Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 180


Ilustrasi kamar Sara & Ryuzen (Gambar bukan milik pribadi Credit to owner)



Ryuzen menarik majalah yang ada ditangan Sara lalu mengambilnya.


"Hei kembalikan! Itu kan milikku!" Sara protes melihat sang suami yang tiba-tiba mengambil majalah miliknya tersebut. Sayangnya bukan Ryuzen namanya jika dengan mudah langsung mau mengembalikan majalah itu pada istrinya. Alih-alih mengembalikan, Ryuzen justru memasukan majalah tersebut ke dalam laci yang ada di dekatnya.


Sara pun memandang Ryuzen dengan bersungut-sungut. "Aku kan sedang membacanya, kenapa malah kau ambil?"


Ryuzen tidak menjawab Sara, ia malah memenyetuh dagu sang istri dengan ibu jari dan telunjuknya, lalu di dongakan ke atas. "Maafkan aku sayang... tapi aku tidak suka kalau kau lebih peduli pada majalah dibanding diriku."


Sara mengerutkan keningnya. "Oh ayolah... itu hanya sebuah majalah desain ruangan Ryuzen, jangan berlebihan."


"Biar saja, bagiku sekali aku tidak suka ya tidak suka."


"Kau terlalu posesif Ryuzen, padahal itu hanyaー" Mmm... Ryuzen malah mengecup bibir Sara hingga membuatnya tidak bisa meneruskan perkataannya.


Setalah itu, Ryuzen pun menyentuh wajah sang istri dengan kedua tangannya yang penuh kelembutan. "Maaf sayang, tapi aku tidak suka jika diabaikan olehmu."


Sara menghela napas dan hanya bisa pasrah. Karena mau bagaimana lagi, nyatanya Ryuzen menang cukup posesif dan pencemburu seperti itu, sejak awal. "Oke kau dapat perhatianku tuan Han," ucap Sara sambil mencubit kedua pipi Ryuzen dengan perasaan gemas.


"Tapi kenapa tiba-tiba kau jadi suka baca majalah tentang desain seperti itu?" Tanya Ryuzen.


"Sebenarnya aku membaca majalah itu karena, aku sedang mencari inspirasi desain yang lucu untuk anak kedua kita." Sara mejelaskan maksud hatinya yang berencana, ingin membuatkan kamar, untuk buah hati mereka nanti setelah lahir.


"Lalu?"


"Aku ingin nantinya kamar itu terlihat sangat cantik saat ditempati oleh anak perempuan kita Ryu..." ujar Sara dengan nada manja.


Ryu menarik tubuh Sara, dan disandarkan ke dalam dekapannya, lalu mencium rambutnya. "Jika itu yang kau mau pasti akan aku berikan, dan untuk anak kita nanti kau tenang saja, sudah pasti dia akan menjadi tuan putri kecil di keluarga kita, jadi aku pastikan akan membuat sebuah kamar yang paling cantik untuk putri kita ini." Ryuzen mengelus perut Sara yang mulai besar itu.


Sara yang barada di dekapan Ryu pun langsung memeluk sang suami. "Terima kasih ya sayang... kau memang suami terbaik. Aku senang sekali hari ini, karena semua berjalan dengan baik. Konferensi pers juga berjalan dengan lancar, dan itu semua karenamu."


Ryu mengecup kini Sara. "Tidak masalah Sara..."


"Oh iya Ryuzen aku baru ingat!" Sara tiba-tiba menarik tubuhnya dari dekapan Ryuzen.


"Ada apa kau tiba-tiba?" Ryuzen memicingkan matanya, penasaran dengan apa yang sebenarnya baru diingat oleh Sara.


"Ryuzen... aku baru ingat, aku ingin mengatakan jika besok, adalah hari peringatan kematian kedua orang tuaku, dan aku berencana untuk pergi ke Cardia besok. Oleh karena itu, bisakah aku pergi kesana besok?" Dari raut wajahnya, Sara tampak begitu berharapa jika Ryuzen mengizinkannya pergi.


Ryuzen tidak ada masalah jika Sara pergi ke kampung halamannya di Cardia, ditambah tujuannya pun jelas. "Baiklah... kau boleh kesana, tapi maafkan aku tidak bisa ikut denganmu karena besok, aku harus berangkat Osaka untuk pertemuan bisnis."


Sara sebenarnya ingin sekali suaminya itu ikut, tapi berhubung ia menyadari jika suaminya adalah salah satu manusia tersibuk di negeri ini ia pun memahaminya. Terlebih sebelumnya Sara juga sudah pernah membuat janji dengan Gina untuk ikut pergi dengannya ke Cardia. "Tidak apa Ryu, lagipula aku bisa minta Gina menemaniku. Kebetulan beberapa hari lalu Gina bilang jika minggu ini dia tidak ada perkerjaan. Jadi aku bisa pergi dengannya."


"Kau yakin?"


"Tentu saja Ryu, percaya padaku."


Ryuzen menyipitkan matanya ke arah Sara, lalu menggodanya. "Sepertinya kau senang sekali ya, pergi keluar kota tidak ditemani oleh suamimu?"


"Huh! Ryuzen, kau ini menyebalkan Sekali!" Sara memukul-mukul pundak Ryuzen. Dan pria itu pun hanya bisa tertawa geli melihat apa yang dilakukan oleh istrinya itu.




Esok hari tiba, Sara yang dibantu bibi Rachel tampak sedang mengepak pakaiannya dan segala keperluannya.



"Nona, kau di Cardia selama berapa hari?" Tanya bibi Rachel, sambil memasukan setiap potong pakaian Sara ke dalam koper.



Sara yang baru saja merapikan alat make up-nya pun menjawab, "Hanya dua hari saja bi, kebetulan Ryuzen juga kan pergi ke Osaka juga hari ini? Jadi aku dan Ryu tidak perlu kesepian di rumah menunggu masing-masing dari kami."



"Ya anda benar sekali nona."



Tiba-tiba ponsel milik Sara yang ada di atas nakas berdering. Sara pun langsung meraih ponselnya itu dan mengangkatnya. "Iya Gina..."



"Jadi kau sudah dalam perjalanan menjemputku? Okey... aku juga sebentar lagi selesai."



....



"Oke, aku tunggu kau dirumahku."


\* *Sara mengakhiri percakapannya dengan Gina*.



"Bibi, apa kau sudah selesai memasukan semua pakaian yang aku minta tadi?"



"Sudah Nona, semuanya sudah masuk koper."



"Oh baiklah kalau begitu, terima kasih Bi."



Sebelum pergi Sara hendak menelepon Rina untuk berpesan agar, membuatkannya dua buah buket bunga aster, untuk ia bawa ke makam orang tuany di Cardia nanti.



~~



Di ruanganya, Ryuzen yang baru saja meregangkan jari-jarinya karena, baru saja selesai menandatangani beberapa dokumen, malah sudah harus diganggu lagi dengan panggilan lain.



"Halo!"



....



"Kau siapkan saja dokumen-dokumen penting yang harus dibawa ke Osaka. Soal keberangkatan, aku pastikan kita akan tiba tepat waktu disana!" Ryuzen pun langsung mengakhiri percakapannya.



Ryu yang tubuhnya sedikit kaku pun, mencoba merileksasikan tubuhnya itu dengan bersandar di kursi empuk yang biasa ia gunakan tersebut. "Aku ingin sekali menemani istriku, sayangnya aku harus ada pekerjaan, ck! Sungguh sial!"



Sambil rileksasi Ryuzen tiba-tiba menyalakan ponselnya, dibukanya galeri ponsel tersebut. Dan langsung dipandanginya dengan penuh kebahagiaan, foto Sara yang kini terpampang penuh di layar ponselnya.



~~




"Sara, kau tidak beritahu suamimu kalau aku ikut denganmu?" Ujar Jesper yang kini duduk di kursi depan mengemudikan mobil mereka.



"Sejak kapan kau suka memprovokasi orang lain Jes...?" Balas Gina yang berada duduk disebelahnya.



"Aku tidak bermaksud, tapi semoga saja dia tidak membunuhku saat tau, aku ikut pergi denganmu dan istrinya," celetuk Jesper dengan nada bercanda.



Sara yang berada duduk di kursi belakang pun hanya bisa tertawa mendengarnya. "Oh ayolah... Ryuzen tidak separah itu kok!" Ujar Sara menanggapi celotehan Jesper.



"Iyakah, apa kau yakin dia tidak posesif?" tukas Gina ikut memprovokasi Sara.



"Aku yakin, lihat saja." Sara langsung mengambil ponselnya, bermaksd untuk memberitahukan Ryuzen jika dirinya pergi ke Cardia bersama Gina dan Jesper.



Sara menghubungi Ryuzen, ia sengaja menyalakan speaker ponselnya agar Jesper dan Gina bisa mendengar percakapannya dengan Ryuzen ;



Ryuzen : *Iya sayang*...



Sara : Ryuzen maaf aku mengganggumu.



Ryuzen : *It's oke honey, kau sudah dijalankah*?



Sara : Ya aku sudah dijalan. Kau sendiri belum terbang menuju Osaka?



Ryuzen : *Beberapa menit lagi aku baru berangkat, ada apa rindu padakukah*?



Sara : Um... sebenar aku mau bilang, hari ini aku ke Cardia tidak hanya dengan Gina tapi...



Ryuzen : *Tapi apa*? (Mulai terdengar mengintimidasi)



Sara : Jadi sebenarnya... aku kemari juga bersama... Jes-per.



.........(Ryuzen hening)



Sara : Halo Ryu... kau marah padakukah?



Ryuzen : (Terdengar suara berdeham) *Kau menyalakan speaker ponselmu ya*?



Sara : I- iya... jadi tidak apa-apa kan?



Ryuzen : *Tidak apa, asal... si mantan pengacara itu tidak boleh terlalu dekat denganmu. Kalau sampai dia berani terlalu dekat denganmu. Aku pastikan dia akan sulit menggelar pameran lukisan di negeri ini*.



Jesper : Oh... kau menakutkan tuan Han. Lagipula kau tenang saja tuan, aku tidak akan berani kok menyentuh istrimu.



Ryuzen : *Bagus*!



Sara : Um, yasudah. Ryuzen kita sudahi dulu ya, kau kan harus berangkat sekarang. Kalau begitu.... selamat bekerja dan hati-hati diperjalanan.



Ryuzen : *Kau juga sayang, hati-hati di jalan. Dan jangan merindukanku secara berlebihan, aku tahu kau akan sulit tidur jika tidak bersamaku*.



Sara : Ryuzen kau ini, sudahlah.... bye sayang!


Sara cepat-cepat mengakhiri percakapannya, sebelum perkataan Ryuzen malah akan semakin menggila nantinya. Wajah Sara kini tampak merah merona akibat percakapannya dengan Ryu di dengar oleh Gina dan Jesper.



Sementara kedua temannya itu malah terdengar cekikikan di kursi depan menertawakan percakapan diantara dirinya dan Ryu. "Aku tidak menyangka tuan Han benar-benar secinta dan seposesif itu pada istrinya," celetuk Gina diikuti gelak tawa yang ia coba tahan



Di kursi belakang, Sara hanya bisa diam sambil tersenyum menahan malu pada dua temannya itu. *Huh dasar Ryuzen, tau begitu tidak akan kunyalakan speakernya*!



🌹🌹🌹



Hai-hai... semoga hari kalian menyenangkan 😊


Jangan lupa **VOTE, LIKE, COMMENT**nya ya...



Jangan lupa difollow juga igku @**chrysalisha98**



Love -C