
"Tuan muda, apa mungkin suara itu...?" Kenzo menebak jika ledakan itu bersumber dari bom waktu yang dibuang oleh Jordan.
Ryuzen memegangi dadanya yang tiba-tiba berdegup dengan kencang. Mimik wajahnya yang dingin pun tampak tegang.
"Tuan... kau baik-baik saja kan?"
Aku tidak tahu, aku harus segera menyusulnya... Tanpa berkata apa-apa, Ryuzen langsung bergerak, lalu menaiki jetski agar bisa menyusul sang ayah dengan secepat mungkin.
"Tuan Ryu...!" Ujar Kenzo pada bosnya itu.
Ryu tak menghiraukan sama sekali seruan dari sang asisten. Ia justru langsung mengendarai jetski tersebut, menuju ke tengah laut dimana ia melihat speed boat yang digunakan oleh sang ayah.
~~
"Itu dia speed boatnya, tapi... dimana dia? Kenapa aku tidak melihat ada orang diatasnya?"
Ryuzen justru dibuat kaget, karena melihat satu lagi speed boat lain yang mengapung di dekat speed boat yang dikendarai oleh sang ayah. Matanya menajam bagai serigala yang tengah mengintai mangsa, Ryuzen jelas melihat sosok diatas kapal speed boat itu. "Brengsek Biyan Dao!" Lagi-lagi jantung Ryuzen berdetak dengan cepat. Ia tidak bisa membayangkan apapun saat ini, yang ia pikirkan hanya dirinya ingin melihat sosok sang ayah... Ryu pun mendekat ke speed boat yang dikendari Jordan tadi. Ia semakin mendekat ke speed boat itu, dan akhirnya Ryu bisa melihat sosok Jordan, sayangnya Ryu melihat jika sang ayah tampak seperti tak berdaya sambil memegangi perutnya yang bercucuran cairan berwarna merah pekat.
"Ayah!" Teriak Ryuzen pada sang ayah dengan ekspresi panik.
Mendengar suara sang putra Jordan pun berusaha kuat dan kembali berdiri, di tengah-tengah rasa sakit yang ia rasakan. "N- nak.... aku sudah ber- uhg, aku.. ber- hasil." Jordan nampak kesakitan.
"Diamlah pak tua, aku akan membawamu kembali segera!" Ryuzen yang sudah berada di dekat speed boat yang ditumpangi ayahnya itu, langsung berusaha untuk menaikinya. Namun, saat ia mencoba untuk meraih badan kapal itu, lagi-lagi Biyan Dao memberikan serangan pada bagian speed boat yang di naiki oleh Jordan, hingga membuat goncangan yang cukup keras pada kapal tersebut. Alhasil Jordan yang terluka, dan berdiri tak seimbang pun akhirnya terjatuh ke laut.
"Ayah....!" Seru Ryuzen dengan begitu emosional. Tanpa banyak pikir ia pun langsung melompat dan masuk ke dalam air, untuk menolong sang ayah yang terjebur ke dalam laut.
Melihat hal itu Biyan Dao pun tertawa puas, "Matilah kalian berdua di tengah laut!"
~~
Ryuzen melawan kerasnya arus laut, demi mencari sang ayah yang jatuh. Gelapnya laut membuat Ryuzen sedikit kesulitan untuk mecari dimana sang ayah kini.
Kau harus kembali... aku tidak peduli bagaimanapun dirimu, kau tetap arus kembali ayah...! Kau berhutang banyak kisah yang tak sempat kau ceritakan padaku sejak aku lahir. Kau berhutang menemaniku berlatih menembak, kau behutang banyak padaku... jadi aku harus menemukanmu.
Hati yang tengah lara akan pencariannya itu, seolah terjawab dengan terlihatnya sosok yang dikenalnya. Ryuzen segera mendekatinya... ternyata itu benar tubuh Jordan yang sepertinya kehabisa napas. Dengan sekuat tenaga, Ryuzen menerjang laut demi membawa sang ayah ke atas permukaan.
~~
Huh! Dengan napas tersengal-sengal, akhirnya Ryuzen sampai mendarat diatas permukaan laut dan membawa sang ayah ke tepi. Ia memeriksa denyut nadi Jordan berulang-ulang menekan-nekan dadanya... "Bangunlah! Bangunlah... bangun! Aku bilang kau bangun pria tua!" Ujar Ryuzen dengan panik dan emosional, ia terus saja menekan-nekan dada sang ayah. Ia pun meletakkan kepalanya diatas dada kiri sang ayah yang kemejanya kini berwarna merah karena noda darah.
Aku bisa merasakan denyut jantungnya walau lemah!
"Aku mohon bangunlah... kau berjanji kembali hidup-hidup kan?" Ryuzen tak kuasa menahan rasa takut dan sedih, hingga tiba-tiba dirinya merasa kepalanya disentuh oleh seseorang. Ryuzen pun langsung menarik kepalanya dan melihat ke arah sang ayah yang tiba-tiba tersadar.
"Akhirnya kau sadar!" Ryuzen tampak lega, ia langsung meletakan kepala ayahnya diatas pangkuannya. "Kau terluka cukup parah, aku akan bawa kau kepada Jason agar kaー"
"Nak...." ucap Jordan dengan suara parau.
"Aku bahagia sekali nak...."
Huh?
Jordan menyentuh wajah Ryuzen dengan segala kekuatan yang masih ia miliki. Jordan tampak mengukir senyum dibibirnya yang terlihat begitu pucat pasi. "Akhirnya... aku bisa menyentuhmu, menyentuh putraku dengan tanganku sendiri、setidaknya untuk pertama dan terakhir kalinya."
"Jangan cerewet! Kau ini bicara apa!"
"Ryuzen... aku berhutang banyak hal padamu. Aku ini sosok ayah, anak, dan juga suami yang gagal. Aku meninggalkanmu dan Laulin, aku juga meninggalkan ibuku... aku meninggalkan kalian sem- ugh!...." Jordan menahan sakit.
"Jangan bicara lagi, aku mohon Ayah..!" Seru Ryuzen yang tak terasa sudah kini sudah meneteskan air matanya.
Jordan tersenyum bahagia, "Akhirnya aku bisa mendengarmu memanggilku ayah... aku bahagia sekali."
"Kau akan dengar aku memanggilmu ayah setiap hari, jadi tolong diamlah dan jangan banyak bicara lagi sampai aku membawamu pada Jason!" Ryuzen semakin tak kuasa menahan air matanya yang kini bercucuran.
"Tidak... waktuku sudah tak banyak. Tapi aku sangat bahagia... setidaknya di sisa hidupku... aku bisa melihat putraku menjadi pria yang begitu luar biasa. Kau sudah berhasil menjadi pemimpin di kerajaan bisnis yang dulu tidak bisa aku lakukan, kau berhasil membuat nenekmu bangga, dan hal itu pun tak bisa aku lakukan. Kau juga berhasil menjadi suami yang hebat untuk wanita yang luar biasa seperti Sara. Kau bahkan sudah memberikanku cucu yang sangat lucu dan cerdas seperti Arvin. Kau... telah menyelesaikan semua yang tidak pernah aku bisa lakukan Ryu... itu semua sudah lebih dari cukup yang aku terima darimu."
"Aku... tidak, aku mohon bertahanlah....." Ryuzen memeluk sang ayah dengan erat.
"Ryu... tolong maafkan aku ya...? "
"Aku sudah memaafkanmu ayah... aku memaafkanmu. Sungguh...!"
Jordan kembali tersenyum bahagia, "Terima kasih telah memaafkanku, karena Laulin pasti akan marah padaku jika kau tidak memaafkanku."
"A- apa maksudmu?" Ryuzen gemetar menatap sang ayah yang tubuhnya semakin terasa dingin.
"Laulin sudah menungguku Ryu... aku sudah berjanji padanya, akan menemuinya jika tugasku membantumu sudah selesai. Dan sepertinya... aku sudah harus pergi... aku sudah rindu pada istriku disana."
"Tidak, tidak, kau tidak boleh....! Kau tidak bisa pergi meninggalkanku!" Derai air mata Ryuzen benar-benar mengalir derasnya.
Jordan kembali menyentuh wajah Ryuzen dengan sisa kekuatan yang dimilikinya. "Terima kasih sudah membiarkan aku menjadi ayahmu nak... aku bangga sekali bisa menjadi ayahmu. Sekarang... sudah saatnya aku pergi, ibumu sudah menungguku." Jordan berusaha menarik napas, "Se- sela-mat... ting-gal Ryuzen anakku...." Tangan dingin yang menyentuhnya itu kini benar-benar jatuh dan tak bergerak lagi. Ryuzen seolah langsung membeku sesaat meratapi kenyataan jika sang ayah telah tiada. "Ayah....!" Ryuzen berteriak dengan air matanya yang becucuran membasahi pipinya. Dengan murka ia pun berujar, "Biyan Dao keparat! Kau harus membayar semuanya...!"
Ryuzen pun mengangkat jasad sang ayah yang sudah tak bernyawa itu.
"Tuan muda..." Kenzo yang ternyata menyaksikan kejadian itu, hanya bisa tertunduk pilu melihat tuan mudanya itu, kini berjalan dengan ekspresi datar tak terbaca, membawa jenazah sang ayah ditangannya. Entah bagaimana hancurnya pria itu saat ini. Kini dirinya benar-benar yatim piatu. Lalu bagaimana ini, apakah ini kutukan untuknya atau takdir yang harus dijalaninya?
Semua ini seolah jawaban atas keagungan semesta akan siklus hidup manusia. Dan kau tahu, semuanya selalu berjalan beriringan. Kau temui kebahagiaan saat kau merasakan kesengsaraan. Kau paham apa itu anugrah saat kau paham apa itu kehidupan, kau merasakan pedihnya kehilangan saat kau menyaksikan sebuah kematian. Dan kau tahu apa itu pengorbanan setelah ada penyesalan. Begitupun kali ini... kau akan paham apa itu rindu tak terbalas saat semuanya telah pergi meninggalkanmu.
🌹🌹🌹
Halo temen-temen readers yang masih setia.. Jangan lupa VOTE LIKE KOMENNYA YA... 🦋 see u next part.... 😉
Love -C