
"Ryuzen sebenarnya apa maumu, kenapa kau masih saja mengganggu hidupku! Tidak bisakah
kau biarkan hidupku tenang, huh?" ujar Sara yang kini bangkit dari duduknya.
"Aku tidak mau apa-apa, aku juga tidak melakukan apapun, dan kenyataannya Arvin sendiri yang sudah menerimaku sebagai Ayah kandungnya. Lalu dimana letak salahnya diriku?"
Wajah Sara memerah, ia tidak bisa lagi menahan emosinya yang telah memuncak. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan kelu di hatinya. Saat ini dirinya tidak tahu lagi harus bagaimana, untuk menghadapi pria yang kini ada di hadapannya.
"Jadi, setelah kau mengambil mahkotaku dengan paksa, Sekarang kau juga ingin mengambil putraku dariku, begitukah Ryuzen?"
Ryuzen yang awalnya duduk, kini terbangun dari duduknya. Ia berjalan mendekat ke tempat
dimana Sara tengah berdiri.
"Sara, kau sendiri yang berpikiran jika aku akan mengambil Arvin darimu."
"Maksudmu?" tanya Sara belum paham.
"Kau pikir aku akan melakukan hal yang membuat Arvin membenciku? Sekali pun aku mau mengambil Arvin darimu, itu bukanlah perkara sulit bagiku, tapi kenyataannya sampai saat ini aku tidak melakukannya kan...."
"Ryuzen benar, bagi seorang pria yang bisa mendapatkan apapun seperti dirinya, merebut
Arvin dariku mungkin hanya perlu menjentikan jari saja, dan kalaupun aku bawa ini ke pengadilan pasti sulit juga, karna yang aku hadapi adalah dia."
"Lalu, apa maumu sekarang?" tanya Sara.
Ryuzen berdiri di hadapan Sara dengan segala Pesona dan karisma yang ia miliki. Menatap Sara yang kini juga melihat kearahnya.
"Seharusnya sebagai Ibunya, kau sudah paham apa kemauan Arvin saat ini."
Sara tidak terlalu paham maksudnya dan bertanya,
“Mau Arvin? Apa maksudnya?"
"Biar aku permudah, kau tidak ingin terpisah dari Arvin kan? Aku pun tidak, dan keinginan Arvin sejak lama adalah memiliki orang tua yang lengkap. Jadi kenapa tidak kita kabulkan?" ujar Ryuzen tersenyum penuh arti.
"Maksudnya, kau mau kita berdua...."
"Akhirnya Nona Sara menjadi sedikit lebih pintar."
"Ryuzen kau...!"
"Kau ingin Arvin bukan? Kalau kau ingin Arvin maka pilihanmu hanya ada dua. Selesaikan soal hak asuh Arvin di pengadilan, Atau...."
Ryuzen menahan kata-katanya, ia berputar kebelakang tubuh Sara dan mendekatkan bibirnya di
telinga Sara, "Atau, menikah dengaku."
Sontak mata Sara terbelalak mendengar kalimat yang di ucapkan Ryuzen barusan. Ia mendorong
tubuhnya ke depan dan berbalik menghadap Ryuzen yang tadi berdiri di belakangnya.
"Ryuzen, apa kau sadar apa yang kau ucapakan, huh?!"
dengan entengnya.
"Sekali lagi, aku dipaksa membuat pilihan sulit dalam hidupku, olehnya."
Sara mengingat semua kejadian yang membuatnya terus menerus terjerat oleh perangkap Ryuzen, mulai dari saat ia harus mengganti rugi laundry, hingga dirinya yang juga dipaksa untuk menyetujui keinginannya saat dirinya memohon mencarikan donor darah untuk Arvin.
"Ryuzen Han, kau itu sebenarnya punya hati atau tidak sih?" gumam Sara.
"Ryuzen dengar! Pernikahan bukanlah permainan yang bisa kau mainkan. Bagaimana mungkin
dua orang bisa menikah, tanpa dasar cinta di dalamnya, yang benar saja!" ungkap Sara.
"Bagiku, semua masalahku adalah permainan yang harus aku selesaikan. Suka tidak suka, mau tidak mau aku harus menyelesaikannya dan berakhir menang. Jadi, tidak ada yang tidak mungkin di dalam kamusku!" ucap Ryuzen yang kini berubah jadi terlihat sangat serius.
"Maaf, tapi penawaranmu kali ini sudah gila, aku tidak bisa menyetujuinya! Dan sekarang, aku akan membujuk Arvin lagi untuk ikut pulang bersamaku," ujar Sara yang kemudian berjalan ke kamar tempat Arvin berada saat ini.
Ryuzen menatap Sara yang berjalan pergi, dengan tatapan tajam.
"Baiklah Sara, aku ingin lihat seberapa jauh kau bisa melangkah untuk melawanku.Tapi kurasa semuanya hanya akan berakhir sia-sia, karena pada akhirnya, hanya aku yang berhak memutuskan semuanya."
Ryuzen tersenyum licik.
~~
Sara kini menemui Arvin di kamar, untuk kembali membujuknya agar mau pulang bersamanya.
"Arvin, kau pulang bersama mami ya," bujuk Sara pada putranya.
"Mami, kenapa kau tidak suka sama Paman Ryuzen?" tanya Arvin terdengar sedih.
"Arvin soal itu.. aku tidak bisa jelaskan padamu saat ini. Yang jelas aku hanya ingin kau ikut pulang denganku sekarang."
"Tidak, sudah sejak lama aku ingin tahu siapa papi kandungku, dan saat aku sudah mengetahui dan menemukannya, kau malah ingin aku jauh darinya. Kenapa?!"
Sara tersentak, mendengar putranya berkata tidak mau pulang dengannya dan lebih memilih bersama Ryuzen.
"Apa kau benar-benar lebih menyukainya dibanding diriku?" lirih Sara.
"Kenapa aku harus memilih salah satu dari orang tuaku? Sedangkan, anak-anak lain tidak perlu melakukannya. Kenapa harus aku saja, bukankah itu tidak adil!" ujar Arvin yang tak bisa menahan kesedihannya.
"Arvin..." lirih Sara dengan tatapan sendu.
"Aku..., aku cuma ingin punya orang tua yang lengkap, apa itu tidak boleh?!" kali
ini Arvin terlihat menahan tangisnya.
🌹🌹
Vote, comment, dan like jangan lupa. Thank you🌷