Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chap 39 : Kontrak baru


Sara menemui Ryuzen yang kini tengah menunggunya tempat yang tidak lain adalah villa constel. Sara yang baru tiba pun langsung masuk ke villa. Di ruang utama sudah ada Ryuzen yang telah menunggu Sara menemuinya.


"Kau sudah datang?" ucap Ryuzen yang kini sudah berpenampilan rapih dengan mengenakan kemeja linennya yang terlihat mahal.


Sara pun sudah duduk di hadapan Ryuzen.


"Ini...!" Ryuzen menyodorkan kertas kontrak pada Sara.


"Apa ini? " tanya Sara bingung.


"Sudah jelas itu adalah kontrak baru diantara kita, karena kontrakmu sebagai ART-ku sebelumnya sudah aku bakar. Kini kau harus menanda tangani kertas ini," pinta Ryuzen sambil meletakan bolpoin miliknya di atas meja.


"Apa lagi ini?" Sara bertanya-tanya.


"Nona Sara, kau masih ingat janji yang kau buat sendiri bukan?"


"Kau tenang saja, aku bukan seseorang yang akan mengingkari janji dengan mudah," kata Sara tersenyum getir.


"Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan untukmu?" tanya Sara serius.


"Mudah saja!" ucap Ryuzen dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya.


"Jadilah wanitaku yang selalu menurut padaku."


"Apa?!" Sara kaget mendengar ucapan Ryuzen barusan.


"Tapi....


"Aku sudah berjanji padanya akan memberikan apapun permintaannya sebagai imbalannya. Dan ini memang harga yang seharusnya aku bayar demi Arvin."


Sara menarik nafas dan membuangnya perlahan. "Baiklah, seperti janjiku di awal aku akan lakukan apapun yang kau minta."


Sara pun akhirnya menandatangani kontrak tersebut tanpa membacanya dengan seksama. Ryuzen yang melihat itu hanya bisa tersenyum bangga karena apa yang ia inginkan telah ia dapatkan.


"Entah takdir atau kutukan, aku yang berusaha menghidari masalah dengannya, kini malah aku sendiri yang menciptakan belenggu masalah diantara aku dan dirinya."


~~


~Di dalam Mobil


"Tuan kita mau kemana?" tanya Kenzo sambil menyetir.


"Rumah Sakit Kota" jawab Ryuzen.


"Mana hadiah yang aku minta kau untuk belikan tadi?" Ryuzen menanyakan hadiah yang ia ingin berikan untuk Arvin.


"Ini Tuan...." Kenzo pun memelankan kecepatannya lalu menyodorkan hadiah tersebut kepada Ryuzen yang kini duduk di kursi belakang.


Ryuzen pun menerimanya dan tersenyum hangat saat melihat hadiah itu. (Senyum yang tulus, bukan senyum biasanya yang palsu dan penuh intrik)


"Eh, aku tidak salah lihat kan, Tuan Muda tersenyum seperti itu?" Kenzo melihat Ryuzen dari kaca spionnya.


"Kau lihat apa?" Tanya Ryuzen menyadari di perhatikan oleh Kenzo dari kaca spion.


Kenzo pun langsung kembali fokus menyetir.


"Tidak ada apa-apa Tuan, huh! baru saja lihat dia tersenyum, malah sudah kembali dingin lagi."


"Mami, kapan aku di perbolehkan pulang? Aku sudah bosan...!" keluh putranya itu pada Sara.


"Tentu saja kalau dokter sudah bilang boleh pulang," balas Sara yang kini tengah mengupas sebuah apel.


"Tapi pastinya kapan...?" Desak Arvin.


Sara sendiri pun juga tidak tahu pasti kapan Arvin diperbolehkan pulang.


"Sudah, makan apel ini dulu," Sara menyodorkan sepotong apel yang ia kupas tadi ke mulut Arvin.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruang rawat Arvin. "Selamat Sore semua...!" ucap Kenzo dengan ceria dari arah pintu, Arvin dan Sara pun dibuat terkejut dengan kedatangan mereka (Ryuzen dan Kenzo).


"Kau sudah lebih baik?" kata Ryuzen yang masuk setelah Kenzo menanyakan keadaan Arvin


Arvin di buat tidak percaya melihat kedatangan Ryuzen, yang kini ada di ruangannya. "Kau! Kau kan Paman yang pernah menolongku?!" Seru Arvin.


Ryuzen hanya tertawa kecil melihat Arvin yang sumringah begitu. Entah kenapa dirinya seperti merasa begitu senang saar melihat bocah kecil di hadapannya itu.


"Ehem, maaf tapi bukankah sekarang bukan jam besuk?" ujar Sara tiba-tiba merusak momen Arvin dan Ryuzen.


"Nona Sara anda tidak usah khawatir, rumah sakit ini kan dikelola oleh yayasan keluarga Han jadi tidak masalah kalau kami kesini kapan saja," jelas Kenzo menjawab pertanyaan Sara.


"Huh, sudah kuduga!" cibir Sara dalam pikirannya.


"Apa itu untukku?" Kata Arvin melihat bingkisan yang dibawa oleh Kenzo.


"Iya, ini hadiah dari Tuan Han untukmu." Kenzo lantas langsung memberikan bingkisan itu kepada Arvin.


Arvin yang terlampau senang langsung membuka bingkisan tersebut yang isinya ternyata, action figure Iron man dengan detail yang asli seperti di dalam film.


"Woah....! Aku tidak percaya seumur hidupku akan menerima hadiah sekeren ini!" Arvin tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat ini.


"Mami, lihat! Ini keren sekali kan? Paman Ryuzen Memang keren!" seru Arvin.


"Dia tahu namaku**?" terbesit di pikiran Ryuzen saat Arvin menyebut namanya.


"Jadi, mainan yang Mami belikan tidak keren?" ucap Sara sedikit ngambek pada putranya tersebut.


"Mami, tidak usah iri begitu. Walaupun mainan yang Mami belikan tidak sebagus ini, tapi aku tetap akan suka kok!"


"Kau ini anaknya siapa sih? Masa membandingkanku denga pria yang baru sekali kau kenal!"


"Mami salah, aku dan Paman Ryu sebelumnya sudah pernah bertemu," jelas Arvin.


"Benarkah, dimana?" Sara merasa belum yakin.


"Sungguh, jadi waktu itu aku hampir saja jatuh dari atas pohon dan tiba-tiba Paman Ryuzen dengan cepat datang dan langsung menangkapku dari bawah," terang Arvin sambil mengingat kejadian saat itu.


"Jadi dia sudah menyelamatkan Arvin sebanyak dua kali, ternyata sejak awal aku memang sudah berhutang nyawa Arvin dengan pria ini, betapa menyedihkannya aku, bahkan hal ini saja aku sampai tidak tahu." Pikir Sara.


⚘⚘⚘


Like, comment, vote ya....