Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chap 104 : 45 menit menemukanmu!


~C-lovely Florist


Sara menyematkan tiap tangkai bunga ke atas kertas dan mulai merangkainya, sambil menahan rasa pegal di badannya. Hari ini tubuhnya terasa lelah dan pegal. Sara mengerucutkan bibirnya dan mengomel di dalam hati


"Aku tidak tahu semalam dia itu habis makan apa, badanku jadi pegal-pegal begini!"


"Kak Sara, sepertinya kau agak lelah ya?" ujar Orin yang melihat Sara terlihat lelah, dan terus saja memegangi area dekat pinggulnya.


"Aku tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi semalam bukan?" batin Sara.


"Aku tidak apa-apa, sudah kau teruskan saja kerjanya." balas Sara diikuti tertawa kecilnya.


~Emerald Tower


Kenzo memasuki ruangan Ryuzen dengan sebuah laporan penting yang telah ia dapatkan, Ryuzen seperti biasa sibuk dengan berbagai dokumen dan layar laptopnya.


"Apa yang ingin kau laporkan?"


Kenzo pun mulai melaporkan apa yang ingin ia sampaikan pada Ryuzen.


"Tuan muda, sepertinya Lizo Xiao sudah mengetahui jika kau kini tengah mengincar dirinya."


"Oh jadi begitu ya...," Ryuzen menatap tajam, namun masih fokus pada pekerjaannya.


"Apa dia juga tahu hubunganku dengan Sara?" tanya Ryuzen.


"Soal itu..., aku belum menyelidikinya Tuan," balas Kenzo terlihat agak gugup.


"Cari tahu secepatnya, dan laporkan padaku. Tidak boleh sampai terjadi hal buruk lagi padanya karena ulah Lizo bodoh itu," tukas Ryuzen.


"Baik Tuan!!"


"Tuan muda kalau sudah menyangkut istrinya tidak bisa ditawar-tawar lagi, orang yang lagi jatuh cinta memang sulit ditebak..." gumam Kenzo sambil tekikik.


"Masih berdiam diri, Kenzo kau dengar perintahku tidak?!"


"Iya, Tuan aku siap melaksanakan tugas darimu!" Kenzo pun mengangguk paham lalu permisi ke luar ruangan dengan secepat mungkin.


Ryuzen yang masih tetap duduk diatas kursi bos miliknya, memasang wajah serius .


"Aku tidak akan membiarkan Lizo atau siapapun berani menyentuh apalagi menyakiti Sara," ungkap Ryuzen bersungguh-sungguh.


~Oracle Cafe n Resto


Nampak beberapa makanan di atas meja, Sara dan Gina kini tengah menikmati makan siang mereka, dan seperti biasanya mereka akan membicarakan banyak hal.


"Hh..., Sara aku sudah bilang padamu jangan jatuh cinta pada pria itu, tapi kau malam sungguhan jatuh cinta padanya,"


Gina merasa bingung setelah Sara menceritakan dan jujur soal perasaannya terhadap Ryuzen saat ini.


Sara pun tak mengerti harus bagaimana, dia malah terus saja mengaduk-aduk minumannya.


"Tapi mau bagaimana lagi, Ryuzen tampan, kaya raya, badannya juga bagus. Tidak aneh kan kalau wanita banyak yang suka padanya, termasuk aku!" ungkap Sara pasrah menerima nasib, seolah membela diri karena sudah terlanjur jatuh dalam pesona pria flamboyan yang terkenal sebagai seorang yang kejam dan berdarah dingin tersebut.


"Ya..., kalau sudah begini berarti kau harus sudah siap menerima konsekuensinya bukan?"


Sara mengangguk, "Aku paham, bahkan sangat paham. Mencintai pria yang memiliki banyak wanita di sekelilingnya bukan hal mudah, bahkan aku harus sudah siap menelan pil pahit dan hantaman yang mungkin akan aku dapatkan setiap harinya," terang Sara yang matanya terlihat mulai sendu kala membicarakan hal tersebut.


Gina menyentuh tangan Sara dan menatap sahabatnya tersebut, seolah memberi kekuatan padanya.


"Aku tahu kau wanita yang sangat kuat, dan aku yakin kau akan menemukan kebahagiaanmu suatu saat nanti, aku yakin itu!" ujar Gina dengan sangat yakin.


Sara membalas dengan senyum


Bahkan aku sudah pasrah akan kebahagiaan di hidupku, sejak aku menandatangani pernikahan dengan Ryuzen.


Mungkin... lepas dari belenggu Ryuzen, adalah jalan terbaik, tapi aku tidak tahu bagaimana melepasnya. Ditambah adanya Arvin malah membuatku semakin sulit lepas dari pria itu.


Bisa jadi kebahagiaanku memang hanya sebatas angan, bahkan mungkin hanya sebatas fatamorgana di padang pasir yang sangat panas.


~~


Keesokan harinya, Sara, Thomas dan para pegawainya pergi ke gedung Marigold untuk melakukan pendekoran ruangan disana.


~Pukul 04.40 sore waktu setempat


Sara dan lainnya saling membantu, Sara berulang kali mengecek kesegaran bunga dan juga kerapihan dekorasinya. Sara cukup ahli dalam penataan dan dekorasi ruangan, mengingat dulu orang tuanya pernah memiliki usahan event organizer, jadi Sara sudah lumayan familiar dengan bidang dekorasi.


C-lovely saat ini sudah memiliki banyak pelanggan maka pekerjaan Sara dan lainnya pun jadi semakin berat.


"Sara, ini sepertinya sudah oke! Ruangan ini benar-benar tersulap jadi taman bunga di dalam ruangan. Besok jam 10 pagi kita tinggal mengecek ulang semuanya sebelum acaranya benar-benar dimulai," terang Thomas.


"Ya, kau benar! Kalau begitu ayo semua kita segera bergegas keluar ruangan, karena ruangan ini lantainya harus segera dibersihkan!" ucap Sara.


Sara dan yang lainnya pun ke luar, dan beranjak kembali ke toko.


~ C-lovely florist


"Argh..., aku lupa! Aku harus menelepon dokter saat ini, tapi ponselku malah habis baterai!" ujar Orin kesal karena ponselnya mati.


Sara menawarkan ponselnya pada Orin dan mempersilakan menggunakannya, jika dirinya benar-benar harus menghubungi seseorang. Tawaran Sara pun langsung disambut hangat oleh Orin, ia pun segera menekan angka-angka dan menelepon seseorang yang ingin ia hubungi saat itu.


Saat berdiam diri menunggu, tiba-tiba Sara ingat sesuatu, "Oh iya, hari ini kan tepat pukul 5 sore ada diskon besar-besaran di supermarket!" Sara yang baru ingat akan hal itu langsung pun langsung beranjak untuk segera pergi.


"Sara kau mau kemana?!" seru Thomas melihat Sara yang tengah beranjak pergi.


"Aku harus ke supermarket sekarang juga! Maaf ya aku serahkan sisanya pada kalian, hanya sebentar kok! Nanti aku kembali lagi," ujar Sara yang telah melenggang pergi.


Karena tegesa-gesa, Sara pun sampai lupa dengan ponselnya yang di pinjam oleh Orin dan belum dikembalikan.


Beberapa menit kemudian, "Lho? Mana kak Sara?" tanya Orin yang ingin mengembalikan ponsel milik Sara.


"Dia sudah pergi ke supermarket dengan kilat, entah apa yang membuatnya seketika jadi atlet lari," jelas Rina.


"Tapi ponsel miliknya masih bersamaku," tandas Orin.


"Ah temanku itu memang ceroboh, sudah sini nanti biar aku berikan padanya saat ia kembali ke sini. Dia bilang sih akan kembali lagi." Orin pun memberikan ponsel milik Sara pada Thomas.


~~


"Thomas, kenapa kak Sara belum juga kembali? Aku ingin mengucapkan terima kasih atas pinjaman ponselnya tadi," terang Orin yang masih menunggu Sara.


"Aku juga tidak tahu pergi kemana dia? Apa terkena macet, tapi apa iya semacet itu?,"


"Begini saja, lebih baik kalian pulang karena ini sudah lewat jam kerja kalian. Ucapan terima kasihmu simpan saja untuk besok, biar aku disini menunggu Sara kembali."


Orin dan Rina yang tadinya masih menunggu Sara pun, akhirnya memutuskan mengikuti kata Thomas dan pergi pulang. Sedangkan Thomas masih menunggunya.


Pukul 07.00 malam


"Sara, kau itu kemana sih? Ponsel tidak kau bawa, huh kau itu temanku tapi kenapa ceroboh sekali sih!" ungkap Thomas kesal dan mulai cemas melihat Sara belum juga ada tanda-tanda kembali.


~Gedung Marigold


Sara masih terus berusaha tenang dan berteriak minta tolong dari dalam lift yang macet, dan berharap ada yang mendengarnya.


"Tolong! Apa ada orang diluar?! Apa ada yang mendengarku!" teriak Sara sambil terus menggedor-gedor pintu lift yang tidak bisa dibuka tersebut.


"Ya Tuhan, sudah berapa lama aku terjebak disini. Pasti Thomas dan lainnya sedang menungguku!"


"Aku harus keluar segera dari sini, tapi bagaimana caranya? Harusnya tadi aku tidak perlu kemari lagi," ujar Sara menyesalinya.


Pukul 07.45 malam


Sara belum juga kembali, Thoma semakin panik Saja.


"Sara... kau dimana sih?!"


Thomas akhirnya memutuskan untuk menghubungi Gina lewat ponsel Sara,


Gina : Ya, ada apa Sara?


Thomas : Gina ini aku Thomas, apa Sara bersamamu?


Gina : Bersamaku? Baimana bisa bersamaku, ponselnya saja ada padamu!


Thomas : Sara tadi pergi ke supermarket dia bilang akan segera kembali tapi ini sudah hampir 3 jam dia belum juga pulang , dan dia tidak membawa ponselnya.


Gina : Apa? Si bodoh itu! Oke kau tenang, aku akan bantu mencarinya.


Thomas ::Okey!


*mematikan panggilan.


Gina jadi ikut cemas ia pun bergegas mencari Sara, dengan meminta bantuan Jesper.


Pukul 8.20 malam


Sara masih terjebak di dalam lift hampir 2 jam lamanya.


"Ya Tuhan, ku mohon kuatkan aku...!" Stamina Sara mulai menurun perlahan, kepalanya juga sudah mulai semakin pusing karena kekurangan oksigen. Tubuhnya mulai perlahan-lahan lemas dan tak kuat untuk berdiri dan berteriak, nafasnya juga mulai sesak dan engap. Ia duduk terkulai lemas di dalam kabin lift, sambil terus berusaha membuat suara-suara apapun dari dalam lift, dan berharap ada yang mendengarnya dari luar.


~~


Sementara itu Jesper dan Gina, mencari Sara bersama. Jesper jelas terlihat begitu panik saat ini, terlihat dari carannya menyetir yang tidak setenang biasanya.


"Sara, semoga kau baik-baik saja...," ungkap Jesper


~~


Di C-lovely Thomas masih terus menunggu Sara dan menunggu kabar dari Gina.


Ponsel Sara tiba-tiba berdering, ternyata panggilan dari Rony. Thomas pun tanpa ragu mengankatnya.


Thomas : Hallo Rony


Rony : Eh siapa? kenapa bukan Sara


Thomas : Rony, ini aku Thomas


Rony : Thomas?


Thomas : Rony, Sara meninggalkan ponselnya dan pamit pergi ke supermarket tadi, namun hingga saat ini dia belum juga kembali.


Rony : Apa?!, Oke, aku akan mencarinya saat ini juga (dengan nada suara cemas)


Thomas : Tolong ya Rony.


*Mengakhiri obrolan


"Sara.., kau pasti baik-baik Saja kan?" ujar Rony terlihat begitu cemas.


~~


Pukul 09.15 malam


Sara masi juga terjebak di dalam lift, kali ini nafasnya benar-benar mulai sesak dan kesadarannya pun perlahan menghilang.


".... Aku harus bertahan, Arvin masih membutuhkanku untuk hidup, siapapun tolong aku! Tuhan kumohon jangan kau cabut nyawaku dulu...," batin Sara tak hentinya terus berucap dan berdoa.


~Emerald Tower


Ryuzen dengan sangat sigap berjalan pergi meninggalkan ruangannya, setelah menerima pesan dari Gina soal Sara, "Kenzo, kita ke C-lovely sekarang!" titah Ryuzen pada Kenzo yang sudah sejak tadi di ruangannya.


"Baik Tuan,"


"45 menit cukup! Sara tunggulah, aku akan menemukanmu...!" ucap Ryuzen melihat detak waktu pada arlojinya, dan berjalan melangkah pergi dengan penuh keyakinan.


๐ŸŒน๐ŸŒน


Vote vote.... ๐Ÿ˜˜


Like


Comment


Thank You