
Sara yang melihat Ryuzen begitu sibuk dengan ponselnya pun berhasil dibuat penasaran. Dirinya pun menegur Ryuzen.
"Ryu...?"
"Ryuzen...."
"Iya sayang, ada apa?"
"Kenapa kau sejak tadi hanya sibuk dengan ponsel, padahal aku sudah menyuruhmu mandi sejak tadi," ucap Sara berjalan mendekati Ryuzen yang duduk di tepi ranjang. Sara duduk di sebelah Ryuzen dan memegang pundaknya yang gagah.
"Ryu.. apa ada urusan yang sangat serius yang terjadi pada Emerald?" tanya Sara lembut.
"Tidak ada masalah apa-apa sayang, kau tidak perlu khawatir!" ucap Ryuzen yang berpikir saat ini, Sara tidak boleh tahu apa yang terjadi padanya. Bagi Ryuzen ia tidak ingin istrinya sampai tahu apa yang sedang terjadi antara dirinya dan Lizo.
"Lalu kenapa kau tidak mandi dan malah sibuk dengan ponselmu?" ucap Sara.
"Kau ingin mandi denganku?" Ryuzen malah menggoda Sara.
Sara sedikit merasa aneh dengan Ryuzen, meski wajah suaminya itu tak menunjukan ekspresi mencurigakan sekalipun tapi, batin Sara seolah merasa jika Ryu tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Sara mendekatkan tubuhnya ke tubuh Ryuzen dan menyentuh wajahnya dengan kedua tangan lembut miliknya, lalu memandangnya dengan tatapan intens.
"Ryuzen, apa kau tidak mau tidur denganku malam ini?" ucap Sara yang terdengar seperti sedang menggoda.
"Apa kau gila? Pria mana yang tidak mau...!" Ryuzen yang sepertinya sudah paham maksud Sara yang sengaja memancingnya.
"Kalau begitu buka pakaianmu sekarang!"
"Sara... sepertinya kau memang mengetahui titik lemahku, and aku sepertinya tidak bisa sembunyikan ini lagi, darimu." Ryuzen pun membuka sweaternya, tubuh berototnya kini terlihat jelas, namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian Sara. Ikatan perban di lengan Ryuzen yang pertama kali mencuri perhatiannya.
"Ryuzen kau...?" tanya Sara yang terlihat khawatir.
"Aku tidak apa-apa hanya luka kecil, sudah mau sembuh."
Sara menatap kesal pada Ryuzen, "Aku sudah pernah bilang padamu kan, mau kecil atau besar yang namanya luka tetap harus diobati!"
"Okey! Tapi Jason sudah mengobatinya."
"Kau tunggu sini, biar aku ganti perbannya!"
"Oke, kau bosnya!" balas Ryuzen pada Sara yang kini tengah mengambil kotak obat.
Sara akhirnya kembali dengan kotak obat ditangannya, ia pun dengan telaten mengganti perban luka di tangan Ryuzen. Ryuzen pada akhirnya memutuskan untuk menceritakan sebagian kecil kejadian yang menyebabkan dirinya sampai bisa terkena pistol di lengan kirinya. Dan soal Lizo, Ryuzen pun akhirnya menceritakan sedikitnya pada Sara.
Akhirnya selesai juga Sara membalut luka Ryuzen yang sebenarnya memang sudah hampir sembuh. Tapi Sara yang memang dasarnya agak over pada orang-orang di sekelilingnya, tetap saja membalut luka itu dengan sangat rapih.
Ryuzen memandang Sara dalam-dalam, dan menggenggam tangan wanita itu dengan jari jari panjangnya.
"Sara, kau percaya padaku?" tanya Ryuzen yang kini menggengam tangan istrinya tersebut.
Sara pun mengangguk tanda percaya,
"Ryuzen, apa kau punya banyak musuh yang ingin menjatuhkanmu?"
"Kenapa, kau takut?"
"Tidak, karena aku tahu, kau akan selalu ada untuk melindungiku."
"Gadis pintar!" ucap Ryuzen senang.
Ryuzen kemudian meletakan tangan Sara di dada kirinya seolah menyentuh jantungnya.
"Kau tahu, bagiku kau dan Arvin adalah nyawaku, jadi tidak akan aku biarkan apapun dan siapapun berani menyakiti kalian! Itu sumpahku pada diriku sendiri," ucap Ryuzen dengan sangat yakin.
"Aku mencintaimu Ryuzen," ucap Sara yang mau mengecup suaminya namun tiba-tiba terhenti karena suara ponsel milik Ryuzen. Sara segera menahan pergelangan tangan Ryuzen agar tidak mengangkat ponselnya.
"Aku ingin malam ini kau hanya melihatku, dan memikirkanku! Jadi..." ucap Sara menatap Ryuzen.
"Apapun keinginanmu adalah perintah untukku Sara...!"
"Masa bodoh dengan ponsel!" maki Ryuzen, dan langsung mematikan ponselnya dan tidak menjawab panggilan tersebut.
Sara tersenyum senang, Ryuzen pun bediri sambil menggendong Sara menghadapnya. Sara spontan menglingkarkan tangannya ke leher Ryuzen yang kini kepalanya sudah sejajar bahkan sedikit lebih tinggi dibanding kepala Ryuzen, yang membuat Sara harus sedikit menunduk
Sara menunduk menatap Ryuzen yang kini tengah menggendongnya.
"Sepertinya Arvin minta adik," ucap Ryuzen tiba-tiba.
"Tidak mau!"
"Kenapa?" tanya Ryuzen.
"Kalau aku hamil lagi nanti aku gendut, dan kau jadi tidak suka lagi padaku...," gurau Sara.
"Aku menyukai semua yang ada pada dirimu, lagipula kau tetap cantik dan berharga buatku bagaimana pun keadaanmu," ucap Ryuzen mendongak menatap Sara.
"Iya sih! Mana mungkin juga kau bisa jatuh cinta padaku kalau aku jelek...!" balas Sara.
Malam hari yang indah, dengan seluruh kehangatan dan kenyamanan yang kini dirasakan oleh dua insan yang saling mencintai. Ryuzen meletakan Sara di atas ranjangnya dan terus menatap mesra bahkan seolah tak bekedip memandangi Sara.
"Malam ini adalah malam terindah seumur hidupku hanya ada kau dan aku..." lirih Ryuzen sambil membelai wajah istrinya yang bak dewi rembulan yang bersinar terang di malam hari.
Sara mengangkat tanganya dan melingkarkan tangannya pada leher pria yang sangat ia cintai itu.
"Aku pun akan mengingat malam ini sebagai malam terindah kita, seumur hidupku...." ucap Sara.
"Sara...."
"Ryuzen...."
Dan malam yang indah pun seolah menjadi saksi, bersatunya cinta dua insan yang di pertemukan oleh takdir....
~
Pagi mulai menjelang mentari pagi masih belum mau menampakan dirinya, jam dinding menunjukkan pukul lima. Wanita itu pelan-pelan membuka kelopak matanya yang masih terasa berat, rasa lelah benar terasa adanya, namun semua seolah hilang mengingat hal indah yang terjadi semalam. Memang bukan pertama kalinya namun malam tadi sungguh membuat Sara bahagia tak terkira. Sensasi tadi malam yang mungkin belum pernah ia rasakan sebelumnya selama ini. Kini dirinya dalam dekapan suaminya yang masih tertidur lelap, ia dapat merasakan hangat kulitnya dan Ryuzen yang saling bersentuhan tanpa perantara, di balik selimut yang mereka berdua kenakan.
Sara memandangi wajah Ryuzen yang menawan dan tenang. "Dia memang tampan!" tutur Sara lembut sambil tersenyum, menyingkirkan helai rambut yang sedikit jatuh menutupi kelopak mata pria yang tengah tertidur itu. Dengan seksama Sara menyentuh tiap bagian wajah Ryuzen yang telihat sempurna. Tak heran banyak wanita yang menginginkan suaminya tuk jadi kekasih mereka, bahkan sampai ada yang rela untuk di jadikan yang kedua. Yang kedua? Bagaimana mungkin kau rela membagi suamimu! Hal itu benar-benar konyol mungkin pikir Sara.
Dirinya melihat kembali jam dinding yang kini sudah mulai memasuki pukul 05.30. Sara mulai meraba-raba mencari dimana jubah tidurnya, di raihnya jubah tidur itu dan dikenakannya dengan cepat untuk menutupi tubuhnya. Sebelum meninggalkan kamar Sara pun mengecup mesra pipi sang suami.
"Selamat pagi sayang, kau tidurlah sebentar lagi!" ucap Sara yang kemudian pergi meninggalkan kamar, untuk beberapa menit merenggangkan otot dan berolahraga kecil sebelum dirinya menyiapkan sarapan. Pukul 7 pagi Sara sudah berpakaian rapih dan kini tengah bersiap membuat sarapan untuknya dan Ryuzen.
Di kamar Ryuzen baru saja bangun dan tanpa Sara di sampingnya, seperti biasa Sara memang selalu bangun lebih pagi darinya. Setelah 45 menit melakukan peregangan otot dan olahraga sebentar Ryuzen pun sudah harus di ganggu oleh suara dari ponselnya.
Sebuah panggilan video dari Kenzo yang pada akhirnya memang harus di angkat. Ryuzen yang masih bercucuran keringat langsung mengangkat panggilan tersebut.
*Chat vide call Ryuzen dan Kenzo
Ryuzen : "Ada apa?"
Kenzo : "Ais, tuan muda akhirnya kau angkat juga panggilanku, apa kau habis olahraga? Tumben sekali jam segini kau baru selesai olahraga, memang semalam habis melakukan apa dengan nona Sara? (Pura-pura tidak tahu)
Ryuzen : Melakukan hal yang pria single sepertimu tidak mungkin lakukan! Cepat katakan ada laporan apa?
Kenzo. : Huh malah diejek ...!
Ryuzen : Sudah cepat ada info apa?
Kenzo : Tuan, sepertinya berita kau hilang sudah semakin merebak, bahkan Nenek Ivy sampai datang kemari menanyakanmu, tapi beliau tidak tanya-tanya hal yang serius, hanya bertanya apa kau baik-baik saja setelah itu pergi.
Ryuzen : Nenek tidak bodoh, dirinya pasti tahu apa yang sedang aku lakukan.
Kenzo : Soal presscon nanti menjelang malam bagaimana?
Ryuzen : Kau siapkan saja semuanya, nanti siang setelah aku pulang dari sini kita selesaikan permainan ini.
Kenzo : Oke Tuan!
*Ryu... (Sara memanggil Ryuzen)
Ryuzen : istriku sudah memanggilku itu tandanya kau harus matikan percakapan ini. Lakukan perintahku dan tunggu aba-abaku berikutnya. Oh iya satu lagi, sepertinya kau juga harus cari istri deh Kenzo, ya minimal pacar.
*memutus panggilan.
"26 tahun hidupku, single tanpa wanita, itu kan juga gara-gara kau Tuan!" Kenzo menghela nafas meratapi kesendiriannya.
~
"Ryuzen, kau habis bicara pada siapa?" tanya Sara yang berdiri di depan pintu.
"Kenzo!"
"Oh iya, kau mau aku buatkan saraapan apa?"
"Apa saja yang kau masak, aku suka!"
"Oke, kalau begitu kau pergilah mandi sementara aku akan buatkan sarapan untukmu,"
" Okey!"
~
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapih Ryuzen langsung menuju ke ruang makan untuk sarapan disana. Secangkir kopi hitam rendah gula yang biasa ia minum sudah bertengger diatas meja berdampingan dengan menu sarapan yang membuatnya lapar, Ryuzen pun menarik kursi dan duduk diatasnya.
"Selamat pagi...!" ucap Sara yang baru saja selesai membuat teh hijau untuk dirinya sendiri.
"Selamat pagi!"
"Kau menyiapkan semuanya dengan sangat baik dan rapih, terkadang aku merasa bersalah padamu karena tidak menyediakan pelayan di villa, kalau ada pelayan pasti kau tidak perlu repot-repot mengurus ini semua karena akan dikerjakan oleh pelayan," jelas Ryuzen.
Sara memeluk Ryuzen dari belakang dan menaruh dagunya di bahu suaminya, "Melayani suamiku sendiri, bagiku adalah hal yang menyenangkan, aku tidak suka suamiku dilayani sepenuhnya oleh orang lain. Jadi bagiku tidak masalah ada ART atau tidak,"
"Kau memang yang terbaik Sara!" ucap Ryuzen bangga sambil menoleh ke arah Sara yang masih menopang dagu diatas bahunya.
"...."
"Ciuman selamat pagi," ucap Ryuzen yang barusan mencium singkat bibir istrinya.
"Dasar! Sudah ayo kita sarapan!" ajak Sara yang kemudian duduk di kursinya.
"Oh iya Sara, kita pulang siang ini ya...,"
Sara sebenarnya masih ingin menikmati waktu berdua saja dengan Ryuzen, tapi dirinya sadar suaminya ini bukan pegawai biasa, dirinya harus paham betul siapa Ryuzen Han. Sebagai CEO Emerald suaminya bertanggung jawab atas puluhan ribu karyawan yang kini menggantukan hidup mereka dan keluarganya, di bawah nama besar Emerald. Dan Sara tidak mau egois akan hal itu.
"Okey...!" tutur Sara setuju.
Ryuzen pun terlihat senang melihat istrinya yang selalu mengerti keadaannya. Ya selama ini Sara memang menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu dengan sangat baik, hal itu membuat Ryuzen terkadang sering merasa bersalah pada Sara, karena sebelumnya sering membuatnya kecewa.
๐น๐น๐น
Like, vote, comment โฃ