
Sara dan Gina kini terlihat sedang asyik berjalan-jalan di mall. "Wah... sepertinya sudah lama sekali ya kita tidak pergi berdua begini?" Ungkap Gina yang memang sudah jarang pergi jalan-jalan santai ke mall seperti ini.
"Iya kau benar Gina. Jadi rindu masa-masa awal aku tinggal di kota ini," balas Sara senyam senyum mengingat masa lalunya saat masih baru-baru tinggal di kota ini.
"Eh iya benar juga, kau ingat tidak pertama kali kita bertemu, kita pertama kali bertemu di mall ini bukan?" Tanya Gina seperti tengah mengetes ingatan Sara.
Sara terkekeh, "Tentu saja aku ingat, hari dimana aku dan kau pertama kali bertemu. Disana kan?" Sara menunjuk ke sebuah toko buku yang letaknya, tidak jauh dari tempat mereka berdua berdiri saat ini.
"Ternyata kau masih ingat ya? Aku pun sama, aku masing ingat jelas pertama kali kita bertemu," balas Gina.
Sara mengingat kejadian saat itu "Tapi aku masih sangat ingat kejadian memorable itu, karena waktu itu...."
Flashback on
Hari itu Sara pergi salah satu pusat perbelanjaan. Sara berniat membelikan sebuah buku cerita untuk Arvin, agar dirinya bisa membacakan cerita dongeng untuk putranya itu sebelum tidur. Setelah mendapatkan buku cerita yang diinginkannya, ia pun segera mengantri untuk membayar buku cerita yang hendak dibelinya tersebut. Tapi sayangnya, saat Sara hendak ingin membayar buku itu, Sara baru sadar ternyata dirinya lupa membawa dompet. Ya Tuhan! Bagaimana ini? Aku lupa membawa dompetku. Sara pun keluar dari antrean pembayaran, ia bermaksud untuk mengembalikan buku tersebut, lalu pulang untuk mengambil dompet.
Tapi sialnya, saat ia ingin mengembalikan buku tersebut ke rak, malah terjadi insiden yang membuatnya dituduh sebagai pencuri. Saat Sara sedang berjalan untuk mengembalikan buku, secara tidak sengaja Sara terdorong oleh seseorang hingga keluar batas keluar toko. Yang mana di tangan Sara masih membawa buku yang belum dibayarnya itu. Alhasil alaram pendeteksi itu berbunyi keras, dan semua pengunjung toko spontan langsung menatap ke arahnya. Mereka langsung bersama-sama memandang sinis dan marah pada Sara.
Eh kenapa mereka semua menatapku begitu? Oh tidak, aku masih memegang buku yang belum dibayar ini. Pasti mereka kira aku ini adalah pencuri.
"Kau itu mau mencuri ya?" Tuduh salah seorang pengunjung toko.
"Wah cantik-cantik tapi kerjanya mencuri, menyedihkan!" Sahut pengunjung lain.
"Ma- maaf semuanya, ta- tapi kalian salah paham. Aku tidak mau mencuri buku ini!" Sara mencoba membela diri, meski dirinya tau apa yang ia lakukan percuma saja. Orang-orang yang sedang marah itu pasti tidak mau mendengarkan alasan darinya.
"Heh! Mana ada pencuri yang mau mengaku kalau dia mencuri!"
"Iya benar! Jangan karena dia cantik dan wajahnya polos kita bisa ditipu olehnya!"
Sara makin terpojok dirinya bingung harus bagaimana lagi membela dirinya. "Semuanya, kalian salah paham padaku. Aku kemari bukan untuk mencuri, tapi aku kemari karena ingin membelikan buku cerita untuk anakku di rumah."
"Wah wah! Sudah ketahuan mencuri, malah berbohong lagi. Mana mungkin gadis seusiamu punya anak?"
"Tapi aku bicara jujur! Kalian harus percaya padaku! Aku tidak berbohong. Buku ini baru aku mau bayar tapi aku lupa membawa dompet, makanya aku mau kembalikan. Tapi malah..."
"Omong kosong! Sudah bawa saja gadis pencuri itu ke kantor polisi!" Kata salah seorang pengunjunglain dengan nada memprovokasi. Sara tidak tahu lagi harus apa, ia pun bingung harus kabur bagaimana, mengingat dirinya kini seperti dikepung oleh mereka semua. Aku tidak mau ditangkap! Aku tidak bersalah! Kenapa orang-orang ini tidak percaya padaku?
Saat banyak yang mencoba menghakimi Sara, muncul seorang wanita yang seusia dengan Sara bersama petugas keamanan. Sara mengira wanita itu sengaja datang bersama petugas keamanan untuk membawanya ke kantor polisi, tapi seketika pemikiran Sara berubah saat wanita itu buka suara. "Hei kalian! Apa kalian itu tidak malu, menuduh orang lain pencuri tanpa bukti konkrit?" Ujar wanita itu dengan lantangnya. "Lagipula, kalaupun memang iya dia pencuri, apa kalian berhak menghakiminya seperti ini?"
Dia membelaku? Sara melihat ke arah wanita muda yang kini tengah membelanya itu.
"Begini saja, kalau kalian ingin membawanya ke kantor polisi, maka berikan aku bukti yang akurat jika di memang pencuri. Jika bukti kalian terbukti bahwa nona ini pencuri, maka aku sendiri yang akan menyeretnya ke kantor polisi. Bagaimana?" Tantang wanita itu. Para pengunjung itu jadi saling berdebat, beberapa dari mereka ada yang sadar, ada pula yang tetap menuduh.
"Jadi bagaimana? Siapa diantara kalian yang bisa. membuktikan jika gadis ini adalah pencuri!"
Merasa tidak punya bukti konkrit, mereka pun akhirnya menyerah dan pergi dengan sendirinya.
Mereka pergi? Kata Sara melihat para gerombolan pengunjung itu berangsur-angsur pergi.
"Kau tidak apa-apa kan?" Kata wanita itu pada Sara yang masih terduduk lemas.
"Um, ya aku baik-baik saja. Terima kasih banyak ya, sudah mau menolongku." Sara benar-benar sangat berterima kasih. "Ya, sama-sama."
"Oh iya, namaku Sara Chen! Dan kau?"
"Aku Gina Qin."
"Senang bertemu denganmu," ungkap mereka berdua bersamaan saling menjabat tangan. Dan mulai saat itu, mereka berdua jadi sepasang sahabat.
Flashback off
Sara dan Gina tertawa kecil mengingat kejadian saat itu.
"Tapi Gina, kalau dipikir-pikir caramu membelaku saat itu, benar-benar keren! Seperti seorang pengacara. Hem, Tidak heran sih, kalau sekarang kau jadi pengacara hebat. Ternyata jiwa pengacaramu itu sudah mucul sejak dulu ya...," ungkap Sara sungguh-sungguh.
"Iyakah? Padaha waktu itu aku hanya sok keren saja Habisnya aku kesal melihat orang yang suka asal menghakimi orang lain tanpa bukti. Padahal setiap warna negara kan dilindungi oleh hukum perundang -undangan, jadi tidak bisa seenaknya menuduh orang."
"Ya kau benar, mungkin juga karena pada waktu itu pakaianku tidak mewah seperti pengunjung lain, jadi mereka pikir aku ini benar-benar pencuri buku cerita anak," ujar Sara menertawakan dirinya.
"Eh iya, tapi jujur saja waktu kau pertama kali mengaku jika kau itu ibu dari satu anak, aku pun tak percaya sama sekali, sampai akhirnya aku bertemu sendiri dengan my baby Arvinku."
Sara kembali tertawa mendengarnya, "Masa lalu memang sungguh lucu jika diingat dan diceritakan ulang," pungkas Sara yang tanpa sadar dirinya ternyata mulai lapar.
"Sepertinya... calon keponakanku dan ibunya mulai lapar nih?" Tebak Gina.
"Eh, kau menyadarinya ya?" Jawab Sara malu-malu.
"Tentu saja aku sadar. Sudahlah kalau begitu, ayo ibu muda biar aku traktir dirimu hari ini."
Wajah Sara langsung sumringah, "Benarkah? Wah, nak sepertinya bibi Gina sedang ingin memanjakan kita," ucap Sara seraya bicara pada anaknya yang ada di dalam perutnya.
"Sudah, ayo kita cari makan! Aku tidak mau calon keponakanku kelaparan." Dan mereka pun langsung berjalan menyusuri mall, guna mencari makan.
~~
Di apartemennya, Jesper terlihat sibuk berkutat dengan layar laptop miliknya. Ia sepertinya tengah menelusuri sebuah website untuk dapat sebuah petunjuk. Karena sejatinya Jesper masih sangat penasaran, dengan pria yang mengirimi Sara bunga-bunga tersebut.
"Aku harus cari tahu orang itu, tapi petunjuku hanya pria di coffee shop itu dan beberapa larik puisi yang ada disisipkan oleh orang itu, dibunga yang ia kirimkan pada Sara." Bagaimana bisa Jesper mendapatkan larik puisi itu? Jadi saat Jesper ke c-lovely tadi, ternyata dirinya diam-diam telah mencatat semua isi larik puisi yang dikirimkan orang tersebut pada Sara, Jesper berpikir itu semua bisa ia jadikan petunjuk.
"Aku sudah mengunjungi banyak website yang banyak memuat syair dan puisi. Tapi aku tidak menemukan satupun yang memuat puisi-puisi seperti ini." Entah kenapa aku rasa, jika benar yang mengirimi Sara bunga adalah pria yang tadi pagi aku temui itu. Aku yakin sekali dia bukan orang biasa, melihat pakaian dan semua yang ia kenakan saat itu adalah brand kelas atas. Jadi tidak mungkin jika dia orang biasa. Jesper termenung sejenak seperti sedang memutar otaknya.
Sepertinya memang tidak ada cara lain. Maaf ya Sara, tapi aku harus lakukan hal ini demi menolongmu. Aku hanya tidak mau melihatmu terkena masalah lagi, jika identitas pengirim bunga rahasiamu tidak segera terungkap. Jesper pun mengangguk yakin.
🌹🌹🌹
Halo my beloved readers. Semoga kalian sehat selalu ya...
Author secara personal ingin berterima kasih pada kalian, yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏
Oh iya, meski sering novelnya suka slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending kok. Jadi mohon bersabar ya... kakak-kakak yang cantik dan tampan sekalian. Dan buat yang udah baca, agar jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa LIKE, COMMENT, serta VOTE dan jangan lupa untuk bantu di SHARE, karena yang kalian lakukan itu sangat berarti buat aku.
Oh iya temen-temen, jangan lupa juga ya buat follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana 😊
FYI : Dalam waktu dekat ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..🙏