidak melambung tinggi dibuatnya, melihat bagaimana pria ini memegang kaki sang istri, layaknya memegang porselen seharga ratusan juta dollar yang sangat berharga. Melihatnya apa yang dilakukan Ryu, Sara dibuat tersanjung, sekaligus juga agak malu.


"Sudah...!" Ucap Ryu yang telah selesai membalut kaki Sara dengan begitu rapi. "Ryu... " Sara tersenyum dibuatnya saat ini. Namun yang membuat Sara kemabali terkesiap malu sekaligus melayang dibuatnya adalah... saat Ryu mengangkat satu kakinya yang diperban pelan-pelan lalu menciumnya. Seketika dewi bantin wanita ini seolah tengah melanglang ke taman surga. "Ryuzen kenapa kau...?" Ujar Sara yang tidak menyaka seberharga itukah dirinya di mata suaminya. "Ryu, kenapa? Kau itu pria hebat, bagaiamana bisa kauー"


"Kau adalah segalanya bagiku Sara, seluruh yang ada padamu adalah berharga. Termasuk kakimu yang indah ini, sayangnya harus terluka."


"Ta- tapi... kau tak perlu sampai..."


"Kau ratu bagiku! Jadi aku harus selalu membuatmu spesial."


Sara hanya bisa tersenyum tak tahu lagi ingin berkata apa, "Aku sangat mencintai suamiku...!"


"Ryu coba kemari sebentar!" Sara meminta Ryu mendekatkan diri ke arahnya. "Ada apa?" Sara tiba-tiba memberikan kecupan mesra dibibir suaminya. "Itu hadiah untuk suami terbaik di dunia ini."


"Begitu ya?" Ryu tersenyum miring tiba-tiba.


"Kalau begitu minta hadiahnya lebih lama lagi boleh tidak?"


"Tidak boleh!"


"Kenapa apa kau mau aku mencium kakimu lagi!"


"Bu- bukan begitu! Sebenarnya...."


Tiba-tiba suara aneh terngar di perut Sara.


Ryuzen menghela napas, "Jadi kau dan calon anakku lapar?"


Sara mengangguk. "Tapi aku ingin makan di kamar saja, dan kau yang harus bawakan!"


"Baiklah aku akan membawakan sarapan untuk wahai istriku..."


"Terima kasih.... suamiku..." Sara terkekeh kecil, lalu menghela napas saat Ryu sudah pergi keluar kamar. Huft... Ryu sudah begitu luar biasa memperlakukanku, bahkan mungkin lebih dari yang aku tahu. Tapi karena aku yang tak menurut padanya... semua jadi kacau! Maaf ya sayang...


~~


Ryuzen yang masih menggunakan pakaian kasual terlihat menuruni anak tangga. Ia pun kemudian berjalan menuju ke ruangan utama, dan meminta semua pelayannya agar menghadapnya saat itu juga. Sontak para pelayan pun ketar-ketir bukan kepalang dibuatnya.


Setelah semua berkumpul, tanpa basa-basi Ryuzen pun langsung menegur para pelayannya itu. Terutama sopir dan bibi Rachel. Ia meminta agar para pelayannya lebih mematuhi apa yang sudah ia perintahkan. Sebenarnya... Ryuzen ingin memecat sopir yang mengantar Sara, namun aku tidak bisa, karena aku sudah terlanjur janji pada Sara kalau dirinya tidak akan memecat siapapun. "Baiklah... itu saja yang ingin aku katakan! Tapi kalian ingat, sekali lagi kalian buat kesalahan fatal lagi. Maka aku tidak akan berbaik hati sama sekali. Paham?!"


"Paham Tuan muda..," sahut para pelayan itu.


"Sekarang kalian kembali bekerja, dan... bibi Rachel!"


Bibi Rachel menghadap. "Iya tuan ada yang bisa aku bantu?" Bibi Rachel terlihat sudah kembali bersikap profesional seperti biasa.


"Aku mau kau buatkan seporsi sandwich tuna untukku, dan juga sarapan untuk istriku. Untuk Sara, siapkan dengan porsi pas dan nutrisi yang cukup. Setelah matang, kau beritahu aku."


"Baik tuan, kalau begitu aku permisi dulu untuk menyiapkan sarapan untuk anda dan nona."


~~


Di waktu yang sama, Kenzo ternyata sedang mengunjugi Rina. Asisten Ryuzen itu ternyata memang bermaksud untuk menikmati sarapan di apartemen pacarnya itu. Sudah siap untuk sarapan, tiba-tiba Kenzo malah mendapati ponselnya yang sudah berdering pagi-pagi begini.


"Siapa yang telepon?" Tanya Rina yang baru saja selesai memanggang Roti untuk Sarapan dirinya dan Kenzo.


"Oh, ini dari tuan tuan muda. Aku angkat teleponnya dulu ya..." Ujar Kenzo pada Rina, kemudian permisi ke luar untuk menerima telepon.


~~


"Halo, ada apa tuan? Kenapa pagi-pagi sudah. meneleponku?


....


"Oh tidak, bukan-bukan.. bukan begitu maksudku tuan. Aku tidak masalah kok, kalau kau meneleponku kapan saja." Huh! Hampir saja aku membuatnya marah. "Jadi ada apa tuan meneleponku?"


Dengan seksama Kenzo pun mendengarkan instruksi Ryuzen lewat ponselnya.


"Oke, nanti setelah sarapan aku akan mencari dimana orang itu segera!"


...


"Tentu tuan, aku paham!" Kenzo selasai menerima panggilan dan mematikan ponselnya. Ia pun kembali masuk ke apartemen Rina, untuk melanjutkan sarapannya dengan sang kekasih.


~~


"Kenapa? Apa kau dimarahi tuan Han lagi?" Tanya Rina yang sudah duduk dikursi dan siap untuk menyantap Sarapan.


Kenzo menarik kursi, lalu ikut duduk di depan meja makan untuk menikmati sarapan yang sudah siap diatas meja. " Oh Tidak kok! Hanya saja tadi tuan muda memintaku untuk..." Kenzo akhirnya meceritakan soal kejadian yang menimpa Sara kemarin.


Melihat sang kekasih bersedih begitu, Kenzo jadi tidak tega dibuatnya. Ia pun langsung mencoba untuk meyakinkan Rina jika semua yang terjadi pada Sara bukanlah salahnya. "Hei Rina... ayolah jangan menundukan wajahmu begitu...!"


"Tapi Kenzo... seandainya aku tidakー" tiba-tiba Kenzo meraih tangan Rina lalu menggengamnya dengan pasti. "Rina, kau lihat aku!" Rina pun mengangkat kepalanya, dan menatap ke arah Kenzo yang berada dihadapannya saat ini. Kenzo mengulum senyuman lembut pada Rina lalu berkata, "Ini semua bukan salahmu... jadi aku minta, tolong jangan pernah kau salahkan dirimu, okey...?"


Sungguh ajaib! Kata-kata Kenzo barusan, seolah seperti mantra bagi Rina. Entah kenapa, setelah mendengar ucapan Kenzo itu, dirinya jadi merasa lebih tenang, ditambah genggaman tangan Kenzo membuat Rina semakin lebih baik. "Iya Ken, kau benar! Maafkan aku ya..." Ucap Rina tersenyum kecil, dan terlihat sudah lebih baik.


"Nah... begitu, itu baru namanya pacarku!" Ujar Kenzo yang masih terdengar kaku mengatakannya. Alhasil, Rina pun jadi tersenyum malu dibuatnya.


~~


Selesai menghabiskan sarapan mereka. Ryuzen membawa Sara untuk turun ke ruang utama, ternyata dirinya tadi sudah memanggil dokter Jason untuk datang ke rumah, guna memeriksa keadaan Sara.


"Padahal, kau tidak perlu sampai panggil Jason segala. Palingan lukaku, dua hari juga sudah akan baik-baik saja...," ucap Sara yang kini berada di gendongan Ryu menuju ke ruang utama, menemui Jason yang sudah menunggu mereka disana.


"Sudah jangan banyak bicara, aku tidak mau melihat kau yang bodoh ini, jadi sulit berjalan karena luka ini dibiarkan sembuh sendiri menurutmu."


"Tapi...."


Ryuzen menatap Sara, "Nyonya Han, kau masih berani keras kepala, dan tidak menurut padakukah setelah semua kejadian ini?"


Sara sadar akan kesalahannya yang sering tidak menurut pada Ryuzen. Akhirnya Sara pun memilih berhenti bicara dan menuruti apa yang diinginkan Ryu saat ini.


"Good job! Itu baru istriku yang penurut," puji Ryu melihat Sara yang tampak langsung menurut padanya.


~~


Setibanya diruang utama, Ryuzen langsung meletakan Sara pelan-pelan diatas sofa.


Melihat sepasang suami istri itu, Jason pun hanya bisa gigit jari sambil pura-pura tidak tahu dibuatnya. Tentu saja hal itu tak pelak memicu Ryuzen, untuk langsung membully sahabatnya tersebut.


"Ehem! Dokter Jason tolong jangan memalingkan wajah begitu, aku dan istriku memang pasangan serasi tapi kau tidak usah samapi begitu bisakan dokter? Seolah terlihat sekali rasa irimu pada kami."


Pria ini.... selalu saja ada celah untuk meledekku! Dasar Ryuzen licik! "Ah, aku hanyaー"


"Sudahlah dokter, nanti saja bicaranya sekarang kau periksa saja dulu istriku ini."


"Ryuzen kau! Huft... sudahlah." Jason akhirnya hanya bisa menghela napas. Dirinya sadar jika ia kemari memang untuk memeriksa Sara. Dokter Jason pun mulai mengeluarkan alat-alatnya dan memeriksa keadaan Sara.


~~


Di tempat lain, Jesper dan Gina terlihat sedang menikmati sarapan mereka di sebuah kafe dekat kantor Gina. Dirinya memang sengaja mengajak Jesper untuk sarapan bersama hari ini, sekaligus ada hal yang ingin ia tanyakan pada Jesper. "Jadi menurutmu... Renji adalah bagian dari rencana penculikan Sara, begitu?" Tanya Gadis berambut sebahu, yang kemudian memasukan sebuah roti isi ke mulutnya tersebut.


"Sebenarnya aku tidak yakin sih...! Tapi aku hanya merasa, apa yang ia lakukan pada Sara itu tidak tulus, melainkan ada hal yang entah apa itu sedang ia rencanakan."


"Begitu ya?" Gina mencoba menelaah baik-baik perkataan Jesper. Gina merenungi apa yang dikatakan oleh temannya itu, sampai-sampai ia malah jadi bengong dan tidak jadi makan.


Tidak enak karena dirinya, Jesper pun dengan sengaja langsung menyuapi Gina dengan sepotong sandwich buah... "Umm.. Yessm mmemm... umm." Saking penuh mulut Gina, otomatis membuat mulut Ginajadi tidak bisa bicara. Alhasil... bukan kasihan, Jesper malah tertawa dibuatnya melihat hal itu. Gina yang sebal pun hanya bisa terus mengunya sandwich itu sampai habis, Jesper, kau ini selalu manis pada wanita lain, tapi kenapa kalau terhadapku kau selalu saja konyol begini?




Setelah selesai melakukan *medical check up* pada Sara, Jason pun menjelaskan kondisi Sara. "Semua baik-baik saja, calon anak kalian juga sehat. Untuk luka di kakimu Sara, aku rasa sekitar dua hingga tiga hari sudah akan bisa berjalan biasa lagi, yang jelas jaga makanmu jangan sampai kurang asupan okey?"



"Baik dokter Jason," sahut Sara paham, lalu tersenyum



"Baiklah...." Karena sudah selesai melaksanakan segala tugasnya, Jason pun izin pamit pada Sara dan Ryu untuk kembali ke rumah sakit. Ryuzen pun mengantar Jason keluar. Hal yang jarang ia lakukan, tapi karena ada hal yang ingin dibicarakannya dengan Jason, Ryu pun melakukannya.



~~



"Tumben sekali, kau mau repot-repot mengantarku keluar, ada apa memang?" ucap Jason aneh dengan sikap Ryu yang tidak biasanya ini. Ryu ternyata ingin memberitahukan pada Jason, soal dirinya yang akan membuat perhitungan dengan Orizel yang telah menculik Sara. Sekaligus memberitahukan jika Renjilah yang telah menolong Sara waktu itu.



"Jadi hutang budimu pada Renji bertambah ya Ryu?" Jason paham betul, jika sahabatnya ini sangat benci jika harus behutang budi pada orang lain, apalagi orang ini adalah rival cintanya sendiri.



"Ya... mau bagaimana lagi!" Ryuzen kali ini hanya bisa pasrah akan kenyataan yang memang begitu adanya. *Aku hanya berharap Renji tidak sedang merencanaka sesuatu, dengan memanfaatkan situasi saat ini*.



🌹🌹🌹



Jangan lupa untuk selalu tinggalkan **KOMENTAR, LIKE, dan VOTE! ありがとうございます🙏**