
~Kediaman Utama Keluarga Han
Ryuzen menuju taman belakang di kediaman utama Keluarga Han, disana ada Neneknya Ivy Han dan Kakak perempuannya Miya yang sedang menemani Neneknya.
“Nenek!” seru Ryuzen melihat neneknya yang sedang menikmati teh di sore hari bersama Kakak perempuannya.
“Kau akhirnya ingat padaku,” balas Nenek dengan suaranya yang lembut dan agak parau.
“Kau sehat? maaf aku tidak bisa mengunjungimu akhir-akhir ini," ucap Ryuzen yang kemudian duduk di sebelah neneknya.
"Aku tahu kau sibuk dengan segala pekerjaanmu, tapi Ryu cucuku kau harus jaga kesehatanmu juga," kata nenek yang mengkhawatirkan cucunya.
“Kau tidak usah khawatir padaku nek, aku baik-baik saja," Jelas Ryuzen yang tidak ingin neneknya merasa khawatir padanya.
“Kalau kau punya istri, mungkin Nenek tidak akan terlalu khawatir denganmu,” celetuk Miya sang Kakak.
“Kau ini sengaja berbicara begitu di depan nenek untuk memprovokasiku ya Kak?” tanya Ryuzen pada Kakaknya.
“Tidak juga, hanya berkata sesuai yang ada dipikiranku saja," balas sang Kakak
“Sudahlah miya..," ucap sang Nenek menghentikan perdebatan diantara Kakak dan Adik ini.
“Aku kemari hanya ingin melihat keadaan Nenek, dan selebihnya aku tidak tertarik membicarakan hal lain,” tegas Ryuzen dengan wajah datarnya.
“Ini aku bawakan bunga aster kesukaanmu,” kata Ryuzen sambil menyerahkan buket bunga yang dibelinya tadi.
Wajah nenek terlihat begitu senang melihat cucu kesayangannya memberikannya buket bunga favoritnya.
“Kau masih ingat bunga kesukaanku?” ucap Nenek
“Sejujurnya aku tidak memilihkan langsung bunga itu untukmu, justru pelayan toko bunga tersebut yang memilihkan bunga aster ini, dan saat itu juga aku jadi ingat saat kecil Nenek suka sekali menanam bibit bunga aster di perkebunan keluarga kita yang ada di kota Cardia,” jelas Ryuzen.
“Begitukah? wah kebetulan sekali,” tukas Nenek yang kemudian meminta Miya untuk menaruh bunga-bunga aster segar tersebut ke dalam vas bunga miliknya di dalam rumah.
Miya pun langsung beranjak dari kursinya, mengambil buket bunga tersebut dari tangan Neneknya, dan membawanya masuk untuk di letakan di dalam vas bunga.
“Ryu, aku tahu, aku tidak bisa memaksamu untuk menikah, karena jika aku melakukan hal yang sama seperti yang Kakekmu lakukan dulu, hal itu hanya akan membuat banyak orang tersakiti," ucap nenek sambil menganduk-aduk tehnya.
“Aku tahu!" balas Ryu datar
“Jika Nenek bertanya apa kau ingin menikah tahun ini, maka apa jawabanmu?” tanya Nenek.
“Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku hanya akan menikah jika aku mau dan memiliki alasan kuat untuk menikah!" Tegas Ryuzen dengan mimik wajah ya cukup Serius
“Sudah ku duga," ucap nenek yang kemudian menyeruput secangkir teh hijau yang ada ditangannya.
“Aku yang sudah tua ini hanya bisa berharap kau bahagia dengan semua pilihan hidupmu, aku tidak mau apa yang dirasakan mendiang orang tuamu terjadi padamu," ungkap nenek lembut namun bernada serius.
Miya yang tadi masuk ke dalam, kini telah kembali ke taman belakang dan bergabung dengan Ryuzen dan Neneknya.
“Kau mau minum apa? biar aku minta pelayan buatkan untukmu," tanya Miya menawarkan adiknya minum.
“Tidak terimakasih, aku tidak lama-lama hanya ingin memastikan nenek baik-baik saja, karena tadi putramu datang ke kantorku dan bilang Nenek merindukanku," jelas Ryuzen pada kakaknya.
“Aku baik-baik saja Ryu, aku hanya merindukanmu dan khawatir saja denganmu,” ucap nenek lembut.
“Baiklah Nek, tapi aku harus pergi lagi, maaf jika aku membuatmu khawatir akhir-akhir ini," ucap Ryu pada Neneknya.
“Kak, tolong jaga nenek," ucap Ryuzen pada Miya
“Aku tahu, kau juga jaga kesehatanmu baik-baik," balas Kakaknya.
“Oh iya kak, titip salamku juga untuk kakak Henri Ang."
“Ya, tentu saja akan aku sampaikan,” jawab Miya pada Ryuzen.
“Kalau begitu, Nenek, Kakak aku pergi dulu," pamit Ryuzen yang kemudian langsung berjalan pergi.
⚘⚘⚘
Vote, Like, comment 😉