
"Kau habis telepon siapa bos?" Tanya Kenzo yang baru saja menyaksikan, bosnya itu habis berbicara di telepon.
"Istriku, dan anakku."
Kenzo memperhatikan raut wajah Ryuzen yang terlihat tidak senang, namun juga bukan marah.
"Apa ada masalah tuan?"
Ryuzen meletakkan ponselnya, lalu meletakan kedua sikunya diatas meja dengan posisi kedua jari-jari tanganyanya saling berkait. "Tidak ada masalah, hanya saja... tadi anakku meminta izin padaku, jika dirinya ingin pergi bersama kakeknya. " Mungkin jika orang biasa melakukan percakapan seperti ini adalah hal biasa. Tapi bagi seorang Ryuzen, membahas perihal tentang ayah kandungnya bukanlah hal yang lumrah baginya.
"Lalu kau mengizinkannya?" Ucapnya dengan ekspresi penuh keingintahuan.
"Ya! Aku juga tidak bisa melarang putraku untuk bertemu kakeknya kan? Terlebih lagi, Arvin sangat menyukai pria tua itu."
Dimata Kenzo yang melihat tuannya saat ini. Ia merasa jika Ryuzen sepertinya telah memaafkan sang ayah, tapi ada hal yang membuatnya sulit mengakui hal tersebut. Entah apa itu.
"Mungkin sudah waktunya kau berdamai dengan tuan Jordan," celetuk Kenzo, yang langsung ditanggapi dengan tatapan dingin oleh Ryuzen.
Eh dia melihatku dengan tatapan begitu. Apa aku salah bicara ya? Kenzo pun jadi kiku tiba-tiba.
"Entahlah Ken, aku pun tidak paham dengan apa yang aku rasakan saat ini. "
Kenzo mengangguk, "Oh iya, selain itu.... soal tuan kecil yang hampir hanyut tenggelam di sungai waktu itu? Apa kau sudah tahu siapa orang yang menyelamatkan tuan kecil?"
Ryuzen bangkit dari singgasananya, berjalan mendekat ke arah dimana Kenzo kini berada. "Sampai saat ini aku belum mendapatkan informasi siapa orang yang menolong Arvin dari maut saat itu, aku benar-benar tidak punya petunjuk. Di tambah, lokasi di sekitar sana masihlah jauh dari perkotaan. Aku merasa orang yang sudah menolong Arvin bukan penduduk asli daerah tersebut, melainkan orang asing yang datang dari luar kota."
"Yang kau katakan benar juga sih tuan!" Ucap Kenzo menganalisa, perkiraan bosnya itu.
Aku harus menemukan orang itu. Aku tidak mau memiliki hutang budi pada orang lain. Apalagi jika hutang budi itu seharga nyawa. Ryuzen hanya bisa menunggu saat ini.
~~
Di c-lovely Sara tengah membantu, Thomas, dan Rina memilah-milah bibit bunga yang akan disemai.
"Kak Sara, padahal kau itu tidak perlu repot-repot sampai harus membantu kami begini lho...." ujar Rina, yang tidak tega melihat Sara bekebun dan bergelut tanah, dengan keadaan dirinya yang sedang hamil.
"Iya Sara, kau kenapa tidak pulang saja sih? Urusan begini biar aku dan Rina saja yang menghandle sudah cukup kok!" Imbuh Thomas.
Mendengar perkataan teman-temannya tersebut, Sara hanya bisa tersenyum sambil terus bekerja.
"Terima kasih ya karena kalian begitu peduli padaku. Tapi kalian tenang saja, kandunganku baik-baik saja. Lagipula sejak hamil Arvin aku memang sering sekali bekerja di luar ruangan, dan itu semua tidak masalah. Ditambah lagi, saat ini di rumah itu suka sepi, hanya ada para pekerja saja, aku bisa mati bosan kalau di rumah saja, oleh karena itu aku memilih datang kemari dan bekerja."
"Yah terserahlah dasar wanita keras kapala.... " ujar Thomas yang sudah tau pasti nasehatnya tidak akan digubris oleh Sara.
"Oh iya kak, tuan yang tadi kemari itu ayah mertuamu, yang artinya kakek kandung Arvin kan?" Pungkas Rina.
"Ya dia memang ayah mertuaku," jawab Sara sambil memasukan bibit bunga untuk disemai.
"Aih... pantas saja suami, dan anakmu super tampan dan memesona, turunan dari kelurga Han itu ternyata memang tampan dan cantik."
Sara mengernyitkan dahi lalu bertanya, "Eh memang iya seperti itukah menurutmu?"
"Duh Sara, kau lihat saja ayah mertuamu itu. Diusianya yang sudah paruh baya begitu, tapi dia masih terlihat gagah dan super hot! Jadi tidak salah kan jika kubilang, anak dan cucunya mewarisi ketampanannya. Memang dasar gennya sudah bagus ya pasti bagus."
Sara hanya bisa bergeleng-geleng karena ucehan Thomas soal gen mertuanya itu. Bagi Sara, asal keluarganya bisa bahagia dan menerima satu sama lain itu sudah cukup.
~~
Sementara itu, Arvin akhirnya tiba juga di suatu tempat yang dirinya dan kakeknya ingin kunjungi. Dari balik kaca jendela mobilnya, Arvin sudah bisa melihat sebuah bagunan yang bangunanya terlihat di dominasi oleh kayu-kayu besar.
"Ini rumah siapa kek?" Tanya Arvin pada Jordan.
"Ini rumahku," balas Jordan singkat.
Dipikirannya, Arvin tidak menyangka ternyata kakeknya tinggal di tempat yang masih sepi penduduknya begini.
"Kenapa kakek tinggal di tempat sepi begini? Kenapa kakek tidak tinggal denganku saja?" Ujarnya. Meskipun dirinya paham jika sang ayah dan kakeknya hubungannya tidak terlalu baik, tapi bagi Arvin ia masih berharap untuk bisa tinggal bersama-sama di satu kediaman dengan keluarga lengkap.
Jordan hanya terdiam, ia tidak mungkin menjelaskan pada cucunya tersebut, perihal hubungan dirinya dan ayahnya sebenarnya lebih rumit dari yang ia pikirkan.
"Kakek..."
"Ya?"
"Kakek, aku tahu hubungan dirimu dan papi sebenarnya tidak baik kan?"
"Menurutmu begitukah?"
"Aku tidak tahu persisnya, apa yang menyebabkan dirimu dan papi hubungannya tidak baik. Tapi... aku percaya bahwa kalian berdua pasti sebenarnya saling menyayangi. Hanya kalian tidak tahu bagaimana menerima hal itu."
Aku pun berharap Ryuzen dan aku suatu hari nanti, bisa bertemu dan bersikap selayaknya ayah dan anak.
"Yasudah kita masuk ke dalam yuk, Kek!" Kata Arvin yang sepertinya sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam bangunan yang berdiri di hadapannya itu.
"Baiklah,"
Setelah memarkirkan mobil di garasi, mereka bertiga (Arvin, Jordan, dan Jiro) kini sudah berada di depan pintu. Jordan yang memegang kunci pintunya langsung memasukan kunci tersebut di lubang kunci, untuk membuka pintu yang masih tertutup itu. Setelah pintu itu terbuka Jordan langsung saja menyuruh Arvin mengikuti dirinya masuk ke dalam.
Baru saja menginjakan kaki ke dalam, Arvin sudah langsung dibuat terkagum-kagum oleh pajangan dan benda-benda yang ada di dalam rumah sang kakek.
"Woah, ini keren sekali!" Ujar Arvin saat dirinya mendapati berbagai jenis pajangan senjata api, yang terpampang di dinding dengan sangat gagah dan rapi.
"Kau suka tuan kecil?" Tanya Jiro melihat cucu Jordan terlihat begitu senang saat ini.
"Iya, aku suka sekali. Ini keren!"
Arvin sendiri memang diketahui sangat menyukai segala jenis peralatan menembak, beberapa kali ia juga sudah di ajari teknik menembak oleh Ryuzen.
"Kau bisa membawa salah satu koleksi di sini, jika kau mau," sahut Jordan.
"Hahaha... mana mungkin! Nyonya Sara bisa murka jika aku bawa benda-benda macam begini ke dalam rumah."
Padahal aku juga ingin tapi mau bagaimana lagi, keputusan mami kan mutlak. Dengan tampang pasrahnya.
"Wah, ternyata kau anak yang berbakti pada ibumu ya tuan kecil!" Celoteh Jiro, yang berhasil membuat semuanya jadi tertawa.
"Oh iya, apa kakek juga mahir dalam menembak seperti papiku?" Tanya Arvin yang penasaran apakah sang kakek juga semahir sang papi dalam menembak.
"Tuan Jordan itu sangat mahir dalam menembak, bahkan tuan mudใผ"
Jordan langsung memperingatkan Jiro dengan sorot mata tajamnya. Huft! hampir saja aku bilang kalau yang mengajari tuan muda Han itu adalah ayahnya sendiri. Maaf tuan Jordan.
"Mahir atau tidak, ada bagusnya jika kau yang lihat dan nilai sendiri saja," pungkas Jordan yang kemudian mengambil salah satu koleksi senapan miliknya.
"Kakek, mau mempraktekannya secara langsung?"
Alih-alih membalas pertanyaan Arvin, Jordan malah hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan cucunya tersenbut. Jordan justru langsung berjalan menuju lorong yang mana Arvin yang berjalan dibelakang tidak tahu menahu, kemanakah sebenarnya sang kakek akan membawanya. Lorong yang lebarnya kurang dari dua meter ini, di sepanjang sisinya banyak terdapat hiasan antik. Mulai dari senjata api hingga senjata tradisional dari banyak negara.
~~
Kakek benar-benar kolekter sejati sepertinya? Pikir Arvin di sepanjang berjalan di lorong. Hingga tak terasa ternyata mereka sudah sampai di ujung lorong. Dimana ujung lorong tersebut ditandai dengan sebuah pintu, yang sepertinya pintu ituakan membawa mereka ke tempat yang menjadi tujuan Jordan membawa Arvin.
Pintu yang cukup besar...! Pikir Arvin
Dibukanya pintu tersebut, Arvin yang tadinya dibelakang tubuh Jordan langsung melangkah maju demi melihat apa yang ada dibalik pintu besar tersebut. Nyantanya, lagi-lagi Arvin dibuat kagum oleh apa yang di lihatnya saat ini.
"Woah! Ternyata dibalik pintu ini ada sebuah arena tembak yang sangat luar biasa. Bahkan berkali-kali lipat lebih keren dibanding yang ada di kediaman Han," pikir Arvin.
"Kakek, ini.... ini milikmu jugakah?" Tanya Arvin yang masih tidak percaya, jika dibalik rumah yang terlihat biasa dan jauh dari kesan mewah ini. Ternyata di dalam banyak hal-hal menakjubkan bagi Arvin.
"Ayo kita segera mulai!" Seru jordan.
"Huh? Mulai apa?" Tanya Arvin yang sepertinya masih belum selesai mengagumi tempat tersebut.
"Bukankah kau ingin membuktikan, apakah kakek-kakek ini mahir menembak atau tidak?" Tutur sang kakek pada cucunya tersebut.
"Oh iya ya..." balas Arvin yang ternyata hampir lupa tujuan awalnya, saking terkesima dengan tempat yang baru ia kunjungi ini.
Jordan langsung mengambil posisi untuk menembak. Sebelumnya, ia mengenakan pelindung telinga untuk meredam kerasnya suara tembakan, hal itu juga ia berlakukan untuk Arvin dan Jiro. Jordan meminta cucu dan temannya itu agar mengenakan alat peredam suara juga, agar pendengaran mereka tidak rusak mendengar suara keras dari senjata api.
Jordan pun sudah mengangkat senjatanya, ia mulai membidikan senjata itu ke arah sasaran. Dan....
* Bang! Peluru akhirnya di lesatkan ke sasaran.
"Kakek!"
๐น๐น๐น
Hai my beloved readers...
Terima kasih banyak ya, buat kalian yang masih setia dan selalu sabar menunggu update-an kisah Sara dan Ryuzen. Sekali lagi author minta maaf tidak bisa update harian dikarenakan author punya prioritas yang harus dikerjakan duluan. Jadi mohon dimaklumi ya kakak-kakak dan teman-teman sekalian๐
Meski sering slow update, tapi kalian jangan khawatir, karena aku pasti akan selesaikan cerita ini sampai ending. Jadi mohon bersabar ya.... kakak-kakak yang cantik dan tampan.๐ Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote dan jangan lupa untuk di share juga ya. Thank you.
Dan jangan lupa juga follow instagram aku @chrysalisha98, karena aku bakal info karya baruku mungkin disana ๐
FYI : Bulan ini aku mau keluarin novel baru, semoga kalian juga suka ya... dan doakan biar lancar semuanya, aamiin..๐