
"Ada apa kau ingin bertemu denganku?!" ujar seseorang tersebut yang tidak lain adalah Rony Ang. Ryuzen menghabiskan rokoknya lalu menoleh ke arah Rony yang kini, sudah berada berdiri sekitar 1 meter di sebelahnya. Namun Rony enggan menoleh ke arah Ryuzen.
Ryuzen tersenyum miring, dan mulai membuka mulutnya dengan ucapan basa-basi.
"Apa kabar Ron?"
"Heh, aku baru tahu CEO Emerald ternyata jadi suka basa-basi begini," sindir Rony.
"Kau memang sudah mengenalku diriku," ujar Ryuzen mendengus.
Rony tiba-tiba mulai serius, "Paman, bertahun-tahun aku mengagumimu, aku menghormatimu, tapi maaf semua itu tidak berlaku lagi sejak kau menjadikan Sara sebagai salah satu koleksi wanitamu!"
"Ternyata salah! Kau tidak mengerti aku sama sekali Rony."
"Apa yang tidak aku mengerti tentangmu huh?! Kau pria yang bisa melakukan apapun asal tujuanmu tercapai, itukan? Termasuk memaksa wanita sekalipun!" ujar Rony yang sudah mulai naik pitam.
"Aku rasa sudah cukup basa basinya, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu," balas Ryuzen dengan serius.
"Apa?" tanya Rony.
"Aku tidak akan pernah melepaskan Sara sampai kapanpun! Dan jika kau ingin merebutnya dariku maka aku tidak akan segan-segan lagi padamu, atau siapapun yang mencoba merebutnya dariku," terang Ryuzen dengan serius.
Rony yang sudah naik pitam, mencengkram pakaian Ryuzen dan menariknya sambil menatap marah pada Ryuzen, sedangkan Ryuzen hanya bergeming tanpa perlawanan.
"Kau pikir kau siapa huh?! Dengar Ryuzen! Sejak aku tahu kau menikahi Sara, sejak saat itu juga aku sudah menganggap kita bukan lagi paman dan keponakan, jadi jangan harap aku akan menyerah padamu!"
Ryuzen menepis tangan Rony dengan mudah, dengan ekspresi dinginnya ia menatap balik Rony dengan tajam.
"Aku tidak peduli kau mau menyerah atau tidak, aku hanya ingin memberitahumu satu hal! Apa yang jadi milikku, maka selamanya adalah miliku, termasuk Sara istriku! Tidak ada yang bisa mengambilnya dariku."
"Ryuzen kau Brengsek!" Rony emosi dan akhirnya meninju wajah Ryuzen, Ryuzen yang sama sekali tidak menghindar, dan malah sengaja membiarkan Rony memukulnya.
"Sudah puas? Atau masih mau memukulku? Kau tahu, aku anggap pukulanmu barusan adalah ungkapan kekecewaanmu padaku, dan aku terima itu!" ujar Ryuzen dengan ekspresi dingin.
"Kau!" tinju Rony melayang untuk kedua kalinya di wajah Ryuzen, dan Ryuzen masih tetap saja membiarkan Rony memukulnya tanpa melawan.
"Bagaimana, kau sudah puas memukul wajahku?" ucap Ryuzen dengan santainya, tanpa peduli jika bagian dekat bibirnya saat ini agak sedikit memar akibat pulukan dari Rony.
"Dengar Rony, kau selamanya adalah keponakanku. Aku hanya berharap kau menemukan kebahagiaanmu sendiri, tapi kebahagiaanmu bukanlah pada Sara," ucap Ryuzen.
Rony yang tengah mengepalkan kedua tangannya merasakan pilu bercampur marah yang ada di dalam hatinya pun berujar, "Kau! kenapa harus pamanku sendiri...!"
"Maaf Rony, tapi aku tidak bisa melepaskan Sara dan menyerahkannya pada siapapun, sekalipun dirimu." Ryuzen pun melangkah pergi meninggalkan Rony.
~Kairaku Bar n Lounge.
Sara dan Ryuzen masuk bersama-sama ke kairaku. Di lounge sudah ada Yoshiki, Jason dan Alin Yifei yang sejak tadi minum-minum.
"Sedang asyik berpesta?!" ujar Ryuzen melihat sahabat-sahabatnya tersebut.
"Woah, Bos Emerald sudah datang! Dan...., Sara?" ucap Jason agak tidak percaya melihat Sara ikut datang bersama Ryuzen kali ini.
"Hallo...!" sapa Sara.
"Hai Sara, setelah sekian lama akhirnya kau mengunjungi kairaku lagi," tandas Jason
"Sara, apa kabar?" sapa Yoshiki dengan santai
"Aku baik-baik saja kak Yoshiki," balas Sara ramah, yang kemudian dibuat kaget karena tiba-tiba di dekati oleh Alin Yifei. Alin terus saja memandangi Sara dengan seksama dari dekat.
"Bukannya wanita ini aktris yang baru-baru ini digosipkan ada hubungan dengan Ryuzen? Tapi kenapa...," pikir Sara melihat Alin yang menandanginya terus-menerus.
"Eh..." ujar Sara tiba-tiba saat Alin Yifei memeluknya dengan tiba-tiba.
Ryuzen yang melihat hal itu hanya bisa mengangkat sebelah Alisnya keheranan.
"Ah, akhirnya aku melihat langsung istrinya Ryuzen Han," tukas Alin.
"Ada apa ini?!" Sara jadi bingung karena tiba-tiba dipeluk Alin. Melihat Sara yang kebingungan, seketika itu juga Alin pun langsung melepaskan pelukannya tersebut.
"Benar kata Yoshiki, ternyata kau memang cantik sekali!" puji Alin pada Sara.
Sara tersenyum kecil mendengar pujian yang di lontarkan Alin.
"Uh, kau kenal aku?" tanya Alin tak menyangka.
"Mana mungkin aku tidak kenal Alin Yifei. Waktu aku masih sekolah dulu, kau adalah idola para remaja saat itu, dan sekarang malah bisa lihat secara langsung, dan kau benar-benar cantik," ujar Sara diikuti tertawa kecilnya.
"Uh, kau manis sekali! Andai saja aku pria aku sudah pacari dirimu!" kelakar Alin. Ryuzen pun dengan sergap menjauhkan Sara dari Alin yang terlihat mulai mabuk dan mau memeluk Sara lagi.
"Jangan terlalu dekat dengan wanita yang baru di cerai, dia bukan contoh yang baik," ucap Ryuzen menghalangi Sara didekati Alin.
"Ryuzen kau kejam sekali hua...!" Alin mulai merengek.
"Sudahlah, Sara kau duduk saja, biar aku buatkan cocktail untukmu ya," Yoshiki mempersilakan Sara duduk.
"Tentu, terima kasih kak!" balas Sara yang kemudian, duduk bergabung dengan Jason dan yang lainnya.
"Ryu, kau mau minum apa?" tanya Yoshiki.
"Seperti biasa," balas Ryuzen yang juga baru saja duduk.
"Tumben sekali kau bawa istrimu?" ujar Jason menelisik Ryuzen.
"Memang kenapa?" dengan ekspresi wajah serius dan tatapan tajamnya membalas pertanyaan Jason.
"Aku kan hanya bertanya!" gerutu Jason.
Sara sendiri hanya duduk dan menikmati suasana di kairaku, karena jujur baginya tidak terlalu biasa berada di tempat seperti ini. Selang beberapa saat kemudian, Yoshiki akhirnya datang dan membawakan minuman untuk Sara dan Ryuzen. Dan mereka pun saling mengobrol santai.
Saat yang lain mengobrol, Alin justru malah terus saja memperhatikan Sara.
"Nona Alin, apa ada yang salah denganku, kenapa kau melihatku begitu?" tanya Sara merasa tak nyaman terus menerus diperhatikan begitu olehnya.
"Nope! aku hanya sedang berpikir dari gaya berpakaianmu, dan parasmu itu mengingatkanku pada Erika saat masih pacaran sama Ryu," jelas Erika dengan jujurnya.
Ryuzen yang merasa tidak nyaman dengan ucapan Alin pun menyela, "Orang mabuk, kalau bicara memang suka ngelantur!"
"Hei, aku memang tidak sadar betul, tapi asal kau tahu saja, sejak kau bawa dia dan melihatnya lama-lama dia memang terlihat ada kemiripan dengan Erika saat masih pacaran denganmu dulu!
"Oh jangan-jangan kau belum bisa melupakan Erika, jadi pilih istri yang kriterianya mirip-mirip Erika iya kan..? Ayo mengaku saja!" kelakar Alin yang sudah mulai mabuk.
Alin pun terus saja bercerita tentang Erika, hingga Jason yang merasa ucapan-ucapan Alin mulai tak terkendali, akhirnya memutuskan untuk membawanya pulang Alin.
Sementara itu Sara yang berada tidak jauh dari Alin yang terus saja berceloteh, sejak tadi tidak bicara satu kata pun. Dia hanya sibuk meminum cocktailnya dan memperlihatkan senyum getirnya yang sesekali ia munculkan. Ryuzen sendiri yang menyadari hal itu, saat ini belum bisa mengatakan apa-apa, dirinya tidak tahu pasti apa yang dirasakan oleh Sara. Cemburukah, aneh, atau apapun itu. Yang jelas bagi Ryuzen situasi saat ini sangat tidak bagus untuknya dan Sara.
~Villa Constel
Ryuzen dan Sara sudah tiba di villa, sejak di mobil mereka berdua tak banyak bicara bahkan hampir tak bicara sama sekali. Ucapan Erika di kairaku benar-benar memenuhi isi kepala Sara saat ini. Ia ingat sekali perkataan Alin tentang Erika yang adalah pacar Ryuzen sejak kuliah di London dulu, sekaligus cinta pertamanya.
"Sara...." panggil Ryuzen
"Ya? Ada apa?" jawab Sara seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apa kau memikirkan kata-kata Alin tentang Erika tadi?"
"Astaga Ryuzen kau ini, untuk apa aku memikirkan hal itu, jelas-jelas aku tidak kenal dengan si Erika itu, atau jangan-jangan kau yang tiba-tiba teringat sang cinta pertamamu itu, iya kan...?" ucap Sara di ikuti gelak tawa palsunya.
"Sara, sebenarnya kau itu punya hati atau tidak sih?" ucap Ryuzen menatap Sara dalam-dalam.
"Justru karena punya hati, aku jadi begini," jawab Sara tersenyum getir.
"Baiklah... kalau begitu, selamat malam!" ucap Ryuzen dengan ekspresi dingin, lalu berjalan pergi meninggalkan Sara menuju ruang kerjanya.
"Selamat malam Ryuzen," ucap Sara sambil menahan rintihan di hatinya.
Dan sekarang aku tahu alasanmu, kau sedang menunggu cinta pertamamu untuk kembali padamu kan?
Kenyataannya aku yang hanya bisa berharap dapat masuk ke relung hatimu, malah harus menerima pahitnya cinta sepihak, sungguh menyedihkan!
๐น๐น
Thanks yang masih mau setia baca tulisan saya.
Jangan lupa Like, comment, and Vote ๐๐น