
Akhirnya Ryuzen dan Kenzo pun tiba di rumah sakit.
"Tepat seperti dugaanmu tuan, akan banyak wartawan menanti kedatangan kita disini."
"Sial!" maki Ryuzen. Karena situasi seperti ini, mau tidak mau ia memutar balik arah demi menghindari wartawan yang tengah menunggu kehadirannya terkait dengan kasus ini. Akhirnya Ryuzen memutuskan untuk masuk lewat pintu darurat menuju ruang ICU tempat nenek Ivy yang tengah ditangani saat ini. Sesampainya di depan ruangan ICU sudah ada ka Henri dan ka Miya yang berada disana.
Dirinya pun langsung bergabung dengan keluarganya yang lain, "Bagaimana keadaan nenek?" kata Ryuzen terlihat khawatir.
Kak Miya yang sudah sejak tadi ada pun diam tak menjawab apa-apa, karena terlihat jelas jika kakaknya itu kini tengah dalam keadaan syok akan kejadian tak terduga yang terjadi hari ini.
"Jason tengah berusaha menangani nenek Ivy di dalam sana." Kak Henri pun mencoba menjelaskannya pada Ryuzen.
Ryuzen tidak bisa memungkiri jika dirinya saat ini begitu kacau memikirkan semua yang terjadi hari ini. Dirinya tak bisa lagi berpura-pura jika semuanya akan baik-baik saja kali ini, dari sorot matanya pun sudah terlihat jelas jika dirinya nampak tengah begitu terpukul, marah, dan juga tertekan akan semua masalah yang terjadi hari ini.
"Tuan muda!" Seru Kenzo menghapiri Ryuzen
Ryuzen hanya memicingkan mata dan mencoba tetap tenang menatap ke arah Kenzo, yang berjalan menghampiri dirinya. Ryuzen juga pasti sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Kenzo.
Soal keadaan Sara yang saat ini ditahan oleh pihak kepolisiankah?
"Bagaimana?" tanya Ryuzen memastikan.
"Nona Gina sudah ada disana untuk mendampingi Nona Sara di kantor kepolisian Tuan," balas Kenzo.
"Lalu bagaimana perkembangannya?" Tanya Ryuzen dengan suaranya yang berat dan agak terdengar parau.
"Uhm, soal itu nghh-"
Kenzo yang baru saja ingin menjelaskan detail keadaan Sara yang kini berada di kantor kepolisian, terpaksa menahan semua kata-katanya lantaran dokter Jason dan timnya sudah keluar dari ruangan ICU. Miya Han terlihat paling histeris saat ini, dirinya langsung saja menghampiri Jason dan merundung Jason yang baru saja keluar itu, dengan berbagai macam pertanyaan atas kekhawatirannya pada sang nenek yang tengah kritis.
"Bagaimana keadaannya? Nenek, nenek baik-baik saja kan Jason?" Tanya Miya dengan pipinya yang basah karena cucuran air mata. Jason yang melihatnya, hanya bisa menghela napas dan membuka masker penutup mulutnya. Raut wajahnya pun terlihat ambigu, sehingga tidak bisa ditebak, apakah kabar baik atau kabar buruk yang akan disampaikan olehnya saat ini.
Jason secara bergantian menoleh ke arah Miya yang ada di hadapannya, lalu Henri dan terakhir menatap Ryuzen sahabatnya itu, seolah tengah meminta izin dan memastikan semuanya sudah siap mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan.
"Dokter Jason, katakan apa yang memang harusnya seorang dokter katakan pada keluarga pasien! Katakan dengan jelas di hadapan kami semua!" titah Ryuzen pada Jason. Jason pun paham dan akhirnya membuka suara terkait nyonya Ivy.
"Semuanya jujur, aku pun merasa terpukul atas kejadian hari ini, tapi semuanya telah berusaha dengan kemampuan kami. Tapi...."
"Tapi apa huh?" Sambil menarik Jason Miya menangis dan bertanya. Cucuran air mata makin membasahi pipinya, ditambah dirinya yang makin histeris.
"Apa dokter, apa? Nenek baik-baik saja kan?"
"Kak Miya dan semuanya, aku minta maaf, aku dan tim sudah berusaha, tapi racunnya sudah terlanjur menjalar ke seluruh pembuluh darah. Hingga menyerang bagian otak dan bagian vital lainnya. Jadi maafkan aku yang tidak bisa melawan takdir mutlak kematian manusia." Dengan penuh penyesalan dan rasa kehilangan Jason mengatakan jika nenek Ivy telah tiada.
Seorang pria paruh baya, yang baru saja tiba dan mendengar perkataan dokter Jason barusan pun tiba-tiba mematung. Tubuhnya yang terlihat tegap dan gagah seketika lunglai tak berdaya hingga, dirinya jatuh terduduk diatas lantai.
"Ibu..., ini bohong kan?" ucap Jordan yang seketika terduduk lemah diatas lantai mendengar perkataan Jason barusan.
"Tuan Jordan!" Seru Jason melihat putra satu-satunya nyonya Ivy Han yang terlihat sangat tak berdaya saat ini.
Jordan?
Ryuzen yang baru saja merasakan seolah tertusuk belati karena berita kematian sang nenek, yang baru saja di sampaikan oleh Jason, kali ini justru masih harus merasakan tersambar petir, saat dirinya mendengar langsung Jason baru saja menyebut nama Jordan. Nama yang ia tahu seumur hidupnya adalah nama pria yang amat dibencinya.
"Paman Jordan?" Kata Miya yang juga kaget melihat kembalinya Jordan di saat seperti ini. Bisa dibilang, bukan hanya Ryuzen saja, tentunya seluruh anggota keluarga Han, pastinya juga amat sangat tidak menyangka jika, Jordan Han yang telah meninggalkan rumah selama puluhan tahun akhirnya kembali.
"Tuan Jordan, kau baik-baik saja?" tanya Jason sambil membantu Jordan untuk kembali berdiri.
Tatapan Jordan seolah masih kosong, pria paruh baya itu masih merasa dirinya kini sedang berada di dalam mimpi dan bukan kenyataan.
"Tuan Jordan, nyonya Ivy sudah tiada," jelas Jason dengan nada lirih.
"Kau, sedang bercanda bukan Jason? Jika iya, ini benar-benar tidak lucu!" ungkap Jordan sambil menatap Jason yang kini berada disebelahnya.
Jason menggelengkan kepalanya pelan, seraya memberitahu Jordan jika ini semua bukanlah mimpi.
"Jadi, sekali lagi aku harus kehilangan sosok wanita paling berharga dalam hidupku ya?" lirih Jordan dengan perasaan sedih dan terpukul. Bagaimana tidak, bagi Jordan selain Laulin sang istri, nonya Ivy adalah salah satu wanita yang amat dicintainya selama ini. Dan kini, Jordan lagi-lagi harus menerima kenyataan jika, satu lagi wanita di kehidupannya harus meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Tuan Jordan, aku harap kau menemui jasad nyonya Ivy untuk terakhir kalinya," pinta Jason pada Jordan agar menemui jasad nyonya Ivy sebelum dimulai proses pemakaman.
Jordan mengangguk dan mengiyakan perkataan Jason tersebut. Dengan perasaan hancur, Jordan pun melangkahkan kakinya untuk segera menemui jasad sang ibu. Ditemani Jason yang berjalan dibelakangnya, Jordan terus bejalan, hingga kedua matanya beradu pandang dengan mata yang hampir serupa dengan miliknya. Ya, mata yang menatap dingin itu adalah sepasang mata milik seorang Ryuzen, yang tidak lain adalah putranya sendiri. Ryu hanya bisa bergeming layaknya sebuah patung sambil terus menatap mata milik Jordan yang kini menatapnya dalam.
Melihat pertemuan anak dan ayah untuk pertama kalinya, Jason berpikir agar sebisa mungkin keadaan semuanya terkendali. Mengingat keadaan sekarang pasti semuanya masih terpukul dan berduka atas kepergian nyonya Ivy.
"Eghh.... Ryu, tuan jordan, dia-"
"Kenzo kita pergi dari sini!" ujar Ryu memotong perkataan Jason sebelumnya.
"Ta-tapi tuan, bagaimana dengan--"
"Disini sudah ada yang akan mengurus semua urusan pemakaman nenek. Sara lebih membutuhkanku, dan aku harus memastikan bagaimana keadaannya saat ini, apa dia baik-baik saja atau tidak, belum lagi berita di luar sana yang semakin tidak terbendung. Jadi, maaf aku harus pergi," jelas Ryuzen.
Jordan kala itu hanya bisa terus menatap ke arah Ryu yang justru enggan melihat ke arahnya.
Nak, hari ini aku berhadapan denganmu langsung untuk pertama kalinya. Bertemu bukan di waktu yang membahagiakan, melainkan di momen saat aku kehilangan ibuku. Begitu sakit dan tercekik rasanya memang hati ini, ditinggal oleh seseorang yang amat kita cintai. Mungkin hal ini juga yang kau rasakan, dan kau alami saat Laulin meninggalkamu, bahkan mungkin lebih sakit dari yang aku rasakan saat ini. Maafkan aku Ryu....
"Semuanya, aku pergi dulu. Tolong urus jenazah nenek menuju peristirahatan terakhirnya, maaf aku harus pergi sekarang!"
Jason mencoba mendekati Ryuzen, "Ryu, kau...?"
"Jason, terima kasih atas semua usaha terbaikmu untuk nenek. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik." Ryuzen memandang Jason dengan raut wajah dingin miliknya dengan tatapan nanar dan seringai dibibirnya. Bagi Jason, mungkin ekspresi wajah sabahatnya itu lebih cocok disebut topeng penutup kesedihan. Topeng yang sengaja dinampakkan oleh Ryuzen, untuk menyembunyikan betapa rapuh dirinya saat ini.
Jason menepuk pundak Ryuzen dan tersenyum, "Pergilah, aku akan mengurus semuanya."
Ryuzen pun pergi dengan langkahnya yang mungkin masih berat dengan beban. Ia pun ingin melihat proses pemakaman sang nenek tercinta, tapi disisi lain ada Sara yang juga membutuhkannya saat ini.
Nenek, maafkan aku tidak bisa mengikuti proses pemakamanmu. Sara membutuhkanku saat ini, aku yakin kau mengerti akan hal itu. Selamat tinggal, beristirahatlah dengan tenang disana, aku sendiri yang akan menghukum orang yang berani melakukan ini padamu....
๐น๐น๐น
Terima kasih sudah mau setiap membaca ceritaku ya, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.
Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.
Happy reading fellas and i hope you like it. ๐