
~Kawasan distrik 14 kota Montegi
Ryuzen dan Kenzo menunggu sambil datangnya Lizo Xiao yang disinyalir akan melakukan transaksi di tempat ini.
"Tuan! itu Lizo datang ditemani salah satu bodyguard-nya," ujar Kenzo saat melihat Lizo datang ditemani bodyguard-nya.
"Oke... kita tunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya," terang Ryuzen.
"Tuan, kenapa sih kita harus mengendap-endap begini?"
"Saat ini, hanya ini yang bisa kita lakukan, karena hanya dari Lizo bodoh itu aku bisa tahu informasi secara jelas dimana dan bagaimana Biyan Dao saat ini." Kenzo pun mengangguk paham penjelasan Ryuzen barusan.
Ryuzen dan Kenzo kini tengah bersembunyi di balik tumpukan barel anggur yang sudah usang dan tidak terpakai lagi, mereka terpaksa mengendap-endap untuk melihat pergerakan Lizo.
"Tuan muda, kenapa sepertinya malah sepi sekali ya..., seperti tidak ada aktifitas, Lizo juga sepertinya datang sendirian!"
"Sepertinya Lizo memang sengaja mengecohku, sepertinya dia tahu aku akan mengikutinya hari ini,"
"Jadi, informasi soal transaksi yang akan berlangsung sekarang ini, informasinya tidak akurat sama sekali?!" ujar Kenzo pelan.
"Sepertinya...."
"Kenzo merunduk!" seru Ryuzen menunduk sambil menekan kepala Kenzo ke bawah untuk menghindari tembakan yang dilesatkan oleh bodyguard yang ada di sebelah Lizo. Ryuzen sejak awal memang sudah menyadari jika Lizo tahu dirinya akan mengikutinya ke tempat ini. Ryuzen sepertinya sedikit salah perhitungan, ia lupa jika Lizo Xiao pasti sedikit banyak mendapatkan sokongan kekuatan dari Biyan Dao pamannya. Karena kalau tidak, mana mungkin Lizo bisa memiliki banyak anak buah seperti sekarang ini.
Ryuzen pun mau tak mau, harus keluar dari persembunyiannya, dan menampakkan dirinya saat itu juga di hadapan Lizo.
Lizo bertepuk tangan dengan lambat, "Waow..., tidak disangka seorang CEO Emerald yang terkenal nyatanya harus mengendap-endap untuk mengikutiku, waow benar-benar tak kuduga!" ujar Lizo dengan sombongnya.
"Aku sepertinya meremehkan anda ya Tuan penghianat!" tukas Ryuzen dengan nada santai.
"Ryuzen Han ternyata kau ini nekad juga ya, datang kemari tanpa pengawalan sama sekali...! Apa kau tahu, aku membawa dua puluh lebih bodyguard, dan asal kau tahu saja, di tempat ini sangat sulit sekali untuk mendapatkan sinyal. Bukan apa-apa, aku hanya takut... Tuan muda Han tidak bisa memanggil bantuan, dan pada akhirnya pulang sebagai mayat yang hanya tinggal nama." Lizo terkekeh.
"Tapi... jika tuan muda Han, mau memohon dan berlutut di depanku saat ini, mungkin aku masih bisa berbaik hati sedikit."
"Bahkan menyebut namamu saja aku ingin muntah rasanya! Bagaimana mungkin kau minta aku memohon dan berlutut padamu? Dasar pria sampah menjijikan!"
"Kurang ajar kau Ryuzen Han! Aku mencoba berbaik hati, tapi kau malah bersikap angkuh dan menghinaku di hari kematianmu!"
Ryuzen tersenyum mengejek pada Lizo.
Lizo sudah naik pitam, ia tidak bisa lagi menahan amarahnya, ia pun menyuruh bodyguard-nya untuk menangkap dan menghajar Ryuzen dan Kenzo.
"Tangkap dan habisi saja mereka! Kalau perlu mayatnya nanti kalian kirim kan langsung ke kediaman Han!"
Ryuzen tersenyum miring, seolah tak gentar dengan ucapan Lizo barusan.
Bodyguard yang tadi di sebelah Lizo pun memukul pundak Ryuzen dengan kuat, hingga Ryuzen seolah tak sadarkan diri.
"Tuan muda!" teriak Kenzo yang juga malah ikut di sandera oleh para bodyguard Lizo yang lainnya.
"Nikmatilah hari terakhirmu Ryuzen Han!" ujar Lizo lalu melenggang pergi bersama bodyguardnya.
Sedangkan Ryuzen dan Kenzo kini telah dibawa ke dalam gudang bekas penyimpanan anggur, dimana di dalamnya sudah ada sekitar dua puluh orang bodyguard, yang terlihat siap untuk menghajar Ryuzen dan Kenzo.
"Lepaskan aku!" ujar Kenzo
"Diam!" balas seseorang yang memegangi Kenzo. Para ajudan itu pun seolah bersiap untuk melancarkan aksinya membunuh Ryuzen dan Kenzo.
"Heh, kau pikir kami bekerja hanya karena uang? Kami bekerja atas dasar sumpah pada tuan kami, selain itu... kami sepertinya lebih tertarik dan puas jika bisa menyiksa orang nomor satu sepertimu di banding uangmu! Jadi... terima ini!"
"Tuan muda...!" teriak Kenzo.
๐ท๐ท
Setelah selesai bersih-bersih dan berganti baju tidur, Sara merbahkan tubuhnya diatas kasurnya yang nyaman. Tak lupa Sara menyempatkan dirinya untuk mengecek ponselnya sebelum tidur, dan ternyata ada beberapa pesan ucapan ulang tahun dari kerabat-kerabatnya tak terkecuali dari Gina, Thomas, Orin dan Rina. Di tambah satu pesan yang baru saja masuk. Di bukanya pesan itu, yang ternyata pesan dari Jesper.
Pesan dari Jesper ;
Selamat ulang tahun Sara kecilku yang cantik, aku berharap kau selalu bahagia dan di kelilingi oleh orang-orang yang selalu menyayangimu dengan tulus.
Sara tersenyum membaca pesan dari Jesper, ia pun segera membalas pesan dari Jesper tersebut.
Sara lanjut mengecek pesan masuk lainnya, saat tengah men-scroll chat yang masuk, ternyata ada 1 pesan dari Ryuzen yang ternyata mengiriminya sebuah video, sekitar 1 jam yang lalu, itu berarti sekitaran beberapa menit setelah dirinya meninggalkan Oracle.
Sara pun tak kuasa menahan rasa haru kala dirinya mulai memainkan video yang dikirim oleh Ryuzen untuknya itu, sebuah video ucapan ulang tahun dari malaikat kecilnya yang berada terpisah darinya saat ini.
"Selamat ulang tahun mamiku yang paling cantik dan baik hati, tapi kadang suka telmi hihi.... Aku sengaja minta pada papi untuk membuatkan video ini, supaya bisa mengucapkan selamat ulang tahun buat mami tepat di hari ini, karena aku tahu saat ini aku tidak bisa berada di dekat mami. Semoga mami selalu sehat dan panjang umur, serta menjadi mamiku selamanya... dan... semoga mami cepat kasih aku adik. I miss you and i love you mami..., sekali lagi selamat ulang tahun....!" ucap Arvin di dalam video tersebut. Sara menyeka air matanya setelah melihat video tersebut
"I love you too Arvin, mami juga merindukanmu," ucap Sara lalu mencium layar ponsel yang kini terpampang thumbnail wajah Arvin.
"Terima kasih banyak Ryuzen, untuk semua hadiahnya sekali lagi..." lirih Sara diikuti senyum bahagianya.
Sara berniat meletakkan kembali ponselnya, dan berencana untuk segera tidur, mengingat dirinya besok harus berangkat pagi-pagi untuk mengunjungi kampung halamannya. Tapi hal itu urung ia lakukan, teringat dirinya yang belum memberitahukan soal kepergiannya ke Cardia pada Ryuzen, Sara pun mencoba untuk menghubungi ponsel Ryuzen untuk memberitahukan perihal kepergiannya ke Cardia besok, namun tak bisa di hubungi. "Apa mungkin baterainya habis?" Sara menduga.
Akhirnya Sara pun memutuskan untuk mengirim pesan untuk memberitahu Ryuzen, jika ia akan pergi ke Cardia besok.
"Semoga besok pagi dia membaca pesanku!" tukas Sara yang kemudian meletakan kembali ponselnya di atas nakas, tempat dimana Sara meletakan kado yang diberikan Ryuzen padanya tadi di restoran. Tidak tahan dan penasaran akan isi kotak hadiah itu, akhirnya Sara memutuskan untuk membuka kado tersebut saat itu juga.
Pelan-pelan Sara membuka pita di kotak tersebut, lalu di bukanya tutup kotak tersebut. Sebuah kotak perhiasan berwarna hitam terpampang di dalam kotak tersebut, Sara pun mengambilnya dan dengan rasa penasarannya ia pun membuka kotak perhiasan tersebut dengan perlahan.
"Cincin!" ujar Sara terlihat terkejut sekaligus tidak menyangka, saat melihat sebuah infinity ring yang berhiaskan berlian berwarna ungu kecil-kecil, dengan diamond berbentuk hati yang terpatri ditengahnya, terpajang di dalam kotak perhiasan tersebut. Sara pun spontan mengangkat cincin itu dari kotaknya
"Ya Tuhan... ini cantik sekali...!" ujar Sara saat memandangi cincin yang kini ada di genggaman jarinya tersebut. Sara terus saja memandangi sambil membolak balikan cincin tersebut, hingga dirinya baru menyadari jika, dibalik cincin tersebut ternyata terukir sebuah kata yang kemudian ia baca saat itu juga.
"I, LOVE YOU SARA.." ucap Sara membaca ukiran di balik cincin pemberian Ryuzen tersebut.
"Bernarkah cincin ini darinya?" tanya Sara yang masih tak percaya, Sara pun sekali lagi membaca ukiran itu, Sara membaca ukiran kata di balik cincin tersebut untuk ketiga kalinya. Dan kali ini, Sara benar-benar di buat bahagia bercampur haru, saat yakin jika kata yang terukir di balik cincin dari Ryuzen tersebut, adalah nyata ukiran ungkapan kata cinta untuk dirinya.
Tuhan... jika ini semua hanya mimpi, tolong jangan bangunkan aku, tapi jika semua ini nyata adanya... maka aku ingin berterima kasih atas kado ulang tahun terindah yang pernah ada di dalam hidupku ini.
Sara mengecup lembut cincin itu dengan bibirnya, saat ini Sara merasa ingin sekali melihat Ryuzen langsung, dan mengatakan isi hatinya untuk meyakinkan ini semua adalah nyata bukan mimpi. Namun hal itu tak bisa ia lakukan saat ini, mengingat ponsel Ryuzen tidak bisa di hubungi sama sekali saat ini.
Sara yang awalnya lelah, kini seolah di bawa oleh dewi batinnya ke tengah taman surgawi, dimana jutaan kelopak bunga berhamburan dengan indahnya menghiasi hati wanita cantik berambut panjang tersebut.
"Ryuzen kau dimana? Aku ingin sekali bertemu denganmu...!" ucap Sara yang kemudian mencoba memejamkan matanya, sambil menggenggam kotak berisi cincin pemberian Ryuzen di atas dadanya.
With a ring i'm binding you forever with me...
๐น๐น๐น
Like, vote, comment gaiss arigatou.