
Hembusan angin seolah mendesir menyentuh kalbu dengan lembutnya, ribuan bunga sakura seakan merekah di padang savana yang gersang. Mata wanita cantik berambut panjang yang kini berdiri itu, seolah bekaca-kaca melihat seseorang di hadapannya. Seseorang yang paling ingin ia temui sejak kemarin, seseorang yang paling ingin disentuhnya saat itu juga.
Pria itu mengulurkan senyum simpulnya, menatap lembut wanita cantik dengan mata sendunya, merentangkan kedua lengannya yang mengisyaratkan agar permaisuri hatinya segera datang berjalan ke dalam dekapannya.
Sara berlari ke arah pria itu, dengan mata yang sudah mengeluarkan bulir air matanya, ia berlari dan memeluknya hingga bunga mawar yang ada di tangannya jatuh terlepas. Ryuzen pun langsung menangkap wanita yang datang menerjangnya dan mendekapnya dengan sangat erat, hingga tak ingin melepaskannya. Lonceng gereja berbunyi, semerbak wangi lavender di bawah langit senja menyatu dalam suasana yang nyaman untuk saling berpelukan, dan melepas rindu yang tak tertahankan.
"Aku merindukanmu..!" ucap Sara dengan lembut, aroma kasturi bercampur lemon di tubuh Ryuzen seakan menjadi candu untuk Sara saat ini, menenangkan sekaligus memabukkan. Begitu pun Ryuzen yang dapat dengan jelas menghirup aroma sampo yang biasa di pakai oleh Sara. Dua insan itu saling berpelukan seolah tenggelam dalam kehangatan satu sama lain.
"Aku sudah ada disini sayang ..!" ucap Ryuzen dengan suara beratnya yang terdengar begitu memenangkan saat ini, Sara akhirnya melepaskan pelukannya dari tubuh Ryuzen.
"Kau menyebalkan!" ujar Sara tiba-tiba dengan nada seolah kesal.
"Maaf, aku sudah membuatmu rindu dan khawatir," balas Ryuzen menundukan kepalanya hingga menempel pada dahi milik Sara.
"Si... siapa yang khawatir!" ujar Sara memalingkan wajahnya seolah menampik dirinya yang nyatanya memang rindu, tapi apa daya dirinya juga agak kesal dengan suaminya itu, karena hampir dua hari tak menjawab pesan atau pun panggilannya.
"Jadi... setelah kau bilang merindukan dan memelukku seerat itu tadi, masih mau bilang, tidak rindu dan khawatir sama sekali?" goda Ryuzen, yang berhasil membuat Sara terlihat malu.
"Huh, kau memang menyebalkan! Sudah aku mau pergi cari makan saja kalau begitu," tukas Sara yang kemudian melangkah pergi.
"Tunggu dulu!" ujar Ryuzen menghentikan Sara, wanita itu pun menoleh dan membalikan badannya. Ryuzen berjalan menghampiri Sara, ia mendekatinya dan mengangkat tangannya lalu meraih kalung yang ada di leher Sara. Ryuzen mengangkat kalung itu yang ternyata ada cincin pemberian Ryuzen untuk Sara di hari ulang tahunnya menggatung seolah liontin kalungnya.
"Kau, kenapa...? Kenapa kau tidak mengenakannya di jari manismu?" ucap Ryuzen menatap cincin itu kemudian menatap Sara.
Sara memalingkan wajahnya sedikit dan menatap sendu, "Bagaimana bisa aku memakainya, kau saja tidak bilang apa-apa soal cincin itu," balas Sara.
"Lalu...?" ujar Ryuzen dingin!
"Entahlah, kau buat aku bingung! Aku tidak mengerti sebenarnya maksudmu memberiku itu, maksudku.... kau bahkan tidak langsung mengatakannya. Jadi, bagaimana aku bisa....
"Sara aku mencintaimu!"
Ryuzen melontarkan kalimat itu spontan, angin berhembus lebih kencang untuk beberapa saat, seolah menggambarkan hati Sara yang kini seperti mendesir saat mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut seorang Ryuzen Han secara langsung. Sara seolah membisu untuk sekian detik, hingga akhirnya ia mampu membalas ucapan Ryuzen.
"Tuan Han, kau tidak bisa bermain-main dengan ucapanmu yang barusan loh...," ucap Sara dengan tatapan yang masih terlihat sendu.
"Ryuzen apa kau benar-benar serius akan hal ini padaku?" suara batin Sara bertanya.
Ryuzen pun meraih kedua tangan Sara, menggenggamnya keatas dadanya dan menatap wanita yang amat ia cintai itu dalam-dalam.
"Sara... Aku memang bukan pria paling sempurna di muka bumi, aku bukan pria romantis, aku juga bukan pria yang mungkin kau impikan hadir di dalam hidupmu selama ini. Tapi kau harus tahu, tidak akan ada pria manapun selain aku yang akan mampu dan berani untuk mencintaimu selayaknya aku mencintaimu."
"Kenapa kau bisa berpikir begitu?" tanya Sara yang penasaran dengan jawaban Ryuzen.
"Karena jika ada pria lain yang berani menghalangiku memiliki dan mencintaimu, maka akan kucabut nyawanya saat itu juga, hingga tidak ada lagi yang berani mencintaimu dan mengambilmu dariku."
Sara tertegun mendengar ucapan Ryuzen barusan yang, terdengar mengerikan tapi justru membuat dirinya seolah senang tak terperi, namun sayang dirinya kini seolah tak tahu harus berekspresi seperti apa saat ini.
"Jadi...?"
"Sara..., aku mencintaimu dengan seluruh hidupku. Hanya kau wanita yang aku mau, hanya kau wanita yang boleh jadi ibu dari anak-anakku, hanya kau wanita yang mampu memberikan apa yang tidak pernah aku rasakan seumur hidupku! Jadi aku mau kau menerima pengakuan cintaku," ucap Ryuzen lalu mengecup tangan Sara yang ia genggam saat ini.
Sara tersenyum dan menarik tangannya dari genggaman Ryuzen.
Ryuzen mencubit lembut dagu tirus Sara, dan menghadapkan wajahnya pada dirinya menatap Sara dengan tatapan intens namun terlihat tulus.
"Aku tidak pernah menerima sebuah penolakan sebelumnya nona Sara, hanya kau yang berani menolakku selama ini, tapi kali ini aku yakinkan kau akan menerimaku dengan segenap jiwamu.
"Jadi sekarang tatap mataku dalam-dalam dan jawab aku. Aku mencintaimu Sara lalu, apa kau juga mencintaiku?" ucap Ryuzen.
Sara menatap Ryuzen dalam-dalam, baginya dirinya saja menerima Ryuzen dengan mudahnya sejak tadi, toh dirinya memang juga memiliki perasaan yang sama, akan tetapi naluri Sara berkata, jika dirinya perlu sedikit mengerjai pria yang kini menatapnya dengan intens dan penuh kelembutan itu.
Sara tersenyum kecil dan berkata, "Kau ingin tahu jawabannya?"
"Tentu...!"
"Kalau begitu merunduklah sedikit lagi," pinta Sara.
Tanpa berpikir panjang Ryuzen pun langsung mengindahkan kemauan sara tersebut, dan merundukkan kepalanya.
Sara mendekatkan bibirnya ke telinga Ryuzen, sebuah kebiasaan yang mungkin sering dilakukan Ryuzen pada dirinya, dan kini giliran Sara melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ryuzen padanya.
"Jawabannya..., aku tidak mencintaimu...."
Ryuzen hampir saja terperanjat namun tidak jadi saat Sara melanjutakan lagi kata-katanya, "Aku memang tidak mencintaimu tapi... aku sangat mencintaimu Ryuzen Han, Aku mencintaimu sangat...!" ucap Sara.
Ryuzen menyeringai puas, dan dengan spontan langsung menggenggam wajah Sara dengan lembut, dan mendaratkan bibirnya ke bibir merona milik Sara. Sara pun langsung membalasnya dengan mengalungkan tangannya ke leher Ryuzen, yang tangannya kini sudah merangkulnya erat tubuhnya. Dan untuk pertama kalinya mereka berciuman setelah mengetahui dengan pasti isi hati satu sama lain. Pasangan itu cukup lama menikmati indahnya berpagutan mesra di depan hamparan bunga lavender di bawah langit senja.
Dua insan yang saling mencintai. Mereka yang di pertemukan oleh untaian takdir yang tak di sangka-sangka seolah memang dipertemukan oleh semesta, hingga pada akhirnya tiap untaian takdir yang disangka itu kini telah menyatu menjadi satu ikatan yang kuat, yaitu Cinta...
Mereka pun akhirnya melepaskan pagutannya, Sara tersenyum memandangi suami tercintanya tersebut, begitu pun Ryuzen yang juga mengukir senyum tulusnya.
"Sara, aku ingin mengakui pada dunia jika aku adalah pria paling beruntung di dunia saat ini, bagiku kau adalah kebahagiaan yang hilang, yang selama ini aku cari di dalam hidupku!"
"Dan kau satu-satunya pria yang bisa mengembalikan hatiku yang gersang menjadi subur dan indah kembali. Terima kasih Ryuzen!"
Mereka ingin kembali berciuman, namun hal.itu berhasil di gagalkan oleh suara dari perut Sara.
"Sepertinya perutmu tidak sejalan dengan keinginan di pikiranku," ucap Ryuzen yang agak kecewa.
"Mau bagaimana lagi, aku memang lapar sejak tadi!"
Sara yang tersenyum malu, akhirnya meminta Ryuzen mengantarnya untuk ke pasar malam untuk cari makanan disana. Ryuzen pun langsung menuruti permintaan istrinya tersebut.
πΉπΉπΉ
"Love is not in our choice, but in our fate..." π
Two hearts has binding and love petals bloom has begin! π
Semoga kalian suka ya gaiss... π
Vote, like, commentnya ditunggu!