Love Petal Falls

Love Petal Falls
Chap 97 : Pembalasan pt. 2


"Apa? Apa lagi yang ingin kalian lakukan padaku?! Tuan Han... aku mohon ampuni aku, kalau perlu aku akan berlutut dan menyembahmu." Tina memohon pada Ryuzen dengan wajah memelas sambil menangis.


"Aku sudah pernah berbaik hati, tapi kau tidak hiraukan. Jadi terima saja konsekuensinya, karena siapapun yang menggangguku dan orang-orangku, maka dia harus hancur sampai jadi debu!" ucap Ryuzen menatap tajam dan membuang putubg rokoknya, dihadapan Tina.


Kenzo pun telah selesai menyuruh para pembalap itu untuk bersiap di lintasan dimana Tina berdiri di tengah lintasan saat ini. Tina melihat dua mobil yang siap melaju dari kedua arah kanan dan kirinya. Tina pun semakin merasa gelisah, wajahnya pucat pasi membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Ryuzen padanya.


"Kau pernah mencoba mencelakai anakku bukan? Sekarang aku ingin kau juga ada di posisi anakku, bagaimana rasanya ditabrak langsung oleh mobil dengan sengaja!"


Wajah Tina pucat pasi, seluruh tubuhnya gemetar, ia merasa mual. Tina tidak tahu jika ternyata Ryuzen sudah mengetahui jika Arvin adalah darah dagingnya dengan Sara.


"Uahhh... Tuan ampuni aku... aku tidak tahu jika dia anakmu, aku mohon.. Tuan! Kalau perlu aku akan mencium kakimu, menyembahmu, tapi tolong lepaskan aku!" Tina memohon sambil menangis histeris.


Kenzo bertanya lagi pada Ryuzen, "Tuan, apa kau yakin akan lakukan ini sampai dia mati?"


Para pengendara mobil itu pun sudah siap menginjak pedal gas masing-masing.


"Lanjutkan!" perintah Ryuzen tanpa ragu di sorot matanya.


"Tuan... aku mohon...!" ujar Tina masih terus memohon dan memhon.


Para pengendara dari arah kanan dan kiri itu pun akhirnya tancap gas atas instruksi dari Kenzo. Tina hanya bisa terus berteriak agar pengendara itu berhenti namun tidak di hiraukannya sama sekali.


"Tuan muda, kalau sudah marah memang akan menjadi iblis berdarah dingin!" gumam Kenzo melihat kejadian di hadapannya saat ini.


"Stop!" ujar Ryuzen, para pengendara itu pun spontan mengerem mendadak 1 cm dari tubuh Tina,


Tina bagai mayat hidup, saat membuka matanya ia baru mulai merasa lega dirinya ternyata belum mati.


"Tuan?" ucap Kenzo bingung.


"Cukup! Sudah ada yang nanti akan mengurusnya setelah ini, lepaskan dia biar dia pergi," perintah Ryuzen yang kemudian pergi.


"Kalau bukan karena ingat dia, aku sudah buat wanita itu menemui ajalnya sejak awal," ungkap Ryuzen yang tiba-tiba ingat Sara.


Kenzo pun menyuruh orang-orangnya melepaskan Tina, Tina pun langsung bergegas pergi kembali ke hotel Rivera tempatnya yang selama ini ia tinggali di Montegi.


~~


Gina mengajak Sara pergi ke suatu tempat, namun Sara belum mengetahui kemana Gina ingin membawanya.


"Gina sebenarnya kau ingin mengajakku kemana?"


"Nanti kau akan tahu, disana kau juga akan tahu siapa yang mencoba mencelakai Arvin anakmu tujuh bulan yang lalu," ucap Gina serius.


"Jadi kau sudah tahu pelakunya?"


"Hem," Gina mengangguk dan terus saja melajukan mobilnya menuju lokasi yang ia tuju.


~Hotel Rivera


Tina dengan terburu-buru membereskan barang-barangnya dan berencana kabur dari kota Montegi.


"Aku harus segera meninggalkan kota ini, kalau perlu negara ini. Aku tidak mau lagi berurusan dengan Pria bernama Ryuzen Han, dia benar-benar iblis berdarah dingin," Tina pun dengan tergesa-gesa mengemasi barang-barangnya dan bergegas pergi.


"Mau kabur kemana?" ujar Gina menghalangi Tina.


Tina kaget, matanya terbelalak melihat kedatangan Sara dan Gina, Sara terlihat sangat marah dan menatap Tina dengan segala amarah yang terlihat di matanya.


#plakk...


Sara menampar Tina dengan keras.


"Kau berani menamparku!" ujar Tina memegangi pipinya yang berubah merah karena tamparan Sara.


"Kau bahkan pantas mendapatkan lebih daripada sebuah tamparan!" teriak Sara yang begitu emosional saat ini.


Sara mendorong Tina, "Kenapa? Kenapa kau tega mencoba membunuh anakku! Kau itu manusia atau bukan Tina!"


"Arvin itu anakku, secara tidak langsung dia juga keponakanmu, tapi kenapa kau tega melakukan itu padanya! Kau boleh benci padaku, tapi apa salah anakku padamu huh!" Sara semakin emosi di buatnya.


#Plakk!


Sekali lagi Sara menampar keras Tina, bahkan hingga bibir Tina terluka.


"Dasar wanita sialan!" Tina mencoba membalas Sara namun dihentikan oleh Gina.


"Lebih baik, kau simpan tenagamu dipengadilan nanti," ucap Gina Serius.


"Pengadilan?"


"Kaget? Tina yang sombong dan bodoh, apa kau tahu, semua bukti kejahatanmu sudah aku serahkan pada pihak berwajib dan aku pastikan kau akan segera mendekam di jeruji besi," terang Gina yang tidak main-main.


Beberapa saat kemudian 3 orang Polisi pun tiba, Tina yang sudah tidak bisa mengelak kemana-mana lagi, kini ia harus menerima akibat dari perbuatannya.


"Nona Tina, kami dari kepolisian ditugaskan untuk menangkap anda terkait beberapa kasus kriminal yang telah anda lakukan. Jadi anda harus ikut kami sekarang!" ujar Polisi tersebut.


"Borgol dia!" ujar Gina.


"Aku tidak mau masuk penjara! Lepaskan borgol ini!" teriak Tina meronta-ronta.


Sebelum Tina dibawa pergi, Sara pun menghampiri Tina untuk terakhir kalinya.


"Tina, sejak dulu kau dan ibumu selalu menindasku, dan aku yakin ini semua adalah bayaran yang harus kau terima atas perlakuan burukmu terhadapku, karena tahu! Karma itu akan selalu ada!" ucap Sara


"Wanita sialan!" maki Tina pada Sara untuk terakhir kalinya. Polisi pun akhirnya menangkap dan membawa Tina pergi untuk di bawa ke kantor polisi dan menjalani hukumannya.


"Gina...," Sara memeluk Gina.


"Sudahlah, dia tidak akan bisa mengganggumu lagi," Gina menenangkan Sara yang akhirnya bisa bernafas lega.


🌹🌹🌹


Comment, like, votenya juga 😁🌷


Thank you!