Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 91


Selesai berziarah dan membersihkan makam, mereka berempat sejenak menikmati udara sore di taman kota, yang letaknya tidak terlalu jauh dari taman pemakam. Sara yang kini duduk di bangku taman sambil bersandar dibahu suaminya itu pun menikmati segarnya udara sore di musim gugur.


Ditengah-tengah menikmati udara segar, tidak tahu kenapa di dalam kepalanya tiba-tiba muncul sebuah ide untuk mendekatkan Ryu dengan mertuanya tersebut.


Tapi kalau gagal? Ah siapa peduli kucoba saja dulu.


"Uhm, Ryu...."


"Ada apa?"


"Aku mau makan takoyaki yang di jual di seberang sana," sambil menunjuk arah tempat penjual takoyaki yang dimaksudnya.


"Baiklah, ayo aku antar."


"Tidak usah! Eh maksudku, tidak perlu... aku mau makan disana dengan Arvin saja."


"Memangnya kenapa kalau denganku?" Ryuzen heran.


"Ya tidak apa-apa sih, cuma hari ini... sepertinya aku memang tiba-tiba ingin sekali makan takoyaki bersama Arvin," jelas Sara. Tidak ingin dirinya di telisik terlalu dalam lagi oleh Ryu, Sara pun langsung saja tancap gas, memanggil Arvin agar menemaninya makan ke kedai takoyaki.


~~


"Tunggu dulu! Mami mau mengajakku kemana?" Tanya Arvin yang sedang asyik bermain dengan kakeknya, malah tiba-tiba di giring ikut dengannya.


"Ayah mertua, maaf ya mengganggu kesenanganmu dengan Arvin, tapi saat ini aku mau mengajaknya dulu menemaniku makan di kedai takoyaki."


"Mami kau ngidam makan takoyaki bersamaku?"


"Huh?" Bagaimana ini, sebenarnya kan aku tidak ngidam juga. Tapi apa lebih baik aku iyakan saja, supaya Arvin bersedia aku ajak.


"Menantuku, apa benar kau ngidam makan takoyaki?" Tanya Jordan.


"Um, ya... sepertinya begitu."


Sara pun jadi terpaksa bilang iya jika dirinya ngidam.


"Baiklah, jika memang begitu adanya lebih baik kau dan Arvin segera pergi, aku tidak masalah menunggu disini," ungkap tuan Jordan dengan santai.


"Oke, kami pergi dulu ya..., kalian berdua ngobrol saja dulu sambil menunggu kami kembali."


"Sampai nanti kakek!"


"Sampai nanti..."


~~


Arvin akhirnya pergi bersama dengan Sara, sementara Jordan dan Ryuzen akhirnya tinggal berdua saja, menunggu Sara dan Arvin sampai nanti kembali. Sejatinya Ryu dan Jordan sudah bisa menebak maksud Sara meninggalkan mereka berdua di tempat ini. Alih-alih hubungan ayah dan anak itu akrab, yang terjadi malah sebaliknya.


Di sela-sela menunggunya, Ryuzen justru memilih pergi untuk sekedar menghisap sebatang rokok saat itu.


"Jadi kau merokok?" Tanya Jordan menghampiri Ryuzen di area merokok.


"Ya! Kau alergi asap rokok?"


"Tidak juga, karena aku pun dulu seorang perokok, dan jika hal itu terlihat oleh Laulin, maka dia akan menceramahiku panjang sekali." Jordan mengenang masa lalunya saat masih bersama dengan Laulin dulu.


"Begitukah? Apakah ibuku juga akan menceramahiku jika lihat aku saat ini? Atau malah Sara yang akan menceramahiku. Tapi sejauh ini, aku selalu merokok jika tidak ada dia."


Suasana kikuk dan canggung sangat terasa diantara keduanya, mereka yang statusnya ayah dan anak tapi begitu menjaga jarak satu sama lain, Sekalipun memiliki darah yang sama mengalir ditubuh mereka masing-masing.


"Oh iya, terima kasih karena sudah mengizinkanku bertemu dengan Arvin." Jordan berusa terus membuka percakapan diantara mereka.


Ryuzen tidak menunjukkan ekspresi mencolok. "Dia itukan cucumu, jadi kau berhak bertemu dengannya. Asal Sara mengizinkan, kapanpun kau bisa menemuinya," pungkas Ryuzen tanpa menoleh ke arah sang ayah.


Cerutu Ryuzen semakin memendek, dan akhirnya habis dihisap oleh dirinya.


"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku ingin menyusul Sara dan Arvin. Jika kau masih mau disini menunggu silakan saja."


Dia masih dingin padaku, tapi setidaknya dia mengakui aku sebagai kakek dari putranya.


"Oh iya, untuk bantuan yang kau berikan pada sidang waktu itu... terima kasih."


"Sama-sama, nak," gumam Jordan dengan suaranya yang terdengar bergetar, menahan rasa haru yang mulai berkecamuk di dalam dada.


Ryuzen pun meninggalkan Jordan seorang diri setelah mengucap kata terima kasih. Terdengar hanya ucapan terima kasih pada umumnya memang, tapi sangka bagi seorang Jordan, ucapan terima kasih barusan adalah kalimat termanis yang keluar dari mulut seorang Ryu baginya.


Tak apa nak, tidak apa kau tidak menganggapku sebagai ayahmu. Dengan kau mengakui kehadiranku saat ini saja, bagiku itu sudah cukup.


Karen tidak ada yang lebih membanggakan bagi orang tua, selain dapat membantu dan berguna bagi putra dan putri mereka.


~~


"Apa kalian sudah selesai makan?" Ujar Ryuzen yang baru saja datang menghampiri Sara dan Arvin yang tengah menikmati takoyaki di sebuah kedai.


"Papi, kenapa sendirian kemari, dan dimana kakek?" Arvin celingak celinguk mencari kakeknya yang ternyata tidak bersama Ryu.


Pasti hasilnya sama saja. Huft! Aku harus bagaimana lagi agar hubungan suami dan ayah mertuaku membaik. Sara seolah ingin menyerah rasanya membantu merekatkan hubungan antara Ryu dan ayah mertuanya itu yang berakhir sia-sia.


"Sepertinya dia masih menunggu di tempat tadi," jelas Ryuzen pada Arvin yang sepertinya begitu menyukai kakeknya itu.


"Kalau begitu, ayo kita lekas kembali ke tempat tadi. Kasihan kakek sendirian disana, lagupula kenapa papi tidak mengajak kakek juga kemari?" Dengkus Arvin yang protes.


Setelah selesai menyantap habis takoyakinya, Arvin pun menarik lengan Ryu dan Sara agar segera kembali menemui kakeknya, di tempat tadi.


~~


"Kakek...!" Seru pria kecil itu sambil berlari menghampiri Jordan yang ternyata memang masih menunggu di tempat yang sama.


"Cucuku, apa kau dan Sara sudah selesai makan takoyaki itu?"


"Tentu saja, makanya kami kembali," tukas Arvin.


"Good boy!" Kakek Jordan menyentuh kepala cucunya tersebut.


"Kakek...! Ayo ceritakan lagi padaku tentang asal usul sejarah senjata api untuk perang dari berbagai negara," pintanya dengan nada sedikit terdengar manja.


Jordan menoleh ke arah Sara, seolah meminta izin apakah putranya itu diizinkan lebih lama bersamanya. Tentu saja Sara dengan senang hati menganggukan kepalanya tanda setuju.


Sara pun hanya bisa menghela napas, Kalau sudah diam begitu apa yang bisa aku lakukan?


~~


Di tempat lain, Kenzo, Jason, Alin, dan Yoshiki ternyata tengah menghabiskan waktu bersama di Kairaku bar.


"Mari bersulang...!" Ucap mereka bersama-sama sambil mengangkat gelas ditangan mereka masing-masing, sebelum akhirnya diminum.


"Hei asisten kesayangan Ryu! Sepertinya akhir-akhir ini aku perhatikan kau jadi jarang sibuk?" Ujar dokter Jason yang duduk di dekat Kenzo yang tengah menenggak segelas anggurnya tersebut.


"Ya... mau bagaimana lagi, si boss kan sedang sibuk menjadi suami dan ayah siaga untuk nona dan tuan kecil, alhasil aku pun jadi lebih banyak waktu santai."


Kenzo sebenarnya sudah terbiasa dengan rutinitas kesibukan dengan segala macam pekerjaan yang diperintahkan Ryuzen. Alhasil dirinya jadi merasa agak tidak biasa dengan situasi santai-santai begini. Tidak jarang waktu santainya itu pun hanya ia habiskan dengan makan atau bermain video game.


"Kau pasti senang kan saat ini, karena bisa lebih santai?" Cicit Alin yang terus saja minum tanpa henti.


"Tidak juga, justru aku jadi bingung mau melakukan apa," jelas Kenzo tak semangat.


"Ada cara supaya kau tidak bingung lagi jika punya waktu senggang," celetuk Yoshiki.


"Huh? Apa itu caranya?"


"Caranya...."


"Carilah pasangan!" Kelakar yoshiki dan Jason secara bersamaan.


"Hei, kalian berdua berkata begitu, memang kalian sudah punya pasangan, huh?" Celetuk Alin.


"Akhirnya ada yang di pihaku," tukas Kenzo.


"Tapi tunggu, sepertinya kau memang wajib cari pasangan Ken, jangan sampai nasibmu seperti dokter disampingku ini. Tidak tau arti jatuh cinta, menyedihkan!" Pungkas sang model sambil tertawa.


"Hei kau itu sadar nona Alin Yifei, kau pikir kau itu berhasil dalam hubunganmu dengan mantan suamimu?" balas Jason.


"Hei kenapa kau malah mengejek kisah pahitku?!"


"Siapa yang mengejekmu! Aku hanya bicara fakta saja Alin."


"Itu namanya mengejek, dasar dokter aneh!"


"Kau itu model tukang mabuk!"


"Lalu kenapa?!"


****


Dan seperti biasa, jika dokter dan model itu sudah bertengkar, pastinya akan berlangsung cukup lama. Merasa bosan, Kenzo pun memutuskan untuk pergi duluan meninggalkan bar.


"Baiklah... kalau begityu kalian lanjut saja bertengkarnya. Aku pergi duluan ya kak Yoshiki."


"Ya, hati-hati," sahut Yoshiki sambil melambaikan tangan.


~~


"Huft! Tidak atasanku, tidak temannya atasanku, semua menyuruhku cari pasangan, memangnya yang tidak mau punya pasangan itu siapa? Lagipula, mencari pasangan yang sungguhan memang semudah itu!" Gerutu Kenzo sambil menyetir mobil sport yang ia dapat dari Ryuzen beberapa waktu lalu.


"Tunggu, bukankah itu..." Kenzo tidak sengaja melihat seseorang seperti Gina bediri di dekat halte. Yakin jika itu memang Gina, ia pun langsung saja melaju menghampiri sahabat Sara tersebut.


"Butuh tumpangan Nona?" Sambut Kenzo yang sudah menurunkan kaca jendela mobil sportnya miliknya itu.


"Kenzo? Kau itu bukannya..."


"Sudahlah nanti saja kalau mau cerita, sekarang kau masuk dulu saja ke dalam mobilku."


"Um... baiklah." Gina pun masuk ke dalam mobil Kenzo seperti apa yang dikatan Kenzo.


~~


Malam hampir tiba, saatnya mengucapkan sampai jumpa diantara Arvin dan Kakek Jordan.


"Sampai jumpa Kakek, lain kali kita main bersama lagi ya," ujar Arvin yang sudah puas bermain dengan kakeknya itu.


"Tentu saja, lain kali akan kutunjukan koleksi benda bagusku padamu."


"Baiklah aku tunggu ya kakek."


Sara senang melihat Arvin dan Jordan bisa begitu dekat dan akrab.


"Ayah mertua, kami pulang dulu ya. Kau jaga kesehatan, dan jangan lupa makan makanan yang sehat. Oke...!"


"Terima kasih nak, kau sangat baik. Beruntung sekali Ryu dan Arvin memilikimu di hidup mereka."


"Kalau begitu..., kami pergi dulu. Kau jaga dirimu," tukas Ryuzen pada Jordan sebelum menyalakan mesin mobilnya.


"Ya, kalian juga hati-hati dijalan."


"Bye kakek....!" Ujar Arvin sambil melambai-lambaikan tangannya dari balik kaca mobilnya yang diturunkan.


Sambil membalas lambaian tangan Arvin, Jordan terus meratapi kepergian mereka yang semakin menjauh dari pandangannya.


Awal yang baik, mungkin teramat baik untuk sebuah perbaikan diri seorang sepertiku.


🌹🌹🌹


Hai my beloved readers...


Terima kasih ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian🙏


Meski sering slow update kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.😘 Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.


Happy reading and hopefully you like it all...


[Oh ya jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana😊]