Love Petal Falls

Love Petal Falls
Love petals bloom 53


Di dalam penjara Sara sama sekali tidak nafsu makan.


Tentu saja demikian, memangnya manusia mana yang bisa menikmati makan di dalam penjara?


Tapi mau tidak mau, Sara harus tetap memaksakan dirinya untuk makan makanan yang ada di penjara. Meskipun itu sangat membuatnya merasa mual. Hal itu dirinya lakukan karena, ia berpikir jika dirinya mungkin tidak lapar, tapi bagaimanapun mengingat ada janin di perutnya yang pasti butuh asupan nutrisi. Maka dari itu, meski Sara merasa mual ia tetap mengusahakan untuk makan. Walaupun pada akhirnya....


*huek


Sara memuntahkan makanannya.


"Kau kenapa?" Kata seorang wanita yang juga satu sel tahanan dengan Sara.


"Ak- aku butuh ke toilet," ucap Sara sambil menahan rasa mualnya.


~~


Dengan diantar oleh seorang polisi penjaga, Sara pun pergi ke toilet. Di dalam Sara langsung memuntahkan isi perutnya.


Kenapa kehamilan kali ini, agak berbeda dengan saat aku mengandung pertama kali.


Setelah selesai meredakan rasa mualnya, Sara pun keluar dari toilet, dan tiba-tiba polisi meminta Sara untuk ikut ke salah satu ruangan. Tentu saja Sara tidak bisa menolak apapun yang diperintahkan oleh polisi, mengingat statusnya adalah sebagai tersangka dan mungkin saja sebentar lagi ia akan naik status sebagai terdakwa, yang akan menjalani persidangan.


Begitu menyakitkan bukan?


Sesampainya di ruangan itu, senyum Sara sedikit mengembang saat tahu di ruangan itu ada Gina yang datang bersama dokter Karen.


"Gina!" ucap Sara pada sahabatnya itu.


"Sara, aku datang bersama dokter Karen untuk mengecek keadaan kandunganmu. Polisi baru saja mengetahui jika kau sedang hamil, jadi pihak polisi mengizinkanku untuk membawa dokter Karen kemari," jelas Gina.


Tentu saja Sara merasa sangat senang mendengar hal itu. Setidaknya jika pihak kepolisian sudah mengetahui jika dirinya tengah mengandung, maka dia tidak perlu takut jika janinnya akan terancam bermasalah.


"Gina terima kasih ya," ucap Sara.


Dokter Karen kini sudah siap dengan perlengkapan dokternya untuk memeriksa. Polisi yang mengantar Sara pun segera meninggalkan ruangan itu dan menunggu di luar untuk berjaga-jaga.


"Baiklah, silakan," kata Gina mempersilakan dikter Gina untuk mengecek keadaan Sara.


"Halo nona Chen, apa kabarmu?" tanya dokter Karen.


"Aku baik-baik saja dokter," balas Sara.


Dokter Karen pun meminta Sara berbaring di tempat tidur yang bisa dibilang seadanya tersebut, agar dapat mulai melakukan pemeriksaan.


~


Sementara itu dikantornya, Ryuzen benar-benar masih belum beranjak dari ruangannya. Ia masih terus saja membenahi dan mempelajari semua dokumen dan juga data-data yang masuk, ia tidak bisa membiarkan perusahaan yang dirintis sejak nol oleh sang kakek hancur hanya karena ulah manusia benalu yang ingin menghancurkannya.


Argghhh!


Bagi Ryuzen menjalankan pekerjaannya kali ini begitu terasa sulit, pasalnya ia harus membagi fokus pada dua hal. Yakni perusahaan dan tentunya perkara kasus yang menyeret nama istrinya sebagai tersangka. Tentu saja siapa pun yang ada di posisinya pasti akan merasa frustasi, bahkan menyerah.


Ponsel Ryuzen tiba-tiba berdering, ia pun mengambil ponselnya itu, namun seketika ekspresi wajah Ryu berubah menjadi penuh amarah saat melihat layar ponselnya. Ia pun menjawab panggilan itu.


"Ada apa!" Ujar Ryuzen terlihat marah.


Keponakan jangan marah dulu, kau ingin istrimu keluar dari jeratan hukum yang dijalaninya saat ini bukan?


"Biyan Dao kau!"


Sudahlah, simpan amarahmu untuk nanti. Lebih baik datang saja ke dermaga kota. Kita bertemu disana, sampai jumpa!


"Halo!" seru Ryuzen, namun Biyan Dao malah menutup teleponnya.


Seseorang memasuki ruangan Ryuzen, ternyata dia adalah dokter Jason.


"Ada apa kemari?" tanya Ryuzen tanpa menoleh ke arah Jason.


"Tidak, hanya ingin memastikan saja apa sahabatku ini baik-baik saja." Jason pun duduk di sofa yang ada di dalam ruangan.


"Bocah itu yang memintamu datang kemari ya?" tebak Ryuzen.


Jason terkekeh, "Oh ayolah, asistenmu begitu peduli pada kesehatanmu. Tapi kau tidak mau menghargainya, sungguh kau ini bos yang keterlaluan."


Ryu menghela napasnya, yang kemudian mengistirahatkan dirinya dengan bersandar di sofa, "Entahlah Jason, saat ini aku hanya sedang merasa betapa tidak bergunanya diriku ini. Kematian nenek, kasus Sara. Semua itu terjadi karena ketidak mampuanku untuk memprediksi hal-hal seperti itu."


Jason memicingkan matanya, menatap serius ke arah sahabatnya yang terlihat jelas begitu lelah, karena tengah menanggung beban masalahnya sendirian.


"Justru aku berpikir sebaliknya," tukas Jason dengan nada santai.


"Heh! Dokter kau tidak perlu mengatakan hal itu, demi menghiburku!"


"Aku sedang tidak berusaha menghiburmu. Aku hanya sedang mengatakan semua fakta yang ada,"


"Kau pikir itu fakta? Kau pikir dengan aku ini memiliki fisik yang menawan, dengan segala kekayaan, tahta, dan nama besar yang aku miliki sehingga aku ini bukan pria gagal dimatamu, begitukah?" ujar Ryuzen yang kini tengah mencoba memejamkan mata.


"Tapi hal yang kau sebutkan tadi, memang benar adalah tolak ukur kesuksesan seorang pria secara garis besar bukan?"


"Persetan dengan hal itu Jason!" Umpat Ryuzen yang tidak jadi memejamkan matanya.


"Lalu, bagaimana supaya kau kembali jadi berguna lagi?" tanya Jason.


"Kau ini dokter paling cerewet yang pernah ada!"


"Kau sudah mengenalku sejak lama bukan Tuan muda?"


Ryuzen hanya mendengkus menanggapi pernyataan Jason.


"Ryu aku hanya memberimu saran agar, kau makanlah sedikit, dan istirahakan dirimu sebentar. Kau harus ingat, kau itu punya banyak musuh, jadi kau butuh kondisi yang prima untuk menghadapi mereka semua." Jason tiba-tiba beranjak dari duduknya, menyerahkan sekotak makanan untuk dimakan oleh Ryuzen.


"Kau repot-repot kemari hanya untuk memberiku sekotak bento, dokter aneh!"


"Mau bagaimana lagi, aku tidak tega melihat asistenmu yang uring-uringan memikirkan dirimu yang belum makan, jadi aku putuskan saja untuk datang kemari. Dan karena tugasku untuk membuatmu mau makan sudah selesai, sekarang semuanya terserah dirimu tuan muda Ryuzen Han, karena kau sendiri yang harus menyelesaikan masalahmu," ujar Jason yang kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan Ryuzen.


Ryuzen pun akhirnya sadar akan perkataan Jason barusan, bagaimana pun Sara membutuhkannya. Belum lagi hal yang tidak kalah penting adalah, bagaimana cara Ryu menjelaskannya nanti pada Arvin tentang ibunya.


"Benar-benar hal yang melelahkan," ujar Ryuzen yang tengah memegangi sumpit yang akan digunakannya untuk makan. Baru suapan yang ke-2, Ryuzen sudah kembali harus di datangi seseorang lagi masuk ke ruangannya.


"Ada apalagi Kenzo," tanya Ryuzen tanpa melihat siapa yang datang.


"Tuan ada kabar yang tidak menyenangkan!" ujar Kenzo.


Tatapan Ryuzen kembali menajam, mendengar apa yang di sampaikan oleh Kenzo barusan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Terima kasih banyak untuk yang sudah mau setia membaca ceritaku, sekali lagi maaf tidak bisa update harian. Tapi aku harap kalian masih mau setia membaca ceritaku ini, dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak berupa like, comment, vote.


Sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi kakak-kakak, dan teman-teman reader sekalian.


Happy reading fellas and i hope you like it.


For more informastion follow my IG @chrysalisha98๐Ÿ˜ฌ